Home / Artikel / Dilema Mendengarkan Musik Saat Berkendara

Dilema Mendengarkan Musik Saat Berkendara

Musik tak hanya bisa meningkatkan konsentrasi, tapi juga bisa menganggu fokus berkendara. Karena itu, kebijaksanaan pengemudi penting agar tahu waktu dan jenis musik yang pas saat berkendara.

Mendengarkan musik sambil mengemudi adalah kegiatan paling umum dilakukan para pengendara. Apapun jenis kendaraannya, musik jadi teman setia. Bahkan di sejumlah kota, angkutan umum melengkapi kendaraannya dengan suara musik yang kencang untuk menarik penumpang.

Berbeda dengan penggunaan telepon seluler, baik dipegang langsung atau memakai perangkat handsfree, yang terbukti membahayakan keselamatan berkendara, masih banyak pro dan kontra tentang dampak mendengarkan musik saat berkendara. Riset tentang itu juga belum banyak meski memengaruhi keselamatan berlalu lintas serta ketahanan negara.

Masih banyak pro dan kontra tentang dampak mendengarkan musik saat berkendara. Riset tentang itu juga belum banyak meski memengaruhi keselamatan berlalu lintas serta ketahanan negara.

Wacana pelarangan mendengarkan musik saat berkendara oleh Kepolisian RI pekan lalu terjadi karena mendengarkan musik dinilai bisa menganggu konsentrasi hingga bisa menimbulkan kecelakaan. Namun, wacana yang memiliki sanksi hukum pidana itu kemudian dibantah karena dianggap adanya kesalahan tafsir dari undang-undang yang ada.

Ahli psikologi kognitif dari Laboratorium Mind, Brain and Behaviour Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Galang Lufityanto, Jumat (2/3) mengatakan setiap manusia punya kapasitas kognitif berbeda. Kapasitas itu memungkinkan seseorang berpikir memproses informasi atau mengerjakan tugas dengan baik.

Di sisi lain, setiap kegiatan yang kita lakukan memiliki beban kognitif berbeda yang akan memengaruhi kapasitas kognitif. Pekerjaan dengan beban kognitif tinggi menuntut konsentrasi tinggi melakukannya.

“Karenanya, kemampuan seseorang melakukan suatu kegiatan sangat bergantung pada jenis kegiatan dan kapasitas kognitifnya,” katanya.

Saat seseorang melakukan kegiatan yang beban kognitifnya rendah, akan banyak kapasitas kognitif diri yang tidak terpakai. Kapasitas yang tak terpakai itu justru rentan memunculkan gangguan fokus terhadap pekerjaan utama yang dilakukan.

Bagi mereka yang sudah terbiasa, mengemudi adalah pekerjaan dengan beban kognitif rendah, tidak susah karena seperti melakukan hapalan atau hal rutin sehari-hari.

Kondisi itu membuat banyak kapasitas kognitif tak terpakai. Pembiaran kapasitas kognitif yang tak termanfaatkan itu justru bisa memunculkan distraksi pikiran atau gangguan pengalihan fokus dari pekerjaan utama atau mengemudi hingga konsentrasi berkendara buyar.

Menjaga fokus
Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi Manado Taufiq Pasiak mengatakan orang mengemudi lebih banyak menggunakan otak kirinya karena membutuhkan konsentrasi, berpikir rasional dan sistematik.

Pada saat mengemudi, otak kanan yang banyak digunakan mengelola emosi dan intuisi menjadi kurang terberdayakan. “Saat otak kanan kurang berfungsi, justru rentan menganggu kerja otak kiri, menganggu konsentrasi berkendara,” ujarnya.

Pada saat mengemudi, otak kanan yang banyak digunakan mengelola emosi dan intuisi menjadi kurang terberdayakan. “Saat otak kanan kurang berfungsi, justru rentan menganggu kerja otak kiri, menganggu konsentrasi berkendara.

Gangguan konsentrasi mengemudi itu bisa datang dari mana saja, mulai dari beban pekerjaan, persoalan rumah tangga, tagihan cicilan hingga memikirkan anak yang belum dijemput dari sekolah.

Karenanya, mendengarkan musik adalah pilihan tepat agar tidak ada kapasitas kognitif yang menganggur. Musik adalah pilihan terbaik untuk mencegah teralihkannya pikiran saat mengemudi karena musik tidak memerlukan interaksi dua arah seperti dalam pemakaian ponsel.

Galang menilai, mendengarkan musik terkadang justru dianjurkan untuk membantu menjaga fokus pekerjaan utama, termasuk mengemudi.

Mendengarkan musik terkadang justru dianjurkan untuk membantu menjaga fokus pekerjaan utama, termasuk mengemudi.

Taufiq juga sepakat dengan hal itu. “Mendengarkan musik bisa menenangkan otak kanan hingga tidak mengganggu kerja otak kiri yang sedang digunakan untuk mengemudi,” katanya.

Kondisi itu sesuai dengan penelitian Ayça Berfu Ünal dari Universitas Groningen, Belanda. Menurut eksperimennya, mendengarkan musik saat berkendara hanya berdampak sangat kecil terhadap performa berkendara. Bahkan, mendengarkan musik justru menguntungkan, khususnya saat berkendara di jalan panjang dan monoton.

“Mereka yang mendengarkan musik sambil berkendara di jalan monoton justru menunjukkan performa lebih baik dibanding yang tidak mendengarkan musik,” kata Ayça dikutip sciencedaily.com, 6 Juni 2013.

Mereka yang mendengarkan musik sambil berkendara di jalan monoton justru menunjukkan performa lebih baik dibanding yang tidak mendengarkan musik.

Hal sama ditunjukkan riset MD van der Zwaag dkk dalam jurnal Ergonomics, 2012 yang menunjukkan mendengarkan musik saat berkendara bisa memengaruhi suasana hati secara positif. Kondisi itu akhirnya justru meningkatkan performa berkendara hingga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan keselamatan berlalu lintas.

Meski demikian, penelitian dari Institut Telinga Universitas College London pada 2017 menunjukkan mendengarkan musik saat berkendara bisa memperlambat reaksi dan menimbulkan tekanan mental. “Efek merugikannya relatif kecil, tapi konsisten dan signifikan,” kata Ulrich Pomper seperti dikutip dailymail.co.uk, 5 Juli 2017.

Cadangan pikiran
Meski demikian, mendengarkan musik tetap bisa berisiko menghabiskan kapasitas kognitif seseorang. Kapasitas kognitif memang tak boleh dibiarkan tak terpakai, tapi juga tidak boleh digunakan penuh sampai tak bersisa, khususnya saat berkendara.

Menurut Galang, perlu disediakan sedikit ruang dalam kapasitas kognitif kita saat mengemudi untuk berjaga-jaga bila terjadi sesuatu di jalan yang tak terprediksi sebelumnya, seperti ada orang atau hewan yang menyeberang tiba-tiba.

“Dengan masih tersedianya kapasitas kognitif, seseorang masih mampu mengontrol reaksi dan tindakan yang dilakukan saat terjadi sesuatu yang tidak terduga,” ujarnya. Masih adanya kapasitas kognitif itu membuat pengemudi bisa tetap waspada.

Agar kapasitas kognitif tidak habis terpakai, maka pilihan jenis musik menjadi penting. Setiap jenis musik memiliki beban kognitif berbeda. Karenanya, Galang menilai pilihan jenis musik harus disesuaikan dengan beban tugas utama agar justru tidak mengalihkan fokus dari pekerjaan utama, mengemudi.

Mendengarkan musik instrumentalia atau lagu-lagu ringan yang sudah dihapal dapat menjadi pilihan utama. Lagu-lagu yang sudah dikenal akan membuat otak tidak bekerja keras menyimaknya.

Mendengarkan musik instrumentalia atau lagu-lagu ringan yang sudah dihapal dapat menjadi pilihan utama. Lagu-lagu yang sudah dikenal akan membuat otak tidak bekerja keras menyimaknya.

“Hindari mendengarkan musik bervolume keras dan menghentak, apalagi jika sampai membuat pengemudi bergoyang mengikuti irama musik,” katanya.

Masalahnya, batasan musik menghentak itu sangat cair. Mereka yang suka mendengar musik tenang akan menilai musik dengan nada cukup keras sudah bisa menganggu konsentrasi. Namun, bagi penggemar musik keras, musik bernada cukup menghentak dinilai tidak berdampak apa-apa.

“Pilihan jenis musik bersifat sangat subyektif. Karenanya, mendengarkan musik harus ditempatkan dalam porsi membantu konsentrasi berkendara, bukan malah menganggu fokus mengemudi,” kata Taufiq.

Eksperimen Ayça pun menunjukkan demikian. Pilihan jenis musik tidak memengaruhi fokus berkendara karena tiap orang memiliki pilihan musik sendiri untuk bisa tetap berkonsentrasi.

Meski demikian, Ayça tidak meneliti perbedaan dampak mendengarkan musik dengan mendengarkan berita atau program bincang-bincang. Namun, mendengarkan berita atau acara bincang-bincang menuntut konsentrasi lebih tinggi dibanding mendengarkan musik.

Mendengarkan berita atau acara bincang-bincang menuntut konsentrasi lebih tinggi dibanding mendengarkan musik.

Hal lain yang belum diketahui adalah dampak mendengarkan musik dan hubungannya dengan umur pengemudi. Padahal, kapasitas kognitif seseorang makin turun seiring dengan bertambahnya usia,

Di sinilah pentingnya kebijaksanaan pengemudi untuk menentukan jenis musik yang sesuai dengan kapasitas kognitif. Kebijaksanaan juga diperlukan karena kita tidak pernah tahu seberapa banyak kapasitas kognitif kita terpakai. Karenanya, pencadangan kapasitas kognitif diperlukan hingga kewaspadaan selalu jadi hal utama saat berkendara.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 5 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: