Home / Tokoh / Ferri Iskandar; Berkarya dari Gempa dan Banjir

Ferri Iskandar; Berkarya dari Gempa dan Banjir

Ferri Iskandar bertumbuh dari kepeduliannya pada persoalan lingkungan. Dari bencana gempa, dia berinovasi memproduksi tenda, toilet bongkar pasang, hingga tangki air. Dari penanganan banjir Jakarta, dia membuat perahu aluminium yang tahan bocor.

Kawan-kawan lamanya lebih mengenal Ferri (44) sebagai pekerja sosial yang jago ”provokasi” agar orang-orang ikut terlibat penanganan masalah di lingkungan sekitarnya atau setidaknya ikut berpikir tentang hal itu.

Kini, dia membangun The Trekkers, perusahaan produsen beragam perangkat antisipasi bencana, yang ternyata tak hanya berguna saat bencana.

Prinsip fair trade atau perdagangan berkeadilan menginspirasi Ferri untuk terjun ke dunia bisnis setelah bertahun-tahun bergelut dalam organisasi nirlaba atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).

”Sejatinya, perdagangan itu untuk menyejahterakan manusia dan mengurangi kemiskinan. Produsen dan pedagang adalah orang yang berguna asal enggak menghalalkan segala cara untuk cari untung,” ujarnya.

Bekerja sama dengan sejumlah perajin di Yogyakarta, The Trekkers kini memproduksi beragam jenis tenda, termasuk tenda tiup yang steril untuk rumah sakit darurat, beraneka tangki air, juga perahu berbahan aluminium.

Tangki air yang, antara lain, bisa diisi tanpa kerangka besi itu kini banyak diminati pemadam kebakaran. Sementara perahu aluminium dirancang Ferri karena terinspirasi penanganan banjir di Jakarta.

Selain ringan dan lincah, jenis perahu itu tahan digunakan melalui aliran yang bermuatan sampah perkotaan, seperti dahan pohon sampai patahan pagar rumah.

”Sudah ada tim SAR yang terbantu dengan memakai jenis perahu aluminium ini,” katanya.

Untuk membuat perahu dan komponen konektor pada tenda, Ferri membina perajin aluminium skala rumah tangga di Yogyakarta, yang semula sekadar membuat panci dan peralatan masak. Dengan uang pinjaman, ia memberikan modal mesin las dan gas, memberikan desain, lalu membeli hasil-hasil eksperimen yang belum sempurna.

Perlu waktu setahun sebelum mereka bisa membuat perahu berkualitas baik. Dibandingkan dengan perahu karet yang rata-rata hanya tahan satu-dua tahun, perahu aluminium bisa bertahan hingga 15 tahun.

Kini, Ferri membagi pekerjaan pada 14 perajin dengan spesialisasi masing-masing, yakni bagian las besi, khusus menjahit bahan tenda, membuat konektor aluminium, dan spesialis lem perahu.

Di bengkel kerjanya di daerah Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, dia juga mempekerjakan beberapa pegawai untuk memotong besi kerangka, merangkai komponen, dan pengerjaan akhir produk.

Bertualang dan belajar
Pekerjaan Ferri tak ubahnya merajut mimpi masa kecil menjadi kenyataan. Bersama empat saudaranya, Ferri kecil mesti menabung untuk membeli tenda dan berkemah di tepi Sungai Deli di belakang rumahnya di Medan. ”Sejak kecil, saya ingin punya perahu dan baru kesampaian sekarang.”

Pada 1989, setamat SMA, Ferri menjadi mahasiswa perantau di Yogyakarta. Berbekal cita-cita menjadi penyuluh pertanian, dia mengambil Jurusan Mekanisasi Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

Selama kuliah, dia gemar mendaki gunung, jalan-jalan ke sejumlah daerah dengan menumpang truk, juga menumpang tidur di rumah penduduk dan kantor polisi. ”Saya terinspirasi cerita Balada Si Roy, ha-ha….”

Perjalanan dan pergaulan menumbuhkan kepekaan Ferri pada masalah lingkungan. Lulus kuliah, ia bergabung dengan Yayasan Dian Desa, LSM yang banyak mengembangkan teknologi tepat guna di Yogyakarta.

Ketika itu, dia kerap terlibat survei lapangan berbagai studi kemasyarakatan, seperti relokasi masyarakat setelah banjir, sistem sanitasi berbasis komunitas, dan revitalisasi ekonomi Malioboro.

Selama tujuh tahun di Yayasan Dian Desa, dia antara lain mengelola proyek kampanye sosial untuk mendorong peran serta masyarakat dalam pembangunan perkotaan. Ia juga memimpin jaringan kerja nasional yang fokus pada pengembangan dan penyebarluasan tungku hemat energi.

Dari sepatu gunung
Ferri IskandarIde tentang produksi dan perdagangan yang memberdayakan akhirnya mendorong Ferri membuat The Trekkers pada 2004. Awalnya, The Trekkers adalah toko daring yang menjual sepatu gunung buatan Bandung dan peralatan kegiatan luar ruang atau petualangan.

Lalu, kamar depan rumah kontrakan Ferri di Sleman disulap menjadi toko. Usaha ini sempat terpukul kenaikan harga bahan bakar minyak awal 2006. Kemudian disusul gempa yang mengguncang Yogyakarta tahun itu.

Rumah dan toko Ferri selamat dari gempa, tetapi ia memilih menutup toko dan bekerja sebagai relawan penanganan korban gempa. Dalam penanganan bencana itulah dia merekam pentingnya tenda, toilet, dan tangki air.

Untuk hunian sementara, Ferri memasok tenda yang diproduksi di Bandung. Dari sini, dia mempelajari beragam jenis, kualitas, dan cara produksi tenda. ”Tenda yang paling bagus itu punya organisasi-organisasi kemanusiaan dari luar negeri, termasuk tenda tiup yang higienis untuk rumah sakit darurat,” katanya.

Tangki air pun masih didatangkan dari luar negeri. Ferri butuh waktu empat tahun untuk bisa memproduksi tangki air dengan kerangka galvanis dan tanpa kerangka besi. Tenda dan tangki, dia garap sebagai perangkat antisipasi bencana.

Meski begitu, produknya tak hanya bisa dimanfaatkan kala bencana. Tangki terbesar yang pernah dibuat Ferri, misalnya, berukuran 10 meter x 20 meter x 1,5 meter, pesanan perusahaan tambang di Papua untuk uji keterampilan karyawan dalam air.

Bermula dari pengamatan, dia mengajak perajin bereksperimen membuat produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan.

Ia juga belajar dari kesalahan dan kegagalan. Tenda impor berbahan aluminium, misalnya, ternyata segera rusak karena beban tumpukan abu letusan Gunung Merapi.

Kata Ferri, masih banyak ide inovasi menyesaki kepalanya. Bekerja dengan hati memang memberi dia energi berlimpah.
———————-
Ferri Iskandar
? Lahir: Medan, 3 April 1970u Istri: Wahyunitau Anak: – Renaisans (9)- Dhia Wafi (6)
? Pendidikan: Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada, lulus 1996
? Pengalaman:
– Surveyor beragam studi sosial dan lingkungan untuk Bank Pembangunan Asia, Bank Dunia, dan Yayasan Urban   Infrastructure Management Support (YUIMS), 1997-1999
– Manajer Proyek Social Marketing Program Pembangunan Perkotaan dan Peran Serta Masyarakat Yayasan Dian Desa, Yogyakarta, 1997-2000
– Manajer Jaringan Kerja Tungku Indonesia, 2000-2003
– Manajer Program Pengembangan Pendidikan Lingkungan Berbasis Internet: www.Jogjakita.or.id, 2002-2003
– Tim Pendamping Program Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perkotaan PT Bina Swadaya Konsultan Jakarta, 2003
– Mendirikan dan mengelola toko-bengkel kerja The Trekkers, 2004-kini

Oleh: Nur Hidayati

Sumber: Kompas, 29 September 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: