Home / Berita / Coding, Berbahasa Digital untuk Semua

Coding, Berbahasa Digital untuk Semua

Ayu Dyah Andari adalah seorang perancang busana yang kerap memadukan pola-pola bordir untuk para pelanggan. Pengalaman selama berdiskusi dengan pemesan untuk busana yang dirancang, Ayu menyadari bahwa keinginan mereka sungguh beragam.

”Ada yang ingin polanya tidak terlalu besar, tapi tidak terlampau kecil. Ada yang ingin posisinya tidak terlalu atas, tapi tidak terlalu ke bawah,” ujar Ayu sewaktu membagikan pengalamannya, Rabu (18/3).

Yang dia lakukan kemudian adalah mencetak pola tersebut pada selembar kertas dan berkonsultasi dengan pelanggan. Hal yang sama kembali dilakukan apabila desain tersebut harus direvisi. Bagi Ayu, hal itu memakan banyak waktu dan tidak efektif.

Itulah masalah yang sedang dia hadapi. Ayu justru mendapatkan pemecahannya dari bidang yang tidak pernah digeluti sama sekali, yakni menulis kode program atau coding. Dia berpartisipasi dalam kolaborasi menulis kode yang diselenggarakan Microsoft, yakni #WeSpeakCode, untuk mengikuti pelatihan membuat aplikasi dan dalam 15 jam membuat aplikasi bernama Technoethnic.

1894aeeee9fb4fdf977a5993acf0ed55Desainer busana, Ayu Dyah Andari, mempertunjukkan cara kerja aplikasi Technoethnic yang ditulisnya dalam sesi selama 15 jam, Rabu (18/3). Dia membuat aplikasi ini untuk membantunya mengatasi masalah pembuatan desain untuk para klien.Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Cara kerja aplikasi tersebut sederhana, yakni mencoba pola di busana secara virtual dan pengguna bisa mengatur sendiri posisi dan ukurannya. Dengan demikian, Ayu tidak perlu lagi mencetak contoh desain di kertas dan mengulanginya setiap kali ada revisi. Masalahnya pun selesai.

Musisi bernama Dwika Putra juga mendapati masalah. Dia punya keinginan untuk mencari cara lain guna mendokumentasikan sebuah pertunjukan musik. Selama ini dilakukan dengan mengambil gambar, video, atau rekaman suara. Melalui inisiatif yang sama dengan Ayu, Dwika membuat aplikasi bernama SongFlake yang terinspirasi dari kata snowflake atau kepingan salju yang, menurut dia, tidak pernah memiliki pola yang sama antara satu dan lainnya.

Dwika menjelaskan, SongFlake menerjemahkan bunyi instrumen musik menjadi grafis sehingga satu lagu bisa menghasilkan gambar yang berbeda dengan lagu lain. Begitu pula lagu yang sama yang dibawakan pada kesempatan yang berbeda tetap menghasilkan gambar yang berbeda. Tentu saja aplikasinya jauh dari sempurna karena baru dibuat sendiri dalam waktu 15 jam.

Aplikasi Technoethnic ditulis Ayu yang sebelumnya tidak pernah menulis kode sama sekali. Dwika relatif lebih baik karena pernah bersentuhan dengan dunia menulis kode sewaktu kuliah, tetapi kemampuan tersebut tidak terasah karena dia memilih untuk menekuni jalur seni.

Menyelesaikan masalah
Pengajar coding dari Coding Indonesia, Wahyudi, mengatakan, itulah manfaat dari coding, seperti halnya keterampilan hidup lainnya, yakni menyelesaikan masalah. Sayangnya, tidak banyak orang yang memilih untuk belajar coding karena telanjur patah semangat melihat kerumitan yang harus dijalani untuk mempelajari bahasa pemrograman.

c3431bc57af64f6991768dc8f2932c93Musisi Dwika Putra menunjukkan aplikasi SongFlake yang dibuatnya hanya dalam waktu 15 jam melalui kolaborasi bersama Microsoft dalam gerakan #WeSpeakCode, Rabu (18/3). Aplikasi yang ditulisnya ini menghasilkan gambar dari permainan musik yang dilakukan sebelumnya sehingga setiap lagu akan menghasilkan gambar yang berbeda.

Hingga kini ada berbagai bahasa pemrograman yang banyak dipakai, seperti C++, C#, Python, Java, Objective-C, PHP, Ruby, dan Swift dan mereka memiliki fungsi yang berbeda.

”Masih ada anggapan yang mengatakan bahwa coding hanya bisa dilakukan oleh mereka yang jago matematika. Masalah berikutnya adalah tidak sabar karena ingin melihat hasil secara cepat,” ujar Wahyudi.

Yang dibutuhkan untuk coding bukanlah kemampuan untuk menghafal bahasa pemrograman tertentu, ujar Wahyudi. Justru berpikir secara sistematis menggunakan logika menjadi syarat utama karena dalam pemrograman, apa pun bahasanya, membiasakan penulis kode untuk berpikir ”jika ini maka itu” atau variabel. Apabila dibalik, mereka yang intens dalam menulis coding akan terasah disiplin berpikir dan logika mereka.

Setiap hari sebetulnya manusia melakukan coding. Apabila perut terasa lapar, dia akan pergi mencari makanan. Ada pula pola repetisi yang dicontohkan dengan pergi ke sekolah setiap hari, kecuali hari libur.

Wahyudi menambahkan, coding pun menjadi keterampilan yang dibutuhkan karena aplikasi adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari gawai elektronik yang selama ini tidak terpisahkan dari tangan kebanyakan manusia, baik tua maupun muda. Menguasai keterampilan coding berarti memungkinkan seseorang untuk mengatasi masalahnya atau orang lain menggunakan perangkat yang sudah banyak digunakan.

Hal itu dibenarkan oleh Dwika yang merasakan manfaat dari belajar coding semasa kuliah meski sebagian besar kemampuannya tidak terasah. ”Saya lebih runut dalam melihat hidup, misalnya apabila saya melakukan hal ini, saya harus menjalani konsekuensinya. Berbagai skenario atas pilihan yang dibuat juga harus dipikirkan sebelumnya karena itu pula yang dilakukan sewaktu menulis kode program,” ujarnya.

Dekan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia Mirna Adriani menyebutkan, menumbuhkan minat untuk coding sebaiknya dimulai sejak masa sekolah karena saat ini mereka sudah akrab dengan gawai sehingga sekolah sudah harus mulai mengenalkan mereka pada dunia pemrograman. Sayangnya, ada jeda terhadap murid yang bersekolah di daerah yang kerap tidak mendapatkan hal tersebut.

Mirna mengatakan, pendidikan teknologi informasi kian relevan dan lapangan pekerjaan makin terbuka lebar saat ini. Perilaku manusia yang selalu menggunakan produk teknologi memunculkan kebutuhan para pencipta aplikasi untuk mereka.

Lapangan pekerjaan inilah yang disebut Mirna hingga kini belum terpenuhi, terlebih dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan tenaga ahli dari Indonesia untuk bekerja di negara di Asia Tenggara.

Bagaimanakah sebaiknya anak bersentuhan dengan dunia penulisan kode pemrograman? Hal itu akan diulas pada bagian ke dua dari tulisan mengenai coding.

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Sumber: Kompas Siang | 28 Maret 2015
———————-
Sekolah Pemrograman, Mengakrabi Kode sejak Dini

Menghadap ke komputer jinjingnya, Jordan yang berusia 12 tahun mengamati balok-balok berwarna-warni yang harus disusun secara tepat. Balok itu berisi kalimat perintah agar dia bisa membangun ulang permainan Flappy Birds yang sempat meledak tahun lalu.

Menggunakan tetikus, Jordan menyusun baris demi baris kode agar permainan tersebut bisa dijalankan seperti apa yang terjadi bila karakter burung membentur rintangan atau melewatinya.

Tingkatan demi tingkatan kesulitan harus dihadapi Jordan untuk bisa menghasilkan Flappy Birds yang hanya dimainkan dengan satu tombol ini. Mulai dari gerakan sederhana, menambahkan suara ketika tombol tetikus ditekan, apa yang terjadi saat burung berhasil melampaui rintangan, dan diakhiri dengan membuat permainan yang utuh pada tingkat ke-10.

Dia memang tidak menulis kode, tetapi susunan balok yang dibuat menggambarkan hal tersebut, yakni perumpamaan. Dia sedang belajar mengenai logika dan cara berpikir yang terstruktur meski dari medium yang penuh warna dan kekanak-kanakan.

Hastuti juga tidak memiliki keraguan sewaktu mengikutsertakan anaknya, Farhan Irsan Rafliansyah (13), beserta dua keponakannya, Safina Irfirjriah (10) dan Nasifa Anjani (12), untuk belajar coding atau menulis bahasa pemrograman di tempat kursus Coding Indonesia yang terletak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Meski mengikuti kursus lainnya yang menuntut aktivitas fisik, ujarnya, anaknya juga memperlihatkan minat dan keseriusan dalam membuat permainan sendiri.

Hastuti sedang duduk menunggu anak dan dua keponakannya belajar di kelas. Di dalam, mereka sedang belajar dasar-dasar dari bahasa HTML5 untuk membuat website.

“Website itu dipergunakan untuk memajang permainan elektronik yang sudah mereka buat beberapa sesi sebelumnya,” ujar Wahyudi, pendiri sekaligus pengajar utama dari Coding Indonesia, Minggu (22/3).

3904ce2968be446ebe8ddc93721676a3Ruang kelas itu berisi enam anak yang tekun menghadap layar komputer jinjing masing-masing, sesekali mereka mengalihkan pandangan ke arah papan tulis, sementara Wahyudi tengah menerangkan mengenai dasar pembuatan website menggunakan bahasa HTML5 serta prinsip untuk mendesain menggunakan cascading style sheet (CSS).

Raut muka mereka serius mengetikkan kode dan, saat merasa bingung, segera bertanya kepada Wahyudi. Namun, sesekali mereka bercanda dengan teman di sebelahnya sambil berbicara sendiri sehingga sang mentor harus meminta peserta pelatihan berkonsentrasi.

Manfaat dasar
ebd2a8b78ee142b1a7dd3d1cd0dc89e5Bisakah anak-anak belajar coding? Itulah pertanyaan yang mengemuka di akhir tulisan pertama. Menurut Aranggi Soemardjan, CEO Clevio Coder Camp, mereka seharusnya diperkenalkan sedini mungkin begitu bisa membaca dan menulis, terlebih saat sudah terbiasa menggunakan gawai, seperti sabak elektronik, ponsel pintar, atau komputer.

Clevio rutin menggelar kelas coding di daerah Cibubur, Bogor, dengan beberapa tahapan, yakni membuat permainan elektronik, lalu aplikasi, dilanjutkan membuat website untuk memajang karya mereka dan akhirnya membuat situs toko daring. Dia memilih kursus membuat game sebagai kedok untuk memperkenalkan coding kepada anak.

fc55800844cf4c389b72e07f93e11434Setelah membuat permainan dan menulis aplikasi, peserta didorong mampu membuat website untuk menampilkan karya-karya mereka. Tahapan itu akan mendorong anak-anak berpikir memproduksi kemudian memasarkan produknya.

“Anak secara natural masih impulsif karena bagian lobus frontal yang mengendalikan emosi dan kepribadian belum terbentuk sempurna untuk mendorong pengambilan keputusan mereka. Yang dilakukan adalah membuat mereka terus penasaran dengan logika, konsekuensi, ataupun urutan,” tutur Aranggi.

Dia menepis anggapan bahwa belajar coding adalah sesuatu yang berat karena proses belajar dan mengajar tetap bisa dilakukan dalam suasana riang dan santai. Namun, lanjut Aranggi, selama proses, mereka justru belajar untuk berkompetisi karena bisa melihat karya rekannya dan secara natural bagi anak-anak untuk tidak mau kalah.

Begitu pula dengan kesabaran untuk tidak menyerah agar menghasilkan permainan atau aplikasi keinginan mereka.

Aranggi menyebut beberapa contoh aplikasi yang dibuat peserta pelatihan yang berfungsi sederhana, tetapi memiliki nilai personal, seperti aplikasi untuk berhenti merokok yang ditujukan bagi sang ayah atau aplikasi pencatat lokasi kendaraan karena ibu si murid kerap lupa dengan letak kendaraan saat pergi berbelanja. Yang dilakukan oleh mentor di Clevio adalah mendampingi mereka.

“Memecahkan masalah adalah hak setiap anak,” kata Aranggi.

Dua peserta pelatihan Clevio menjadi juara nasional dalam kompetisi Eco-Challenge dan mewakili babak internasional di Korea Selatan pada 10-13 April mendatang.

Sarana belajar melimpah
6aa6a875c0b743bc9b0430fc1eba9a6fSiapa pun sebetulnya bisa belajar coding sendiri karena begitu banyak sarana yang tersedia secara melimpah dan gratis. Modalnya hanya komputer, koneksi internet, dan kemauan mencurahkan sebagian waktu mereka untuk belajar.

Situs yang paling bisa didatangi adalah code.org yang mengajarkan dasar-dasar pemrograman dengan tampilan yang menarik bagi anak, seperti dilakukan Jordan di awal tulisan. Dimulai dari memahami logika pemrograman paling sederhana dan beranjak menjadi lebih kompleks seiring kenaikan tingkat. Begitu pula dengan perangkat yang dipakai untuk membuat aplikasi.

baa4bd291ab74a498f52fba0f28e9ca5“Situs seperti code.org juga dipergunakan pada tingkat mahasiswa di perguruan tinggi luar negeri karena yang ingin dipelajari adalah logika dan cara berpikir mereka,” kata Wahyudi.

Wisnu Sanjaya, CEO sekaligus pengajar Cody’s App Academy, sebuah tempat pendidikan pemrograman di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, menuturkan bahwa ada begitu banyak sarana bagi siapa pun yang ingin belajar pemrograman. Dia bahkan membuat aplikasi belajar pemrograman yang bisa dipasang di ponsel pintar dengan sistem operasi Android dan Windows.

“Semua bisa belajar meski mereka yang belajar dengan bimbingan mentor akan mendapatkan kemajuan lebih pesat,” kata Wisnu.

Menurut Wisnu, pendidikan pemrograman tidak melulu bertujuan untuk menghasilkan ahli pemrograman karena melalui proses belajar juga menjadi medium untuk mengetahui bakat dan memoles potensi anak.

Survei yang dilakukan Microsoft pada Februari 2015 terhadap 1.850 siswa sekolah di delapan negara di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, memperlihatkan kesenjangan akan minat belajar pemrograman dengan kesempatan yang dimiliki.

Hanya 51 persen responden yang mengaku punya kesempatan belajar pemrograman di sekolah dan 39 persen mendapatkan dukungan dari keluarga.

Sementara itu, bagi yang memutuskan untuk berkarier di industri digital, bukan kemudahan yang menanti mereka. Bahasan soal itu akan menjadi topik tulisan ketiga sekaligus penutup dari rangkaian tulisan mengenai pemrograman.

Sumber: Kompas Siang | 28 Maret 2015

——————–

Bisnis Aplikasi, Tanah Liar Industri Digital

Robin Dutheil tiba di Indonesia tahun 2009 untuk bekerja sebagai tenaga ahli pembuatan laman web. Yang menarik adalah saran yang selalu diterima untuk menghindari angkutan umum untuk bepergian di Jakarta, salah satunya karena kawanan copet.

Robin mengalami kesulitan pada awalnya karena tidak hafal rute angkutan umum, termasuk bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan sopir atau kenek. Seiring waktu, Robin pun menguasai rute transportasi di Jakarta, mulai dari rute dan moda transportasinya.

Keahliannya membuat pria dari Perancis ini menjadi referensi berjalan untuk menggunakan transportasi umum oleh rekan-rekannya, bahkan kebanyakan oleh teman yang lahir di Jakarta sekali pun. Tidak cukup rute, beberapa kali Robin menjadi referensi bagi temannya yang ingin tahu dari titik satu ke titik lainnya bakal menghabiskan waktu berapa menit.

“Ternyata orang sini pun kurang paham tentang angkutan umum sampai bertanya kepada orang asing,” ujar Robin mengulangi lontaran yang muncul di dalam hatinya saat itu.

Pada 2013, dia pun memiliki ide untuk menyalurkan kelebihannya ke dalam layanan navigasi bersama Mansoor Riaz dan Daisy Darmawati dengan nama AppAja. Ide tersebut sewaktu dijajal dalam kompetisi bagi perusahaan rintisan, Startup Asia Jakarta 2013, berbuah manis karena menyabet peringkat pertama dalam kategori yang paling ramai diikuti.

Sadar bahwa membesarkan sebuah aplikasi butuh komitmen penuh, Robin memutuskan mundur dari pekerjaannya di sebuah perusahaan periklanan pada Juli 2014. Pada Desember 2014, layanan AppAja pun tersedia untuk diunduh di telepon seluler dengan sistem operasi Android.

Layanan ini pada dasarnya membantu pengguna untuk mencapai tujuan di Jakarta menggunakan transportasi umum. Keunggulan dibandingkan dengan layanan serupa, termasuk dari raksasa internet Google, adalah fitur untuk menampilkan estimasi biaya yang ditampilkan berdampingan dengan ongkos apabila naik taksi.

Meskipun tidak 100 persen akurat, fitur tersebut bisa memberi gambaran berapa banyak yang bisa dihemat apabila menggunakan bus atau kereta komuter.

4637a271be4e4fe28bdab29dab04dc55AppAja adalah aplikasi yang dikembangkan Robin Dutheil bersama dua rekannya untuk membantu warga Ibu Kota bepergian menggunakan angkutan umum, Senin (23/3). Robin tengah berupaya membuat aplikasi tersebut agar memberi manfaat kepada warga Jakarta sekaligus memberi manfaat ekonomi kepada pembuatnya.Kompas/Didit Putra Erlangga Rahardjo

Saat ini Robin terus merampungkan aplikasi tersebut, mulai dari meluncurkan layanan melalui situs web hingga rencana untuk mencantumkan moda transportasi lebih banyak, seperti angkot, metromini, atau angkutan perbatasan terintegrasi bus transjakarta (APTB). Hingga kini para pengembang belum bisa menikmati pendapatan apa pun, termasuk Robin yang hidup dari uang yang disimpan selama bekerja di Indonesia.

“Kami tidak ingin mencari uang melalui iklan karena bakal mengganggu pengalaman para pengguna. Strategi kami adalah membidik kerja sama dengan penyedia direktori restoran agar bisa dicantumkan di layanan AppAja,” kata Robin.

Niat serupa dilontarkan Irwanto Widyatri yang mengembangkan permainan untuk ponsel dengan nama “Tebak Gambar” bersama rekannya, Lukis Cindera. Belum ada empat bulan sejak tersedia di Play Store, aplikasi tersebut sudah diunduh sebanyak satu juta kali dan kini total mencapai 4,5 juta kali.

Penghasilan mereka dari iklan sudah digenggam meski dia tidak bersedia menyebut nominalnya. “Suatu hari saya ingin mandiri dan fokus untuk membangun startup,” ujar Irwanto.

Semarak
Indonesia boleh disebut sebagai pasar yang menggiurkan bagi industri digital mengingat populasi penduduk dan daya adaptasi terhadap produk baru yang tinggi. Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 88,1 juta dan penetrasinya mencapai 34,1 persen dari populasi, masih rendah, tetapi pada saat yang sama menyimpan potensi besar pada masa mendatang.

Dari populasi tersebut, hampir setengahnya atau 49 persen adalah mereka yang berusia 18-25 tahun alias tergolong dalam generasi digital native yang lahir dengan perangkat digital. Fakta yang lebih mencengangkan lagi adalah temuan dari APJII bahwa 85 persen pengguna internet beraktivitas di dunia maya melalui gawai di tangan mereka, yakni ponsel atau sabak elektronik.

Tentu saja perangkat tersebut membutuhkan perangkat lunak atau kini lebih dikenal dengan nama aplikasi. Bisa saja menggunakan aplikasi yang sudah tersedia secara global, misalkan Facebook, Instagram, atau Twitter, tetapi tidak menutup kemungkinan aplikasi-aplikasi buatan dalam negeri untuk bisa menguasai pasar.

Hingga kini belum ada angka yang pasti mengenai jumlah startup atau perusahaan rintisan di Indonesia karena terus berubah, baik yang berdiri maupun bubar, belum termasuk para tenaga ahli yang bergerak secara lepas. Vokalis grup band Nidji, Giring Ganesha, pun tidak ketinggalan dengan membidani situs kincir.com untuk menjadi media sosial bagi para artis dan penggemar mereka.

Membuat aplikasi yang banyak digunakan tentu adalah salah satu cita-cita dari startup ini, atau mendapatkan kucuran pendanaan dari investor, seperti dialami Tokopedia yang menerima pendanaan Rp 1,2 triliun dari Softbank Corp dan Sequioa Capital. Contoh lainnya adalah Solite Studio yang berkantor di Bangkalan, Jawa Timur, yang menghasilkan permainan “Save the Hamster” yang sudah diunduh sebanyak 1 juta kali secara berbayar.

Tidaklah mengherankan apabila Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pernah menyebut rencana untuk mengajak para konglomerat dalam negeri untuk mengumpulkan dana dan mengalihkannya sebagian investasi bagi startup digital. Tentu saja hal ini dilakukan berbarengan dengan upaya mengeluarkan startup teknologi dari daftar negatif investasi atau sektor yang dilarang untuk mendapatkan kucuran dana.

Sayembara
Namun, industri digital Indonesia tidak hanya dipoles oleh kisah sukses startup yang berhasil. Ada beberapa hal yang menghalangi startup dalam negeri untuk mencapai keberhasilan.

“Ada dua masalah utama yang menghinggapi startup di Indonesia, yakni ide dan akses,” kata Narenda Wicaksono, CEO Dicoding Indonesia.

Yang dimaksud dengan ide adalah kemampuan untuk membuat produk yang bisa diterima pasar dan bisa mendatangkan keuntungan dalam bentuk jumlah pengunduhan atau pelanggan. Untuk mencapai hal itu, jalan yang terbentang ternyata penuh dengan kegagalan dan setiap startup harus siap mengalami kegagalan.

Selain itu, sikap tidak pernah merasa puas sangat diperlukan untuk menjaga visi ke depan. Namun, ternyata masalah utama dari pengembang di Indonesia adalah tidak sabar dengan proses. Banyak yang gagal karena faktor ketidaksabaran ini.

Akses menjadi perkara berikutnya karena produk yang bagus pun tidak akan serta-merta bisa sukses apabila tidak bisa ditemukan di antara tumpukan aplikasi-aplikasi baru yang setiap hari diunggah dan dipajang di situs pasar aplikasi, seperti Play Store.

Bagi pengembang yang tinggal di daerah selain kiblat industri digital seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya, mereka sulit diketahui keberadaannya dan tidak punya tolok ukur untuk perbandingan.

Masalah itulah yang mengilhami Narenda untuk membuat perusahaan Dicoding Indonesia yang mempertemukan pemilik merek teknologi yang membutuhkan pengembang aplikasi agar bisnis mereka berkembang, sementara pada saat yang sama berburu pengembang-pengembang baru dari daerah. Dari 1.800 pengembang yang terdaftar, hanya ada empat provinsi yang belum ada perwakilan.

Caranya, Dicoding membuat sayembara dalam berbagai kategori yang bisa diikuti para pengembang untuk kemudian diganjar dengan poin. Poin yang dikumpulkan bisa ditukarkan dengan hadiah dari pulsa telepon, gawai, hingga kesempatan untuk ditampilkan di media teknologi agar lebih terpapar pemberitaan.

Sayembara yang digelar Dicoding Indonesia merupakan sarana untuk memberi ide bagi para pengembang. Sementara pemilik merek bisa lebih maksimal mengalokasikan dana mereka kepada pengembang agar teknologinya bisa diadopsi.

“Pada akhirnya, pertanyaan yang pasti diajukan bukanlah bahasa pemrograman yang sudah dikuasai, melainkan portofolio karya. Itulah yang ingin kami dorong,” ujar Narenda.

Dia menuturkan, inilah tantangan dari dunia coding atau menulis kode pemrograman, yakni rendahnya minat orang untuk terjun dan siap untuk jatuh bangun membangun portofolionya.

Industri digital Indonesia bisa jadi adalah tanah liar yang memangsa siapa saja yang terlena, tetapi juga menjanjikan peluang bagi mereka yang siap. Inilah tantangan yang seharusnya ditaklukkan secara bersama-sama.

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Sumber: Kompas Siang | 31 Maret 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: