Home / Berita / Amsterdam-Tjililitan Pernah Jadi Rute Penerbangan Terjauh Dunia

Amsterdam-Tjililitan Pernah Jadi Rute Penerbangan Terjauh Dunia

Dengan segera beroperasinya pesawat A350-900ULR, Singapore Airlines akan membuka kembali jalur penerbangan komersial nonstop terjauh dunia, Singapura-New York, dengan lama penerbangan sekitar 19 jam, mematahkan rekor Qatar Airways antara Doha, Qatar, dan Auckland, Selandia Baru (Boeing 777-200, 18 jam penerbangan). Pesawat Airbus A350 seri teranyar yang baru saja menjalani terbang perdana, Senin (23/4/2018), sanggup terbang 20 jam dengan sekali isi bahan bakar atau menempuh jarak sekitar 9.700 nautical miles.

Di masa lalu pun, ”perlombaan” dirgantara ini sudah sering terjadi. Bahkan, wilayah Nusantara pernah masuk dalam sejarah ini. Pada masa sebelum Perang Dunia II, rute penerbangan maskapai KLM, Schiphol-Batavia, adalah rute penerbangan komersial terjauh. Hanya bedanya, waktu itu penerbangan dilakukan secara beberapa kali berhenti (multi-stop) dan penerbangan perdana Eropa-Jawa ini menggunakan pesawat Fokker F-VII.

KOMPAS/DUDY SUDIBYO–Pesawat KLM bernama Uiver (Bangau) mendarat di Cililitan, Halim. Kali ini pesawat membawa cucu pendiri KLM, Jan Plesman, dan tiga awak pesawat, 22 Januari 1984. Lima puluh tahun lalu, Uiver mendarat di lapangan terbang yang dulunya bernama Tjililitan itu dalam perjalanan ke Melbourne. Hari Minggu Cililitan dipenuhi pengunjung yang ingin melihat pesawat antik DC 2 buatan Donal Mc Douglas. Foto ini terkait berita di Kompas, 23 Januari 1984, halaman 1.

Sejarah penerbangan sipil dan militer di Indonesia diawali pada zaman Hindia-Belanda di awal 1900-an dengan pembukaan lapangan terbang (vliegveld) Tjilitan di lokasi yang dikenal sebagai Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur. Ketika itu pada November 1928 berlangsung penerbangan perdana Batavia-Semarang dan kemudian berkembang menjadi penerbangan Batavia-Bandung dan Batavia-Semarang.

Sejarawan pengumpul koleksi dokumenter zaman kolonial, Rushdy Hoesein, dalam wisata sejarah Plesiran Tempo Doeloe yang diadakan Sahabat Museum, Minggu (22/4), menjelaskan makna penting vliegveld Tjililitan. Keberadaan lapangan terbang tersebut membantu mempersingkat perjalanan dari Negeri Induk (Belanda) ke wilayah koloni di Hindia-Belanda dari perjalanan laut berminggu-minggu menjadi lima hingga tujuh hari dari Bandara Schiphol di Amsterdam ke Bandara Tjililitan di Batavia.

”Sejak terusan Suez dibuka tahun 1869, semakin banyak arus manusia dari Belanda dan Eropa ke Asia, termasuk ke Hindia Belanda. Banyak perempuan Belanda juga yang mengadu nasib mencari suami di wilayah koloni dan berharap kehidupan yang lebih baik. Orang Belanda yang terkenal efisien memilih naik kapal penumpang dari pesisir Laut Tengah seperti Pelabuhan Genoa di Italia atau Marseille di selatan Perancis. Itu lebih cepat hampir sepekan daripada naik kapal dari Rotterdam yang harus memutar lewat Laut Utara ke Gibraltar, masuk Laut Tengah dan ke Terusan Suez,” kata Rushdy Hoesein.

Menurut dia, penerbangan Eropa-Asia di tahun 1920-an itu sangat mahal dan berbahaya. Penerbangan Eropa-Asia terutama untuk angkutan pos. Jumlah penumpang yang dibawa sangat terbatas dan penerbangan dilakukan dengan sejumlah tempat perhentian dan menginap dari Eropa-Asia Kecil-Timur Tengah-India-Malaya-Batavia.

KOMPAS/DUDY SUDIBYO–Pesawat KLM bernama Uiver (Bangau) mendarat di Cililitan, Halim. Kali ini pesawat membawa cucu pendiri KLM, Jan Plesman, dan tiga awak pesawat, 22 Januari 1984.

Rute penerbangan Maskapai KLM Schiphol-Batavia adalah rute penerbangan komersial terjauh di masa sebelum Perang Dunia II. Penerbangan perdana Eropa ke Pulau Jawa dilakukan Fokker F-VII dengan registrasi H-NACC yang lepas landas pada 1 Oktober 1924. Setelah sejumlah hambatan dan beberapa kali berhenti, pesawat tiba di lapangan udara Tjililitan tanggal 24 November 1924.

Pesawat menempuh penerbangan selama 127 jam 16 menit dan 20 detik dengan beristirahat dan perbaikan atas berbagai kerusakan mesin dan lain-lain di sejumlah tempat. KLM menjadikan tanggal 1 Oktober sebagai hari peringatan penerbangan ke Batavia.

Penerbangan perintis Fokker F-VII registrasi H-NACC yang dipiloti Thomassen Thusessink van der Hoop dan pilot kedua Van Weerden-Poelman serta teknisi Van den Brooke singgah di 22 tempat. Mesin pesawat dilengkapi radiator ekstra agar dapat beroperasi di daerah tropis yang panas.

Mereka dikawal dan dilepas oleh 10 pesawat angkatan udara di perbatasan. Semua berjalan lancar pada penerbangan ke persinggahan pertama dan kedua. Tahap pertama adalah penerbangan sejauh 545 kilometer-Halle/Leipzig di Jerman. Selanjutnya dari Leipzig ke Budapest di Hongaria sejauh 670 kilometer.

Rute berikut adalah Hongaria ke Beograd di Yugoslavia sejauh 320 kilometer. Masalah timbul dalam penerbangan Beograd ke Athena di Yunani atau Istanbul di Turki. Awak darat tidak mendengar kabar tentang pesawat H-NACC saat menuju ke persinggahan ketiga antara Beograd di Serbia dan Konstantinopel (Istanbul, Turki). Mereka diperkirakan hilang di pegunungan Transylvania.

KOMPAS/DUDY SUDIBYO–Pesawat KLM bernama Uiver (Bangau) mendarat di Cililitan, Halim. Kali ini pesawat membawa cucu pendiri KLM, Jan Plesman, dan tiga awak pesawat, 22 Januari 1984. Lima puluh tahun lalu, Uiver mendarat di lapangan terbang yang dulunya bernama Tjililitan itu dalam perjalanan ke Melbourne.

Ternyata H-NACC terpaksa melakukan pendaratan darurat di wilayah Bulgaria setelah mesinnya terlalu panas akibat kebocoran radiator dan mengalami tabrakan dengan burung (bird strike). Beruntung pesawat sudah melewati kawasan pegunungan dan mendarat di rerumputan.

Insiden ini mengakibatkan roda pendarat kiri rusak. Mesin Rolls-Royce juga rusak berat, harus diganti. Masalah paling berat justru di penduduk setempat yang tidak bisa berbahasa Inggris. Meski demikian, akhirnya kabar pendaratan darurat H-NACC bisa sampai ke Amsterdam.

Beruntung sebuah media mingguan, Het Leven, mensponsori mesin penggantinya yang tiba sekitar sebulan kemudian. Fokker F-VII kembali mengudara pada 3 November ke Batavia.

Rute yang dilalui menurut catatan awak adalah Philipoppolis di Bulgaria ke Konstantinopel di Turki (3 November); Konstantinopel-Angora di sebelah timur Turki (4 November); Angora-Allepo (Syria) (5 November); Allepo-Bagdad via Anatolia, Turki (6 November); Bagdad-Bushire (7 November); Bushire-Bandar Abbas di Iran (8 November); Bandar-Abbas-Karachi wilayah British India, kini Pakistan (9 November); Karachi-Ambala (10 November).

Setelah menjalani perawatan, pesawat H-NACC melanjutkan penerbangan dari Ambala ke Allahabad di wilayah India pada 12 November; Allahabad-Calcutta (13 November); Calcutta-Akyab, kini wilayah Myanmar (14 November); Akyab-Rangoon (15 November); Rangoon-Bangkok (17 November).

Dalam penerbangan Bangkok-Sengora di Thailand selatan (18 November), mesin kembali rewel dan harus diperbaiki. Akhirnya, pada 21 November, tahapan Sengora-Medan bisa dilewati dan pesawat mendarat untuk pertama kalinya di Hindia-Belanda.

Beristirahat sejenak di Bandara Polonia, Medan, pesawat H-NACC lepas landas dari Medan untuk melanjutkan penerbangan ke Batavia pada 24 November dan tiba di bandar udara Tjililitan. Kargo berupa surat dan berbagai dokumen diserahkan ke kantor pos di Batavia.

Mendengar kabar radio bahwa Fokker F-VII registrasi H-NACC selamat tiba di Batavia, warga Kota Amsterdam berbondong-bondong datang ke kantor pusat KLM sambil membawa plakat menyambut keberhasilan penerbangan antarbenua pertama tersebut.

Hingga menjelang Perang Dunia II pecah, frekuensi penerbangan terpanjang di dunia antara Amsterdam-Batavia itu bertambah dari sekali setiap 14 hari menjadi tiga kali penerbangan dalam sepekan.

Inggris dan Perancis pun ikut membuka penerbangan antarbenua menghubungkan Eropa ke Asia. Mereka membuka penerbangan Eropa—wilayah koloni di Asia—Australia bagi Inggris dan bagi Perancis menghubungkan Perancis dengan wilayahnya di Timur Tengah dan Indo China Perancis (kini wilayah Vietnam, Laos, dan Kamboja), yang mulai diduduki sejak 1883.

Penerbangan ekspres Eropa-Asia
Penerbangan legendaris dari Eropa ke Asia selanjutnya adalah penerbangan pesawat paket pos KLM, yakni Fokker F-18 ”Pelikaan” pembawa paket surat ekspres khusus Natal, tanggal 18 Desember 1933, yang dipiloti Ivan Vasilyevich Smirnoff (1895-1956).

KOMPAS/DUDY SUDIBYO–Pesawat-pesawat buatan Fokker pernah menjadi andalan penerbangan perintis Eropa-Jawa. Indonesia pun pernah mengoperasikan berbagai pesawat buatan Fokker. Tampak sebuah Fokker F-27 TNI-AU sedang diberi nomor registrasi penerbangan sebelum pesawat itu lepas-landas dari Halim pada tahun 1980.

Ivan V Smirnoff adalah Ace penerbang tempur Kekaisaran Rusia dalam Perang Dunia I yang kemudian hijrah ke Inggris dan akhirnya ke maskapai KLM di Belanda sesudah Revolusi Bolshevik mengambil alih kekuasan dari Tsar Romanov.

Kemudian pada 1934, pemenang lomba air race (balapan udara) pesawat angkut yakni London-Melbourne dicatatkan pesawat KLM bernama Uiver atau Burung Bangau. Uiver tiba di Batavia dan disambut meriah masyarakat. Semasa tahun 1920-an dan 1930-an, berbagai lomba memecahkan rekor penerbangan berlangsung di seluruh dunia!

Melihat keberhasilan Koninklijke Luchtvaart Maatschappij NV (KLM Royal Dutch Airlines) menghubungkan Amsterdam-Batavia, dan harga tiket yang lebih murah, membuat 32 perusahaan di Hindia Belanda berkongsi membentuk sebuah maskapai penerbangan pada 16 Juli 1928.

Nama asli maskapai yang dibantu pemerintah Hindia Belanda dengan dana lima juta gulden ini adalah Nederlansch Indische Luchtvaart Maatscappij (NILM) atau Maskapai Penerbangan Hindia Belanda. Namun, karena dapat disalahartikan dengan nama sebuah perusahaan asuransi, diberikan gelar kehormatan oleh Ratu Belanda: Koninklijke (kerajaan) sehingga disebut KNILM.

Menurut Rushdy Hoessein, Koninklijke-Nederlansch Indische Luchtvaart Maatscappij (KNILM) diresmikan pada 15 Oktober 1928. Pada 1 November tahun 1928, KNILM melakukan penerbangan perdana dari Bandara Tjilitan ke Bandung dan ke Semarang-Surabaya.

Khusus rute ke Surabaya, penerbangan berakhir di Simongan, Semarang, kemudian menjadi Bandara Kalibanteng yang kini dinamakan Bandara Ahmad Yani, sebelum dilanjutkan dengan kereta api ke Surabaya.

Baru setahun kemudian, KNILM melakukan layanan penerbangan langsung ke Surabaya dengan tarif tiket 90 gulden, jauh lebih murah dari tiket yang dilayani penerbangan militer Militaire Luchtvaart Dienst (MLD) atau Dinas Penerbangan Militer Hindia Belanda.

KNILM terus berekspansi. Rute ke Palembang dibuka setahun kemudian, menyusul Singapura lewat Palembang. Diikuti rute ke Medan, Banjarmasin, Balikpapan, Tarakan, Makassar. Malah terus membesar dengan rute ke Darwin dan Sydney.

Selain itu, KNILM memiliki dan mengelola langsung sebuah lapangan terbang baru sebagai pengganti hub (pusat) di Cililitan, yaitu Kemayoran. Bandara Kemayoran resmi beroperasi pada 8 Juli 1940, beberapa saat setelah Nazi Jerman menguasai Belanda.

Markas Hercules dan VVIP
Kunjungan rombongan Sahabat Museum diteruskan ke lokasi hangar bersejarah di Skuadron Udara 31 yang mengoperasikan pesawat angkut C-130 Hercules tipe B jenis long body dan Skuadron Udara 17 operator penerbangan VVIP.

–Konvoi sejumlah pesawat Hercules C-130.

Mayor (Sus) Dodo Agusprio dan Letnan Satu (Pnb) Hilman Yaqub menemani 30-an pengunjung yang mendapat kesempatan langka berkeliling Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdakusuma di dalam hangar bersejarah yang dibangun selepas Perang Dunia I.

Menurut Dodo Agusprio yang sehari-hari menjadi Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) di kompleks Lanud Halim, Jakarta, Lanud Halim Perdanakusuma yang dioperasikan TNI sejak pengakuan kedaulatan Republik Indonesia dari Belanda tahun 1950.

”Berbagai operasi udara dilangsungkan dari Lanud Halim Perdanakusuma. Tempat ini sangat bersejarah bagi dunia penerbangan militer dan sipil di Indonesia. Armada C-130 Hercules Indonesia juga tergolong yang termodern di zamannya pada tahun 1960-an,” kata Dodo sambil menunjuk deretan pesawat Hercules C-130 tipe B dan yang terbaru tipe H yang didapat dari Angkatan Udara Australia (RAAF).

Varian paling modern C-130 Hercules adalah Type J yang menurut KSAU Marsekal Yuyu Sutisna menjadi agenda dalam rencana pengadaan pesawat angkut berat.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Pesawat Kepresidenan Boeing Business Jet II tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (10/4/2014).

Selanjutnya Mayor (Sus) Dodo mengajak pengunjung ke Museum Lanud Halim di dekat landasan udara di dalam kompleks. Pengunjung melihat berbagai foto sejarah, senjata, simulator pesawat, hingga menonton film dokumenter tim akrobat udara Jupiter TNI AU.

Sedangkan Lettu (Pnb) Hilman Yaqub menjelaskan para tokoh penerbang transport di Skuadron 31, yang diantaranya adalah mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal (TNI) Chappy Hakim. “Berbagai misi penerjunan pasukan dan misi kemanusiaan dilakukan Skuadron Udara 31. Kita ikut membantu Filipina mengatasi bencana Topan Haiyan di Tacloban, lalu tahun lalu membantu krisis kemanusiaan Rohingya dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Chittagong di Bangladesh,” kata Hilman.

Para penerbang di Skuadron 31 tersebut berasal dari Dinas Angkutan Umum Militer (DAUM). Chappy Hakim yang pernah menjadi penerbang DAUM dalam kesempatan terpisah menceritakan, sebagian instruktur DAUM di tahun 1960-an adalah mantan penerbang satuan udara legendaris The Flying Tigers yang bertempur di Mandala CBI—China, Burma, India—melawan Jepang.

Tak ketinggalan rombongan Sahabat Museum berfoto ketika diberi kesempatan mendatangi pesawat C-130 Hercules yang parkir di tarmac. Ade Purnama, pendiri Sahabat Museum, mengatakan kunjungan ke situs Bandara Halim adalah kesempatan langka karena bisa masuk ke instalasi militer sekaligus mempelajari sejarah, berinteraksi dengan penerbang, serta melihat langsung alutsista TNI yang masih dioperasikan TNI Angkatan Udara.–IWAN SANTOSA

Sumber: Kompas, 26 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: