Home / Artikel / Bagaimana Melestarikan Owa Jawa?

Bagaimana Melestarikan Owa Jawa?

MUNGKIN lebih tepat mempertanyakan terlebih dulu: buat apa melestarikan Owa? Ada berbagai jawaban. Pertama, sebagai satwa primata tingkat tinggi, Owa merupakan model yang baik untuk penelitian biomedis dan kesehatan bagi manusia.

Kedua, Owa merupakan elemen yang tak terpisahkan dari kelestarian habitatnya, yaitu hutan hujan tropika. Ketiga, dan ini yang mungkin paling sering terabaikan: Owa berpotensi untuk menimbulkan dampak psikologis bagi manusia.

Sebagai contoh, Owa yang hidup di hutan mempunyai nilai estetika yang tinggi (yang semakin dibutuhkan manusia pada saat ini). Namun potensi ini belum disadari oleh masyarakat di luar kalangan peneliti ekologi, pengelola hutan dan masyarakat yang hidup di pinggiran hutan.

Alasan lain yang belum popular: manusia yang arif dan etis tentu akan bersedia mengemban tanggung jawab moral untuk, membantu menjaga kelestarian Owa dan habitatnya.

Pada saat ini Owa Jawa memang terancam punah. Ancaman-ancaman masih berlangsung seperti kerusakan hutan, dan perburuan gelap untuk menangkap Owa guna dijadikan peliharaan manusia di kota-kota besar.

Salah satu cara yang dianggap termudah untuk mendapatkan Owa dari alam adalah dengan menembak induk yang menyusui agar melepaskan bayi Owa yang digendongnya. Anak Owa tersebutlah yang akan dipelihara kemudian.

Bagaimanapun, sudah beberapa kali terdengar cerita bahwa pemburu menyesali perbuatannya setelah melihat reaksi induk Owa sebelum mati. Sebelum roboh oleh peluru, induk Owa sempat menyerahkan bayinya kepada si penembak, atau meletakkannya di tanah agar bayi itu selamat, sekalipun kemudian akan diambil manusia. Perilaku altruistik yang mirip pada diri manusia.

Survei lapangan terakhir oleh Martarinza, Ridwan Sinaga dan Nigel Asquith dari Yayasan Bina Sains Hayati Indonesia (YABSHI) antara tahun 1992-1994 mengungkapkan bahwa Owa Jawa hidup dalam kelompok kecil di 23 lokasi hutan hujan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Pola penyebaran Owa yang demikian mempunyai suatu risiko tersendiri. Perhitungan matematis menunjukkan bahwa bila populasi suatu jenis satwa terisolir dan terpecah dalam jumlah kecil-kecil, maka risiko punah pun akan meningkat secara eksponensial.

Pada saat ini telah diidentifikasi tiga lokasi terpenting untuk menyelamatkan Owa Jawa, yaitu Taman Nasional Gunung Halimun, Taman Nasional Ujung Kulon dan Gunung Slamet. Penentuan ini terutama berdasarkan ukuran populasi dan keutuhan habitat Owa Jawa.

Usaha pelestarian Owa pun mulai dilaksanakan dari berbagai segi. Perlindungan Owa di dalam kawasan pelestanan alam merupakan prioritas terpenting.

Dalam prakteknya usaha konkret telah dilakukan oleh Taman Nasional Gunung Halimun dengan dibantu olah Biological Science Club (BScc) melakukan pendekatan ”holistik” dalam melestarikan habitat Owa. ”Holistik” dalam arti mengelola ekosistem hutan dan memberdayakan masyarakat di sekitar hutan untuk mendukung usaha tersebut. Hal yang terakhir ini dikemukakan oleh Wahyudi Wardoyo dari pihak Taman Nasional sebagai suatu keutuhan yang mutlak diperlukan.

Usaha lain dicanangkan oleh Pusat Studi Biodiversitas Universitas Indonesia, untuk membangun Pusat Rehabilitasi Owa Jawa di suatu lokasi yang berdekatan dengan habitat alami Owa tersebut. Usaha ini merupakan tembakan jarak jauh, karena mengembalikan Owa ke alam harus melewati berbagai kendala berat.

Sebagai contoh, Owa yang akan dilepas harus bebas dari penyakit supaya tidak membawa kuman yang dapat mengancam populasi yang hidup di alam. Owa hanya dapat dilepas di habitat yang sesuai baginya. Owa hasil penangkaran atau bekas peliharaan tidak dapat dilepas ke lokasi yang sudah padat dengan populasi Owa (saturated), karena dapat terjadi agresi antar kelompok secara berlebihan, misalnya karena perebutan lokasi pakan (food patch).

Untuk melepas Owa pun perlu latihan khusus, supaya Owa tersebut secara bertahap dapat mencari pakan buah, bunga dan daun mandiri di hutan dan akhirnya membebaskan diri dari pakan yang disediakan oleh manusia. Karena Owa hidup berpasangan, pelepasan Owa perlu dilakukan setelah Owa
mengikat diri dalam pasangan (pair bond).

Berdasarkan pengalaman dari usaha serupa di Thailand, usaha seperti ini minimal akan berguna meningkatkan kualitas hidup Owa yang dilepas walaupun keberhasilannya dalam membentuk populasi baru yang sehat belum diketahui.

Sementara itu Conservation Breeding Specialist Group dari IUCN telah memulai penelitian penangkaran Owa agar dapat mensuplai populasi di alam. Di sisi yang sama, penelitian genetika molekuler pun dilakukan oleh Dr Jatna Supriatna, Dr Damayanti Buchori dan Dra Noviar Andayani MSc untuk mengetahui apakah secara taksonomi jenis Owa Jawa terbagi dalam dua subspesies (anak jenis), yaitu populasi di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Salah satu kegunaan dari penelitian tersebut adalah agar Owa Jawa dapat dilepas ke lokasi yang sesuai. Penelitian ini pun telah direkomendasikan oleh Dewan Riset Nasional sebagai salah satu Riset Unggulan Terpadu di tahun 1994.

Pelestarian Owa Jawa dalam skala besar telah mulai dilancarkan. Hanya waktu yang akan mengungkapkan berhasil tidaknya usaha ini, namun menurut pandangan dari Dr Jatna yang optimis itu, “Mudah-mudahan berhasil!”

(M Indrawan dan Dedi Supriyadi)

Sumber: Kompas, Kamis, 30 Mei 1996

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: