Home / Berita / Cinta Tak Berbatas Selisih Angka

Cinta Tak Berbatas Selisih Angka

Terpilihnya Emmanuel Macron (39) sebagai Presiden Perancis, Minggu (7/5), tak hanya memunculkan cerita sukses sang politikus muda, tetapi juga kisah asmara dengan istrinya, Brigitte Trogneux, yang berusia 24 tahun lebih tua. Cinta unik dan tak biasa itu sontak menjadi perbincangan berbagai media di sejumlah negara.

Pertemuan pertama sejoli tersebut terjadi ketika Macron berumur 15 tahun. Saat itu Brigitte merupakan guru teater dan bahasa Latin di sekolah menengahnya. Macron yang pertama mendekati Brigitte dengan mengajaknya menulis ulang naskah sebuah drama panggung.

Pada usia 17 tahun, Macron menyatakan tekadnya menikahi Brigitte. Cita-cita itu terwujud 12 tahun kemudian setelah 21 bulan Brigitte bercerai dari suaminya dan mereka mampu meyakinkan keluarga. Perkawinan mereka harmonis dan sudah berjalan 10 tahun. Tiga anak dan tujuh cucu Brigitte pun menjadi bagian hidup Macron.

Dalam berbagai budaya, perkawinan dengan usia pasangan terpaut jauh memang tidak umum, termasuk di Indonesia. Biasanya, pandangan miring akan lebih besar jika istri jauh lebih tua daripada suami. Sebaliknya, publik lebih bisa menerima pasangan seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang 24 tahun lebih tua daripada istrinya, Melania Knauss.

“Kondisi ini menunjukkan kuatnya pandangan misogini (ketidaksukaan terhadap perempuan) karena jika saya yang berumur 20 tahun lebih tua daripada istri, tak seorang pun akan mempertanyakan hubungan itu,” kata Macron dalam wawancara dengan Le Parisien.

AP PHOTO/CHRISTOPHE ENA–Presiden Perancis Emmanuel Macron dan istrinya, Brigitte Trogneux, menikah pada 2007 saat masing-masing berumur 30 tahun dan 54 tahun atau berbeda 24 tahun.

Badan Pusat Statistik AS pada 2013 menyebut ada 1 persen pasangan dengan usia suami 20 tahun lebih tua daripada istri. Sebaliknya, pasangan dengan usia istri 20 tahun lebih tua daripada suami hanya 0,3 persen. Lebih dari sepertiga pasangan berbeda usia kurang dari setahun dan umumnya laki-laki lebih tua daripada perempuan. Kondisi serupa diperkirakan juga terjadi di negara-negara maju lainnya.

Di Indonesia, saat perkawinan beda usia sangat jauh terjadi, pandangan yang umum muncul adalah pihak yang lebih muda dianggap hanya mengejar harta, pihak yang lebih tua dianggap tak tahu diri karena hanya mengejar dunia dan lupa bersiap menghadapi kematian, hingga dugaan adanya gangguan kejiwaan.

Gangguan yang umum dikenal masyarakat adalah kompleks oidipus (oedipus complex), saat laki-laki yang lebih muda mencintai perempuan yang jauh lebih tua karena dibayang-bayangi cinta kepada ibunya disertai cemburu kepada ayahnya. Kondisi sebaliknya, gangguan kompleks elektra (electra complex) atau cinta perempuan yang dibayangi kecintaan kepada ayahnya, kurang dikenal masyarakat.

Pencarian pasangan
Munculnya cinta merupakan proses yang kompleks. Karena itu, dugaan kompleks oidipus yang datang dari teori perkembangan psikoanalisis Sigmund Freud (1856-1939) tak berlaku umum dan sulit dibuktikan secara empiris. Namun, hadirnya cinta pada pasangan dengan pautan usia sangat jauh bisa dilihat dari perspektif evolusi, baik perkembangan otaknya maupun psikologinya.

Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi Manado Taufiq Pasiak mengatakan, saat evolusi spesies manusia dimulai, otak manusia masih kecil dan hanya sistem afektif (subsadar) otak saja yang berkembang yang merupakan bawaan dari binatang. Saat itu, ketertarikan manusia pada pasangannya hanya didasari pertimbangan biologis untuk mendukung reproduksinya.

GETTY IMAGES/ CLAUDIO VILLA–Mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dikabarkan menikahi Francesca Pascale pada 2013 saat masing-masing berumur 77 tahun dan 28 tahun atau berbeda 45 tahun.

Seiring membesarnya otak manusia, sistem kortikal (sadar) otak manusia pun berkembang. Saat itu, manusia mulai menyadari yang cantik tak selamanya menyenangkan dan yang buruk tak selalu menegangkan. Pencarian pasangan tak lagi mengejar fungsi reproduksi saja, tetapi juga fungsi rekreasi atau mencari kesenangan dan ketenangan.

Karena itu, aspek psikologis dalam menilai pasangan mulai menjadi pertimbangan. Ketegasan, wibawa, kemampuan berbicara atau memimpin, atau kelembutan, kecekatan, atau sikap mengayomi mulai jadi kriteria dalam mencari pasangan. Meski demikian, ketertarikan manusia terhadap fisik pasangan atau aspek biologis tak hilang.

“Ketertarikan pada fisik adalah buah dari proses evolusi. Otak memang menyukai yang bagus, cantik, indah, dan menarik karena menyenangkan dan menyamankan otak,” katanya.

Perubahan perilaku manusia memilih pasangan sesuai perkembangan otaknya itu sejalan pula dengan perkembangan psikologinya. Dalam perspektif psikologi evolusi, pemilihan pasangan adalah proses penemuan seseorang dengan karakter yang cocok untuk mendukung proses reproduksi, yaitu pencarian seseorang dengan gen baik untuk menghasilkan keturunan baik.

Peneliti hubungan romantis dan psikolog klinis Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Pingkan CB Rumondor, mengatakan, proses adaptasi untuk menghasilkan keturunan berbeda antara lakilaki dan perempuan. Dibandingkan dengan laki-laki, perempuan cenderung memilih pasangan dengan kelas sosial ekonomi lebih baik daripada cinta. Perempuan juga lebih menyukai pasangan yang cerdas atau terdidik daripada keinginan punya anak. Perempuan juga lebih suka pasangan yang dapat diandalkan dan stabil daripada penampilannya.

“Perempuan umumnya lebih memilih lelaki yang lebih tua karena kematangan fisiologis laki-laki lebih lambat ketimbang perempuan. Selain itu, laki-laki yang lebih tua juga dianggap lebih stabil atau lebih mapan,” ujarnya. Sebaliknya, laki-laki cenderung memilih perempuan yang lebih muda demi alasan reproduksi.

Di masa lalu, pilihan perempuan atas pasangannya digunakan perempuan untuk melindungi dirinya di masa-masa sulit reproduksi, saat hamil, menyusui dan membesarkan anak. Namun, kondisi itu mulai berubah. Masuknya perempuan ke pasar kerja mengurangi kebergantungan perempuan kepada terhadap sumber daya laki-laki sehingga selisih usia suami-istri mengecil.

Penelitian Ariane J Utomo dalam Marrying Up? Trends in Age and Education Gaps Among Married Couples in Indonesia di Journal of Family Issues, 2014, menyebut rata-rata jarak umur suami-istri di Indonesia pada 1980-an mencapai 6,4 tahun. Pada 2010, beda itu mengecil menjadi hanya 4,7 tahun.

Tren itu berlaku global. Berdasarkan data Divisi Populasi Departemen Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa, selisih usia perkawinan di Amerika, Australia dan Selandia Baru, Eropa Barat dan Utara, serta Asia Timur dan Tenggara pada 2000 berkisar 2-3 tahun. Selisih umur terbesar ada di negara-negara Afrika sekitar 4-7 tahun. Meski demikian, beda umur yang wajar dalam perkawinan sangat bergantung pada nilai dan budaya sebuah bangsa.–M ZAID WAHYUDI
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Mei 2017, di halaman 6 dengan judul “Cinta Tak Berbatas Selisih Angka”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: