Home / Berita / Siapkan Skenario Jangka Panjang Atasi Covid-19

Siapkan Skenario Jangka Panjang Atasi Covid-19

Pemerintah mesti menyiapkan strategi jangka panjang dengan indikator jelas untuk menentukan kapan harus memperketat atau melonggarkan pembatasan sosial berskala besar. Hal itu seiring terus bertambahnya kasus Covid-19.

Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan, virus korona baru yang menyebabkan Covid-19 ini bisa menjadi endemik dan akan terus beredar di masyarakat. Karena itu, strategi jangka panjang dengan indikator yang jelas diperlukan untuk menentukan kapan harus memperketat atau melonggarkan pembatasan sosial berskala besar.

Seperti dilaporkan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, di Jakarta, Kamis (14/5), penambahan kasus di Indonesia terus meningkat, mencapai 568 orang dibandingkan sehari sebelumnya. Dengan penambahan ini, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 16.006 orang dengan 1.043 korban jiwa.

Penambahan kasus positif ini tergolong cukup tinggi, sekalipun jumlah pemeriksaan masih belum menunjukkan peningkatan signifikan. Dalam sehari, penambahan uji reaksi rantai polimerase atau PCR hanya 4.214 orang dan spesimen yang diperiksa 4.495 orang. Jumlah ini masih jauh lebih kecil dari target 10.000 spesimen per hari yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sejak sebulan lalu.

Meski demikian, dengan masih tingginya penambahan kasus, pelanggaran pembatasan sosial berskala besar seperti terjadinya antrean di terminal Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta, pada Kamis pagi, seiring dengan pembukaan kembali penerbangan.

“Kepadatan di Bandara Soekarno Hatta ini berbahaya, bisa membawa kluster baru Covid-19 ke berbagai daerah. Padahal jelas grafik kasus Covid-19 kita belum ada penurunan. Ini menunjukkan pemerintah tidak punya strategi yang jelas,” kata epidemiolog Griffith University, Australia Dicky Budiman.

Pemerintah Indonesia seharusnya memiliki strategi nasional jangka pendek, menengah, dan panjang dalam menghadapi pandemi ini. Srategi ini harus terus dievaluasi dengan indikator yang tranparan dan terukur.

Sebagai contoh, jika data menunjukkan adanya penurunan angka angka reproduksi kasus (Ro), maka intervensi bisa dilonggarkan untuk menjalankan aktivitas ekonomi. Namun, begitu ada peningkatan kasus, harus segera diketatkan kembali. Masalahnya, indikator ini tidak dimiliki Indonesia, sehingga keberhasilan intervensi sulit diketahui.

Dicky menambahkan, pemerintah harus berkolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak terkait guna memperkuat surveillance of influenza like illness (ILI) and severe acute respiratory infections (SARI). Namun, hal terpenting, pemerintah perlu memperkuat tes dan penelusuran kontak dengan pasien positif Covid-19.

Keterbatasan tes ini sebelumnya juga dikeluhkan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) terpilih, Adib Khumaidi dalam diskusi yang diadakan Universitas Pelita Harapan. ” Covid-19 ini merupakan problem epidemiologis dan klinis. Tanpa tes, kita tidak bisa melakukan tracing (penelusuran). Harus dibuat tes seluasnya dan jadi satu pintu. Jangan takut naik angka kasusnya. Semakin banyak yang terkonfirmasi positif sejak awal semakin baik sehingga bisa segera dilacak dan ditangani,” ungkapnya.

Adib mengatakan, keterlambatan tes ini membuat kita tidak bisa memutus mata rantau penularan. Selain itu, hal tersebut memperlambat tata laksana penanganan pasien. Kondisi ini juga menyebabkan banyak orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) meninggal dunia.

Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengakui, tes Covid-19 masih menjadi kendala besar karena dilakukan berbagai laboratorium di bawah tujuh institusi berbeda. Dia juga mengakui adanya keterlambatan dalam proses dan pengumuman hasil tes, sehingga angka kasus harian yang diumumkan tidak menggambarka kondisi terbaru.

“Ini tidak mudah dikooridnasikan. Padahal sudah sebulan lewat. Dari tujuh instansi ini, kami harapkan bisa laporkan lasngsung ke Gugus Tugas. Kami berusaha agar ini dipatuhi,” ujarnya.

Bisa endemik
Dalam jumpa pers virtual, dari Geneva, Swiss, Rabu (14/5/2020), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan tiap negara untuk menghadapi virus ini dalam jangka waktu panjang. “Penting untuk meletakkan ini di atas meja: virus ini mungkin hanya menjadi virus endemik lain di komunitas kita, dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang,” kata pakar kedaruratan WHO Mike Ryan.

Sekalipun publik global saat ini mengharapkan agar Covid-19 bisa segera di atasi, namun kita perlu mempersiapkan diri menghadapi perang panjang, bahkan selamanya dengan virus penyakit infeksi mematikan ini. “Saya pikir penting bagi kita untuk realistis dan saya tidak berpikir siapa pun dapat memprediksi kapan penyakit ini akan hilang,” tambahnya.

Menurut Ryan, jika nanti telah ditemukan vaksin, tetap dibutuhkan upaya besar-besaran untuk mengimplementasikannya. Saat ini lebih dari 100 kandidat vaksin sedang dikembangkan, sebagian telah memasuki tahap uji klinis. Contohnya, penyakit menular seperti campak telah ditemukan vaksinnya tapi sampai kini penyakit tersebut belum bisa dieliminasi dari muka Bumi.

Sejak diketahui muncul awal Januari 2020 lalu, hingga Kamis (14/5/2020) ini Covid-19 telah menginfeksi 4.429.725 orang dan menewaskan 298.174 orang di 213 negara di dunia.

Sekalipun demikian, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus masih optimis kita mengendalikan pandemi ini dengan upaya yang keras. “Arahnya ada di tangan kita, dan ini adalah urusan semua orang. Kita semua harus berkontribusi untuk menghentikan pandemi ini.”

Ahli epidemiologi WHO Maria van Kerkhove menambahkan, kita perlu membangun pola pikir bahwa akan membutuhkan waktu lama untuk keluar dari pandemi ini.

Pihak WHO menyampaikan peringatan ini saat banyak negara mulai membuka kembali ekonomi. Uni Eropa berencana membuka kembali secara bertahap perbatasan yang telah ditutup oleh pandemi. Demikian halnya, pemerintah Indonesia berencana melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Sejumlah negara yang telah dulu membuka akivitas ekonomi kini dihadapkan pada munculnya kasus baru Covid-19 misalnya di Wuhan, China yang menjadi episenter awal, ada tujuh kasus baru pada Rabu. Kasus baru di Wuhan pertama kali muncul kembali pada Minggu (10/5), setelah tidak ditemukan adanya kasus infeksi sejak 3 April 2020. Pembukaaan kembali Wuhan dari karantina dilakukan pada 8 April lalu.

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 15 Mei 2020

Share
x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: