Home / Berita / Berwisata Aman di Gunung Api

Berwisata Aman di Gunung Api

Gunung api di Indonesia dikenal menawan dan telah lama berkembang menjadi obyek pariwisata yang murah-meriah. Di balik pesonanya, gunung api menyimpan bahaya. Bahkan, ketika gunung api tersebut dinyatakan dalam kondisi normal, tetap ada batasan yang harus ditaati agar terhindar dari bencana.

Seiring perkembangan teknologi digital dan media sosial, semakin banyak orang yang tergoda berwisata ke gunung api, terutama pada musim liburan. Tak hanya menikmati elok pemandangan dan merasakan sejuk udaranya, semakin banyak saja pelancong yang termotivasi untuk berswafoto dengan berlatar belakang gunung-gunung ini.

Masalahnya, dorongan untuk berswafoto ini kerap membuat pelancong mengabaikan bahaya. “Perilaku wisatawan Indonesia cenderung antroposentris, suka beramai-ramai dan mendekat hingga sedekat-dekatnya dengan obyek alam dengan mengabaikan risiko. Ini semakin tersalurkan dengan tren foto selfie (swafoto),” kata Devi Rosa Kausar, peneliti dan Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila.

Perilaku ini berkali-kali memicu bencana dan kecelakaan, bahkan tak jarang merenggut korban jiwa. Mei 2015, seorang mahasiswa terjatuh dari tebing kawah dan meninggal karena hendak berswafoto di puncak Gunung Merapi. Padahal, saat itu Merapi dinyatakan dilarang didaki hingga ke puncaknya.

April 2015, seorang pemandu pendakian meninggal di puncak Gunung Marapi, Sumatera Barat. Saat itu, Marapi juga masih berstatus Waspada dan terlarang ke puncaknya.

Sebelumnya, dua pendaki tewas di kawah Gunung Sindoro, Jawa Tengah. Fenomena terbaru, 17 orang terjebak letusan freatik Kawah Sileri, di kompleks Pegunungan Dieng, Jawa Tengah, dan empat orang di antaranya terluka.

Sekalipun tak menelan korban jiwa, tetapi bencana di Dieng pada Minggu (2/6) tersebut menjadi peringatan tentang adanya persoalan dalam pengelolaan wisata di kawasan gunung api. Fenomena ini, menurut Kepala Badan Geologi Ego Syahrial, seperti bom waktu karena banyak sekali wisatawan yang berada dalam zona bahaya, sekalipun sudah ada larangan.

“Dalam kasus bencana di Kawah Sileri (Minggu) kemarin, kami sudah jauh-jauh hari memberi peringatan dan rekomendasi kepada pemerintah daerah ataupun pengelola wisata agar melarang pengunjung mendekat hingga jarak aman minimal 100 meter dari kawah,” kata Ego.

Peringatan dini itu telah dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi sejak 24 Mei 2017. Peringatan ini ditegaskan kembali sebelum libur Idul Fitri, Juni 2017.

“Rekomendasi telah disampaikan secara lisan dan tertulis kepada pengelola wisata, juga kepada camat, dan bupati, serta BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah). Info yang kami peroleh, pengelola wisata juga sudah memasang rambu-rambu peringatan, tetapi mungkin kurang tegas,” kata Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat-PVMBG, Hendara Gunawan.

Karakter
Saat erupsi Minggu, status Kawah Sileri masih ditetapkan dalam kondisi normal. Demikian halnya setelah erupsi statusnya juga masih sama. “Normalnya gunung api tetap berbahaya jika kita terlalu dekat dan memasuki peta bahaya. Rekomendasi dalam peta ini, dibuat dari karakter dan sejarah letusannya,” kata Hendra.

Ibaratnya mendekati macan tidur, kita tak boleh gegabah. Demikian halnya gunung api yang terlihat tenang, bisa-bisa terbangun tiba-tiba. “Terutama untuk letusan freatik-letusan yang dominan gas-seperti di Kawah Sileri (Minggu) kemarin, itu sangat sulit diprediksi karena relatif kecil sehingga tak terpantau sensor. Paling aman, ya, pengunjung tetap berada di luar zona bahaya,” katanya.

Status Normal dalam gunung api merupakan kategori teknis yang ditetapkan oleh PVMBG-Badan Geologi. Jika terpantau terjadi peningkatan aktivitas, bisa berupa peningkatan kegempaan, gunung api akan dinaikkan statusnya menjadi Waspada. Konsekuensinya, zona bahayanya diperluas, dan berikutnya bisa naik menjadi Awas jika aktivitasnya terus meningkat dan berpotensi meletus.

Tiap gunung memiliki karakter dan ancaman bahaya yang berbeda yang harus dikenali pengunjung. Misalnya Kawah Timbang di Dieng, risiko bahayanya adalah embusan gas beracun yang bisa keluar sewaktu-waktu. Demikian halnya Gunung Ijen di Jawa Timur, juga memiliki risiko gas beracun, selain juga ancaman dari danau kawahnya yang memiliki kadar keasaman sangat tinggi.

Sementara Gunung Kelud di Jatim memiliki bahaya berupa lahan letusan dan lahar hujan. Masih di Jatim, Gunung Bromo dan Semeru memiliki bahaya berupa lontaran batu pijar, selain gas beracun. Adapun Gunung Sinabung dan Merapi, terutama adalah awan panasnya, selain juga banjir lahar hujan.

“Semua karakter dan potensi bahaya gunung api di Indonesia sudah dipetakan. Masyarakat juga bisa langsung mengaksesnya di laman PVMBG. Pemerintah daerah dan BPBD juga punya datanya. Kami selalu perbarui jika ada peningkatan aktivitas. Masalahnya, rekomendasi kami sering diabaikan,” kata Ego.

Tak hanya di Dieng, pengabaian rekomendasi untuk tidak mendekat ke zona bahaya juga terjadi di kawasan wisata gunung api populer lainnya, sepeti Gunung Bromo, Ijen, atau Tangkubanparahu.

“Penelitian kami, ada kecenderungan peringatan PVMBG memang tidak ditaati oleh pengelola wisata gunung api di daerah-daerah. Pengelola wisata hanya berpikir untung dan pemasukan, jarang memperhatikan aspek keselamatan pengunjung,” kata Agustan, peneliti penginderaan jauh kebumian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Tak hanya pelaku wisata, menurut Devi, karakter wisatawan Indonesia juga cenderung abai dengan risiko. “Sudah ada peringatan bahaya pun sering dilanggar, apalagi jika tidak ada,” katanya.

Penelitian Agustan bersama Devi, dan Estu Kriwati dari PVMBG tentang adanya persoalan dalam pariwisata gunung api di Indonesia ini diterbitkan dalam publikasi tahunan Tourism, Leisure and Global Change, volume 3 oleh International Geographical Union tahun 2016.

Edukasi publik
Selain persoalan komunikasi risiko kepada masyarakat dan pelaku wisata, menurut Agustan, yang perlu ditingkatkan adalah memperbanyak sensor dan tenaga pengamat untuk memantau aktivitas gunung api yang ramai dikunjungi wisatawan. Tak hanya memantau aktivitas gunung api, petugas PVMBG juga dituntut aktif dalam memberikan edukasi publik terkait bahaya di daerah amatannya.

Sementara Devi mengusulkan pemberian sanksi kepada pengelola wisata yang tidak menyediakan informasi memadai tentang risiko bencana di kawasan yang dikelolanya.

“Pengelola wisata di gunung api harus turut bertanggung jawab terhadap keamanan wisatawan,” katanya.

Namun, menurut Devi, yang paling penting adalah setiap wisatawan harus belajar bertanggung jawab. Tak hanya terhadap keamanan diri sendiri, tetapi juga belajar menjaga agar lingkungannya tetap terjaga.(AHMAD ARIF)
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 Juli 2017, di halaman 14 dengan judul “Berwisata Aman di Gunung Api”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: