Home / Berita / Batasi Penggunaan Internet pada Anak

Batasi Penggunaan Internet pada Anak

Pemanfaatan internet amat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia karena kecakapan bidang itu merupakan salah satu modal untuk bisa berkompetensi di kancah global. Akan tetapi, dari segi etika pemakaian, jarang masyarakat Indonesia yang sudah memahami sepenuhnya, terutama cara mengatur penggunaan internet untuk anak-anak.

“Di sekolah atau di rumah, siswa didorong menggunakan internet untuk mencari informasi. Sayangnya, kebutuhan tersebut tidak didukung dengan pemahaman orangtua dan guru mengenai dampak negatif internet serta cara mengurangi risikonya,” kata pendiri Information and Communication Technology Watch, Donny B Utoyo, dalam seminar literasi digital bertajuk “Bersama Anak Berteman dengan Dunia Online”, Sabtu (4/6), di Jakarta.

Turut hadir sebagai narasumber Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan serta Menteri Komunikasi dan informatika Rudiantara.

Donny memaparkan, orangtua belum menyadari bahwa apabila anak tidak dikendalikan dalam menggunakan internet, mereka bisa mengunggah informasi sensitif ke dunia maya, seperti data pribadi dan foto. Hal-hal seperti ini bisa disalahgunakan oleh orang-orang dengan niat jahat.

“Banyak orangtua dan guru menduga ancaman bagi anak di dunia maya adalah situs pornografi. Padahal, mayoritas kasus terkait pornografi anak berasal dari akun media sosial milik mereka,” tutur Donny.

Media sosial
Ia mencontohkan kasus anak yang berkenalan dengan orang dewasa melalui salah satu media sosial. Anak tersebut kemudian dimanipulasi untuk mengunggah foto-foto diri dalam keadaan yang tidak layak dilihat publik.

Pembicara lain, Ramya Prajna Sahisnu, yang merupakan praktisi dunia digital, mengemukakan bahwa banyak orangtua melanggar aturan yang ditentukan oleh media sosial, yaitu usia minimal kepemilikan akun media sosial adalah 13 tahun.

“Buktinya, banyak anak berusia di bawah 13 tahun sudah mempunyai akun media sosial. Mereka menyangka bahwa anak sudah pandai berinternet apabila menjadi anggota media sosial. Padahal, ini justru membuat mereka semakin rentan terpapar risiko,” ujarnya.

Batas waktu
Pakar perkembangan anak dari Yayasan Sejiwa, Diena Haryana, mengemukakan pentingnya orangtua bernegosiasi dengan anak mengenai batas waktu pemakaian internet. Idealnya adalah dua jam setiap hari, termasuk dalam mengerjakan tugas yang diberi oleh guru.

“Apabila anak meminta waktu lebih, beri pemahaman bahwa semakin lama mereka berinternet, semakin sedikit waktu yang mereka habiskan dengan keluarga,” ucapnya.

Ia menekankan pentingnya kemampuan orangtua membuat dialog dengan anak mengenai hal-hal yang patut dan tidak patut dilakukan ketika berinternet. Daripada sekadar melarang, jelas Diena, beri pemahaman mengenai risiko yang akan dihadapi anak apabila tidak berhati-hati.

Hal ini termasuk sikap disiplin orangtua dalam melakukan pengawasan. Misalnya, setiap kali berinternet, anak harus didampingi orangtua sehingga orangtua tahu benar hal-hal yang diakses anak. Selain itu, orangtua hendaknya mengaktifkan pengaman dalam mesin pencari, seperti Yahoo dan Google. Sementara setiap kali hendak memberikan telepon pintar ataupun sabak elektronik ke anak, idealnya sudah dipasangi aplikasi pengawas.

Ketika anak cukup umur untuk membuka akun media sosial, orangtua bisa menunjukkan jenis-jenis profil akun yang baik dan buruk. “Ajak anak berdiskusi dan ajukan pertanyaan kepada mereka kenapa, kira-kira apa dampak sembarangan mengunggah informasi pribadi dan foto ke media sosial? Biarkan mereka berpikir dan menyadari,” ucap Diena.

Anies Baswedan mengatakan, perkembangan literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca, menulis, dan menganalisis informasi yang baik, tetapi juga kemampuan menggunakan internet untuk kebaikan pembangunan bangsa. Oleh karena itu, butuh integritas dalam pemanfaatan dunia maya.

“Sejauh ini, reputasi masyarakat Indonesia berinternet belum terlalu baik. Hal ini terlihat dari banyak situs belanja kelas internasional yang tidak mau melayani pelanggan dari Indonesia akibat banyaknya penipuan berbasis internet di negara kita,” tutur Anies.

Ia menekankan bahwa hampir semua pemahaman etika berinternet dimulai dari rumah.

Sehari sebelumnya juga berlangsung forum yang membahas penggunaan internet. Terungkap, minimnya pengetahuan mengenai tata krama penggunaan dunia maya secara benar mengakibatkan orangtua dan guru belum bisa mengawasi penggunaan internet oleh anak-anak secara maksimal. Hal ini membuka ruang kejahatan siber pada anak.(DNE)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Juni 2016, di halaman 12 dengan judul “Batasi Penggunaan Internet pada Anak”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Potensi Tsunami di Selatan Jawa Bisa Mencapai 20 Meter

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami di selatan Jawa mencapai ketinggian 20 meter. Ini agar diwaspadai ...

%d blogger menyukai ini: