Antisipasi Tsunami Pasien Covid-19

- Editor

Senin, 23 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah didesak untuk lebih serius mengantisipasi ”tsunami” pasien Covid-19 dan lonjakan angka kematian di Indonesia. Sampai sekarang kasus positif bertambah menjadi 450 kasus dengan jumlah pasien meninggal 38 orang.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Warga perumahan Kluster Puri Permata bergotong royong mempersiapkan disinfektan untuk penyemprotan di lingkungan rumah di kawasan Larangan Selatan, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (21/3/2020). Penyemprotan disinfektan secara mandiri ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus korona baru. Penyemprotan dilakukan pada jalan, pagar rumah, dan fasilitas umum.

Pemerintah didesak untuk lebih serius mengantisipasi ”tsunami” pasien Covid-19 dan lonjakan angka kematian di Indonesia. Selain minimnya fasilitas, pasokan alat pelindung diri juga menipis. Sampai saat ini, kasus positif bertambah 81 orang menjadi 450 orang dengan jumlah pasien yang meninggal mencapai 38 orang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jaringan Masyarakat Sipil untuk Indonesia Bergerak (Jaringan-IB) mengeluarkan sikapnya terkait dengan penyebaran wabah korona di Indonesia. Jaringan ini diikuti oleh 33 individu dan lembaga di Indonesia, seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Koalisi Perempuan Indonesia, Jaringan Gusdurian, Ecosoc Institute, Monica Tanuhandaru, dan Dian Kartikasari.

Jaringan-IB menilai, respons pemerintah terhadap penyebaran wabah penyakit Covid-19 yang disebabkan virus korona (corona) baru ini memprihatinkan. Hal itu dilihat dari ketidaksiapan pemerintah dalam penyediaan fasilitas dan layanan kesehatan, infrastruktur, serta kelembagaan yang sentralistik dan sangat birokratis sehingga tidak mendukung kerja cepat dan tepat.

Salah satu perwakilan koalisi tersebut, Direktur Eksekutif Nasional Walhi Nur Hidayati, mengungkapkan, sampai saat ini pasien terus-menerus bertambah, tetapi tenaga kesehatan mulai kewalahan, ditambah persiapan perlengkapan alat pelindung diri yang kurang.

”Pemerintah pusat dan daerah harus bersiap menghadapi skenario terburuk jika gejala dan infeksi melonjak tajam,” kata Yaya, sapaan Nur Hidayati, saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (21/3/2020).

Yaya mengungkapkan, lonjakan pasien terjadi karena sedari awal pemerintah lambat melakukan pendeteksian dan kurang transparan dalam memberikan informasi. Kurangnya peran dan keterlibatan pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat juga bagian dari kelemahan mendasar dari respons pemerintah.

”Pernyataan-pernyataan para pejabat yang simpang siur menciptakan kesan ketidakseriusan, miskin empati, dan sense of crisis, yang justru kontraproduktif bagi upaya penghentian penyebaran virus,” ujar Yaya.

KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA–Tim Laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Papua yang akan memeriksa sampel pasien dengan pengawasan virus korona di Jayapura, Papua.

Prediksi kasus
Salah satu riset dari Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB) menunjukkan, lonjakan atau tsunami pasien positif korona pada akhir bulan Maret diprediksi lebih dari 8.000 pasien. Mereka memakai model metode Kurva Richard yang juga digunakan ahli matematika dalam menentukan awal, puncak, dan akhir endemi penyakit sindrom pernapasan akut parah (SARS) di Hong Kong tahun 2003.

Para peneliti ITB menggunakan data di lima negara, yakni China, Italia, Iran, Korea Selatan, dan Amerika Serikat, sebagai parameter. Dari hasil simulasi menggunakan kurva itu didapatkan, awal mula pandemi Covid-19 di Indonesia pada awal Maret 2020, puncaknya pada akhir Maret, dan berakhir pada pertengahan April 2020. Jumlah kasus maksimal lebih dari 8.000 kasus dengan kasus baru terbesar lebih dari 600 kasus.

”Dalam penelitian ini, kami berusaha menjawab pertanyaan mendasar dari wabah yang sedang terjadi saat ini di Indonesia melalui suatu model matematika sederhana dan tidak mengikutkan faktor-faktor yang kompleksitasnya tinggi. Ini cukup sederhana,” ujar Nuning Nuraini, salah satu peneliti pemodelan Matematika ITB.

Dari data Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19, jumlah total kasus positif di Indonesia sampai Sabtu siang ini mencapai 450 kasus atau bertambah 81 kasus hari sebelumnya. Lalu, jumlah pasien sembuh mencapai 20 orang atau bertambah empat orang dari hari sebelumnya. Adapun pasien meninggal mencapai 38 orang atau bertambah enam orang.

Menyiapkan masker
Juru bicara pemerintah dalam penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, menjelaskan, saat ini pemerintah sedang menyiapkan masker bedah sebanyak 12 juta buah dan 81.000 masker N95. Masker-masker itu nantinya akan disebar ke semua wilayah di Indonesia.

”Setiap fasilitas kesehatan di daerah yang membutuhkan ini bisa mengajukan permintaan melalui dinas kesehatan provinsi masing-masing,” kata Yurianto saat konferensi pers di Jakarta.

Yurianto menambahkan, selain masker, pihaknya juga akan menambah peralatan pemeriksaan cepat. Pemeriksaan cepat ini sudah dilakukan di wilayah Jakarta Selatan pada Jumat (20/3) sore dengan total 2.000 alat yang digunakan. Secara bertahap, peralatan ini akan ditambah menjadi 1 juta buah.

Dihubungi dari Jakarta, salah satu Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Abetnego Tarigan menjelaskan persoalan kekurangan alat pelindung diri (APD) bagi petugas kesehatan. Menurut dia, anggaran sudah disiapkan untuk pengadaan APD, tetapi kapasitas produksi barang-barang tersebut terbatas.

”Kita bukan kekurangan uang, melainkan barangnya memang enggak ada. Kita bisa produksi, tetapi bahan bakunya enggak ada,” kata Abetnego, yang juga bertugas di Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Menurut Abetnego, saat ini ketersediaan APD yang ada akan diberikan sepenuhnya untuk petugas kesehatan di wilayah-wilayah dengan zona penyebaran pandemi Covid-19 tinggi. ”Semua perizinan juga sudah dipangkas sehingga bahan baku yang masuk akan jauh lebih mudah,” ujarnya.

Oleh DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 21 Maret 2020

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB