Home / Berita / Alat Pendeteksi Potensi Diabetes Melitus

Alat Pendeteksi Potensi Diabetes Melitus

Setelah melakukan riset panjang sejak 1998, periset Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur meluncurkan alat Biosains Rapid Test GAD65 untuk mengetahui potensi diabetes melitus pada tubuh manusia.

Tahun 1998, periset Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, mulai meneliti alat untuk mengetahui potensi diabetes melitus pada tubuh manusia. Dua puluh satu tahun kemudian, pada Forum Riset Lifescience Nasional yang berlangsung 26 September 2019 di Jakarta, alat yang dinamai Biosains Rapid Test GAD65 itu diluncurkan.

Peluncuran alat kesehatan pada ajang Forum Riset Lifescience Nasional yang digagas PT Bio Farma menandai masuknya alat tersebut ke pasar kesehatan. Sebagai distributor, Bio Farma memesan 10 juta unit Biosains Rapid Test GAD65 per tahun. Biosains Rapid Test GAD65 (Glutamic Acid Decarboxylase 65) merupakan kit diagnostik pertama yang diproduksi oleh Institut Biosains Universitas Brawijaya.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO–Kit diagnostik ini merupakan produk pertama Universitas Brawijaya dan alat medis pertama yang diproduksi di dalam negeri untuk mengetahui potensi diabetes melitus tipe 1 serta Latent Autoimmune Diabetes in Adult (potensi diabetes akibat autoimun pada orang dewasa)

Kit ini merupakan alat medis pertama nasional yang berfungsi untuk mengetahui potensi terjadinya diabetes melitus (DM) tipe 1 dan Latent Autoimmune Diabetes in Adult (potensi diabetes akibat autoimun pada orang dewasa) berbasis Reverse Flow Immunochromatography.

Biosains Rapid Test GAD65 sebenarnya sudah ada sejak tahun 2015, tetapi saat itu belum bisa dipasarkan karena menunggu izin produksi dan izin edar. Kini, sebagai tahap awal, menurut Wakil Direktur Institut Biosains Universitas Brawijaya Dyah Kinasih Wuragil, Senin (4/11/2019), ada 2.000 unit kit yang dilempar ke pasar pada November ini. Setelah itu akan dipasarkan 10 juta unit per tahun.

Selama ini seseorang mengetahui dirinya menderita DM dari hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnosis dokter yang menyatakan bahwa kadar gula darah orang yang bersangkutan di atas 200 miligram per desiliter (mg/dl). Melalui Biosains Rapid Test GAD65, potensi DM seseorang bisa diketahui jauh sebelumnya, bahkan 10-14 tahun lebih awal, artinya bisa digunakan sebagai upaya penapisan (screening).

Dengan mengetahui risiko gangguan kesehatan lebih dini, orang yang bersangkutan bisa melakukan tindakan preventif untuk mengurangi risiko yang lebih besar. Hal itu terutama pada masyarakat, termasuk bayi dan anak, yang memiliki riwayat keluarga menderita DM.

Meningkat
Tren penderita DM terus meningkat dari tahun ke tahun akibat pola hidup yang tidak sehat dan masalah lain. Data dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017, Indonesia menempati peringkat keenam di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Brasil, dan Meksiko dalam hal penderita diabetes. Jumlah penderita diabetes usia 20-79 tahun di Indonesia diperkirakan 10,3 juta orang.

Sementara itu, hasil Riset Kesehatan Dasar memperlihatkan peningkatan angka prevalensi diabetes yang cukup signifikan, dari 6,9 persen pada tahun 2013 menjadi 8,5 persen pada 2018. Dengan demikian, estimasi jumlah penderita diabetes di Indonesia lebih dari 16 juta orang.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO–Alat pendeteksi diabetes melitus yang diproduksi Institut Biosains Universitas Brawijaya dengan nama Biosains Rapid Test GAD65. Foto diambil di Universitas Brawijaya Malang, Jawa Timur, Senin (4/11/2019).

Ketua Tim Peneliti Institut Biosains Universitas Brawijaya Prof Aulanni’am, Kamis (31/10/2019), menuturkan, tingkat akurasi Biosains Rapid Test GAD65 mencapai 100 persen dan spesivitasnya 96 persen. ”Alat ini menjadi semacam skrining sebelum seseorang terdiagnosis terkena diabetes,” ucapnya.

Dalam tim ada guru besar endokrinologi Prof Djoko W Soeatmaji, ada pula Prof Sutiman B Sumitro, Prof F Fatchiyah, serta beberapa peneliti lain. Saat ini mereka tengah melakukan penelitian lanjutan agar kit ini bisa mendeteksi potensi DM tipe 2.

Saat ini, di pasaran ada alat skrining DM buatan luar negeri, namun harganya mahal. Keberadaan Biosains Rapid Test GAD65 akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor. Kelebihan lain, karena sederhana cara pemakaiannya dan lebih murah dibandingkan produk impor, kit ini bisa digunakan di tingkat puskesmas sehingga masyarakat mudah mengakses.

Namun, Aulanni’am enggan mengatakan harga kit ini di pasaran. Yang jelas, Biosains Rapid Test GAD65 telah diujicobakan pada spesimen dari lima ras di dunia dan hasilnya dinilai baik.

Mudah dan murah
Pemeriksaan dengan kit Biosains Rapid Test GAD65 hanya perlu waktu kurang dari 45 menit untuk mendapatkan hasilnya. Sampel serum darah yang dibutuhkan hanya 20 mikroliter. Serum darah diteteskan pada permukaan alat rapid test, lalu ditambahkan buffer dan reagen.

Jika kemudian muncul dua garis penanda di control line dan test line berarti hasilnya positif. Orang yang bersangkutan memiliki risiko terkena diabetes. Jika hanya muncul satu garis di control line, berarti hasilnya negatif. Kalau hanya muncul satu garis pada test line atau tidak muncul garis sama sekali, maka hasilnya invalid.

”Kami menempelkan protein dekombinan manusia, yang kami produksi menggunakan sel bakteri E coli, pada alat diagnostik itu. Protein tersebut mampu mengukur autoantibodi yang ada pada manusia. Seseorang yang GAD-nya rusak sedikit, maka tubuhnya akan merespons dengan membuat antibodi. Antibodi itu bisa dikenali oleh protein pada rapid test,” papar Aulanni’am.

Pada penderita DM, biasanya beta pankreas yang mampu memproduksi insulin tinggal 10-15 persen. Biosains Rapid Test GAD65 mampu mendeteksi kerusakan beta pankreas meski kerusakannya kurang dari 1 persen.

Kerja sama
Penelitian Biosains Rapid Test GAD65 dilakukan sejak tahun 1998 dan pada 2008 mendapatkan hak paten. Tahun 2011-2012, Institut Biosains Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Bio Farma karena saat itu ada program Academic-Business-Government (ABG) yang menyatakan bahwa riset di perguruan tinggi harus harmonis dengan dunia industri.

Dyah Kinasih mengatakan, izin produksi Biosains Rapid Test GAD65 berada di tangan Universitas Brawijaya sedangkan izin edar di tangan Biofarma yang merupakan Badan Usaha Milik Negara.

KOMPAS/DEFRI WERDIONO–Staf Institut Biosains Universitas Brawijaya melakukan uji produk, Senin.

”Mereka (Bio Farma) punya Izin Penyalur Alat Kesehatan. Sementara kami berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Layanan Umum,” katanya. Sesuai perjanjian Universitas Brawijaya memproduksi dan Bio Farma menjadi penyalur produk.

Menurut Dyah Kinasih, saat ini pihaknya tengah melakukan surveilans pemanfaatan produk. Terkait kegiatan ini, Institut Biosains Universitas Brawijaya melibatkan Perkumpulan Endokrin Indonesia di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali untuk melakukan penelitian bersama.

Biosains Rapid Test GAD65 telah menyabet sejumlah penghargaan, di antaranya peringkat terbaik I kategori Inovasi Alat Kesehatan dalam Indonesia Health Care Forum Innovation Award II-2018.

Kementerian Kesehatan menganugerahkan Penghargaan Karya Anak Bangsa bagi Institusi yang Berjasa dalam Pembangunan Bidang Kesehatan kepada Universitas Brawijaya. Penghargaan itu diserahkan pada puncak peringatan Hari Kesehatan Nasional Ke-55 di Tangerang, 9 November 2019.

Oleh DEFRI WERDIONO

Sumber: Kompas, 15 November 2019

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: