Home / Berita / Berlayar Menjaga Harmoni di Laut dan di Darat

Berlayar Menjaga Harmoni di Laut dan di Darat

Pagi yang cerah di hari Minggu (11/3), Rainbow Warrior III diiringi perahu-perahu nelayan untuk merapat di Pelabuhan Manokwari, Papua Barat. Dari sini ”Jelajah Harmoni Nusantara” dimulai.

Rainbow Warrior III yang diluncurkan pada Oktober 2011 ini adalah kapal pertama yang dibuat khusus untuk Greenpeace. Ini adalah salah satu kapal paling ramah lingkungan yang dirancang sebagai kendaraan kampanye lingkungan.

Rainbow Warrior generasi ketiga ini pertama kali berlayar di perairan Indonesia pada Mei-Juni 2013 dari Papua hingga Jakarta. Pendahulunya, Rainbow Warrior II, telah beberapa kali mengunjungi Indonesia, sejak kunjungan pertama pada Januari 2004.

RENDRA HERMAWAN/GREENPEACE–Seorang anak menunjuk poster Rainbow Warrior II di Terminal Penumpang Nusantara, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (29/4/2018). Panel sebelah kiri adalah Rainbow Warrior I dan panel sebelah kanan adalah Rainbow Warrior III.

Di dermaga Pelabuhan Manokwari, Rainbow Warrior III yang membawa misi penyelamatan hutan disambut tari Ripimamuna. Kapten kapal, Hettie Geenen, ikut menari dengan latar belakang spanduk besar bertuliskan ”Hutan Kita, Masa Depan Kita” yang terbentang di sisi anjungan.

JURNASYANTO SUKARNO/GREENPEACE–Kapten Hettie Geenen dan kru Rainbow Warrior menari bersama penari Papua dalam upacara penyambutan di Pelabuhan Manokwari, Papua Barat, Kamis (12/4/2018).

JURNASYANTO SUKARNO/GREENPEACE–Peta menunjukkan posisi kapal Rainbow Warrior yang sedang berada di perairan Indonesia dalam rangkaian Tur Asia Tenggara 2018.

Selama sebulan di Papua, para aktivis Greenpeace antara lain menyoroti pembukaan hutan untuk konsesi perusahaan perkebunan kepala sawit. Greenpeace pun menerbitkan laporan berjudul Moment of Truth (Saatnya Kebenaran Disuarakan), mengupas beberapa merek yang masih mendukung perusakan hutan Indonesia dalam rantai industri minyak kelapa sawit.

Setelah Papua, tujuan berikutnya adalah Bali. Jumat (13/4/2018) siang, Sang ”Ksatria Pelangi” buang sauh di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, disambut tari Baris, tarian para ksatria. Seorang pendeta Hindu menggelar ritual selamatan di dermaga menyambut kedatangan kapal simbol perjuangan lingkungan itu di Pulau Dewata.

JURNASYANTO SUKARNO/GREENPEACE–Penari Bali menampilkan tari ksatria menyambut kedatangan Rainbow Warrior di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali, Jumat (13/4/2018).

MADE NAGI/GREENPEACE–Pendeta Hindu Bali menggelar ritual tradisional untuk keselamatan kapal Rainbow Warrior beserta krunya saat tiba di Pelabuhan Benoa, Bali, Jumat (13/4/2018).

Kunjungan kali ini di Bali membawa pesan untuk mengembalikan keseimbangan antara alam dan kehidupan manusia. Tiga persoalan utama menarik perhatian, yakni pembangkit energi, penggunaan plastik yang berujung sebagai limbah di laut, dan reklamasi di kawasan pesisir.

Greenpeace menentang rencana pembangunan PLTU Celukan Bawang 2 x 330 MW karena dinilai sebagai perencanaan energi yang tidak tepat dan dapat meracuni keindahan dan merusak keseimbangan alam Bali. Bersama masyarakat, Greenpeace telah melayangkan gugatan kepada pemerintah agar rencana proyek tersebut segera dibatalkan.

Greenpeace bersama warga juga menolak reklamasi Teluk Benoa. Rainbow Warrior memberi dukungan pada perjuangan masyarakat Bali menolak reklamasi di Teluk Benoa. Greenpeace telah menegaskan penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa sejak Rainbow Warrior berkunjung ke sana pada 2013 silam.

BAGUS WINDHI SANTIKA/GREENPEACE–Aktivis lingkungan membentangkan spanduk raksasa bertuliskan ”Tolak Reklamasi di Teluk Benoa”, Sabtu (14/4/2018) di Teluk Benoa, Bali. Penolakan reklamasi di kawasan pesisir merupakan salah satu isu yang disoroti Rainbow Warrior dalam turnya di Indonesia.

Terkait pencemaran plastik di laut, Greenpeace menegaskan bahwa untuk mengatasi persoalan serius ini, tidak cukup hanya dengan pembersihan di lapangan dan malakukan daur ulang. Greenpeace menyerukan pengurangan produksi dan ketergantungan terhadap penggunaan plastik sekali pakai (single use plastics) dalam kehidupan sehari-hari.

Sebuah penelitian mengungkapkan, 91 persen plastik di dunia masih belum bisa didaur ulang. Setiap menit, volume plastik setara dengan satu truk memasuki lautan.

RIVAN HANGGARAI/GREENPEACE–Kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace meninggalkan Pulau Bali menuju Jakarta, Senin (16/4/2018).

Dalam perjalanan ke Jakarta, para aktivis Greenpeace singgah di Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng. Mereka menyatakan dukungan terhadap masyarakat dalam menentang rencana perluasan PLTU yang berjarak 20 kilometer dari pantai Lovina, kawasan wisata populer yang terkenal dengan pantai pasir hitam, terumbu karang, dan lumba-lumba. Rainbow Warrior disambut puluhan kapal nelayan yang bergerak dan berlayar beriringan.

MADE NAGI/GREENPEACE–Kapal Rainbow Warrior milik Greenpeace berlayar bersama perahu-perahu nelayan di Celukan Bawang, Bali, Selasa (17/4/2018). Greenpeace Indonesia dan masyarakat Celukan Bawang menentang rencana pemerintah membangun PLTU melengkapi yang sudah ada sebelumnya.

JURNASYANTO SUKARNO/GREENPEACE–Pendeta Hindu berdoa di landasan helikopter Rainbow Warrior sebagai bagian dari aksi penolakan terhadap rencana pembangunan PLTU di Celukan Bawang, Bali, Selasa (17/4/2018).

JURNASYANTO SUKARNO/GREENPEACE–Seorang anak mengenakan masker sambil mengibarkan bendera bertuliskan ”Tolak PLTU Batubara” dalam aksi bersama aktivis Greenpeace dan nelayan di Celukan Bawang, Bali, Selasa (17/4/2018).

Pengoperasian PLTU di wilayah itu juga dikhawatirkan menimbulkan risiko bagi Taman Nasional Bali Barat, rumah bagi satwa langka dan dilindungi, termasuk macan tutul jawa, trenggiling, dan jalak bali.

Minggu (22/4/2018) pagi, Rainbow Warrior buang sauh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Di ibu kota negeri ini, Greenpeace menyerukan dan mendukung penggunaan energi bersih secara masif oleh Pemerintah DKI Jakarta sebagai upaya menjaga ketersediaan udara bersih. Kru kapal disambut sepasang ondel-ondel, tari tradisional Betawi, dan atraksi pencak silat.

ROSA PANGGABEAN/GREENPEACE–Kapal Rainbow Warrior tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (23/4/2018).

JURNASYANTO SUKARNO/GREENPEACE–Kedatangan kapal Rainbow Warrior disambut sepasang ondel-ondel di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (23/4/2018).

ARNAUD VITTET/GREENPEACE–Monitor kualitas udara yang terpasang di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (26/4/2018), menunjukkan kualitas udara dalam kategori tidak sehat.

RENDRA HERMAWAN/GREENPEACE–Sejumlah pekerja membersihkan sampah plastik di laut sekitar kapal Rainbow Warrior yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Sabtu (28/4/2018).

Greenpeace berharap terjalin kerja sama antara pemerintah daerah dan masyarakat Jakarta untuk mulai beralih ke energi terbarukan. Penggunaan panel surya atap adalah potensi energi terbarukan yang paling efektif diterapkan di perkotaan padat penduduk seperti Jakarta.

Banyak negara saat ini telah beralih ke pemanfaatan energi terbarukan. Lebih dari 100 kota telah menggunakan minimal 70 persen sumber energi yang berasal dari energi terbarukan. Tercatat lebih dari 7.400 wali kota di sejumlah negara telah bersepakat melawan perubahan iklim dengan memperbaiki regulasi di sektor energi mereka.

Sepekan menyapa warga Jakarta, Greenpeace mengakhiri ”Jelajah Harmoni Nusantara”. Senin (30/4/2018), Rainbow Warrior angkat sauh. Tujuan berikutnya: Thailand, misi: kampanye energi terbarukan.–NASRU ALAM AZIZ

Sumber: Kompas, 1 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: