Home / Berita / Bulan Tidak Akan Berwarna Biru meski Ada Fenomena ”Blue Moon”

Bulan Tidak Akan Berwarna Biru meski Ada Fenomena ”Blue Moon”

Sekitar pukul 19.00 WIB nanti, jika langit cerah, kita bisa melihat fenomena ”blue moon” yang jarang terjadi. Namun, jangan terlalu berharap melihat bulan berwarna biru seperti namanya.

Minggu (22/8/2021) malam, Bulan akan memasuki fase purnama. Meski purnama pada Agustus kali ini disebut sebagai blue moon alias Bulan biru, warna Bulan tidak akan berubah menjadi biru. Bulan akan tetap berwarna kuning cerah seperti biasanya karena sebutan blue moon saat ini lebih ke penanda semata. Walau cahaya Bulan bisa terlihat membiru, tetapi itu peristiwa yang sangat jarang terjadi.

Jika dihitung berdasar waktu puncak terjadinya purnama, sebagian besar wilayah Bumi akan mengalami purnama pada Minggu (22/8), baik pada malam maupun siang hari tergantung posisinya di muka Bumi. Adapun sebagian kecil wilayah akan mengalami purnama pada Senin (23/8) dini hari, seperti yang terjadi di Selandia Baru.

Purnama raya di Indonesia kali ini, saat Bulan benar-benar bulat 100 persen atau sempurna, sesuai data Time and Date, akan terjadi pukul 19.01 WIB, 20.01 Wita, atau 21.01 WIT. Purnama kali ini disebut sebagai blue moon alias Bulan biru meski sejatinya Bulan tidak akan berubah warna menjadi biru.

Ada dua jenis sebutan Bulan biru yang hidup di masyarakat, yaitu Bulan biru bulanan (monthly blue moon) dan Bulan biru musiman (seasonal blue moon). Definisi Bulan biru yang lebih dikenal masyarakat luas adalah Bulan biru bulanan, yaitu Bulan (moon) purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan (month) kalender Masehi.

Bulan biru bulanan ini sudah beberapa kali terjadi. Terakhir, Bulan biru bulanan terjadi pada 31 Oktober 2020. Setelah itu, Bulan biru bulanan akan kembali terjadi pada 31 Agustus 2023 dan 31 Mei 2026.

Munculnya dua purnama dalam satu bulan kalender itu karena periode revolusi Bulan mengelilingi Bumi hanya 29,5 hari, sedangkan panjang satu bulan dalam kalender Masehi antara 28 dan 31 hari. Akibatnya, pada bulan-bulan tertentu bisa terjadi dua kali purnama, yaitu pada awal dan akhir bulan.

Namun, Agustus ini hanya terjadi satu kali purnama, yaitu pada Minggu (22/8) atau Senin (23/8), bergantung posisi masing-masing negara. Meski demikian, purnama pada Agustus kali ini tetap disebut Bulan biru karena menggunakan definisi yang berbeda, yaitu Bulan biru musiman.

Bulan biru musiman terjadi jika dalam satu musim, di negara-negara yang memiliki empat musim, terdapat empat kali purnama. Purnama ketiga dalam satu musim itulah yang dinamakan Bulan biru musiman.

Dalam satu kalender Masehi memiliki empat musim yang masing-masing panjangnya tiga bulan dan umumnya terjadi 12 kali purnama. Namun, ada kalanya dalam satu tahun itu terjadi 13 kali purnama hingga ada satu musim yang mengalami empat kali purnama. Kondisi ini merupakan konsekuensi dari panjang satu tahun kalender Bulan yang lebih pendek 10-11 hari dibandingkan dengan panjang satu tahun kalender Matahari.

Nah, jika dalam satu musim terdapat empat purnama, maka Bulan ketiganya disebut sebagai Bulan biru musiman. Kondisi inilah yang terjadi pada purnama Agustus ini. Ini adalah purnama ketiga di musim panas di belahan Bumi utara atau di musim dingin di belahan Bumi selatan.

Secara astronomis, musim panas di belahan Bumi utara berlangsung sejak terjadinya solstis Juni atau titik balik musim panas antara 20-22 Juni dan akan berakhir saat terjadinya ekuinoks September atau titik musim gugur yang berlangsung antara 21-24 September. Namun, secara meteorologis, musim panas di belahan Bumi utara dihitung dari awal Juni hingga akhir Agustus.

Dalam penentuan jumlah purnama itu, definisi musim panas secara astronomilah yang digunakan. Tahun 2021 ini, musim panas di belahan Bumi utara berlangsung antara 21 Juni 2021 dan 23 September 2021. Selama rentang masa itu, terjadi empat kali purnama, yaitu pada 25 Juni 2021, 24 Juli 2021, 22 Agustus 2021 dan 21 September 2021.

Karena purnama yang terjadi pada 22 Agustus 2021 adalah yang ketiga pada musim panas tahun ini, purnama tersebut dinamai Bulan biru ? (musiman).

Asal-usul
Adanya dua definisi Bulan biru itu diduga terjadi akibat salah kaprah yang berlangsung selama puluhan tahun. Seperti dikutip dari Space, 19 Agustus 2021, definisi Bulan biru yang asli adalah Bulan biru musiman, sedangkan Bulan biru bulanan adalah yang mengalami salah kaprah atau kesalahan persepsi. Sayangnya, definsi Bulan biru yang keliru itu justru yang lebih populer.

Merujuk pada tulisan dalam kolom tanya jawab di majalah astronomi Sky & Telescope, Juli 1943, istilah blue moon diambil dari Almanak Petani Maine atau Maine Farmer’s Almanac untuk edisi Agustus 1937. Disebutkan bahwa terjadinya 13 purnama dalam satu tahun dari biasanya 12 purnama merupakan hal yang disayangkan.

”Ini adalah keadaan yang sangat disayangkan…dan ini mengganggu pengaturan reguler festival gereja. Karena alasan ini, 13 dianggap sebagai angka sial,” jelas tulisan tersebut.

Dengan adanya tambahan satu purnama itu, akan ada masa ketika satu musim memiliki empat purnama dari biasanya tiga purnama. Purnama ketiga dari empat purnama itulah yang disebut sebagai Bulan biru sehingga purnama keempat tetap disebut sebagai Bulan akhir.

Salah kaprah itu diperkirakan mulai terjadi tahun 1946. Saat itu, James Hugh Pruett dalam artikelnya ”Once in Blue Moon” di Sky & Telescope menyimpulkan bahwa dengan adanya 13 purnama dalam satu tahun kalender Masehi, maka akan ada 11 bulan dengan satu purnama dan satu bulan dengan dua purnama. Pada bulan dengan dua purnama itu, purnama keduanya disebut blue moon.

Namun, simpulan dari interpretasi keliru Pruett itu justru populer setelah Deborah Byrd mengutipnya untuk siaran program StarDate di National Public Radio (NPR), Amerika Serikat, 31 Januari 1980. Dari sinilah, definisi Bulan biru sebagai purnama kedua dalam satu bulan kalender Masehi atau Bulan biru bulanan menyebar dan makin terkenal hingga kini.

Tidak biru
Selain terjadinya salah kaprah dalam pemaknaan blue moon, istilah Bulan biru ini juga cukup menipu. Meski namanya demikian, jangan terlalu berharap untuk bisa menyaksikan warna Bulan yang kuning cerah saat purnama akan berubah menjadi biru saat terjadi fenomena blue moon. Terlebih, dalam kondisi atmosfer normal atau tidak ada peristiwa katastropik di Bumi yang bisa mengganggu atmosfer Bumi.

Istilah blue moon itu diberikan karena di masa lalu memang pernah ada persitiwa yang sangat tidak biasa yang membuat bukan hanya Bulan, tetapi juga Matahari, terlihat berwarna kebiruan. Peristiwa itu terjadi karena atmosfer Bumi cukup kotor akibat pancaran debu atau aerosol antropogenik yang berasal dari permukaan Bumi.

Pada Agustus 1883, terjadi letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda, Indonesia yang membuat debu-debu vulkanik dilemparkan ke atmosfer. Debu-debu ini mampu bertahan hingga beberapa tahun di atmosfer hingga cahaya Bulan dan Matahari yang terlihat dari muka Bumi pada satu waktu menjadi berubah.

Peristiwa lain yang menyebabkan Bulan berwarna agak kebiruan terjadi pada 1927 saat angin monsun dan musim kemarau yang berkepanjangan di India meniupkan banyak debu Bumi ke atmosfer. Selain itu, ada kebakaran hutan dahsyat di Kanada bagian barat pada September 1950 yang membakar 1,4 juta sampai 1,7 juta hektar hutan yang membuat jelaga dari kebakaran hutan itu beterbangan di atmosfer selama beberapa waktu dan mengganggu pancaran sinar Bulan.

Meski demikian, selama beberapa bulan terakhir, tidak ada peristiwa katastropik di Bumi yang mengirimkan partikel debu dalam jumlah besar ke atmsofer. Karena itu, Bulan biru pada Agustus 2021 ini diperkirakan tidak akan sebiru namanya.

Di luar peristiwa alam yang menyebabkan cahaya Bulan tampak kebiruan, istilah Bulan biru kemungkinan juga berasal dari cerita yang hidup sejak 400 tahun yang lalu.

Ahli cerita rakyat, Philip Hiscock, dalam tulisannya di Sky & Telescope, 24 Agustus 2012, menyebut orang-orang pada abad ke-16 menggunakan istilah blue moon untuk menggambarkan sesuatu hal yang tidak masuk akal atau tidak akan pernah terjadi. Istilah Bulan biru juga muncul dalam lagu berjudul ”Blue Moon” karya Richard Rodgers dan Lorenz Hart pada 1934 yang sempat dipopulerkan sejumlah penyanyi, salah satunya Elvis Presley.

Di luar salah kaprah yang terjadi, Bulan biru secara harfiah atau Bulan benar-benar berwarna biru sepertinya memang akan jarang terjadi. Karena itu, istilah Bulan biru kemungkinan akan berkembang menjadi cerita manusia modern guna mendramatisasi kejadian sebenarnya yang sangat jarang terjadi.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 22 Agustus 2021

Share
%d blogger menyukai ini: