Home / Artikel / Bioinsektisida Harapan Baru Pengendalian Wabah Malaria

Bioinsektisida Harapan Baru Pengendalian Wabah Malaria

PENYAKIT malaria masih tetap merupakan ancaman dunia. Penularan penyakit parasit ini masih terus berlangsung di 102 negara. Diperkirakan 2700 juta orang atau sekitar 56% jumlah penduduk dunia tinggal di daerah endemik untukmalaria. Diantara mereka 2266 juta orang hidup di negara yang melaksanakan program pemberantasan malaria dan 398 juta orang lagi tinggal di negara yang tidak melakukan tindakan khusus untuk pengendalian penyakit ini.

Gambaran terakhir yang diperoleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1984 menunjukkan adanya 5,3 juta kasus malaria, sedang dua tahun sebelumnya, 1983 dan 1982, masing-masing sebanyak 5,6 juta dan 6,5 juta kasus. Data ini belum meliputi negara-negara yang terletak di selatan Gurun Sahara (Afrika) yang holoendemik untuk malaria di mana data yang dapat dipercaya tidak ada.

Meskipun belum ada penilaian yang cermat tentang frekuensi jumlah kasus malaria dari seluruh dunia karena sebagian dari mereka tidak teramati atau belum tercatat seluruhnya, jumlah rata-rata kasus baru malaria diperkirakan ada 100 juta orang per tahun.

Situasi epidemiologis malaria di peta dunia tampaknya tidak juga membaik dalam dua dasawarsa terakhir ini meskipun berbagai upaya pengendaliannya di banyak negara tetap dilaksanakan. Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pengendalian malaria memang sangat banyak dan berbeda-beda antara tempat yang satu dan tempat yang lain. Secara garis besar kendala-kendala utama itu dibagi menjadi 4 masalah yaitu teknis, ekologis, sosioekonomi, dan administratif.

Masalah teknis yang kini muncul dalam menanggulangi penularan malaria adalah terjadinya kekebalan Plasmodium falciparum, penyebab malaria yang paling ganas, terhadap obat-obat malaria seperti klorokuin, salah satu senyawa 4 aminokuinolin yang paling banyak digunakan dalam program nasional pengobatan dan pencegahan malaria. Di samping itu banyak jenis nyamuk Anopheles yang menjadi vektor utama malaria menjadi tahan terhadap pengaruh DDT yaitu salah satu insektisida kimiawi yang terbanyak dipakai dalam program nasional pemberantasan vektor malaria di dunia.

Masalah ekologis yang membatasi sukses pengendalian malaria di banyak negara adalah masih banyaknya daerah terpencil yang hiperendemik untuk malaria yang masih sangat sulit dicapai dengan transportasi yang paling sederhana sekalipun. Di samping itu juga semakin bertambah banyaknya tempat perkembangbiakan nyamuk yang secara tidak sengaja justru dibuat oleh manusia, misalnya pembabatan hutan, penggalian tanah untuk pembangunan dan sebagainya.

Masalah administratif juga dialami oleh banyak negara sehubungan dengan penanganan malaria di lapangan. Jumlah kader-kader malaria desa yang terlatih dan berdedikasi tinggi semakin berkurang karena pindah tempat tinggal atau memasuki masa pensiun.

Yang tidak kalah beratnya dari ketiga masalah di atas adalah masalah sosioekonomi. Tingkat pendidikan penduduk di daerah endemik malaria umumnya masih rendah, hal itu menyebabkan persepsi yang salah terhadap upaya pengendalian malaria. Sebagian besar penduduk sering menolak diadakannya penyemprotan insektisida residual (misal DDT) karena mengotori dinding rumah. Juga ada di antara mereka yang tidak mematuhi aturan minum obat yang semestinya ataupun tidak melakukan tindakan pencegahan sebagaimana yang dianjurkan.

Pengendalian Hayati
Salah satu pilihan pengendalian nyamuk vektor malaria yang dalam dua dasa warsa terakhir ini mendapat perhatian para pakar biologi dan pengendalian vektor dari WHO adalah cara pengendalian hayati. Cara ini meliputi penggunaan berbagai jenis makhluk hidup lainnya yang berlaku sebagai pemangsa (predator), parasit atau penyebab penyakit (patogen) terhadap nyamuk atau jentiknya. Makhluk-makhluk hidup itu merupakan musuh-musuh alami yang mampu bertindak sebagai pengatur alami dinamika populasi nyamuk vektor. Dalam situasi dan kondisi yang sama biota lain yang menguntungkan tidak terganggu, sehingga dengan demikian mereka tetap dilestankan.

Adanya pergeseran pendapat tersebut ditandai dengan kegiatan yang meningkat para pakar entomologi bekerjasama dengan pakar mikrobiologi dan parasitologi dalam upaya pencarian, penelitian, pengembangan dan produksi bagat jenis musuh-musuh alami dari serangga sasaran, khususnya nyamuk vektor penyakit.

Di antara banyak jenis musuh-musuh alami tersebut yang mendapat perhatian khusus karena potensinya yang sangat besar dan memenuhi persyaratan sebagai sarana pengendali hayati larva nyamuk adalah ikan-ikan pemangsa jentik, cacing nematoda parasit dalam larva nyamuk, dan mikroorganisme penyebab penyakit dan kematian pada larva nyamuk.

Dari sekitar 300 jenis ikan pemakan jentik yang dapat didayagunakan sebagai pengendali hayati vektor malaria antara iain adalah ikan kepala timah(Panchax panchax), ikan gendol (Poecilia reticulata) dan ikan gupi (Gambusia affinis). Mereka seharusnya juga dibudidayakan dalam program mina padi, di samping ikan-ikan yang Iaik dikonsumsi.

Cacing nematoda dari Famili Mermithidae kini sedang dikembangkan sebagai agen hayati untuk pengendalian nyamuk vektor penyakit, di antaranya adalah dari jenis Romanomermis dan Octomyomermis. Bentuk dewasa cacing tersebut hidup bebas di tanah dasar tandon air sedangkan bentuk larvanya hidup sebagai parasit dalam larva nyamuk. Berbagai jenis mikroorganisme baik dari golongan virus, bakteria, jamur maupun protozoa mulai diteliti dan dikembangkan manfaatnya sebagai pengendali hayati. Mereka sesungguhnya merupakan patogen serangga (entomopatogen) yang di antara mereka ada galur-galur istimewa yang berkemampuan khusus membunuh larva nyamuk. Produk mikroorganisme dengan keamanan membunuh serangga (insekta) ini digolongkan dalam insektisida mikrobial.

Bioinsektisida
Bioinsektisida merupakan nama yang kini lebih populer dari pada insektisida mikrobial yaitu insektisida yang bahan aktif pembunuh serangganya terdiri atas mikroorganisme bersama produk-produk beracun yang dikandung atau dihasilkannya. Galur-galur mikroorganisme yang paling potensial sebagai bioinsektisida adalah yang dari kelompok bakteria, khususnya Bacillus pembentuk spora. Galur-galur yang berkhasiat larvisidal itu umumnya termasuk B. thuringiensis israelensis serotipe H-14 (B.t. H-14), B. sphaericus H5a5b dan B. sphaericus H25. Jentik-jentik nyamuk Aedes, Culex, Anopheles dan Mansonia yang peka terhadap pengaruh basili patogen itu hanya dalam waktu beberapa menit atau jam akan mati setelah menelan bahan racun (delta endotoksin) yang terkandung dalam kristal, spora atau dinding sel basili tersebut.

B.t. H-14 ternyata juga mampu membunuh larva lalat hitam (Simulium spp.) yang jenisnya di Afrika bagian tropik dikenal sebagai vektor penyakit onkosersiasis (disebabkan oleh cacing Onchocerca volvulus), penyebab kebutaan pada banyak penduduk setempat. B. sphaericus ternyata hanya khusus membunuh larva nyamuk, terutama dari jenis Culex dan Anopheles, sehingga cocok untuk pemberantasan vektor filariasis bancrofti (salah satu jenis penyakit kaki gajah) dan malaria. Meskipun spektrum B. sphaericus lebih sempit dari pada spektrum kerja B.t. H-14 namun kerjanya sebagai larvisida lebih lama daripada kerja B.t. H-14, karena mikrobia patogen itu mempunyai kerja residual, meskipun B. sphaericus diaplikasikan dalam air yang kotor. B. t. H-14 terutama aktif sebagai larvisida untuk nyamuk Aedes dan Anopheles sehingga mikrobia itu bermanfaat untuk pengendalian vektor Demam Berdarah Dengue (DBD) dan malaria.

Bioinsektisida yang mengandung B. t.H-14 dewasa ini telah diproduksi secara masal untuk diperdagangkan oleh berbagai pabrik farmasi di Eropa dan Amerika dalam bermacam bentuk formulasi dan nama paten. Bahas insektisida hayati ini ada yang berbentuk suspensi, puyer, butiran, briket atau mikrokapsul. Di Indonesia bioinsektisida dengan bahan aktif B. t. H-14 (Teknar, Sandoz) tersedia dalam bentuk suspensi dan baru dalam taraf uji coba lapangan dalam skala terbatas.

Ditemukannya patogen insekta yang khusus sasarannya (larva nyamuk) tampaknya memberi harapan baru yang cerah sehubungan dengan adanya permasalahan yang timbul dengan penggunaan insektisida kimiawi. Di samping sasaran kerjanya yang spesifik biomsektisida tertentu juga cukup kuat dan cepat dalam hal membunuh serangga sasaran sehingga dapat bersaing dengan insekustda kimiawi. Hal-hal yang penting lagi adalah bioinsektisida tidak cenderung mengakibatkan toleransi dan kekebalan serangga sasaran (vektor) meskipun bahan itu digunakan dalam skala besar dan lama, tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan membunuh musuh-musuh alami lain dari serangga sasaran, dan tidak meningkatkan lagi kepadatan vektor jika aplikasi bioinsektisida itu dihentikan. Tambahan lagi bioinsektisida yang ekologis sesuai dengan habitat dan perilaku vektor akan lebih berdayaguna dan berhasilguna karena bahan hayati itu kemudian memperbanyak diri dan mampu bertahan lama dalam satu ekosistem dengan vektor yang akan dibunuhnya.

*)Dr Sugeng Juwono M., M.Sc adalah staf pengajar pada Laboratorium Parasitologi FK UGM dengan minat utama Entomologi Kedokteran.

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 18 Februari 1990

Share
%d blogger menyukai ini: