Al Gore: RI Bisa Jadi “Superpower” Panas Bumi

- Editor

Senin, 10 Januari 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penerima Nobel Perdamaian 2007, Al Gore, memprediksi, Republik Indonesia bisa menjadi negara superpower dalam penggunaan energi panas bumi sebagai sumber tenaga listrik.

”Indonesia bisa menjadi negara superpower untuk energi listrik dari panas bumi (geotermal) dan hal itu bisa menjadi kelebihan untuk ekonomi Indonesia,” kata Al Gore dalam pidato pembukaan ”The Climate Project Asia Pacific Summit” di Balai Sidang Senayan, Jakarta, Minggu (9/1).

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat itu melihat Indonesia merupakan negara ketiga terbesar yang memproduksi listrik dari tenaga panas bumi, sedangkan Filipina sebagai negara terbesar kedua di dunia produsen listrik panas bumi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Para ilmuwan dan para ahli secara luas mengatakan bahwa produksi listrik dari panas bumi dapat mempresentasikan luasnya sumber tenaga listrik yang bebas karbon di dunia saat ini,” katanya.

Penerima penghargaan Oscar melalui film dokumenter An Inconvenient Truth ini mengatakan, solusi perubahan iklim melibatkan berbagai langkah yang bisa diambil untuk menghemat uang, sekaligus mengurangi emisi karbon dioksida.

Al Gore mengatakan, Indonesia merupakan negara dengan profil emisi karbon yang unik karena sebagian besar berasal dari sektor kehutanan dan hutan gambut.

”Ada peluang besar untuk mengambil pendekatan keberlanjutan dari raksasa seperti pembakaran batu bara dan minyak atau gas,” katanya.

Ia mengatakan, ada banyak langkah yang bisa diambil untuk mencegah kerusakan hutan dan mengurangi emisi, sekaligus meningkatkan pendapatan dan menciptakan perekonomian di Indonesia. ”Penggunaan lahan yang lebih efisien akan meningkatkan nilai ekonomi dan mengurangi polusi dari gas rumah kaca,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Al Gore memuji kepemimpinan dan keberanian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait dengan komitmen penanganan perubahan iklim secara nasional ataupun global.

”Saya berterima kasih khususnya kepada Presiden Yudhoyono karena impian, keberanian, dan kepemimpinannya pada isu yang kita diskusikan dan kita kerjakan,” katanya.

Sumber: Kompas, Senin, 10 Januari 2011 | 02:27 WIB

Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat dan peraih Nobel Perdamaian 2007, Al Gore, berpidatodalam acara Business for Environment Forest Dialogue di Hotel ShangriLa, Jakarta, Minggu (9/1). Al Gore bertemu dengan pemerintah, pelaku bisnis, serta pemimpin lembaga swadaya masyarakat guna mendiskusikan sinergi multipihak dalam rangka merancang solusi terbaik untuk perubahan iklim.

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB