Home / Berita / Bahasa / Bahasa Inggris di Era Disrupsi untuk Pacu Berpikir Kritis

Bahasa Inggris di Era Disrupsi untuk Pacu Berpikir Kritis

Pemelajaran bahasa Inggris di tengah era disrupsi semestinya tidak lagi menekankan kepada tata bahasa dan merakit kalimat. Keberadaan guru adalah untuk memberi ruang kepada siswa agar bisa mengembangkan nalar, rasa penasaran, yang akhirnya berujung kepada berpikir kritis dengan menggunakan bahasa Inggris.

”Bahan ajar sekarang dengan mudah didapat di mana-mana, mulai dari toko buku hingga internet. Bentuknya juga kian beragam. Ada yang berupa bacaan, video, siaran radio daring, dan permainan interaktif,” kata pelatih bahasa Inggris dari British Council (Lembaga Kebudayaan Inggris), Gumawang Jati, di Universitas Darussalam (Unida) Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (27/8/2019). Ia memberikan pelatihan kepada dosen Unida dan guru-guru Pondok Modern Darussalam Gontor.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Pelatih bahasa Inggris dari British Council (Lembaga Kebudayaan Inggris), Gumawang Jati (memegang mikrofon), menyampaikan materi kepada perwakilan dosen Universitas Darussalam Gontor dan Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, pada Selasa (27/8/2019).

Bahkan, untuk menulis kini ada kecerdasan buatan yang membantu pemakainya memperbaiki tata bahasa. Contoh sederhananya ialah program Microsoft Word yang bisa mengecek kesalahan ejaan, tanda baca, dan pemakaian kata ganti yang tepat. Lebih canggih lagi, di internet sudah banyak laman dan aplikasi yang bisa membantu menata ulang seluruh tulisan hingga mengusulkan pemakaian frasa yang lebih bernuansa.

Oleh karena itu, guru dan dosen bahasa Inggris harus memberi hal yang tidak bisa digantikan oleh teknologi, yaitu motivasi dan pengembangan nalar. ”Kemampuan siswa dan mahasiswa menganalisis serta membangun argumen di dalam benak dengan memakai bahasa Inggris. Bukan dipikir dalam bahasa Indonesia, lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris,” tutur Jati.

Sebelum memberikan pelatihan, tim British Council mengamati cara belajar bahasa Inggris di Pesantren Gontor dan Unida. Para santri wajib berbahasa Inggris sehari-hari. Namun, mereka belum banyak terpapar bacaan ataupun siaran dalam bahasa Inggris. Padahal, tanpa kemampuan membaca dan mendengar, akan sukar berbahasa Inggris dengan benar.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Perwakilan dosen Universitas Darussalam Gontor dan Pondok Modern Darussalam Gontor menunggu giliran mengerjakan Tes Aptis, tes mengukur kemampuan berbahasa Inggris yang dikembangkan British Council (Lembaga Kebudayaan Inggris) di Ponorogo, Jawa Timur, Senin (26/8/2019).

Mendasar
Guru dan dosen mengakui cara belajar bahasa Inggris yang digunakan masih mendasar. Abdul Muiz, guru Pesantren Gontor, mengungkapkan, dirinya masih terpaku kepada buku pelajaran. Mereka membaca teks mengenai cara memanggil taksi di kota London, Inggris. Santri diminta mencari arti kosakata dan mempraktikkannya. Setelah itu, mereka mengubah teks menjadi cara memesan transportasi lokal di Ponorogo, seperti ojek, delman, dan becak dalam bahasa Inggris.

”Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga dari buku. Misalnya, meminta santri menyebutkan nama tokoh di dalam cerita, lokasi cerita, dan kegiatan yang dilakukan,” ujarnya.

Sementara Oddy Virgantara Putra dan Dinar Dipta, dosen-dosen Unida, mencoba untuk lebih memberikan tantangan. Oddy, misalnya, pada awal kelas masih menerapkan permainan tebak kata kepada para mahasiswa. Satu orang berdiri membelakangi layar proyektor yang menampilkan gambar benda, bisa berupa buah, binatang, ataupun barang. Mahasiswa lain mendeskripsikan benda itu yang harus diterka oleh orang yang berdiri.

Dalam beberapa kesempatan, ia juga cukup ambisius meminta mahasiswa membaca abstraksi makalah ilmiah yang terbit di jurnal terindeks Scopus. Mereka diminta mencari pokok permasalahan yang dipaparkan di abstraksi. Akan tetapi, Oddy mengaku lebih banyak mahasiswa yang kebingungan karena abstraksi memakai jargon-jargon teknis di luar program studi mereka.

Dinar Dipta lebih mencoba memakai media sosial sebagai medium perkuliahan. Ia meminta mahasiswa mengunggah foto di laman Instagram dan menulis deskripsinya dalam bahasa Inggris. Bisa juga ia meminta mahasiswa mencari isu hangat di media massa dan mendebatkannya.

”Mereka semangat membangun argumentasi, tapi keterbatasan kosakata membuat kesulitan ketika hendak mengutarakan pendapat,” ujarnya.

Bertahap
Jati menjelaskan, kesulitan-kesulitan terjadi ketika guru dan dosen tidak membangun sistem pemelajaran bertahap. Selain itu, materi masih ditentukan oleh pengajar. Ia mengimbau agar di kelas ada dialog untuk melihat topik yang tengah diminati siswa dan mahasiswa.

Membaca minat tersebut, pengajar bisa menggunakannya untuk mengajak siswa membangun argumen. Tahapannya diatur mulai dari mendasar lalu evaluasi, kemudian jika sudah baik dapat dilanjutkan ke level menengah hingga mahir dengan evaluasi rutin.

”Penting bagi dosen bisa memahami, ’Kenapa saya perlu memakai teks dari Scopus atau buku tertentu untuk pelajaran kali ini? Kenapa saya perlu memakai media sosial? Tataran pemikiran seperti apa yang diharapkan dari siswa?’” ujarnya.

Ia menambahkan, ”Di saat yang sama, bahasa Inggris juga harus dibiasakan untuk membahas mata pelajaran-mata pelajaran lain. Kalau tidak, nanti memakai teks dan gawai canggih hanya sebatas formalitas, kemampuan peserta didik tetap tidak bertambah.”–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 28 Agustus 2019

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: