Covid-19 dan Kesehatan Masyarakat

- Editor

Jumat, 17 Juli 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Usaha kuratif, yang berorientasi jangka pendek dan menengah, dan preventif, yang berorientasi jangka panjang, harus berjalan beriringan. Kita harus tetap fokus untuk terus membangun kejayaan Indonesia sebangai bangsa.

KOMPAS/L—-Laju Penambahan Kasus Covid-19 di Indonesia (14/07/2020)

Pengalaman adalah guru yang terbaik dan pengalaman terburuk memberikan pelajaran yang paling berharga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dunia sedang diuji dengan merebaknya virus SARS-CoV-2 dan Indonesia juga harus melalui ujian yang sama. Ujian kali ini sangat berat karena menyangkut nyawa dan belum ada satu pun manusia di muka bumi ini yang memiliki pemahaman untuk memberikan solusi terbaik untuk masalah yang ada.

Dengan demikian, kebijakan berdasarkan ilmu pengetahuan yang mungkin berhasil di suatu negara belum tentu dapat berhasil di negara lain. Model penelitian yang sudah pernah digunakan di negara lain belum tentu dapat digunakan di sini.

Covid-19 dan Kesehatan Masyarakat
Hal yang membuatnya gamang adalah bagaimana virus ini menyebar sangat cepat, jauh lebih cepat daripada penyakit lain selama ini. Pola transportasi modern telah tanpa sengaja membantu penyebaran penyakit ini menjadi penyakit modern dalam jangka waktu yang singkat.

Di Indonesia, kita telah melihat kenaikan tingkat kematian. Namun, kita belum mengetahui tingkat penyebaran virus ini. Masih banyak yang kita belum ketahui dan yang sepertinya sudah kita ketahui dapat berubah dalam hitungan hari, jam, menit, bahkan detik.

Kita belum tahu bagaimana kekebalan tubuh dapat terbentuk. Peneliti di Indonesia kekurangan data. Setiap lokasi di Indonesia, baik di tingkat kecamatan, kabupaten, maupun provinsi, memiliki karakteristik berbeda. Apakah iklim merupakan suatu variabel dalam menentukan tingkat penyebaran? Kami tak tahu. Tetapi peneliti harus berasumsi demikian.

Kita tak perlu panik. Kita harus terus waspada dan menerapkan semua tindakan pencegahan. Tetapi, seperti diungkapan dr Fauci, langkah pencegahan tak memberikan jaminan apa pun. Para ilmuwan harus bekerja ekstra keras dalam mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang virus ini.

SARS-CoV-2 bisa jadi, atau mungkin bukan, virus paling berbahaya yang dikenal dalam sejarah manusia. Sekali lagi, kita belum tahu. Secara statistik, ada penyakit lain yang lebih banyak merenggut nyawa dibandingkan korona. Kurva epidemi (epi curve) menunjukkan perkembangan penyakit dalam wabah dari waktu ke waktu dan kurva epi yang akurat diperlukan untuk dapat membantu pemerintah menentukan prioritas demi mengatasi pandemi Covid-19.

Setiap orang ingin kembali ke kehidupan normal mereka dan melakukan bisnis sehari-hari. Baru-baru ini Indonesia berada di daftar teratas kasus yang dilaporkan di Asia Tenggara dan jumlah yang dilaporkan ini hanyalah puncak gunung es.

Ukuran gunung es, atau prevalensi Covid-19, dapat ditentukan dengan tes serologis (antibodi), umumnya dikenal sebagai rapid test. Tes PCR tidak dapat memberikan informasi tentang prevalensi. Namun, rapid test, tentu saja, harus dilakukan dengan benar, dengan metodologi yang sesuai, dengan menentukan sampel yang tepat, agar data dapat diekstrapolasi untuk akhirnya menghasilkan angka prevalensi atau mendapatkan kurva epi yang akurat.

Seiring dengan bertambahnya pengetahuan kita terkait pandemi ini, kebijakan untuk tindakan preventif dan kuratif harus terus berjalan bersamaan.

Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah salah satu program single-payer terbesar dan paling ambisius di dunia. Diluncurkan pada Januari 2014, JKN telah mencakup 221 juta orang, atau 83 persen dari populasi Indonesia pada Mei 2020.

Pemerintah berkomitmen memastikan keberlanjutan JKN dan memiliki dampak positif pada hasil kesehatan, perlindungan keuangan, ekuitas kesehatan, dan pada pasar kesehatan dan ekonomi secara umum. Namun, defisit tahunan terus meningkat dan keberlangsungannya sangat membutuhkan perhatian lebih. Pandemi Covid-19 jelas menambah tekanan pada sistem perawatan kesehatan Indonesia.

Preventif dan kuratif
Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) telah memproyeksikan dampak Covid-19 pada perekonomian dan semua skenario menunjukkan anggaran untuk mengurangi pandemi akan meroket, sesuai anggaran negara untuk belanja kesehatan 2020.

Sistem JKN yang kita miliki merupakan pendekatan kuratif, atau istilah awamnya mengobati. Adapun porsi yang dialokasikan untuk program-program preventif dengan peningkatan kesehatan masyarakat, pencegahan, dan pengendalian penyakit serta pendidikan hanya sekitar 7 persen dari keseluruhan alokasi anggaran kesehatan 2021 yang sedang dibahas di DPR saat ini. Padahal, kita semua sepakat mencegah lebih baik daripada mengobati.

Salah satu contoh fokus program peningkatan kesehatan masyarakat adalah peningkatan kesehatan ibu dan anak. Peran bidan dalam membantu ibu selama dan setelah persalinan, dan selama kehamilan, menjadi amat penting. Dengan jumlah kasus Covid-19 yang terus meningkat, bidan di seluruh Indonesia harus menavigasi prosedur baru saat melahirkan bayi, dengan kesadaran penuh bahwa mereka mengekspos diri mereka terhadap kemungkinan infeksi.

Ikatan Bidan Indonesia (IBI) mencatat, pandemi ini mengakibatkan wanita hamil dan pasangan enggan untuk mengunjungi fasilitas kesehatan, bahkan hanya untuk menjalani pemeriksaan atau menerima kontrasepsi.

Di sisi lain, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Indonesia (BKKBN) memproyeksikan peningkatan kelahiran sebanyak 420.000 kelahiran di awal 2021, jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan. Peningkatan jumlah kehamilan yang tak direncanakan selama pandemi tak hanya meningkatkan risiko kesehatan bagi ibu dan bayi, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi rumah tangga baru yang kemungkinan besar telah dihadapkan pada beban finansial sebagai dampak dari pandemi.

Perdana Menteri Inggris Winston Churchill mengatakan, ”Warga negara yang sehat adalah aset terbesar yang dapat dimiliki sebuah bangsa.” Kutipan tersebut masih akan relevan hingga akhir zaman.

Usaha kuratif, yang berorientasi jangka pendek dan menengah, dan preventif, yang berorientasi jangka panjang, harus berjalan beriringan. Kita harus tetap fokus untuk terus membangun kejayaan Indonesia sebagai bangsa yang kuat dengan mengutamakan kesehatan setiap warga negaranya.

Dono Widiatmoko, Senior Lecturer di University of Derby, Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia.

Sumber: Kompas, 17 Juli 2020

Informasi terkait

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Senin, 27 Juli 2026 - 18:53 WIB

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Berita Terbaru

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB

Artikel

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Senin, 27 Jul 2026 - 18:53 WIB

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB