Home / Berita / Antara Rasa Senang, Kultur, dan Birokrasi

Antara Rasa Senang, Kultur, dan Birokrasi

Apa resep untuk bisa menjadi penerima Nobel? Penelitian apa yang cocok dengan saya? Dari mana biaya penelitian? Bagaimana penelitian bisa sesuai dengan keinginan konsumen? Berbagai pertanyaan, mulai dari yang membuat kening berkerut hingga yang memicu senyum simpul, muncul pada pertemuan Senin (9/7/2012) di Jakarta.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut ditunjukkan kepada tiga peneliti papan atas dunia Roger N. Beachy, pengembang pertama organisme dengan modifikasi genetis (GMO) untuk tanaman pangan; Harold Elliot Varmus, penerima Nobel untuk ahli biokimia yang juga pemimpin redaksi jurnal Science. Mereka datang sebagai kelanjutan kerja sama Indonesia-AS di bidang penelitian bagi para ilmuwan muda yang dirintis tahun lalu.

Di hadapan sekitar 100 hadirin, Varmus sambil tertawa ringan mengatakan, ada dua jalan untuk melakukan penelitian. Pertama, sudah berusaha dari awal untuk menemukan sesuatu. “Kadang berhasil, kadang tidak.” Yang kedua, semua peneliti seperti masuk kedalam “pipa besar”, ada yang bisa sampai ke ujung dan ada yang tidak bisa. Ada unsur lingkungan yang berperan di dalamnya dan ada unsur ambisi.

Dia menguangkapkan, sebuah hasil penelitian sebenarnya tidak bisa dilihat dari suatu penelitian individu. Tentang penelitiannya yang membawanya hingga meraih Nobel, “Sudah diawali 15-20 tahun sebelumnya, misal soal perawatan pasien dan pembentukan tim pengelolaan penyakit. Juga ada penelitian dari disiplin ilmu yang berbeda, seperti psikologi dan ilmu sosial. Setiap masalah didekati dari berbagai disiplin ilmu,” ujar Varmus. Menurut dia, yang perlu adalah melontarkan pertanyaan multidisiplin pada suatu masalah.

Kesenangan dan komunikasi
Menanggapi pertanyaan bagaimana bisa terus bertekun meneliti, Varmus mengatakan, penelitian lebih mendasar dari sekadar sistem atau strategi. Penelitian perlu didasari rasa suka atau kesenangan melakukan penelitian. “Ilmu dasar (sains) memang tidak mudah. Di Amerika, anak-anak SMA dibawa ke laboratorium. Ternyata di sana mereka bisa menemukan kesenangan (fun). Mereka lalu menemukan bahwa meneliti bukan kegiatan terisolasi, melainkan sebuah kegiatan sosial,” tutur Varmus.

Beachy memberi contoh bagaimana pendidik menarik minat siswa pada penelitian. “Ketika saya di kelas sembilan, kami keluar kelas dan bisa menemukan dunia nyata yang kami bawa ke laboratorium,” tuturnya. Menurut dia, membawa kenyataan ke dalam laboratorium adalah sebuah kegembiraan hidup.

Untuk tahu penelitian apa yang harus dilakukan, Beachy menyebutkan, pertama-tama harus bisa mengajukan “pertanyaanyang merangsang rasa ingin tahu lagi”. Pertanyaan awalnya adalah “persoalan apa yang ingin dipecahkan?” Selanjutnya buatlah pertanyaan yang merangsang (stimulating question). “Pertanyaannya harus penting dan tepat. Pekerjaan awal peneliti adalah mencari pertanyaan penting dan tepat. Ini bisa memakan waktu.” ujar Beachy.

Pertanyaan juga bisa dicari dari masyarakat dan dari ilmu terapan. Banyak peneliti mengawali dengan melontarkan pertanyaan pada ilmu terapan. Pertanyaannya harus terkait dengan hasil hasil (outcome)-langsung atau tidak. Peneliti, menurut mereka, harus berkomunikasi dengan konsumennya untuk tahu apa yang mereka butuhkan.

Yang tersulit adalah “faktor gosip”. “Jangan khawatir tentang strategi penelitian atau yang lain. Berilah perhatian pada apa yang kamu suka dibicarakan orang-orang lain, dan apa yang kamu suka bicarakan dengan dirimu sendiri,” katanya. Singkatmya, menurut Varmus yang gemar bersepeda dan gemar olahraga luar ruang ini, “Apa yang selau muncul di pikiran Anda saat Anda bangun tidur? Itu yang harus Anda kerjakan”.

Lingkungan yang bagus
Seorang hadirin berbagi cerita tentang bagaimana topik skripsi telah ditetapkan oleh dosen pembimbingnya, padahal dia tidak suka dengan isu yang dibahas tersebut. Sementara hadirin lain menceritakan betapa mahasiswa tidak bisa mengajukan kepada pembimbingnya jika tidak sepakat dengan apa yang dikatakan sang dosen.

“Penelitian harus berbasis demokrasi. Itu akan menghasilkan suatu penelitian yang pantas. Birokrasi tidak sesuai dengan dunia penelitian. Kepala laboratorium adalah pemegang peraturan di laboratorium, tidak boleh dibantah. Tetapi, untuk suatu penelitian sejauh Anda bisa menunjukkan bukti dari apa yang Anda katakan, itu tidak masalah. Peneliti muda boleh mengungkapkan pikirannya mengapa dia setuju atau tidak setuju,” kata Varmus.

Alberts menambahkan, “Suatu penelitian agar bisa berhasil, perlu lingkungan yang bagus untuk bisa belajar dari yang lain tentang percobaan yang dia dilakukan. Mereka harus berbicara satu sama lain sebelum bekerja sama.”

Ketiga imuwan tersebut berada di Indonesia sebagai bagian dari program kerja sama penelitian AS-Indonesia untuk meningkatkan penelitian di kalangan peneliti muda Indonesia. Mereka mengatakan tidak bisa menetapkan penelitian apa yang cocok untuk dilakukan di Indonesia. Menurut mereka, peneliti-peneliti Indonesia sendiri harus menemukan dengan mengajukan pertanyaan: apa yang dibutuhkan masyarakat Indonesia, apa yang menjadi kepedulian mereka?

Persoalan dana yang terbatas, yang selama ini menjadi alasan seretnya dunia penelitian di Indonesia, sementara di sisi lain justru dibagikan sesuai prinsip pemerataan, menurut Varmus bisa dipikirkan jalan keluarnya.

“Untuk penelitian tentang kanker paru-paru atau dampak merokok, misalnya, bisa menggunakan uang dari pajak rokok yang tinggi itu. Lalu penelitian soal kelautan, karena 60% wilayah Indonesia adalah laut, mengapa tidak menggunakan pajak dari perusahaan jasa angkutan laut? “katanya.

Masalahnya, jalan sepragmatis apa pun dan selogis apa pun akan sulit ditempuh apabila semua masih dalam balutan belantara birokrasi. Yang pasti, ketiga ilmuwan telah menegaskan: birokrasi sama sekali tidak cocok dengan penelitian.

Semoga menjadi pembelajaran bagi kita.

Dikutip dari Harian Kompas, Jum’at 3 Agustus 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: