Home / Berita / Penerbangan / CEO ATR; Melanjutkan Dominasi Pasar Pesawat Regional

CEO ATR; Melanjutkan Dominasi Pasar Pesawat Regional

Bagi yang sering bepergian dengan pesawat udara ke kota-kota kecil-menengah di Indonesia, pasti sudah tak asing lagi dengan pesawat ATR. Pesawat dengan dua mesin baling-baling itu makin diandalkan maskapai nasional untuk melayani penerbangan ke kota-kota kedua dan ketiga di Tanah Air.

Bahkan, maskapai nasional Garuda Indonesia, yang sebelumnya bertumpu pada armada pesawat jet untuk melayani rute-rute utama dalam dan luar negeri, menggunakan armada ATR 72-600 sejak 2013. Ini dilakukan setelah melihat peluang besar di rute penerbangan sekunder dan tersier itu. Kini, Garuda memiliki 11 pesawat berkapasitas 70 tempat duduk ini.

“Garuda masih memiliki 25 pesawat lagi dalam antrean produksi (backlog) kami,” ujar Patrick de Castelbajac, CEO ATR (Avions de Transport Regional/Aerei da Trasporto Regionale), yang ditemui Kompas di ajang pameran dirgantara Singapore Air Show 2016 di Changi, Singapura, Selasa (16/2).

Selain Garuda, setidaknya 10 maskapai lain di Indonesia yang mengoperasikan dua tipe pesawat produksi pabrikan Perancis-Italia itu, yakni ATR 42 dan ATR 72. Lion Air Group menjadi operator terbesar dengan 60 pesawat ATR 72 saat ini.

“Mereka baru saja menerima pesawat ke-60, yang membuat mereka menjadi operator (ATR) terbesar di dunia, bukan hanya di kawasan ini. Mereka masih punya 40 pesawat lagi dalam antrean produksi,” ujarnya.

Semua itu terjadi hanya dalam waktu lima tahun terakhir. Castelbajac mengungkapkan, sejak 2010, keberadaan ATR di kawasan Asia Pasifik naik hampir 80 persen. Saat ini, dengan 370 pesawat ATR berbagai tipe dan varian beroperasi di Asia Pasifik, kawasan ini menjadi operator ATR terbesar di dunia.

Dari 280 pesawat yang saat ini masih antre diproduksi di pabriknya di Toulouse Blagnac, Perancis Selatan, 40 persen di antaranya pesanan dari kawasan Asia Pasifik. “Sebagian besar dari yang 40 persen itu ada di Asia Tenggara,” kata eksekutif berusia 45 tahun tersebut.

7f6282b93d364d3fa3465e644f5cde59Patrick de Castelbajac–KOMPAS/DAHONO FITRIANTO

Semua itu tak lepas dari pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi di kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir, yang diiringi peningkatan kegiatan ekonomi dan mobilitas manusia hingga ke kota-kota di luar pusat-pusat pertumbuhan ekonomi tradisional. Di Indonesia, ini terlihat dari peningkatan kebutuhan perjalanan dari dan ke kota-kota di luar ibu kota negara dan ibu kota provinsi.

Kondisi geografis negara-negara di Asia Pasifik yang rata-rata berupa negara kepulauan serta kondisi infrastruktur penerbangan di kota-kota “lapis kedua dan ketiga” tersebut, seperti kondisi fisik bandar udara dan kelengkapan fasilitas pendukungnya, membuat pesawat-pesawat regional macam ATR makin dibutuhkan.

Kondisi-kondisi ini yang membuat Castelbajac yakin, pesawat udara masih akan menjadi salah satu kunci daya dukung pembangunan di Indonesia. “Indonesia adalah negara yang sangat besar. Jika dibandingkan dengan Eropa, Indonesia terbentang dari Paris (Perancis) sampai Moskwa (Rusia). Penduduknya 270 juta jiwa dan pertumbuhan produk domestik bruto bagus, demikian juga pertumbuhan jumlah orang yang bepergian. Kami melihat pesawat udara tetap menjadi kunci bagi pembangunan di negara ini,” tutur pria yang menjabat CEO ATR sejak Mei 2014 itu.

Menurut Castelbajac, kesuksesan ATR bertumpu pada efisiensi pesawat. Salah satunya pilihan menggunakan mesin turboprop (menggunakan baling-baling atau propeler) daripada mesin jet turbofan. “Baik turboprop maupun turbofan sebenarnya digerakkan mesin turbin (jet) yang sama, tetapi turboprop lebih efisien karena membakar bahan bakar lebih sedikit,” ujar ayah tiga anak ini.

20140724Rute-Terbaru-Garuda-Indonesia-230714-meli-1Pesawat bermesin turboprop memang memiliki kecepatan lebih rendah dibandingkan dengan pesawat jet. Sebagai perbandingan, pesawat ATR 72-600 yang bermesin turboprop memiliki kecepatan jelajah rata-rata 509 kilometer per jam, sedangkan MRJ 70 yang bermesin jet berkecepatan jelajah hingga 828 kilometer per jam.

Namun, kecepatan itu tak terlalu berpengaruh pada waktu tempuh pesawat untuk jarak pendek mengingat pesawat-pesawat jet harus terbang di ketinggian jelajah yang lebih tinggi dibandingkan dengan pesawat turboprop.

Castelbajac mengakui, pertumbuhan perekonomian dunia saat ini sedang melambat, yang berdampak pada sektor penerbangan di sejumlah negara Asia Pasifik. Namun, ia tetap optimistis kondisi ke depan akan membaik. Tanpa kehadiran pesaing yang lebih banyak di kawasan ini, ATR diperkirakan akan terus melanjutkan dominasi di pasar pesawat regional.
(DAHONO FITRIANTO)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 22 Februari 2016, di halaman 19 dengan judul “Melanjutkan Dominasi Pasar Pesawat Regional”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

N250 Gatotkaca Jadi Wahana Edukasi dan Motivasi Generasi Penerus

Penyerahan pesawat N250 Prototype Aircraft 01 Gatotkaca kepada Museum Dirgantara Mandala, Yogyakarta, dilakukan untuk menjaga ...

%d blogger menyukai ini: