Home / Berita / Empat Kompetensi Baru yang Diperlukan di Abad XXI

Empat Kompetensi Baru yang Diperlukan di Abad XXI

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, di abad XXI telah mengubah pembelajaran di ruang-ruang kelas. Ada kesesuaian antara kompetensi baru dan kebutuhan pembangunan. Kompetensi baru yang dibutuhkan ada empat, yakni kemampuan berpikir kritis dan menyelesaikan persoalan, kreativitas, keterampilan berkomunikasi, dan kemampuan untuk berkolaborasi dengan orang lain.

Ini dikemukakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan saat membuka seminar “Education Transformation and 21st Century Learning” bekerja sama dengan Intel Corporation dan Analytical on Capacity Development Partnership (ACDP), Rabu (20/1) di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta. Seminar akan berlangsung hingga Kamis (21/1) sore.

“Teknologi informasi dan komunikasi dapat membereskan masalah ketimpangan antardaerah di Indonesia. Tantangannya sekarang adalah kemampuan mengambil dan memproduksi ilmu pengetahuan untuk kepentingan proses pembelajaran,” kata Anies.

Seminar ini bertujuan untuk berbagi informasi dan praktik baik di forum internasional tentang transformasi pendidikan yang sesuai dengan pembelajaran abad XXI. Selain itu untuk menciptakan kesadaran di antara para pengambil kebijakan, akademisi, pendidik, dan praktisi pendidikan terhadap transformasi pendidikan di abad XXI.

cb9afcb30b1d42188a0d4059f5318d88Menyediakan fasilitas komputer lengkap dengan aplikasi aneka ragam materi serta tanpa intervensi atau instruksi apa pun bisa mendorong anak ataupun orang dewasa untuk belajar mandiri. Seperti dalam foto yang diambil pada 7 September 2015 di daerah terpencil di India ini. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, teknologi informasi dan komunikasi dapat membereskan masalah ketimpangan pendidikan antardaerah di Indonesia.– KOMPAS/LUKI AULIA

Guru perlu berubah
Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kemdikbud Nizam mengatakan, teknologi berperan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia sebagai sarana pembelajaran, baik untuk guru maupun murid. Teknologi di ruang belajar yang interaktif akan menjadi pemicu perubahan mendasar terhadap peran guru. Dari informasi menuju transformasi dan dari aktivitas murid yang pasif menjadi lebih aktif dan mandiri dalam mengakses pengetahuan terbaru.

“Adopsi teknologi untuk transformasi pembelajaran abad XXI penting mengingat persaingan global dan wilayah Indonesia yang sangat luas. Teknologi merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Nizam.

Namun, Nizam mengingatkan, proses pembelajaran abad XXI tidak hanya terkait dengan penggunaan teknologi, tetapi juga mengenai proses pembelajaran dan hasilnya. Tantangan yang terbesar justru ada pada perubahan pola pikir dan tindakan guru yang mengajar di kelas. Jika guru tidak berubah, pembelajaran di kelas pun tidak akan berubah.

Harry K Nugraha, Country Manager Intel Indonesia, mengatakan, model transformasi Intel dapat membantu pemerintah meningkatkan kualitas sistem pendidikan yang ada. Melalui seminar ini diharapkan industri bisa ikut melihat dan memahami arah kebijakan pendidikan dari pemerintah sekaligus tantangannya.

“Teknologi bukan masalah yang terbesar dalam aplikasi di pendidikan, melainkan juga masalah nonteknis. Pemerintah perlu menata agar pemanfaatan teknologi di pendidikan dipercepat dan dibuka lebih luas aksesnya. Seiring penetrasi internet di daerah-daerah, penggunaan komputer akan meningkat,” kata Harry.

LUKI AULIA

Sumber: Kompas Siang | 20 Januari 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: