Home / Berita / Dari Konferensi Genetika Kedokteran Asia-Pasifik II: Selangkah Menuju Terapi Gen

Dari Konferensi Genetika Kedokteran Asia-Pasifik II: Selangkah Menuju Terapi Gen

AbnormaIitas gen dan penyakIt genetik ternyata masuk katagori potensi yang patut diwaspadai. Ada sejumlah Iaporan yang menyebut angka morbiditas yang tidak kecil.

Untuk kesekian kalinya Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBMI) menggelar diskursus ilmiah tentang kemajuan-kemajuan riset genetika mutakhir. Empat bulan lalu –masih segar dalam ingatan kita– LBMI menyelenggarakan Recent Advances in Medical Genetics selama empat hari, 8-11 Mei 1995. Kini –selama lima hari 19-23 September 1995– acara serupa dengan lingkup skala yang lebih luas LBMI menjadi tuan rumah Asia Pasific Conference on Medical Genetics II dan Eijkman Symposium on the Molecular Biology of Diseases. Konferensi serupa yang pertama berlangsung Juli 1994 di Bangkok, Thailand.

Konferensi yang diikuti 300 ilmuwan dari 12 negara dan disponsori WHO berlangsung bersamaan dengan Eijkman Symposium on the Molecural Biology of Diseases. Pertemuan ini mirip dengan kegiatan lima tahun lalu ketika Lembaga Eijkman digagas.

Seperti tersirat dari temanya, banyak isu menarik dibahas dalam pertemuan ilmiah bergengsi itu. Mulai dari identifikasi beragam penyakit genetik, mutasi DNA telaah genetika gejala autoimunisasi hingga prospek terapi gen germatik (sel benih/ generatif) maupun terapi gen somatik (sel tubuh/ vegetatif).

Sayang –seperti diungkap para peserta– diskusi dari berbagai topik menarik itu berlangsung sangat singkat. Bayangkan, setiap makalah utama hanya diberi waktu satu jam, untuk presentasi dan diskusi. Bahkan untuk makalah pendukung dan makalah poster hanya berlangsung 30 menit dan 15 menit.

Pada sesi pertama –21 September 1995– misalnya, dibahas 48 makalah poster. Alokasi waktu presentasi hanya 10 menit. Pemakalah hanya bisa menampilkan dua atau tiga slidenya. Setelah itu diskusi yang hanya berlangsung tidak lebih dari lima menit. Sehingga tidak aneh jika dalam waktu hanya beberapa jam bisa diselesaikan puluhan makalah poster. Padahal hari itu juga berlangsung diskusi dua topik menyangkut sitogenetika (cytogenetics) serta tumor dan kanker.

Maka, tidak heran jika pembicaraan antar sesama ilmuwan tentang makalah masing-masing lebih sering terjadi di waktu-waktu istirahat. Banyak peserta pun menyebut bahwa yang penting dalam peristiwa ini justru terjadinya dialog ilmiah antar individu peneliti.

Ini pun diakui Habibie. “Dialog seperti ini yang memungkinkan para ilmuwan tukar-menukar infomasi. Apalagi seluruh bidang ilmu tidak bisa lagi dimonopoli sebuah negara,”ujarnya usai membuka acara itu.

Apa yang menarik dari diskusi ilmiah itu? Dengarlah apa kata Prof. Robert Williamson, Direktur The Murdoch Institute di Melbourne, Austrialia “Terapi gen somatik, ” katanya, “tak lama lagi akan menjadi satu tindakan medis yang eksotik masa depan. Upaya ini akan menjadi bagian dari penerapan strategi klinik untuk banyak penyakit.”

Meski banyak studi masih dalam tahap riset, jelas Williamson, uji klinik terapi gen telah dimulai untuk penyakit-penyakit genetik yang sifatnya bawaan (warisan orangtua) maupun dapatan(setelah lahir). Introduksi gen dalam tindakan patologi paling mudah ditemukan pada upaya pemahaman dan penatalaksanaan penyakit gen yang resesif seperti cystycfibrosis hiperkolesterolemia –pada pengidap diabetes– akibat kerusakan reseptor LDL serta penyakit defisiensi enzim adeosine deaminase (ADA). Di hampir seluruh kasus, pencangkokan satu kopi dari gen normal ternyata cukup untuk meyakinkan adanya koreksi fungsi seluruh organ.

Semua terapi gen somatik, jelas Williamson, melibatkan satu kombinasi sel-sel target, dengan memasukkan gen yang memberi ekspresi pembentukan protein fungsional untuk mengoreksi kerusakan gen yang terjadi pada sel/organ terdampak.

Kini pihak The Murdoch Institute juga sedang mengembangkan riset dengan target melakukan aplikasi gen secara langsung ke sel somatik yang terdampak. Defisiensi ADA dan hiperko lesterolemia dicobasembuhkan dengan mengambil limposit dan sel-sel hati dari tubuh, kemudian disisipi vektor retrovirus yang mengandung kopi normal dari gen termutasi, dan akhirnya dicangkokkan kembali ke dalam tubuh pasien.

Strategi yang lebih canggih pun segera dikembangkan, dengan melibatkan promotor jaringan khusus atau interaksi vektor dengan reseptor muka sel maupun antigen. Tujuannya menyembuhkan tumor dan kanker secara terapi genetik melalui sel-sel somatik. Secara mandiri maupun melalui kombinasi dan interaksi dengan obat atau pra-obat antikanker.

Beragam upaya terapi gen tampak berkembang cukup pesat. Ini –menurut RGH Cotton (Murdoch Institute) dan YH Tan (Institute of Molecular and Cell Biology, Universitas Nasional Singapura) antara lain– berkat maju dan berkembangnya teknik/metode identifikasi, karakterisasi gen dan deteksi mutasi gen. Berbagai biota renik yang potensial menjadi obyek studi analogi genetika, menurut Direktur LBMI Prof Sangkot Marzuki, juga ikut memacu penerapan riset genetika panda manusia.

Menurut Prof. Sangkot, biogenetika jamur Saccharomyces cerevisiae –biasa digunakan sebagai ragi tape –misalnya merupakan obyek studi yang emanrik untuk diperhatikan. Interaksi mutasi reguler yang mengatur ekspresi genom mitokondria sudah dipelajari secara ektensif dalam jamur Saccharomyces cerevisiae. Ini karena susunan gen ragi tape ternyata mudah dimanipulasi secara genetik dfan fisiologis.

Guru besar biologi molekuler –di FKUI dan Monash University di Melbourne, Australia— ini lantas mengurai soal pentingnya kaitan aktivitas DNA mitokondria (mtDNA) dengan gejala penuaan (ageing) dan munculnya berbagai penyakit degeneratif. ”Satu kemajuan telah dibuat dalam beberapa tahun terakhir dalam memahami ‘aturan main’ dampak mutasi DNA dengan muncul dan berkembangnya sejumlah penyakit dan proses penuaan. Meski mekanisme molekuler yang bertanggung jawab pada rincian proses berkembangnya penyakit, umumnya belum banyak dibentangkan.”

Ekspresi fenotip dari mutasi-mutasi mtDNA menurutnya, merupakan gejala kompleks dan dimodulasi banyak faktor. Studi terbaru sudah menampakan bahwa bermacam lesi mtDNA yang terjadi pada kelainan neurologis awal orang dewasa dan gangguan multisistem pada anak-anak muncul sangat mirip dengan defisiensi sistem respirasi jamur. Ini meliputi delesi multi gen (mirip mutasi-mutasi kecil pada jamur), yang pertama ditemukan pada pasien-pasien CPEO (Chronic Progressive External Ophthalmoplegia). Ekspresi yang mirip dengan mutasi mit dan syn pada jamur S. cerevisiae juga sudah terindentifikasi pada LHON (Leber’s Hereditary Optic Neuropathy), encephalomiopati MERRF (Myoclonic Epilepsy with Ragged Red Fibers), dan sindroma MELAS (Mitochondrial Encephalomyopathy Lactic Acidosis Stroke).

Sebuah perspektif studi biokimia molekuler dalam penyakit mitokondria dan gejala aging neurologis dipaparkan Edwrad E. Byme dari Melbourne Meuromucular Research Centre RS St Vincent’s, Australia.
Dilaporkan, dari penelitian terhadap sekitar 460 pasien terdeteksi adanya mutasi mtDNA pada 310 pasien. Sedang pada 160 pasien, sisanya, kadang-kadang saja ditemukan kelainan non-mitokondria. Dari 310 pasien termutasi mtDNA, 40 di antaranya diketahui positif mengalami mutasi mtDNA primer (13%). Dari riset itu juga ditemukan adanya kaitan antara mutasi mtDNA dengan gejala stroke pada usia muda.
Tesis Prof Sangkot didukung oleh Prof. Masashi Tanaka dari Universitas Nagoya yang mengatakan hahwa akumulasi mutasi somatik dalam genom mitokondria adalah kontributor penting bagi proses ageing dan munculnya penyakit-penyakit degeneratif. Ini mengungkapkan kurangnya susunan rantai respirasi molekuler yang disebabkan oleh kerusakan genetika mitokondria primer akan meningkatkan kebocoran radikal oksigen dari rantai respirasi.

Kerusakan enzimatik gradual sebagaimana tampak dalam berbagai penyakit degeneratif –muncul akibat dari akumulasi mutasi sekunder yang menghasilkan radikal bebas oksigen, yang kemudian diketahui merupakan pemacu rusaknya mtDNA. Mutasi tersebut, menurut Tanaka, dapat terjadi pada sel somatik dan germinal.

Dr. Herawati Sudoyo, dari Eijkman, pada konferensi itu juga mengungkap kaitan mutasi mtDNA dengan sindroma LHON. Satu gejala kebutaan mendadak akibat atropi optikbilateral pada multiorgan dan kadang-kadang muncul secara sporadik pada keluarga tertentu. Sekitar 50-70% LHON, menurut riset Herawati, terkait dengan mutasi pada gen ND4 dari kompleks I sistem respirasi sel. Sementara pada kasus lain, ada juga indikasi LHON terkait dengan proses kekebalan (autoimun) yang dipengaruhi kesalahan target polipeptida ND4 pada selaput plasma sebagai konsekuensi mutasi di tingkat seluler. Sejumlah kemajuan dalam riset genetika bukannya tanpa kendala. Ini pun diakui sejumlah peneliti. Prof. Williamson, misalnya, mengatakan, “Meski banyak masalah telah dipecahkah, cara deliver gen yang ada, bagaimanapun, masih membawa kemungkinan risiko efek samping dan hasil yang kurang efisien.” Untuk itulah, ia menganjurkan sebaiknya dikembangkan riset meredam efek samping, berupa peradangan maupun gejala kekebalan. Dalam jangka panjang, menurutnya, sebaiknya ada upaya terintegrasi mencari situs spesifik dan penggunaan kromosom buatan untuk terapi gen manusia.

Masalah lain yang agaknya dirisaukan para peneliti adalah kendala etika riset genetika maupun keputusan moral boleh tidaknya penerapan terapi gen menggunakan vektor atau subtansi gen sintetik. Persoalan ini antara lain diungkap Prof. Takafumi Ishida dari Universitas Tokyo yang memimpin Human Genome Project di Asia. Kendati dilematis, ia mengaku telah mengoleksi 400 sampel darah dari 10 populasi etnik penting di Asia. Beberapa hasil risetnya adalah kelainan kromosom di Asia, kalau boleh dirata-ratakan, adalah satu dalam setiap 700 kelahiran. Dan kromosom abnormal paling banyak terjadi pada krornosom No. 21. Sedang retardasi mental paling umum terpaut dengan kromosom X.

Abnormalitas gen dan penyakit genetik ternyata masuk katagori potensi yang patut diwaspadai. Ada sejumlah laporan yang menyebut angka morbiditas yang tidak kecil. Dan Malaysia, sebagai contoh, Dr. M Nizam Isa, menyebut ada 22.000 kasus anomali gen di Malaysia pada 1994. 15.200 di antaranya terancam Thalasemia, dimana 15% di antaranya harus tergantung pada tranfusi darah secara teratur dalam jangka panjang, dengan laju kematian 3,8% per tahun.

Di India, Dr. IC Verma melaporkan ada 211.500 anak menderita sindrom kelainan gen setiap tahun. 30% di antaranya muncul dalam ekspresi penyakit jantung dan infeksi. Dari Filipina, Dr. Carmencita David-Padilla, meski tidak menyebut angka, menyebut penyakit genetik termasuk masalah serius. Sementara di Indonesia, menurut Prof. Iskandar Wahidiat (FKUI), kelainan genetik diperkirakan punya prevalensi 3-8% dari populasi, dimana 40-50% di antaranya adalah pengidap Thalasemia. Hingga kini setidaknya ada 1.000 kasus anomali gen telah dilaporkan terjadi di Indonesia.–dedi junaedi/teguh setiawan
——————
Nyamuk dan Anomali Gen di Indonesia

Malaria yang masih menyerang wilayah-wilayah tertentu di Indonesia ternyata tak hanya wabah yang menyebabkan kematian bagi penderitanya. Pada saat yang sama, ia juga jadi penyebab anomali gen manusia. Menurut satu perkiraan, jumlah pengidap anomali gen di Indonesia mencapai 7 persen dari seluruh rakyat Indonesia. Untungnya, kelainan genetik –bagi sebagian masyarakat– justru membuat pengidapnya lebih kebal terhadap penyakit malaria. Ini antara lain terungkap dalam penelitian Dr. Alida Harahap dari LBMI.

Morbiditas anomali gen, menurut Menristek BJ Habibie –pada pembukaan Konferensi Genetika Kedokteran Asia Pasifik dan Simposium Eijkman di Jakrta Rabu (200)– yang lumayan ‘tinggi’ itu membuktikan betapa malariamasih merupakan ancaman bagi rakyat Indonesia. Terutama di daerah-daerah pedalaman.

“Kita harus menekan angka ini,” tegas Habibie. Jika dibiarkan, jelas Habibie, bukan mustahil porsi anomali akan makin banyak. Sementara kita mungkin berspekulasi dengan potensi kekebalan pada sebagian masyarakat kita. Bagi mereka yang memiliki kelainan genetis dikhawatirkan semakin tidak tahan terhadap malaria,” kata Menristek BJ Habibie.

Menurutnya, jika asumsi penduduk Indonesia 190 juta, maka terdapat lebih 10 juta pengidap anomali genetika. Meski tersebar di wilayah pedalaman di seluruh Indonesia, jumlah ini begitu besar. Apalagi bagi daerah yang kerap kali dapat serangan penyakit malaria, yang menyebabkan munculnya kematian dan di sisi lain memunculkan pengidap kelainan genetis baru.

Menjawab pertanyaan wartawan tentang uapaya yang perlu diambil Lembaga Eijkman, Habibie mengatakan sudah saatnya diadakan peneltian bersama negara-negara Asia Pasifik dalam bidang rekayasan genetika. Ini penting untuk mengetahui sejauh mana kelainan genetis akibat malaria bisa dicegah. Lebih dari itu sudah saatnya pula mengembangkan obat anti-malaria untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari penyakit mengerikan itu.

“Lewat konferensi ini diharapkan bisa dihasilkan terjadi saling tukar informasi mengenai perkembangan bioteknologi. Khususnya untuk menaggulangi penyakit malaria,” ujar Habibie.

Lebih lanjut disebutkan, saat ini penelitian di bidang bioteknologi bukan lagi monopoli negara-negara maju. Tetapi diminati setiap negara yang memiliki kemampuan untuk mengembangkannya. Begitu pula produk-produk unggulan yang akan dihasilkannya kelak. Terlebih kenyataan membuktikan betapa bidang bioteknologi memberi banyak manfaat bagi kesejahteraan rakyat banyak di seluruh dunia.

Namun Habibie juga tidak membantah masih sedikitnya kalangan swasta yang tertarik memanfaatkan hasil-hasil penelitian. Padahal, Puslitbang Bioteknologi Industri di Puspitek Serpong –yang dibangun dengan investasi 150 juta dollar AS– misalnya, memperlihatkan kemajuan. Lembaga litbang ini mampu membuat antibiotik yang dibutuhkan banyak rakyat Indonesia.

“Kalau nggak ada yang mau, ya nggak apa-apa. Pemerintah akan terus jalan, meneliti dan mengembangkan produk unggulan bidang kedokteran, “ kata Habibie. Alasannya, pemerintah sudah commited untuk memberi perhatian ke bidang bioteknologi. –teg.

Sumber: Republika Minggu, 24 September 1995

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: