Home / Berita / Bencana Lingkungan Memiskinkan

Bencana Lingkungan Memiskinkan

Biaya Pemulihan Sangat Mahal
Kerusakan kawasan pesisir telah memicu bencana lingkungan yang pada akhirnya berdampak terhadap pemiskinan masyarakat korban. Karena pemulihan lingkungan yang telanjur rusak sangat sulit dan mahal, pembangunan seharusnya sejak awal memperhitungkan daya dukung lingkungan.

Besarnya dampak sosial dan ekonomi yang harus ditanggung masyarakat dari kerusakan kawasan pesisir ini terjadi di Desa Bedono, Timbulsloko, Sriwulan, di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Akibat abrasi pantai, sawah dan tambak di wilayah itu berubah menjadi lautan. Bahkan, rumah-rumah warga hilang terendam air laut.

Selain diduga sebagai dampak pengembangan pelabuhan yang menjorok ke laut, abrasi pantai di wilayah sebelah timur Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, itu juga disebabkan kurangnya perlindungan alami, yaitu mangrove. Ali Nurachim (37), warga Dukuh Pandansari, Desa Bedono, mengatakan, tambak udang yang mengalami masa kejayaan pada 1980-an hingga awal 2000 telah hilang menjadi lautan. “Dulu, memang oknum yang menebang mangrove untuk membuka tambak,” ujarnya di Demak, Jumat (17/3).

Ketua Pusat Unggulan Iptek Pusat Kajian Mitigasi Bencana dan Rehabilitasi Pesisir (PUI PKMBRP) Universitas Diponegoro, Semarang, Muhammad Helmi menuturkan, alih fungsi lahan dari mangrove menjadi tambak menyebabkan erosi pantai cepat terjadi. Berdasarkan riset PUI PKMBRP 1991-2014, pantai di Sayung yang tererosi sepanjang 8,5 kilometer. Erosi pantai ini merusak tambak, permukiman, dan infrastruktur di Sayung seluas 2.073,7 hektar.

Ali mengatakan, semua tambak di dekat pesisir terendam akibat abrasi pantai. Sejumlah warga pun kehilangan mata pencarian utama. Akses warga dari satu dukuh ke dukuh lain juga terputus. Banjir rob atau limpasan air laut ke daratan pun semakin parah.

Nasuha (59), warga Dukuh Bedono, Desa Bedono, mengatakan, “Dulu kami cukup makmur dari hasil sawah dan tambak, sekarang sumber penghasilan itu sudah tidak ada. Kebanyakan hanya jadi nelayan kecil.” Banjir rob pun semakin sering melanda.

Nasuha mengatakan, sebagian warga akhirnya meninggalkan desa. “Dukuh Tambaksari sekarang hanya dihuni 5 keluarga, dari sebelumnya 75 keluarga. Mereka pindah ke desa lain,” katanya.

Kepala Desa Bedono Agus Salim mengatakan, “Total ada sekitar 200 keluarga yang sudah direlokasi karena tanahnya tak bisa ditempati lagi.”

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), laju abrasi di Indonesia mencapai 1.950 hektar per tahun dengan total lahan di pesisir yang hilang akibat abrasi selama 15 tahun mencapai 29.261 hektar. Abrasi di pantai utara Jateng yang mencapai 6.000 hektar dalam 15 tahun merupakan yang terparah.

Untuk wilayah Sayung, menurut perhitungan KKP, kemunduran garis pantai sejauh 76,49 meter per tahun, sedangkan lahan yang hilang dalam 15 tahun terakhir mencapai 139,76 hektar.

Masalah banjir dan rob juga terjadi di Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang. Hal ini antara lain disebabkan penurunan tanah yang semakin cepat setiap tahun. Koordinator Komunitas Masyarakat Kemijen Sukatno mengatakan, penurunan muka tanah di Kemijen rata-rata 20 sentimeter setiap tahun. Situasi paling parah dialami warga RT 007 yang tanahnya turun paling cepat, lebih dari 30 sentimeter tiap tahun.

“Sudah tak terhitung biaya yang harus kami keluarkan untuk merenovasi rumah. Setiap lima tahun tanah turun rata-rata sampai satu meter. Jadi, minimal lima tahun sekali uruk tanah dan bongkar rumah,” kata Sukatno.

Upaya pemulihan
Kepala Subdirektorat Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Hendra Yusran Siry mengatakan, dalam tiga tahun terakhir KKP secara intensif berupaya merehabilitasi pesisir yang rusak. Hal ini dilakukan dengan pembangunan struktur pengaman pantai sepanjang 47.800 kilometer dengan harapan bisa memulihkan 478 hektar area yang rusak. Meski demikian, hal itu baru bisa berkontribusi 8,2 persen per tahun dibandingkan dengan laju kerusakan.

“Memulihkan lahan yang terabrasi dan sudah berubah menjadi laut tidak mudah, apalagi jika terjadi penurunan daratan seperti di Demak dan Semarang. Untuk target pemulihan kawasan pesisir sepanjang 25 kilometer pada tahun ini saja kemungkinan akan menghabiskan anggaran hingga Rp 250 miliar,” katanya.

Melihat situasi ini, menurut Hendra, pembangunan yang dilakukan di kawasan pesisir seharusnya dilakukan dengan hati-hati mengingat wilayah ini sangat rentan. “Menjaga pelestarian mangrove menjadi salah satu kunci penting dalam melindungi pesisir,” katanya. (AIK/DIT)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 18 Maret 2017, di halaman 13 dengan judul “Bencana Lingkungan Memiskinkan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: