Home / Berita / Disinfektan Berbahaya bagi Manusia

Disinfektan Berbahaya bagi Manusia

Khawatir terhadap penyebaran virus korona membuat pemerintah dan masyarakat menyemprotkan disinfektan ke fasilitas umum, rumah, bahkan manusia. Padahal, disinfektan merupakan zat berbahaya. Bagaimana sebaiknya?

KOMPAS/ADITYA PUTRA PERDANA–Kru melewati bilik sterilisasi sebelum masuk ke Stasiun Semarang Tawang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (28/3/2020). Berkoordinasi dengan PT KAI dan dinas perhubungan, pihak Polrestabes Semarang mengecek dan mendata para penumpang yang baru datang ke Kota Semarang dalam rangka mengantisipasi penyebaran Covid-19.

Tak hanya menyemprotkan disinfektan di jalan-jalan dan fasilitas umum, demi mencegah penyebaran virus korona baru penyebab Covid-19, sejumlah pemerintah daerah, seperti di Surabaya, Semarang, Malang, Jakarta, bahkan kota kecil seperti Bojonegoro, Magelang, dan Jembrana, menyediakan bilik sterilisasi untuk mensterilkan warga di tempat umum.

Namun, sejumlah ahli kesehatan menyatakan, penyemprotan disinfektan pada manusia justru berbahaya. Penyebabnya, disinfektan ditujukan untuk mensterilkan benda mati dan beracun bagi manusia.

Di sejumlah kota di China, seperti Wuhan, Beijing, dan Shanghai, jalanan dan tempat umum disemprot disinfektan berupa cairan pemutih (natrium hipokhlorit) konsentrasi rendah.

Praktik itu ditiru sejumlah kota di Indonesia. Tayangan televisi memperlihatkan, selain jalan dan tempat umum, pejalan kaki dan pengendara sepeda motor pun disemprot disinfektan, tanpa kita tahu jenis bahan kimianya.

Saskia Popescu, ahli epidemiologi dan pencegahan infeksi di rumah sakit dari Phoenix, Arizona, Amerika Serikat, kepada Business Insider Singapore, 7 Maret 2020, menyatakan, lebih baik mendisinfektasi ruang gawat darurat dan permukaan yang banyak disentuh di rumah sakit serta tempat umum daripada menyemprotkan cairan pemutih di jalanan.

Menurut dia, praktik penyemprotan disinfektan kurang efektif karena virus tidak melayang di udara dan orang tidak menyentuh jalanan. Jika disinfektan terhirup manusia justru berbahaya karena bersifat racun.

Laman Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyatakan, bukti terbaru menunjukkan, virus korona baru mampu bertahan hidup selama beberapa jam hingga hitungan hari pada permukaan berbagai material. Karena itu, cara paling efektif untuk mencegah penyebaran virus adalah mendisinfektasi permukaan yang biasa disentuh di rumah sakit, sekolah, serta tempat umum seperti pasar, mal, dan tempat ibadah dengan cara mengelap permukaan benda dengan disinfektan.

Bagi individu, cara pencegahan terbaik agar tidak tertular virus adalah rajin mencuci tangan dengan air dan sabun; tidak sembarangan menyentuh muka, mata, dan mulut; serta menjauh dari orang yang sakit.

KOMPAS/ANGGER PUTRANTO–Warga mencuci tangan di halaman Pasar Blambangan, Banyuwangi, Kamis (26/3/2020). Sebanyak 14 tempat cuci tangan dibangun di sejumlah fasilitas umum untuk mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2 serta meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat warga Banyuwangi.

Cara Vietnam
Kalaupun tetap ingin mensterilkan orang dengan bilik sterilisasi di tempat umum, pastikan menggunakan zat antikuman yang aman bagi manusia. Untuk itu bisa dicontoh apa yang dilakukan Vietnam.

Menurut Vietnamtimes.org, Institut Kesehatan dan Lingkungan Kerja, Vietnam, bekerja sama dengan Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Hanoi mendesain bilik sterilisasi yang mudah dipindahkan untuk dipasang di tempat umum.

Sistem disinfektasi dirancang untuk menyemprotkan larutan garam terionisasi (anolyte) dalam bentuk kabut untuk sterilisasi cepat. Bilik ini hanya perlu waktu 15-20 detik untuk mensterilkan tubuh manusia.

Direktur Akademi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vietnam (VAST) Doan Ngoc Hai memaparkan, lembaganya menyiapkan seluruh cairan disinfektan untuk memastikan keamanannya saat disemprotkan ke manusia.

Hasil penelitian awal terhadap efektivitas desain bilik dan cairan disinfektan menunjukkan, lebih dari 90 persen bakteri dan virus pada tubuh serta pakaian mati setelah disemprot di bilik sterilisasi. Hal itu dibuktikan dengan uji mikrobiologi oleh laboratorium di Institut Kesehatan dan Lingkungan Kerja.

Beda disinfektan dan antiseptik
Meski memiliki kemampuan sama, yakni membasmi kuman (bakteri, virus, dan mikroorganisme lain), ada perbedaan dari disinfektan dan antiseptik. Disinfektan digunakan untuk mensterilkan benda mati, seperti dinding, lantai, meja, kursi, serta benda yang kerap dipegang orang (gagang pintu, saklar lampu, remote atau alat pengontrol TV, keran air, juga tutup dan dudukan toilet).

Zat itu tidak diaplikasikan pada manusia karena bersifat racun dan bisa merusak kulit. Sementara antiseptik merupakan antikuman yang aman bagi manusia.

Jenis disinfektan yang umum di antaranya amonium karbonat, amonium bikarbonat, khlor dioksida, hidrogen peroksida, formaldehid, glutaraldehid, ozon, perak dihidrogen sitrat, natrium khlorit, dan natrium hipokhlorit. Ada pula disinfektan nonkimia, yakni iradiasi kuman dengan sinar ultraviolet (UVGI).

Meski nonkimia, UVGI tak kalah berbahaya. Paparan sinar ultraviolet pada kulit bisa menimbulkan sunburn (luka seperti terbakar sinar matahari) dan kanker kulit. Sinar itu juga merusak kornea dan retina mata sehingga mengganggu penglihatan.

DOKUMENTASI HUMAS PEMPROV SULSEL–Sebagai langkah antisipasi penyebaran Covid-19, kantor-kantor pemerintah, perusahaan, hingga sekolah mewajibkan mencuci tangan atau menggunakan antiseptik sebelum masuk ruangan.

Contoh antiseptik adalah alkohol (etanol, isopropanol), povidone iodine, khlorheksidin glukonat, khlorosilenol, asam borat, dan benzalkonium khlorida. Antiseptik aman bagi kulit, bahkan ada yang cukup aman jika tertelan, misalnya povidone iodine.

Penggunaan disinfektan harus hati-hati. Penelitian Orianne Dumas dan kolega dari University de Versailles St-Quentin-en-Yvelines, Perancis, yang dimuat dalam jurnal Asosiasi Kedokteran Amerika (JAMA), Oktober 2019, menunjukkan adanya peningkatan risiko 25-38 persen penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) pada petugas kebersihan yang mengaplikasikan disinfektan.

Selain itu, gangguan asma dan penyakit saluran napas dapat terjadi pada orang yang peka terhadap bahan kimia yang terbawa udara.

Pastikan membeli zat pembersih dan disinfektan yang terdaftar pada Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) Amerika Serikat. Baca dan ikuti petunjuk penggunaan yang aman dan efektif pada label (tentang konsentrasi larutan, metode aplikasi, waktu kontak, dan sebagainya), termasuk tindakan pencegahan yang harus dilakukan saat menggunakan produk, seperti mengenakan sarung tangan, masker, serta memastikan ventilasi yang baik selama penggunaan produk. Bersihkan tangan segera setelah sarung tangan dilepas.

Dalam memilih produk, perhatikan jenis disinfektan dan efektivitasnya dalam membunuh mikroba (apakah untuk virus korona atau kuman lain, seperti rotavirus, norovirus, rhinovirus, adenovirus, dan feline parvovirus). Seberapa cepat membunuh kuman. Juga keamanan terhadap manusia dan benda yang didisinfektasi serta kemudahan penggunaannya.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Petugas menyemprotkan cairan disinfektan ke kendaraan dari arah Sidoarjo yang baru masuk Kota Surabaya di Jalan Ahmad Yani, Kota Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/3/2020). Intensitas penyemprotan terus ditingkatkan oleh sejumlah pihak untuk menekan wabah Covid-19.

Oleh ATIKA WALUJANI MOEDJIONO

Editor:EVY RACHMAWATI, ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 1 April 2020

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: