Home / Featured / Agus Purwanto, Fisikawan Penerus Baiquni, Berteori Tentang Teleportasi

Agus Purwanto, Fisikawan Penerus Baiquni, Berteori Tentang Teleportasi

Sosoknya tak banyak yang menuliskannya. Tulisan populernya agak susah dicari di media massa. Namun ia termasuk fisikawan teoritis terkemuka. Kemahirannya dalam mengembangkan fisika teoritis telah menempatkan dirinya dalam jajaran fisikawan papan atas di Indonesia. Bahkan ia layak disejajarkan dengan almarhum Ahmad Baiquni. Ia penerus Baiquni. Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) ini bernama Prof. Agus Purwanto, D.Sc. Gelar akademiknya cukup singkat dan sederhana. Meski tak banyak menulis tulisan populer di media masa, namun ia telah menulis beberapa buku tentang fisika kuantum, fisika dalam perspektif  Islam, dan buku tentang teknik membaca tulisan arab gundul, atau tulisan arab yang tak berkharokat. Dua bukunya Ayat-Ayat Semesta dan Nalar Ayat-Ayat Semesta yang diterbitkan oleh Penerbit Mizan menjadi sedikit buku tentang fisika kuantum yang dijelaskan dengan ayat-ayat Al Qur’an serta ditulis dengan bahasa yang sangat sederhana. Awam pun dengan mudah memahaminya.

Agus Purwanto dilahirkan di Jember, Agustus 1964. Dari perkawinannya dengan Hanifah, Agus dikaruniai lima anak: Fauzan Atsari, Fathiyul Hahmi, Farisi Fahri, Fairuz Fuadi, dan Fikri Firdausi. Agus lulus pendidikan sarjana (S1) di jurusan Fisika Institut teknologi Bandung (ITB) tahun 1989, dan S2 tahun 1993. Ia kembali menempuh program S2 di jurusan Fisika Universitas Hiroshima Jepang, dan lulus 1999. Gelar doktor fisika juga ia raih di Hiroshima(2002). Selepas lulus di Institut Teknologi Bandung, tahun 1989 ia menjadi pegawai negeri sipil dan memulai karir sebagai dosen di Jurusan Fisika FMIPA ITS Surabaya–sekarang bernama Fakultas Sains dan Analitika Data.

Setelah malang melintang sebagai pengajar dan peneliti, 25 November 2020 ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Fisika Teori di tempatnya ia mengajar. Saat itu pandemi global covid-19 sedang terjadi. Sehingga acara pengukuhan dan orasi ilmiah ini dilaksanakan secara semi-daring di Auditorium ITS, bersamaan dengan enam orang calon Guru Besar dari beberapa departemen lain di ITS.

Kini mengepalai Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam (LaFTiFA) ITS, dan menjadi anggota Himpunan Fisika Indonesia dan Physical Society of Japan.

Dalam Sidang Terbuka Dewan Profesor ITS, Agus Purwanto menyampaikan orasi ilmiah berjudul Teori Kuantum: Dari al-Ghazali hingga Einstein, dari Kehendak Bebas Tuhan hingga Teleportasi Multi-Qubit. Agus mengakui bahwa judul yang diangkat pada orasi ilmiahnya sebagai bentuk kematangan mengkaji teori fisika yang dalam prosesnya memiliki relevansi dengan pemikiran kalam klasik. Pengangkatan tema ini sebagai ikhtiar Agus untuk kembali mempertemukan agama dan sains yang selama ini terkesan dikotomi. Agus menerangkan bahwa kesan dikotomis antara sains dan agama memiliki preseden yang cukup kuat dalam memori kolektif umat Islam.

Dengan mengutip Mulyadi Kertanegara, ahli filsafat Islam, al-Ghazali disebut-sebut sebagai orang yang berikhtiar menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (naqli) karena merasa terancam dengan ilmu-ilmu filsafat (‘aqli). Keresahan al-Ghazali tersebut termuat dalam kitab yang cukup terkenal di kalangan santri yaitu Ihya Ulumuddin (Menghidupkan ilmu agama). “Karena itu, ikhtiar menghidupkan kembali ilmu-ilmu rasional juga harus menggunakan pendekatan dan argumen agama. Ilmu-ilmu rasional astronomi, biologi, fisika, kimia dan terapannya bukanlah ilmu profan (sekuler) melainkan pesan dan tugas keagamaan,” tegasnya.

Dalam dua dekade terakhir, Agus berusaha fokus melakukan harmonisasi sains agama. Hasilnya, tahun 2008 Agus menerbitkan buku berjudul Ayat-ayat Semesta: Sisi-sisi Alquran yang Terlupakan; dan tahun 2015 menerbitkan buku Nalar Ayat-Ayat Semesta: Menjadikan Al-Quran sebagai Basis Konstruksi Ilmu Pengetahuan. Tak puas dengan sumbangsih pemikiran, gagasan ini ia realisasikan dengan mendirikan dua Pesantren Sains atau Trensains di Pondok Tebuireng Jombang, Pondok Muhammadiyah Sragen dan Yogyakarta.

Aktivitasnya itu membuat Agus Purwanto dikenal sebagai ilmuwan yang mendalami fisika dikaitkan dengan hukum alam semesta dan relevansinya dengan ayat-ayat sains dalam al-Quran. Dia juga mendalami bahasa Arab sehingga menciptakan metode cepat belajar dan membaca bahasa Arab metode Hikari. Nama Hikari ini diambil dari nama kereta api cepat Jepang yang dia pernah rasakan saat kuliah di Negeri Sakura itu tahun 2002. Metode ini dia susun menjadi buku Pintar Membaca Arab Gundul dengan Metode Hikari.

Hikmah di Usia 56 Tahun
Tentang pengukuhan gelar profesornya di usia sekarang ini, dia sangat syukuri karena di fase kematangan gagasannya tentang fisika kuantum. Dulu dia memimpikan bisa meraih profesor pada usia muda yaitu 45 tahun. Dia menuturkan, proses pengajuannya mengalami up and down namun akhirnya turun juga SK guru besar fisika itu. ”Saya merenung mengapa tidak di saat 45 tahun seperti impian awal. Mengapa ditolak sehingga tidak tahun 2014 di saat 50 tahun tetapi tahun 2020 di usia 56 tahun mengapa baru sekarang? apa istimewanya?” kata Gus Pur, panggilan akrabnya. Menurut dia, ternyata ada hikmahnya.  Jika di tahun 2009 paling hanya bisa mengangkat pemikiran tentang Ayat-ayat Semesta. Itu pun belum fenomenal. Jika tahun 2014 bisa angkat Trensains tapi orang juga masih asing. ”Tuhan menghiburku sebab sekarang pemikiran Ayat-ayat Semesta dan Trensains telah relatif dikenal dan sampai pada tahap serius, juga membincang sains masa lalu, membincang gagasan al-Ghazali, al-Baqillani, Ibnu Rusyd tentang kausalitas dan atomisme,” tandas Agus Purwanto.

Teori Kuantum
Tentang judul orasi ilmiahnya Teori Kuantum: Dari al-Ghazali hingga Einstein, dari Kehendak Bebas Tuhan hingga Teleportasi Multi-Qubit tidak mungkin muncul 2009 atau 2014. Ini adalah proses kematangan mengkaji teori fisika relevansinya dengan pemikiran ilmuwan Islam klasik. Dia menerangkan, kata Multi-Qubit adalah kependekan dari quantum bit yakni versi kuantum dari bit klasik atau binary 0 dan 1 versi kuantumnya |0> dan |1>.

Untuk satu qubit ada |0> dan |1>. Untuk dua qubit ada empat kombinasi |00>, |01>, |10> dan |11>, untuk tiga qubit ada 8 kombinasi,  000, 001, 010, 011, 100, 101, 110, 111, untuk empat qubit ada 16 kombinasi. ”Nah …untuk multi-qubit, 7 qubit ada 128 kombinasi sejak |0000000>, |0000001> hingga |1111111>. Inilah makna hadiah dari Tuhan hari ini saya dikukuhkan menjadi profesor ITS yang ke 128,” selorohnya. Waduh! Pusing juga ya urutan profesor bisa dikaitkan dengan fisika kuantum.

Di dalam Islam, tujuan utama dan tertinggi ilmu pengetahuan atau sains adalah mengantarkan manusia untuk memahami, menjadi lebih dekat dengan dan tunduk serta takut kepada Sang Pencipta, Allah swt. (QS Fathir 35:28). Kepatuhan kepada Allah swt selanjutnya juga berarti kepatuhan kepada Rasul-Nya yang pernah bersabda: ??? ????? ?????? ?????  “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama” (HR Ahmad). Bentuk atau ungkapan kebermanfaatan bagi masyarakat tentu bergantung pada kemampuan dan keahlian setiap orang dalam menjawab kebutuhan atau masalah masyarakat sekitarnya. Ilmuwan dengan ilmunya juga harus bermanfaat dan terlibat dalam menyelesaikan masalah masyarakat sekitar.

Dalam pidato pengukuhan yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Institut Teknologi Sepuluh Nopember itu, Ia menyebut bahwa ketertinggalan umat Islam dalam hal IPTEK tidak dapat dilepaskan dari faktor sejarah sepuluh abad silam. Menurutnya, mengutip Mulyadi Kertanegara, al-Ghazali berikhtiar menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama (naqli) yang sedang terancam oleh ilmu-ilmu rasional (‘aqli). Serangan al-Ghazali dalam buku Tahafut al-Falasifah sangat telak dan efektif hingga saat ini. Setelah serangan tersebut, dunia Islam sunni melihat filsafat dengan penuh curiga bahkan dilarang di beberapa tempat.

“Karena itu, ikhtiar menghidupkan kembali ilmu-ilmu rasional juga harus menggunakan pendekatan dan argumen agama. Ilmu-ilmu rasional astronomi, biologi, fisika, kimia dan terapannya bukanlah ilmu profan (sekuler) melainkan pesan dan tugas keagamaan,” tegas Agus.

Dua bukunya tentang ayat-ayat semesta telah ia presentasikan sebanyak 398 kali dari Banda Aceh hingga Merauke dan luar negeri. Dari 398 presentasi, 126 di PT, 65 di PTAIN dan 39 di pesantren. Ia terlibat dalam penyusunan kurikulum prodi fisika atau pengajaran IPA di beberapa STAIN/IAIN/UIN. Termasuk di depan ratusan jama’ah Front Pembela Islam yang selama ini lebih dikenal sebagai ormas yang melakukan kekerasan dan anti pengetahuan.

Gus Pur juga sedang membedah dan mensosialisasikan gagasan al-Ghazali yang mempunyai kesejajaran dengan teori kuantum. “Al-Ghazali yang dikenal sebagai pengikut sekaligus juru bicara kalam al-Asy’ariy menolak keberadaan hukum sebab-akibat, kausalitas. Menurutnya, yang selama ini diyakini sebagai sebab dan akibat tidaklah niscaya. Keduanya saling bebas, yang satu tidak meniscayakan yang lain,” jelasnya. ketiadaan kausalitas ala al-Ghazali ini menemukan relevansinya di dalam fisika kuantum. Keadaan pasti sistem kuantum tidak dapat diketahui dengan pasti kecuali kemungkinannya.

Seperti contoh terdahulu, posisi elektron atom hidrogen tidak dapat diketahui dan hanya diketahui kemungkinannya yang terepresentasi melalui kabut elektron. Menurut Gus Pur, pinsip ketaktentuan Heisenberg tidak memungkinkan keadaan saat ini suatu sistem diketahui secara pasti dan bersamaan, demikian pula keadaan di masa mendatangnya. Tidak ada kausalitas deterministik.

Pria yang juga menjadi anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah ini menyebut bahwa semua itu terkait sebagai akibat dari takdir Allah yang mendahului eksistensinya. Jika yang satu mengikuti yang lain itu disebabkan Allah telah menciptakan keduanya dalam pola keterkaitan, bukan karena hubungan itu dalam dirinya sendiri merupakan keharusan. Api hanya akan membakar kapas jika Allah menghendaki api membakar. Allah pun dapat menciptakan rasa kenyang tanpa makan, hilang dahaga tanpa minum. Sementara itu, kalam atau teologi Asy’ariyah bertumpu pada atau bertitik tolak dari penerimaan tindakan sewenang-wenang Tuhan. Menurut al-Asy’ari, dorongan hebat di balik tindakan Tuhan adalah “apa yang diinginkan-Nya” dan “karena kehendak-Nya”.

“Dengan penjelasan seperti ini diharapkan umat Islam yang mayoritas muslim sunni pengikut kalam al-Asy’ariy menjadi tertarik pada ilmu pengetahuan khususnya fisika kuantum. Gagasan yang lahir di awal abad dua puluh di Barat ini ternyata mempunyai kesamaan dengan gagasan Hujjatul Islam Imam Abu Hamid al-Ghazali. Gagasan kuantum bukanlah gagasan sekuler yang menjauhkan umat dari Allah, melainkan gagasan yang sesuai dengan teologi atau kalam al-Asy’ari,” tambahnya.

Ayat-ayat semesta dalam arti ayat-ayat khauniyah dalam Al-Qur’an merupakan ayat-ayat yang merana, karena diabaikan umat Islam dan praktis tidak pernah dibahas di dalam pengajian-pengajian atau seminar-seminar Islam. Sejak SMA Agus merasa penasaran terhadap misteri jagad raya, lalu tertarik dan ingin ngaji ayat-ayat kauniyah sejak mahasiswa jurusan fisika ITB.

“Saya masuk ITB tahun 1983. Tahun 1990 maunya beli kitab tafsir yang membahas ayat-ayat kauniyah dan atas rekomendasi dari seorang kiai saya beli tafsir Fakrur Razi tulisan Imam Muhammad ar-Razi Fakhruddin ibn Allam Dhiyauddin, yang 16 jilid tebal. Tapi ternyata tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Atas rekomendasi sekretaris DDII Pusat, Bapak Nabhan Husen, yang hadir di masjid ITS, saya mendapat tafsir yang sesuai keinginan yaitu tafsir al-Jawahir, tulisan Syeikh Jauhari Thanthawi guru besar Universitas Kairo. Kitab ini saya dapatkan di toko kitab ABC Garut, Jawa Barat. Kitab ini penuh gambar tanaman, obyek langit, nebula dan apolo bahkan juga tulisan kanji”, ceritanya.

Agus awalnya tertarik pada banyak hal seperti sastra, sejarah, filsafat dan lam semesta, tapi kemudian menajam sesuai dengan minat bidang studi. Terlebih lagi ketika diterima di Jurusan Fisika ITB maka jalan formal untuk memahami fenomena jagad raya menjadi terbuka. “Saya merasa tertantang sekaligus ingin melengkapi kajian yang jarang dilakukan orang atau ulama. Waktu SMA saya ingin melanjutkan studi di jurusan fisika sehingga teman-teman melihat saya sebagai orang aneh sebab fisika selain sulit, juga bidang kering, yang paling-paling setelah lulus jadi guru. Saya masuk fisika selain tertarik pada peristiwa-peristiwa langit dan bom juga karena nama-nama ahli fisika yang saya tahu saat itu tidak ada yang Muslim. Singkat kata, dulu ketika SMA saya ingin tercatat sebagai ahli fisika Muslim yang dirujuk dan ditulis di buku-buku pelajaran supaya Islam tidak identik dengan keterbelakangan.”kilahnya.

Dalam mengkaji ayat-ayat semesta Agus mengatakan bahwa ia menggunakan pendekatan teks.Teks dipahami secara harfiah atau apa adanya terlebih dahulu. Lalu pemahaman harfiah itu coba dipahami apa adanya. Misalkan, dalam surat An-Naml ayat 18, kata namlatu dipahami sebagai semut betina, bukan sekadar seekor semut seperti pemahaman konvensional yang umum. Atau al-Hadid 25: anzalnaa al hadiida diartikan telah menurunkan besi bukan menciptakan besi seperti dalam terjemah al-Quran oleh Kementerian Agama.

Ia mendapatkan ide menulis buku Ayat-Ayat Semestasaat menulis buku ilmu falak dan telah mencapai sekitar 70 persen. Buku itu memang khusus untuk pencinta atau ahli falak. Penulisan buku ilmu falak ini tetap akan ia lanjutkan –meski tidak terikat waktu selesainya— dengan tujuan yang sedikit berbeda dari tujuan awalnya. Ia ingin ilmu falak menjadi mata pelajaran alternatif yang memadukan konsep ilmiah, filsafat, dan metoda eksperimen di SMA Islam. Syukur-syukur bisa dilengkapi dengan teropong sehingga orang awam menjadi lebih tertarik dan mengapresiasi terhadap ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pengetahuan alam yang khusus membahas ayat-ayat semesta. Teropong juga akan mengubah pandangan orang terhadap ilmu atau teori dan alam secara umum.

Agus mengakui bahwa selama ini buku yang membahas sains dan kaitannya dengan ayat-ayat Al Qur’an sangat jarang bahkan tidak ada. Kita dapat melihat di toko-toko buku, banyak sekali buku tentang Islam tapi umumnya membahas masalah sosial, ekonomi, psikologi, dan sastra. Buku-buku tentang motivasi hidup dan mencapai kebahagiaan hidup menjadi buku-buku laris. Patut kita syukuri meski juga harus dikritik kok bukunya cuma tema itu-itu saja.

“Nah, kritik itu kan mengena kepada saya yang doktor fisika. Saya bisa apa dengan kenyataan tersebut? Saya bertekad harus menjelaskan hasil sains fisika kepada masyarakat luas, syukur-syukur sekalian bisa menghidupkan kembali (kajian) al-Qur’an yang mandeg.” harapnya.

“Berapa jumlah ayat dalam al-Qur’an yang membahas tentang ayat-ayat semesta? Kitab yang menjadi acuan saya adalah kitab tafsir al-Jawahir tulisan Syekh Jauhari Thanthawi dari Mesir. Di dalam mukadimah kitab tafsir ini disebutkan bahwa di dalam al-Qur’an ada 750 ayat kauniyah dan hanya 150 ayat hukum. Sejak saya memiliki kitab tersebut tahun 1991, saya sering menyitir data tersebut sampai akhirnya tersentak mengapa kok cuma menyitir tidak tidak menghitung sendiri, mengumpulkan dalam satu buku lalu membahasnya. Jadi 15 tahun saya cuma jadi tukang sitir, mirip keledai seperti sindiran kitab suci. Nah, tahun 2007 mulailah saya menghitung dengan dibantu dua mahasiswa saya untuk pembanding. Hasilnya 1.108 ayat, angka yang jauh lebih besar dari Syekh Thanthawi maka selanjutnya saya seleksi ulang sampai sekitar tujuh kali,” cerita Agus Purwanto.

Ia memilah ayat-ayat mana yang merupakan “ayat kauniyah” dan menuntun kepada konstruksi ilmu kealaman dan mana yang bukan. Tidak semua ayat yang memuat kata elemen alam, seperti langit dan bumi, merupakan ayat kauniyah yang membawa pada bangunan ilmu kealaman. Sebagai contoh, QS asy-Syuura 42:4. Di dalam ayat ini langit dan bumi menurut Agus tidak memberi informasi apa-apa selain menerangkan kekayaan dan kepemilikan Allah SWT. Ayat-ayat seperti ini di dalam klasifisikasi abjad diberi tanda ) yaitu QS 42:4 dan di dalam klasifikasi surat tidak ditampilkan. Lalu ia membandingkan ayat tadi dengan ayat 25 surat al-Ruum. Di dalam ayat ini terdapat spesifikasi dari langit dan bumi yang dapat dieksplorasi lebih lanjut, yakni keadaan berdirinya dengan iradah Allah SWT. Pertanyaan sederhana yang dapat diajukan adalah bagaimana proses dan mekanisme berdiri tersebut, memerlukan waktu berapa lama dan kapan, dan iradah Allah muncul dalam bentuk apa. Pemilahan ini memberikan jumlah akhir ayat kauniyah yaitu 800 ayat.

Terkait bukunya Metode Hikari, Arab Gundul Siapa Takut?, menurut Agus buku itu berisi cara praktis belajar nahwu-sharaf ala mahasiswa yang katanya sibuk. Bahasa Arab bisa dipahami oleh siapa saja yang mau, bukan hanya orang pesantren.

Orang yang tidak pernah nyantri seperti Agus masih mungkin untuk memahaminya. Ia menulis buku itu karena ingin berbagi pengalaman. Agus ingin orang-orang non-pesantren yang ingin mempelajari nahwu-sharaf secara otodidak tidak mengulangi kesulitan seperti yang ia alami. Tidak ada kaitannya secara langsung dengan fisika, tetapi pemahaman kita tentang al-Qur’an menjadi tidak utuh tanpa bahasa Arab. Terjemah saja sangat tidak memadai. Misalkan, di dalam kitab suci kadang digunakan fi’il madhi kadang fi’il mudhari’ untuk menceritakan penciptaan-penciptaan. Jelas, pemilihan jenis kata kerja dalam cerita penciptaan bukanlah hal remeh yang dapat ditukar-tukar, karena secara faktual memang menceritakan waktu peristiwa yang pasti juga bereda.

Ada yang menarik dari cara Agus mendidik anaknya. Ia mengaku mendidiknya secara konvensional. Tiga anak pertamanya diajari sendiri ngaji sampai tamat Iqra 6. Dua lainnya masih TK dan bayi. Dua anak terbesar ia simak sendiri dalam membaca al-Quran 30 Juz sampai khatam. Semuanya pernah mendengan bacaan al-Qur’an 30 Juz ketika bayi yakni sampai usia satu bulan. Dua anak pertama mendengar kaset tartil sedangkan tiga anak lainnya ia bacakan sendiri masing-masing satu bulan.

Agus Purwanto memang fisikawan hebat yang dimiliki Indonesia. Ia tidak menyombongkan diri ketika dalam buku Nalar Ayat-Ayat Semesta ia membuat list fisikawan teori seperti Ahmad Baiquni, Terry Mart, Panthur Silaban, Tjia May On, Han J Wospakrik dan sebagainya termasuk dirinya ia masukkan ke dalam list itu. Hal itu karena memang dia sudah cukup memahami seluruh sisik melik fisika teori.

Ia bisa disejajarkan dengan Ahmad Baiquni. Bedanya Agus Purwanto bisa menyampaikan fenomena fisika teori dengan lebih mudah kepada orang awam. Ia menganalogikan fenomena fisika kuantum dengan fenomena keseharian yang kasat mata. Sehingga siapapun akan mudah memahami penjelasan yang ia sampaikan. Jika anda pernah melihat serial film kartun Jepang Dora Emon, mungkin pernah ada istilah teleportasi. Orang awam mungkin tidak memahami apa itu teleportasi. Namun, Agus menjelaskanya dengan sederhana dan diselingi dengan joke-joke yang lucu. Seperti ketika berbicara saat diundang dalam kuliah umum di Universitas Negeri Malang. Puluhan mahasiswa berjejalan dan mau bertahan sampai Agus Purwanto mengakhiri presentasinya. Peristiwa ini diunggah di Youtube.

 

 

Share
%d blogger menyukai ini: