Home / Berita / Dalam Pendidikan Era Baru, Guru Mesti Kreatif dan Melek Teknologi

Dalam Pendidikan Era Baru, Guru Mesti Kreatif dan Melek Teknologi

Pendidikan masa depan tidak cukup hanya mengandalkan pelajaran melalui tatap muka antara siswa dan guru. Guru dituntut menguasai teknologi dan kreatif menciptakan konten pelajaran yang menarik minat generasi muda.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ–Hiro (11), siswa Sekolah Alam Tanah Tingal di Tangerang Selatan, Banten, belajar di rumahnya karena pemerintah meliburkan kegiatan belajar di sekolah, Selasa (17/3/2020). Hiro mendapatkan materi ajar dari surel yang dikirim pihak sekolah.

Pandemi Covid-19 membuka kesadaran bahwa guru dituntut kreatif dan melek teknologi dalam mendidik siswa. Model belajar jarak jauh kini menyulap guru tidak hanya sebagai tenaga pengajar, tetapi juga konten kreator dengan membuat dan menyiarkan materi pelajaran daring. Dengan sistem ini, siswa bisa belajar di mana saja dan kapan saja.

”Hello everyone, happy to see you again!” kata Komang Budiadnya, guru Bahasa Inggris di SMAN 2 Banjar, Buleleng, Bali, melalui tayangan video yang disiarkan di Youtube. Dalam video yang disiarkan pada 25 April 2020, Komang mengajarkan siswa materi pelajaran mengenai teka-teki atau Riddles. Video itu menarik karena siswa bisa melihat Komang menjelaskan materi pelajaran secara virtual dan disertai dengan desain grafis yang menarik.

Selain belajar melalui video, Komang juga bereksplorasi membuat kelas maya melalui berbagai aplikasi, seperti Zoom, Google Hangout, Webex, dan Google Classroom. Presensi kelas juga dilakukan secara virtual menggunakan Google Form.

Komang menuturkan, ide membuat konten video Youtube muncul sejak penerapan belajar jarak jauh untuk mengurangi kemungkinan penyebaran Covid-19 di Indonesia. ”Begitu ada penerapan belajar jarak jauh, saya langsung menghitung berapa siswa yang mempunyai smartphone dan berapa yang tidak punya. Saya juga menghitung berapa anak yang kesulitan mengakses internet karena rumahnya di daerah pegunungan,” tutur Komang.

Setelah dihitung, sebanyak 70 persen dari 890 siswa mempunyai gawai. Namun, sebagian besar siswa terkendala kuota paket internet dan jaringan yang tidak stabil. Oleh karena itu, siswa akan kesulitan apabila setiap hari harus mengikuti jadwal belajar virtual menggunakan konferensi video. Apalagi, banyak siswa yang tidak mempunyai telepon genggam. Mereka harus meminjam tetangga atau teman demi belajar.

Komang kemudian berinovasi membuat konten Youtube agar bisa membagikan ilmu kepada siswa. ”Dengan konten video yang dibagikan gratis, siswa bisa belajar kapan pun dan di mana saja begitu mereka mendapatkan sinyal. Selain itu, model pembelajaran dengan video memungkinkan siswa mengulang-ulang materi sesuai kebutuhan,” jelas Komang.

Penerapan media pembelajaran e-learning seperti yang dilakukan Komang sebenarnya sudah muncul di Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Namun, ketika itu, banyak guru yang menolak sistem ini karena khawatir teknologi akan menggantikan peran guru di kelas. Dengan adanya pandemi, hal ini membuat guru akhirnya beradaptasi dan menguasai teknologi. Guru dituntut kreatif dalam memberikan materi kepada siswa sesuai dengan kebutuhan zaman.

Menurut Komang, model pelajaran seperti ini sangat sesuai dengan kebutuhan generasi Z yang melek teknologi. ”Anak-anak merasa antusias. Gawai yang sebelumnya hanya dipakai untuk bermain game online sekarang bisa dipakai belajar,” kata Komang.

Mengingat tidak semua guru menguasai teknologi, menurut Komang, perlu ada petunjuk teknis dalam penerapan sistem belajar ini di lapangan. ”Sekarang guru berinovasi tergantung kreativitas masing-masing, jadi belum ada standardisasi. Kalau ada petunjuk teknis bagaimana bisa menerapkan pembelajaran jarak jauh, ini akan membantu guru,” katanya.

Sistem SKS
Di SMAN 10 Bandung, sistem belajar jarak jauh sudah diterapkan sejak dua tahun lalu karena sekolah ini berjalan menggunakan sistem kredit semester (SKS) ala anak kuliahan. Melalui sistem yang menggabungkan pelajaran di kelas dan pelajaran daring, siswa diajak menjalankan kegiatan belajar mandiri.

”Dengan sistem SKS, siswa yang mempunyai kecepatan belajar lebih dibandingkan kawan-kawannya dapat melaporkan kepada guru mereka apabila sudah selesai menguasai satu kompetensi belajar. Oleh guru tersebut, siswa kemudian diajak mempelajari kompetensi belajar lanjutan yang lebih canggih. Materi belajar dibagikan secara online,” kata Kepala SMAN 10 Bandung Ade Suryaman.

Menurut Ade, sistem SKS sebenarnya sudah diterapkan sejak dua tahun lalu atau tidak berkaitan dengan pandemi Covid-19. ”Sekarang, sistem ini lebih digenjot. Dengan adanya Covid-19 ini, kami jadi semakin yakin dalam menerapkan sistem ini dan berusaha menjalankannya sebaik mungkin,” ujarnya.

Fabiana Ayu (29), ibu dari siswa SD di Kudus, mengatakan, keberhasilan sistem pembelajaran jarak jauh sangat bergantung pada kreativitas guru serta interaksi antara orangtua dan anak di rumah. ”Ada guru yang kreatif dalam membagikan materi belajar, ada yang pasif. Kalau hanya pasif, seperti hanya memberi tugas-tugas untuk dikerjakan di rumah, anak-anak jadi merasa bosan belajar,” kata ibu dari Agracio (9) dan Benedicta (7) ini.

Sementara guru yang aktif dan rajin bersilaturahmi dengan siswa seperti menelepon, membuat kelas virtual melalui konferensi video, dan menstimulus anak-anak dengan berbagai kuis membuat semangat belajar anak meningkat.

Ayu menuturkan, sebagai orangtua, ia tidak kesulitan membantu anak-anak belajar di rumah. Apalagi kedua anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar sehingga materi belajar tidak terlalu sulit. Kendala yang sering ia temui terkait keterbatasan kuota internet. ”Saya harus lebih aktif cari materi belajar untuk anak-anak saya. Itu, kan, butuh kuota yang tidak sedikit,” katanya.

—Murid kelas VIII menggunakan komputer jinjing yang tersambung dengan jaringan internet nirkabel saat mengikuti pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam di kelas program dwibahasa SMP Negeri 12, Jakarta. Penyebaran jaringan internet di Indonesia belum merata, itu pun terbatas di kota-kota besar.

Oleh DENTY PIAWAI NASTITIE

Editor ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 3 Mei 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: