Bintang Bethlehem dan Terkaan Astronomi

- Editor

Rabu, 28 Desember 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keberadaan bintang terang yang menandai kelahiran Yesus menjadi perdebatan abadi. Ada yang menyebutnya bintang terang itu komet, supernova, dan sejumlah konjungsi benda langit. Namun, hingga kini belum ada jawaban pasti.

Dalam setiap perayaan Natal, bintang dengan kerlap-kerlip cahayanya seolah menjadi hiasan wajib. Bahkan, di atas pohon natal, umumnya dipasang bintang besar yang sering kali dianggap sebagai bintang Bethlehem, bintang yang menuntun tiga orang Majus atau orang bijak menuju tempat kelahiran Yesus di Bethlehem sekitar 2.000 tahun lalu.

Sepanjang masa itu pula, pertanyaan dan perdebatan tentang apa sejatinya bintang Bethlehem itu terus terjadi, baik di kalangan ahli agama, sejarah maupun astrologi. Ada ilmuwan yang meragukan bintang Bethlehem itu nyata. Namun, ada pula yang menerkanya sebagai komet, supernova, hingga planet. Meski demikian, apa pun terkaan dan dugaan terkait bintang terang yang menjadi tanda kelahiran Yesus itu, tidak mengurangi keyakinan umat Kristiani.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam Injil Matius disebutkan tentang keberadaan sebuah bintang yang memandu orang Majus dari Timur untuk pergi ke Jerusalem guna mencari Yesus yang baru dilahirkan. Raja Herodes yang ketika itu memerintah tanah Yudea, tempat Bethlehem berada, atas petunjuk imam dan pemuka agama, meminta ketiga orang Majus itu untuk pergi ke Bethlehem. Saat mereka menuju Bethlehem, bintang yang telah mereka lihat di Timur itu telah mendahului mereka.

Sejak dulu, bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia dalam beragam budaya telah menjadikan peristiwa langit sebagai penanda waktu. Peristiwa langit juga sering dianggap sebagai petunjuk atau isyarat terjadinya peristiwa-peristiwa besar dalam kehidupan manusia. Walau demikian, sering kali sulit memastikan keberadaan pasti obyek langit khusus penanda sejarah itu.

Kondisi itu juga yang terjadi pada bintang Bethlehem. Sebagian orang ragu bintang itu benar-benar ada. Kalaupun bintang itu ada, benda atau persitiwa langit apa yang sebenarnya dilihat sebagai bintang Bethlehem itu? Seiring berkembangnya astronomi modern, dugaan tentang bintang Bethlehem itu semakin menemukan titik terang.

”Jika apa yang tertulis dalam Perjanjian Baru itu merupakan catatan sejarah tentang sesuatu, catatan itu membutuhkan penjelasan,” kata profesor fisika dan astronomi Universitas Vanderbilt, Tenesse, Amerika Serikat, David Weintraub, seperti dikutip Space, Jumat (23/12/2022).

Bukan komet dan supernova
Sebagian orang menduga, bintang Bethlehem itu adalah sebuah komet alias bintang berekor. Dari perhitungan astronomi modern, Komet Halley di sekitar tahun kelahiran Yesus melintas di langit pada tahun 11 sebelum Masehi (SM). Komet Halley adalah salah satu komet paling populer dalam sejarah manusia dan mendekati Matahari setiap 76 tahun sekali. Terakhir kali, komet ini terlihat tahun 1986.

Namun, astronom meragukan jika bintang Bethlehem itu adalah sebuah komet. Saat orang Majus menuju Jerusalem dan terus ke Bethlehem, sepertinya tidak mungkin mereka berjalan dengan mengikuti komet. Sebagai bintang ”alihan” seperti sebutan orang Jawa atau bintang yang berpindah, posisi komet akan terus berubah seiring rotasi Bumi.

Di sisi lain, dalam pandangan masyarakat kuno, bahkan masyarakat AS dan Eropa hingga abad ke-19, kemunculan komet sering dianggap menakutkan. Dikutip dari tulisan Joel Schwarz dari Universitas Washington, AS, 24 Maret 1997 yang diunggah di situs Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional AS (NASA), kehadiran komet dianggap sebagai pertanda atau pembawa kabar buruk.

Kematian Kaisar Romawi Julius Caesar terjadi bersamaan dengan munculnya komet. Paus Callixtus III juga mengabaikan atau mengucilkan Komet Halley yang muncul pada tahun 1456 karena dianggap sebagai alat atau utusan setan.

Sementara astrolog atau ahli nujum Inca dan Aztec memandang komet sebagai tanda kemurkaan dewa yang menyebabkan kejatuhan dua peradaban kuno Amerika Selatan itu ke Spanyol.

Dalam metafisika Jawa, kemunculan komet juga dianggap sebagai pertanda buruk. Peristiwa G30S tahun 1965, kematian Presiden Soekarno tahun 1970, hingga awal pandemi Covid-19 pada tahun 2020 juga ditandai dengan terlihatnya komet alias lintang kemukus.

”Pada masa kelahiran Yesus, kemunculan komet di langit biasanya merupakan pertanda datangnya bencana,” kata profesor astrofisika teoretis dan kosmologi Universitas Notre Dame, Indiana, AS, Grant Mathews. Karena itu, kemungkinan bintang Bethlehem adalah komet secara astronomi dan budaya diabaikan.

Dugaan lain tentang kesejatian bintang Bethlehem adalah ledakan bintang baik dalam skala nova yang kecil atau supernova yang dahsyat. Namun, hingga kini astronom belum menemukan adanya nova pada masa sekitar kelahiran Yesus. Padahal, kalaupun terjadi nova pada saat itu, bekas ledakannya pasti masih akan terdeteksi saat ini.

Selain itu, jika supernova itu ada, orang Majus yang mengikuti bintang tersebut akan berjalan melingkar. ”Kita tidak bisa mengikuti gerak bintang dari Baghdad ke Jerusalem (timur ke barat) karena bintang tidak diam di langit, tetapi terbit di timur dan terbenam di barat,” kata Weintraub.

Sebagai ledakan bintang yang terang, kalaupun supernova itu terjadi, kemungkinan akan ada masyarakat dari budaya lain yang mencatatnya. Supernova SN 1054 yang terjadi pada tahun 1054 dan menjadi cikal bakal Nebula Kepiting yang terlihat sekarang tercatat dalam manuskrip China, Jepang, dan ilmuwan Muslim Arab. Namun, tidak ada catatan tentang supernova yang terjadi sekitar 2.000 tahun lalu.

Teori lain menyebut supernova yang menjadi tanda kelahiran Yesus itu adalah ledakan bintang yang terjadi di Galaksi Andromeda, tetangga galaksi kita, Bimasakti, seperti yang ditulis FJ Tipler di jurnal The Observatory, Juni 2005. Namun, banyak astronom meragukan teori ini karena melihat galaksi tetangga dengan mata telanjang itu susah, apalagi melihat terjadinya ledakan bintang di galaksi tersebut.

Karena bintang Bethlehem sulit untuk diidentifikasi sebagai komet atau ledakan bintang, maka sebagian ilmuwan menyimpulkan bahwa apa yang dilihat orang Majus itu sebagai interpretasi astrologi langit yang artinya ”bintang” yang dilihat itu bukan benar-benar bintang. Interpretasi ini diambil berdasarkan keterangan bahwa mereka menanyakan arah tempat lahir Yesus kepada Herodes. Dengan demikian, benda terang itu tidak menuntun orang Majus hingga ke tujuan akhir.

Di masa kelahiran Yesus, astrologi alias peramalan, bukan astronomi, adalah ilmu penting yang diterima luas masyarakat. Ketiga orang Majus dari Babilonia itu diduga adalah peramal yang membaca makna tersembunyi dari posisi atau keselarasan gerak benda-benda langit, seperti Planet Yupiter.

Dalam astrologi, Yupiter memiliki makna yang penting. Planet ini sangat terang dan mudah diamati dengan mata telanjang. Karena itu, saat Bulan melintasi Yupiter di Rasi Aries pada 17 April 6 SM dianggap menjadi tanda kelahiran Yesus. ”Penting melihat apa yang dipikirkan orang pada 2.000 tahun lalu dan saat itu orang menganggap astrologi sebagai persoalan besar,” kata Weintraub.

Konjungsi
Karena komet dan supernova tidak bisa menjelaskan tentang bintang Bethlehem dan penjelasan astrologi tidak bisa diterima secara ilmiah karena dianggap pseudosains, maka astronom berusaha menilai secara ilmiah apa yang sebenarnya terjadi.

Jika obyek terang yang dilihat orang Majus itu benar-benar ada, kemungkinan yang dilihat sebagai ”bintang terang” itu adalah planet atau benar-benar bintang. Masyarakat dulu belum bisa membedakan bintang atau planet karena keduanya bisa sama-sama bersinar terang di langit malam.

Benda terang itu juga bisa dihasilkan dari konjungsi alias kesegarisan antara dua atau lebih benda langit. Jika dua obyek langit terang segaris hingga tampak menyatu, bisa menghasilkan cahaya yang jauh lebih terang dari biasanya.

Konjungsi benda langit itu bisa diamati terus-menerus dari lokasi tertentu selama beberapa hari atau minggu sehingga orang yang mengikutinya bisa diarahkan ke tujuan atau arah tertentu. Astronom AS, Michael Molnar, dalam bukunya, The Star of Bethlehem (1999), juga sepakat dengan teori konjungsi benda langit sebagai bintang Bethlehem.

Salah satu konjungsi benda langit yang dinilai paling potensial sebagai bintang Bethlehem, menurut Matthews, adalah kesegarisan antara Planet Yupiter, Saturnus, Bulan, dan Matahari di Rasi Aries pada 17 April 6 SM.

Konjungsi ini dianggap paling ideal dengan kondisi bintang Bethlehem karena konjungsi terjadi menjelang pagi yang sesuai dengan deskripsi Injil yang menyebut bintang Bethlehem terbit saat pagi. Karena terbit pagi, orang Majus akan kehilangan pandangan terhadap bintang itu sebelum mereka sampai di tempat kelahiran Yesus.

Kondisi itu bisa terjadi sebagai konsekuensi dari gerak retrograde Yupiter yang membuat planet ini seolah berubah arah gerak di langit malam. Jika semula Yupiter bergerak ke timur, kemudian dia terlihat bergerak ke barat. Perubahan gerak itu terjadi karena lintasan Bumi mengelilingi Matahari lebih pendek daripada lintasan Yupiter. Akibatnya, jika sebelumnya posisi Yupiter lebih maju dibandingkan Bumi jika dilihat dari Matahari, kemudian Bumi menjadi lebih maju daripada Yupiter.

”Biasanya, planet bergerak ke arah timur. Namun, karena gerak retrograde, maka arah planet berbalik menjadi mirip dengan gerak bintang saat malam, yaitu terbit di timur dan terbenam di barat,” kata Mathews.

Selain konjungsi Yupiter, Saturnus, Bulan, dan Matahari pada 17 April 6 SM, ada dua konjungsi lain yang terjadi di sekitar masa kelahiran Yesus.

Salah satunya adalah kesegarisan antara Yupiter, Venus, dan bintang Regulus di Rasi Leo pada 17 Juni 2 SM. Venus dan Yupiter adalah obyek langit paling terang kedua dan ketiga di langit malam setelah Bulan. Sementara bintang Regulus paling terang ke-28. Tanpa bantuan teleskop, Planet Yupiter dan Venus akan terlihat menyatu hingga terlihat sebagai bintang tunggal yang sangat cemerlang. Namun, karena kesegarisan Venus, Yupiter, dan Regulus itu terjadi di awal malam dan di arah barat, maka peluang konjungsi benda-benda tersebut sebagai bintang Bethlehem diabaikan.

Konjungsi lainnya yang patut diduga sebagai bintang Bethlehem terjadi pada tahun 6 SM saat Yupiter, Saturnus, dan Mars mengalami konjungsi di Rasi Pisces. Namun, waktu konjungsi planet-planet tersebut juga tidak sesuai dengan deskripsi dalam Perjanjian Baru.

Dengan demikian, konjungsi benda langit yang dianggap paling mendekati sesuai ciri-ciri bintang Bethlehem adalah konjungsi antara Yupiter, Saturnus, Bulan, dan Matahari di Rasi Aries pada 17 April 6 SM.

Meski ilmuwan telah membuat sejumlah perkiraan tentang bintang Bethlehem yang paling mendekati keterangan yang ada di Injil, bisa jadi kita juga tidak akan pernah tahu pasti apa itu sejatinya bintang Bethlehem. Apakah bintang itu benar-benar ada atau interpretasi astrologi semata. Jawaban pertanyaan ini akan bisa terjawab jika ditemukan bukti-bukti arkeologis kuat yang mendukungnya.

Selain itu, mungkin juga tidak perlu membuktikan secara ilmiah apakah bintang terang Bethlehem itu sebenarnya. Sejatinya, agama itu adalah keyakinan.

Selamat Hari Natal 25 Desember 2022. Selamat merayakan sukacita dalam kebersamaan dan berbagi kasih dengan sesama.

Oleh MUCHAMAD ZAID WAHYUDI

Editor: ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 25 Desember 2022

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 6 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB