Teknologi Mengurangi Kerentanan

- Editor

Jumat, 28 September 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kota-kota besar di Indonesia kebanyakan berada di daerah rentan gempa dan tsunami dengan kondisi bangunan yang mengkhawatirkan. Untuk mengurangi risiko dan dampak bencana, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi mengembangkan sejumlah inovasi teknologi kebencanaan.

“Teknologi harus dapat berperan signifikan dalam upaya mengurangi risiko bencana gempa bumi,” kata Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, dalam lokakarya di Jakarta, Kamis (27/9).

Peristiwa gempa bumi Lombok baru-baru ini menunjukkan semakin rentannya Indonesia terhadap bencana ini. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa yang terjadi sejak tanggal 29 Juli terus berlanjut sampai lebih dari satu bulan lamanya itu telah mengakibatkan 555 orang meninggal, 390.529 orang mengungsi, dan lebih dari 1.000 buah fasilitas umum mengalami kerusakan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

–BPPT bekerja sama dengan PT Darta mengembangkan inovasi teknologi kebencanaan. Ini diharapkan bisa menurunkan kerentanan gempa bumi di kota-kota besar.

Beberapa produk inovasi teknologi unggulan yang dibahas dalam lokakarya antara lain, teknologi kajian keandalan gedung bertingkat terhadap ancaman gempa bumi yang disebut SIJAGAT. Teknologi ini digunakan untuk mengukur keandalan gedung terhadap ancaman gempa bumi, dan memberikan solusi berupa rekomendasi teknis. Berikutnya adalah teknologi monitoring gedung bertingkat terhadap bencana gempa bumi atau SIKUAT.

“Kekuatan bangunan kita menghadapi gempa sangat mengkuatirkan, termasuk Jakarta. Perhatian terutama perlu ditujukan terhadap bangunan-bangunan tua yang menjadi tempat kumpul, seperti museum-museum, apakah baik kondisinya,” kata Hammam.

Kekuatan gedung dievaluasi
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Khusus Ibukota Jakata, Tri Indrawan, mengatakan, Jakarta memiliki 1.016 gedung bertingkat, serta banyak gedung tua yang dibangun saat era kolonial. Hingga saat ini, kebanyakan bangunan ini belum dievaluasi kekuatannya.

“Termasuk juga rumah-rumah susun, juga perlu dievaluasi sebenarnya. Untuk saat ini, kami memprioritaskan sekolah dan madrasah aman. Berikutnya juga bangunan rumah sakit,” kata Tri.

Inovasi lainnya adalah rekayasa material bangunan, yaitu rumah komposit polimer tahan gempa. Ini diharapkan bisa memberi solusi teknologi rumah tahan gempa yang menekankan kepada kekuatan bangunan dan kecepatan pembangunan.

Selain itu, mitra BPPT, PT Darta, juga mengembangkan polintek (Polimer Indonesia Teknologi) untuk menguatkan bangunan agar tahan gempa. Teknologi ini juga bisa digunakan untuk memperbaiki pondasi dan tembok yang retak akibat gempa. tanpa harus membangun dari awal.

Pendiri PT Darta, T Darwis Manalu, mengatakan, inovasi teknologi polintek ini merupakan kontribusi sektor swasta untuk membantu masyarakat menyelamatkan diri dari gempa.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 28 September 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru