Home / Berita / Astronomi / ”Supermoon” Kembali Datang

”Supermoon” Kembali Datang

Fenomena bulan purnama super, bulan super, supermoon atau super full moon akan kembali terjadi pada Selasa (2/1). Dinamai bulan purnama super karena bulan akan terlihat lebih besar dan lebih terang dibanding purnama biasanya. Wujud purnama yang lebih besar dan terang itu terjadi karena saat itu Bulan sedang mendekati titik terdekatnya dengan Bumi atau perigee.

Pada bulan super Selasa (2/1) besok, bulan akan berada di titik terdekatnya dengan Bumi pada pukul 04.48 WIB pada jarak 356.565 kilometer (km). Sementara puncak bulan purnama akan terjadi pukul 09.24 WIB.

Itu berarti, puncak bulan purnama super 2 Januari akan berlangsung pagi hari di seluruh wilayah Indonesia sehingga tidak bisa disaksikan langsung.

Wilayah di muka Bumi yang dapat menyaksikan puncak bulan purnama super itu adalah Benua Amerika yang terjadi pada Senin (1/1) malam dan di Eropa atau Afrika pada Selasa (2/1) dini hari.

Meski demikian, masyarakat Indonesia yang ingin menyaksikan bulan super tak perlu khawatir. Purnama super itu masih tetap bisa dinikmati walaupun bukan pada puncaknya.

Waktu terbaik untuk mengamati supermoon dari wilayah Indonesia adalah Selasa (2/1) subuh, menjelang Bulan terbenam di ufuk barat, atau Selasa petang, sesaat setelah Bulan terbit di ufuk timur.

”Bulan super adalah kesempatan terbaik bagi semua orang untuk bisa melihat Bulan,” kata Noah Petro dari Pusat Penerbangan Antariksa Goddard, Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA).

Saat bulan super berlangsung, penampakan bulan purnama akan terlihat lebih besar 12-14 persen dan lebih terang 30 persen dibandingkan bulan purnama yang terjadi pada titik terjauh Bulan dari Bumi (apogee).

Namun, jika dibandingkan dengan ukuran rata-rata bulan purnama, bulan super hanya akan terlihat lebih besar 6-7 persen.

Jika penampakan bulan purnama super hanya sedikit lebih besar dibandingkan purnama biasanya, lantas mengapa banyak foto bulan super yang beredar menampilkan wujud yang dramatis dan ukuran yang lebih besar?

Ilusi optik
Ilusi optiklah jawabannya. Banyak foto bulan super diambil ketika purnama baru terbit atau menjelang terbenam. Pada saat itu, bulan purnama masih berada di dekat horizon.

Semua benda langit yang berada di dekat cakrawala, termasuk Matahari terbit dan terbenam, akan terlihat lebih besar dibandingkan ukuran aslinya. Namun, saat benda-benda tersebut bergerak makin tinggi hingga di atas kepala, ukurannya akan mengecil kembali.

Fenomena yang dikenal dengan istilah ilusi Bulan atau ilusi Matahari itu muncul karena otak kita secara tidak sadar membandingkan ukuran Bulan atau Matahari di cakrawala dengan obyek latar depan, seperti pohon, bangunan, atau gunung.

Kondisi itu akan berbeda jika Bulan berada sendiri di atas kepala tanpa ada pembanding. Akibatnya, Bulan di atas kepala terlihat lebih kecil.

Ilusi itu sebenarnya sudah dicatat oleh filsuf Yunani, Aristoteles, pada abad ke-4 sebelum Masehi. Penjelasan yang umum dari ilusi itu adalah atmosfer Bumi bertindak sebagai lensa optik yang membuat ukuran Bulan menjadi lebih besar saat di dekat cakrawala.

Namun, astronom saat ini sudah menghilangkan penjelasan tersebut karena atmosfer Bumi memang bisa memengaruhi warna Bulan, tetapi tidak mengubah penampakan ukuran Bulan.

Asal-usul
Bulan super sebenarnya peristiwa biasa. Supermoon terjadi saat Bulan mendekati titik terdekatnya dengan Bumi. Berubah-ubahnya jarak Bulan terhadap Bumi merupakan konsekuensi dari lintasan Bulan mengelilingi Bumi yang berbentuk elips.

Akibatnya, saat mengelilingi Bumi, Bulan akan satu kali berada di titik terdekatnya dengan Bumi (perigee) dan satu kali di titik terjauhnya dengan Bumi (apogee) secara bergantian.

Bulan super sebenarnya peristiwa biasa. ’Supermoon’ terjadi saat Bulan mendekati titik terdekatnya dengan Bumi.

Karena satu kali putaran penuh Bulan mengelilingi Bumi selama 29,5 hari, titik terdekat dan terjauh itu dicapai secara bergantian dengan beda rentang waktu sekitar 15 hari.

Beda jarak antara perigee dan apogee itu hanya sekitar 50.000 km. Jarak terdekat Bulan ke Bumi sekitar 356.400 km, sedangkan jarak terjauhnya 406.700 km.

Jika bulan purnama yang terjadi di dekat titik terdekat Bulan terhadap Bumi disebut supermoon, purnama yang terjadi di dekat titik terjauh Bulan dari Bumi disebut sebagai bulan mikro, bulan purnama mini, micromoon, atau minimoon.

NASA/JPL-CALTECH–Perbandingan lebar dan kecerlangan bulan purnama saat berada di perigee dan apogee. Perbedaan yang tak terlalu besar membuat sulit dibedakan jika hanya mengandalkan penglihatan atau memori semata.

Nama supermoon dan micromoon itu sebenarnya bukan istilah yang digunakan dalam astronomi. Kedua nama itu pertama kali diberikan ahli astrologi alias ahli nujum Amerika Serikat, Richard Nole, pada 1979.

Bulan super dalam astrologi itu pun sebenarnya bukan hanya untuk menggambarkan bulan purnama pada jarak terdekatnya dengan Bumi, melainkan juga bulan mati atau bulan baru.

Sementara di astronomi, istilah bulan super lebih dikenal dengan nama bulan purnama perigee. Ada pula yang menyebut bulan super itu dengan istilah teknis perigee-syzygy.

Dalam astronomi, syzygy menggambarkan konfigurasi lurus di antara tiga benda langit. Saat bulan purnama atau bulan mati, kesegarisan itu terjadi antara Matahari, Bulan, dan Bumi.

Saat bulan purnama atau bulan mati, kesegarisan itu terjadi antara Matahari, Bulan, dan Bumi.

Jika kehadiran bulan super selalu menimbulkan pemberitaan heboh di media ataupun masyarakat, di kalangan astronom peristiwa itu hanyalah kejadian rutin biasa, tidak istimewa.

Kesegarisan Matahari, Bulan, dan Bumi memang akan menyatukan gaya gravitasi Matahari dan Bulan sehingga menciptakan tarikan yang lebih besar terhadap air laut di Bumi.

Akibatnya, pasang dan surut air laut akan meningkat dibandingkan kondisi biasanya. Namun, beda tinggi pasang air laut saat bulan super dengan saat bulan purnama biasa itu hanya sekitar 5 sentimeter.

Selain peningkatan pasang air laut, banyak orang menduga kesegarisan Matahari, Bulan, dan Bumi itu juga meningkatkan aktivitas tektonik Bumi hingga memicu banyak gempa.

Sejumlah ilmuwan pun berusaha meneliti hal itu, termasuk menghubungkan antara bulan super dan peristiwa kegemapaan di Bumi. Namun, hingga kini, dugaan itu tidak terbukti.

Menurut NASA, tarikan gravitasi Matahari dan Bulan terhadap Bumi secara keseluruhan seharusnya tidak akan mengganggu keseimbangan energi internal di Bumi karena pasang dan surut terjadi secara bergantian setiap hari.

Trilogi bulan super
Bulan super 2 Januari ini merupakan bulan purnama super kedua dalam trilogi purnama super yang terjadi di pengujung 2017 dan 2018. Bulan purnama super yang terjadi secara berurutan sebanyak tiga kali itu terjadi pada 3 Desember 2017, 2 Januari 2018, dan 31 Januari 2018.

Bulan super pertama pada 3 Desember banyak diabadikan masyarakat. Meski sedang musim hujan, saat itu bulan super banyak disaksikan di sejumlah daerah.

Selain tampak lebih besar, cahayanya terlihat kuning keputihan atau kuning terang dibandingkan purnama biasanya yang cenderung berwarna kuning.

Jika tidak hujan, bulan super 2 Januari pun bisa diamati dari seluruh Indonesia. Meski bukan pada puncak terjadinya purnama, penampakan bulan purnama yang berbeda masih bisa disaksikan saat Bulan akan terbenam atau sesudah terbit.

Sementara itu, bulan super 31 Januari cukup istimewa karena terjadi bersamaan dengan berlangsungnya gerhana bulan total (GBT). GBT itu akan bisa disaksikan di seluruh wilayah Indonesia. Namun, di wilayah barat Indonesia, fase awal gerhana tidak sepenuhnya bisa diamati karena terjadi bersamaan dengan terbitnya Bulan.

Bulan purnama super 31 Januari juga disebut sebagai bulan biru (blue moon). Meski namanya bulan biru, itu tidak berarti cahaya bulan akan berwarna biru.

Cahaya bulan akan tetap berwarna kuning cerah atau menjadi kemerahan saat terjadi gerhana dan kuning pekat saat atmosfer Bumi dipenuhi debu.

Nama bulan biru diberikan dalam terminologi Inggris kuno untuk menyebut bulan purnama ekstra atau tambahan dalam satu tahun.

Dalam sistem penanggalan Masehi, satu musim di negara-negara empat musim memiliki rentang waktu tiga bulan. Selama tiga bulan itu, biasanya hanya akan terjadi tiga kali bulan purnama.

Nama bulan biru juga disematkan pada bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan yang sama.

Namun, kadang kala selama tiga bulan itu terjadi empat kali purnama. Bulan purnama ketiga dari empat purnama berturut-turut dalam satu musim itulah yang dinamai bulan biru.

Nama bulan biru juga disematkan pada bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan yang sama. Pada Januari 2018, bulan purnama terjadi pada 2 Januari dan 31 Januari sehingga purnama pada 31 Januari-lah yang disebut sebagai bulan biru.

Jika Anda kehilangan kesempatan mengamati bulan super 3 Desember lalu, masih ada kesempatan untuk mengamati bulan super pada Selasa (2/1) besok atau pada 31 Januari nanti. Selamat menyaksikan bulan super nan memesona.

Sumber: timeanddate.com, nasa.gov, space.com

M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 1 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: