Aspek Ilmiah Puasa

- Editor

Sabtu, 26 Mei 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Catatan iptek
Puasa merupakan ritus yang dipraktikkan di hampir semua agama dan kepercayaan. Selain populer di kalangan umat Muslim, bahkan menjadi ritual sebulan penuh puasa Ramadhan dalam setiap tahun, laku menahan makan dan minum dalam jangka waktu tertentu ini juga dikenal dalam agama Katolik, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dan beragam kepercayaan kuno lainnya.

Misalnya, di kalangan Indian-Amerika, laku puasa dipraktikkan untuk menghindarkan dari bencana. Demikian halnya di masyarakat Evenk-Siberia.?

Dalam beragam kepercayaan ini, rata-rata puasa dimaknai sebagai prosesi untuk memperbaiki kualitas spiritual. Menariknya, berbagai studi ilmiah menunjukkan bahwa puasa ternyata memiliki manfaat sangat baik dari aspek kesehatan tubuh, otak, bahkan mental.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

?Studi yang terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, Amerika Serikat menemukan puasa bisa meningkatkan kemampuan sel punca beregenerasi. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal ilmiah Cell Stem Cell pada 3 Mei 2018. Mereka menggunakan eksperimen dengan membandingkan tikus yang tidak diberi makan selama 24 jam dan yang diberi makan. Hasilnya menunjukkan ada perbedaan signifikan di dalam sistem sel puncanya.?

MARIA MIHAYLOVA AND CHIA-WEI CHENG, MIT, 2018–Sel punca pda usus perut tikus yang puasa 24 jam (kanan) memiliki kemampuan regenerasi yang jauh lebih cepat dibandingkan tikus yang tidak puasa (kiri). Peningkatan regenerasi ini berpeluang membantu mengatasi berbagai jenis penyakit yang menyerang usus, seperti infeksi atau kanker.

Studi yang terbaru dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Cambridge, Amerika Serikat menemukan puasa bisa meningkatkan kemampuan sel punca beregenerasi.

“Puasa memiliki banyak manfaat di usus, termasuk meningkatkan kemampuan regenerasi sehingga potensial dalam membantu mengatasi berbagai jenis penyakit yang menyerang usus, seperti infeksi atau kanker,” kata Omer Yilmas, penulis utama paper ini yang juga anggota Koch Institute for Integrative Cancer Research-MIT.?

Penelitian ini juga melakukan pengurutan sel punca Ribonucleic acid (RNA) dari tikus yang “puasa” dan menemukan bahwa, sel yang puasa mengalami perubahan metabolisme. David Sabatini, profesor biologi di MIT yang juga terlibat dalam penelitian ini mengatakan,”Penelitian ini membuktikan bahwa puasa telah mengubah proses metabolisme di dalam sel punca usus, dari yang biasanya menggunakan karbohidrat ke pembakaran lemak.”?

Menariknya, tambah Sabatini, perubahan ini meningkatkan oksidasi asam lemak secara signifikan. “Dari aspek farmakologi, hal ini dapat memberikan kesempatan pengobatan untuk meningkatkan homeostasis jaringan pada patologi terkait penuaan.”?

Perubahan ini terjadi melalui aktivasi faktor transkripsi yang disebut Peroxisome proliferator-activated receptors (PPARs), yaitu sistem yang bertanggungjawab mengaktifkan banyak gen dalam metabolisme asam lemak. Ketika mereka mengganggu proses transkripsi PPARs ini, efek peningkataan regenerasi berpuasa ternyata tidak lagi bekerja. Para peneliti ini menyimpulkan, manfaat baik dari puasa bagi tubuh bisa direproduksi dengan dengan merekayasa efek PPARs.??

Temuan tersebut menunjukkan bahwa terapi obat dapat merangsang regenerasi tanpa mengharuskan pasien berpuasa, yang bagi sebagian orang tidak mudah. Satu kelompok yang bisa mendapat manfaat dari perawatan semacam itu adalah pasien kanker yang menerima kemoterapi, yang sering merusak sel-sel usus.

?Sistem ini juga bisa memberi peluang bagi orang tua yang mengalami infeksi usus atau gangguan pencernaan lainnya yang dapat merusak lapisan usus. Para peneliti berencana untuk mengeksplorasi keefektifan potensial dari perawatan semacam itu, dan mereka juga berharap untuk mempelajari apakah laku berpuasa mempengaruhi kemampuan regeneratif pada sel punca pada jenis jaringan lain.

Efeknya
?Tetapi kenapa mesti puasa? Tidakkah cukup dengan mengurangi porsi makan? Menurut Mark Mattson, profesor neuroscience dari Sekolah Kedokteran Johns Hopkins ternyata yang penting adalah efeknya.

Dia menjelaskan, setiap kita makan, glukosa akan disimpan di dalam hati sebagai glikogen, dan dibutuhkan 10 -12 jam hingga habis terserap. Setelah glikogen habis terpakai, barulah tubuh mulai membakar lemak, yang akan diubah menjadi ketone (keton), yaitu bahan kimia asam yang digunakan oleh neuron sebagai energi.

?Keton berperan penting dalam mendukung kegiatan belajar, memori, dan kesehatan otak secara keseluruhan. Tetapi jika Anda makan tiga kali sehari dengan camilan di antaranya, tubuh Anda tidak memiliki kesempatan untuk menghabiskan simpanan glikogen di hati Anda, dan keton tidak dihasilkan.

Jika Anda makan tiga kali sehari dengan camilan di antaranya, tubuh Anda tidak memiliki kesempatan untuk menghabiskan simpanan glikogen di hati Anda, dan keton tidak dihasilkan.

Mattson mengatakan olahraga juga dapat membuat tubuh Anda menurunkan kadar glikogennya, dan bukan kebetulan, olahraga telah terbukti memiliki efek positif yang sama pada kesehatan otak saat berpuasa (Johns Hopkins Health Review, 2016).

?Selain manfaat bagi kesehatan, puasa ternyata juga terbukti memilki manfaat yang baik bagi penderita gangguang mental. Misalnya, kajian dari Cuillaume Fond dan tim dari Universitas Montpellier, Perancis yang diterbitkan di jurnal Psychiatry Research (2013), menemukan bahwa puasa memberi efek memperbaiki suasa hati dan menenangkan pikiran penderita gangguan mental.

?Tak hanya bagi individu, puasa seharusnya juga memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar. Secara sosial, puasa mengajarkan kita untuk berempati dan peka terhadap orang-orang yang berkekurangan. Bahkan, dalam sejumlah keyakinan, puasa tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, namun juga hawa nafsu. Jadi, apa pun tujuannya, puasa terbukti bisa membawa manfaat baik….–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 23 Mei 2018

Informasi terkait

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?
Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 14 Juni 2026 - 11:01 WIB

Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:30 WIB

Menakar Masa Depan Otomotif, Pilih Listrik, Hybrid, atau Bensin?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB