Data Hayati Lemah

- Editor

Rabu, 16 Maret 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Basis data hayati Indonesia lemah meski bersemangat menyambut Protokol Nagoya yang membuka akses dan manfaat bagi pemanfaatan sumber daya genetika.

Idealnya, setiap provinsi punya data kekayaan alam khas daerahnya. ”Kami sedang mengintensifkan lagi menambahkan (sumber daya hayati) yang belum terdaftar,” kata Menteri Lingkungan Hidup Gusti Muhammad Hatta di sela-sela seminar ”Aspek Hukum dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik” di Jakarta, Selasa (15/3).

Basis data penting untuk mengetahui sumber daya hayati asli Indonesia. Pengaturan pemanfaatannya oleh negara lain akan diatur Undang-Undang Pengelolaan Sumber Daya Genetik yang sedang dibahas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Jika negara luar mau pakai, kita tahu asalnya dari mana dan daerah bisa kebagian rezeki dari pemanfaatan sumber daya itu,” kata Gusti.

Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Indonesia Ahmad M Ramli mengakui, basis data Indonesia masih lemah. Basis data penting sebagai bukti hukum kepemilikan.

Ia menyarankan Kementerian Lingkungan Hidup membuat surat keputusan bersama Kementerian Dalam Negeri untuk mendorong gubernur mendata kekayaan sumber daya hayati.

Sikap Indonesia sama dengan negara berkembang lain yang diambil dalam Deklarasi Doha, November 2001, dalam menyikapi kekayaan genetik. Negara-negara berkembang mendesak diberi bukti pembagian keuntungan dari para pemohon paten. ”Pemohon paten harus mengungkapkan sumber material genetik dan pengetahuan tradisional terkait,” katanya.

Data LIPI

Direktur Pusat Peneliti Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Siti Nuramaliati Prijono mengaku punya basis data spesimen fauna di Cibinong. Sejumlah 2 juta contoh tumbuhan terdiri atas herbarium kering, herbarium basah, buah kering, biji, paku-pakuan, dan lumut.

Fauna ada 2,7 juta spesimen sebagai koleksi ilmiah zoologi, yang terdiri atas 25.500 spesimen mamalia, 30.500 burung, 2.280.000 serangga, 11.000 amfibi, 8.000 reptil, 140.000 ikan, 180.000 moluska, dan sekitar 25.000 invertebrata lain.

”Ini baru 20 persen spesies di Indonesia. Yang banyak belum ketahuan jenis serangga,” katanya. Data spesimen itu diakui masih data mentah, berisi lokasi asal spesimen dan identifikasi fisik. Perlu diperdalam sifat genetika dan kegunaannya. (ICH)

Sumber: Kompas, 16 Maret 2011

Informasi terkait

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Berita ini 26 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 September 2026 - 20:32 WIB

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 September 2026 - 20:13 WIB

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Jumat, 18 September 2026 - 06:33 WIB

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB

Artikel

Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:32 WIB

Artikel

Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 20:13 WIB

Artikel

Biomedis atau Teknik Biomedis?

Jumat, 18 Sep 2026 - 06:33 WIB

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB