Beban Sosial Pasien Tuberkulosis Sering Terlupakan

- Editor

Kamis, 15 November 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pasien tuberkulosis tidak hanya menghadapi beban medis terkait terapi yang dijalaninya, tetapi juga beban sosial dari lingkungan sekitarnya yang dampaknya besar. Aspek itu kerap terlupakan dalam penanggulangan tuberkulosis.

Mantan pasien tuberkulosis sekaligus pendiri Pejuang Tangguh (Peta), organisasi dukungan pasien tuberkulosis, Ully Ulwiyah, Rabu (14/11/2018) di Jakarta, memaparkan, banyak masalah sosial dihadapi pasien tuberkulosis biasa dan tuberkulosis yang resisten pada obat. Ada pasien yang dikucilkan keluarga, bercerai dari pasangannya, atau mengalami perlakuan diskriminatif di tempat kerja. Hal itu memengaruhi keberhasilan terapi.

KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN–Dari kanan ke kiri, Pendiri Pejuang Tangguh, organisasi pasien tuberkulosis Ully Ulwiyah, Ketua Stop TB Partnership Indonesia Arifin Panigoro, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, pengajar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Erlina Burhan menjelaskan bagaimana upaya strategi eliminasi tuberkulosis pada pemimpin redaksi sejumlah media massa di Jakarta, Rabu (14/11/2018).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Karena kurangnya pengetahuan akan tuberkulosis, ada keluarga yang memisahkan tempat makan anggota keluarga yang kena TB karena khawatir menular,” kata pengajar pada Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Erlina Burhan.

Di tempat kerja, sejumlah pasien TB didiskriminasi, bahkan diberhentikan, karena dinilai tak produktif dan berisiko menularkannya. Karena berobat tiap hari, produktivitas pasien TB terganggu. Perusahaan perlu memberikan dukungan.

Tuberkulosis disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menular lewat udara, bukan melalui makanan atau alat makan penderita. Pasien TB bisa menularkan kepada 10-15 orang. Padahal, TB bisa disembuhkan dengan disiplin berobat.

KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN–Dari kanan ke kiri, Pendiri Pejuang Tangguh, organisasi pasien tuberkulosis Ully Ulwiyah, Ketua Stop TB Partnership Indonesia Arifin Panigoro, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, pengajar di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Erlina Burhan menjelaskan bagaimana upaya strategi eliminasi tuberkulosis pada pemimpin redaksi sejumlah media massa di Jakarta, Rabu (14/11/2018).

Berdasarkan Laporan Global TB tahun 2017, Indonesia menempati posisi ketiga negara dengan kasus TB tertinggi di dunia, dengan 842.000 kasus dan 3.119 kasus TB resisten obat. Sayangnya, dari jumlah itu, notifikasi kasusnya baru 446.732 kasus. Masih banyak kasus TB yang tidak terlaporkan.

Menurut Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono, dalam eliminasi TB, aspek medis dan sosial pasien penting diperhatikan. Aspek nonmedis harus mendapat porsi advokasi besar.

Pembangunan manusia
Hal itu relevan dengan komitmen pemerintah yang fokus membangun mutu manusia Indonesia. Pasien TB yang sembuh lebih produktif dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengakui, dalam eliminasi TB selama ini beban sosial pasien belum banyak mendapat per- hatian. Tenaga kesehatan lebih fokus pada aspek medis. ”Tenaga kesehatan tak bisa sendirian mengerjakan ini,” ujarnya.

Ketua Stop TB Partnership Indonesia Arifin Panigoro menyampaikan, perlu cara baru kampanye eliminasi TB. Sebab, tantangan yang dihadapi tak mudah.

Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan Bambang Wibowo menambahkan, salah satu kelemahan upaya eliminasi TB ialah pencatatan dan pelaporan. Kasus TB di fasilitas kesehatan swasta tak terekam dengan baik. Padahal, banyak kasus TB ditangani fasilitas kesehatan swasta.

Kini pemerintah mengembangkan sistem informasi pencatatan yang melibatkan rumah sakit swasta. Dengan demikian, pasien yang menjalani terapi di rumah sakit swasta tercatat dalam sistem nasional. Selain meningkatkan notifikasi kasus, hal itu membuat terapi lebih terstandar.–ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 15 November 2018

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB