Home » Berita

Universitas Indonesia Bangun Perpustakaan Raksasa yang Ramah Lingkungan

26 August 2010 3,085 views 2 Comments
Beratap Rumput Hidup, Bisa Tampung 10 Ribu Pengunjung

Indonesia akan memiliki landmark baru. Yakni, berupa perpustakaan ramah lingkungan di kampus Universitas Indonesia (UI) Depok. Pertengahan November nanti perpustakaan seluas tiga hektare itu siap beroperasi untuk umum.
ZULHAM MUBARAK, Depok

SEBUAH crane setinggi sekitar 75 meter beroperasi di atas gundukan tanah menyerupai bukit di kompleks kampus UI Depok. Bagai tangan mekanis raksasa, alat berat itu memindahkan bahan bangunan kepada para pekerja yang bersiap di punggung bukit yang ditanami rumput hijau tersebut. Di atas bukit rerumputan itu tampak menjulang lima bangunan berbentuk seperti cerobong asap berwarna abu-abu.

Dari jauh, bangunan itu tampak seperti batuan kali yang disusun di atas bukit. Namun, ketika didekati, ternyata bukit hijau tempat para pekerja berdiri itu menyatu dengan bangunan mirip cerobong yang berdiri di atasnya. Di balik gundukan rerumputan hijau yang menjulang hingga beberapa ratus meter itu terdapat ruangan-ruangan kosong yang disiapkan sebagai ruang utama perpustakaan UI.

”Punggung bangunan itu kami timbun tanah dan ditanami rerumputan untuk mendinginkan suhu ruangan di dalamnya. Saat ini sudah 90 persen selesai,” ujar Prof Emirhadi Suganda, penanggung jawab teknik pembangunan perpustakaan UI Depok, ketika mengantarkan Jawa Pos berkeliling lokasi tersebut kemarin (25/8).

Perpustakaan UI yang dikerjakan sejak Juni 2009 itu dirancang sebagai gedung ramah lingkungan (eco friendly) terbesar di dunia. Luas bangunan keseluruhan 30 ribu meter persegi dan merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun pada 1986-1987. Bangunan itu berdiri atas sokongan dana pemerintah dan kalangan industri dengan anggaran sekitar Rp 110 miliar.

Prof Emirhadi mengatakan, gedung perpustakaan tersebut dirancang dengan konsep sustainable building bahwa kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan, yakni energi matahari (solar energy). Selain itu, di dalam gedung pengunjung dan pegawai tidak boleh membawa tas plastik untuk wadah. Area bangunan ramah lingkungan itu bebas asap rokok, hemat listrik, air, dan kertas.

Walaupun 60 persen bangunan tersebut ditimbun lapisan tanah dan rumput, ketika Jawa Pos berkeliling di dalam gedung, kondisi ruangan tidak gelap. Sebab, di antara punggung rerumputan itu terdapat jaringan-jaringan selokan yang di sampingnya terdapat kaca tebal bening selebar 50 sentimeter. Selokan itu untuk mengalirkan air hujan ke tanah resapan, sedangkan fungsi kaca sebagai sistem pencahayaan.

”Punggung rumput ini mereduksi fungsi alat pendingin udara sampai 15 persen,” ujar guru besar yang juga menjabat sekretaris Tim Penataan Lingkungan Kampus (TPLK) UI tersebut.

Desain awal perpustakaan itu diperoleh dari sayembara yang dimenangkan PT Daya Cipta Mandiri (DCM) dan mengambil tema Morpheus. Modelnya menghadirkan bangunan masa depan dengan mengambil sisi danau sebagai orientasi perancangan. Penggunaan bukit buatan sebagai potensi pemanfaatan atap untuk fungsi penghijauan. Sedangkan pencahayaan alam dilakukan dengan melalui beberapa skylight.

Interior bangunannya didesain terbuka dan menyambung antara satu ruang dan ruang yang lain melalui sistem void. Dengan begitu, penggunaan sirkulasi udara alam menjadi maksimal. Penggunaan energi matahari dilakukan melalui solar cell yang dipasang di atap bangunan.

Prof Emirhadi menjelaskan, untuk memenuhi standar ramah lingkungan, bangunan juga dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah. Karena itu, air buangan toilet dapat digunakan untuk menyiram di punggung bangunan. Tentunya, setelah diproses melalui pengolahan limbah atau sewage treatment plant (STP).

Finishing eksterior bangunan tersebut mengunakan batu alam andesit, sedangkan interiornya memakai batu palimanan Palemo. Kedua bahan bangunan itu bersifat bebas pemeliharaan (maintenance free) dan tidak perlu dicat. ”Batuannya kami ambil dari Sukabumi,” ujar Emirhadi.

Rencananya, ruang perpustakaan pusat UI terdiri atas delapan lantai. Lantai dasar berisi pusat kegiatan dan bisnis mahasiswa yang terdiri atas toko buku, toko cendera mata, ruang internet, serta ruang musik dan TV. Ada juga restoran dan kafe, pusat kebugaran, ruang pertemuan, ruang pameran, dan bank.

Lantai 2 hingga 6 akan dilengkapi fasilitas seperti ruang tamu, ruang pelayanan umum dan koleksi, ruang baca, ruang teknologi informasi, serta unit pelayanan teknis. Sedangkan di lantai 7 terdapat ruang sidang dan ruang diskusi. Gedung perpustakaan juga dilengkapi plaza dan ruang pertemuan yang menjorok ke danau.

Deputi Sekretariat Pimpinan UI Devie Rahmawati menambahkan, perpustakaan pusat UI mampu menampung sekitar 10 ribu pengunjung dalam waktu bersamaan. Selain itu, perpusataan tersebut akan memajang 3-5 juta judul buku. Saat ini perpustakaan pusat UI memiliki koleksi 1,5-2 juta buku dan sisanya akan dipenuhi dari perpustakaan yang tersebar di fakultas-fakultas. ”Mayoritas adalah buku S-1 dan buku-buku umum,” kata dia.

Selain itu, perpustakaan tersebut dilengkapi sistem teknologi informasi mutakhir sehingga memungkinkan pengunjung leluasa menikmati sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal, dan lain-lain.

Perpustakaan yang segera beroperasi itu memang menonjol jika dibandingkan dengan bangunan lain di kompleks kampus UI Depok yang berdiri areal 312 hektare tersebut. Perpaduan gaya arsitektur unik serta lokasi perpustakaan di tepi Danau Kenanga UI membuat bangunan berwarna dasar abu-abu itu terlihat mencolok.

Untuk melengkapi desain ramah lingkungan, sejumlah pohon besar berusia 30 tahunan berdiameter lebih dari 100 sentimeter sengaja tidak ditebang saat pembangunan gedung itu. Keindahan menjadi lengkap karena gedung itu mengeksplorasi secara maksimal keindahan tepi danau yang asri, sejuk, dan, teduh.

”Keunikan yang lain, nanti terdapat berbagai huruf aksara dari seluruh dunia yang akan ditulis di kaca gedung sebagai dinding,” ujar Devie berpromosi.

Secara spesifik, perpustakaan itu memang dibangun untuk mengangkat nama Indonesia di dunia internasional. Alasan yang paling utama karena UI menjadi satu-satunya universitas di dunia yang mencantumkan nama bangsa. Karena itu, diharapkan pada masa depan bangunan itu akan menjadi salah satu ciri fisik Indonesia di dunia internasional.

”Harapannya, bangunan ikon ini dapat mengembalikan kiblat pembangunan bangsa kepada pendidikan dan keilmuan. Sebab, ilmu adalah muara segala persoalan bangsa Indonesia saat ini,” tutur Devie. (*/c4/ari)

Sumber: Jawa Pos, Kamis, 26 Agustus 2010

Universitas Indonesia Bangun Perpustakaan Raksasa yang Ramah Lingkungan

Beratap Rumput Hidup, Bisa Tampung 10 Ribu Pengunjung

Indonesia akan memiliki landmark baru. Yakni, berupa perpustakaan ramah lingkungan di kampus Universitas Indonesia (UI) Depok. Pertengahan November nanti perpustakaan seluas tiga hektare itu siap beroperasi untuk umum.

ZULHAM MUBARAK, Depok

SEBUAH crane setinggi sekitar 75 meter beroperasi di atas gundukan tanah menyerupai bukit di kompleks kampus UI Depok. Bagai tangan mekanis raksasa, alat berat itu memindahkan bahan bangunan kepada para pekerja yang bersiap di punggung bukit yang ditanami rumput hijau tersebut. Di atas bukit rerumputan itu tampak menjulang lima bangunan berbentuk seperti cerobong asap berwarna abu-abu.

Dari jauh, bangunan itu tampak seperti batuan kali yang disusun di atas bukit. Namun, ketika didekati, ternyata bukit hijau tempat para pekerja berdiri itu menyatu dengan bangunan mirip cerobong yang berdiri di atasnya. Di balik gundukan rerumputan hijau yang menjulang hingga beberapa ratus meter itu terdapat ruangan-ruangan kosong yang disiapkan sebagai ruang utama perpustakaan UI.

”Punggung bangunan itu kami timbun tanah dan ditanami rerumputan untuk mendinginkan suhu ruangan di dalamnya. Saat ini sudah 90 persen selesai,” ujar Prof Emirhadi Suganda, penanggung jawab teknik pembangunan perpustakaan UI Depok, ketika mengantarkan Jawa Pos berkeliling lokasi tersebut kemarin (25/8).

Perpustakaan UI yang dikerjakan sejak Juni 2009 itu dirancang sebagai gedung ramah lingkungan (eco friendly) terbesar di dunia. Luas bangunan keseluruhan 30 ribu meter persegi dan merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun pada 1986-1987. Bangunan itu berdiri atas sokongan dana pemerintah dan kalangan industri dengan anggaran sekitar Rp 110 miliar.

Prof Emirhadi mengatakan, gedung perpustakaan tersebut dirancang dengan konsep sustainable building bahwa kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan, yakni energi matahari (solar energy). Selain itu, di dalam gedung pengunjung dan pegawai tidak boleh membawa tas plastik untuk wadah. Area bangunan ramah lingkungan itu bebas asap rokok, hemat listrik, air, dan kertas.

Walaupun 60 persen bangunan tersebut ditimbun lapisan tanah dan rumput, ketika Jawa Pos berkeliling di dalam gedung, kondisi ruangan tidak gelap. Sebab, di antara punggung rerumputan itu terdapat jaringan-jaringan selokan yang di sampingnya terdapat kaca tebal bening selebar 50 sentimeter. Selokan itu untuk mengalirkan air hujan ke tanah resapan, sedangkan fungsi kaca sebagai sistem pencahayaan.

”Punggung rumput ini mereduksi fungsi alat pendingin udara sampai 15 persen,” ujar guru besar yang juga menjabat sekretaris Tim Penataan Lingkungan Kampus (TPLK) UI tersebut.

Desain awal perpustakaan itu diperoleh dari sayembara yang dimenangkan PT Daya Cipta Mandiri (DCM) dan mengambil tema Morpheus. Modelnya menghadirkan bangunan masa depan dengan mengambil sisi danau sebagai orientasi perancangan. Penggunaan bukit buatan sebagai potensi pemanfaatan atap untuk fungsi penghijauan. Sedangkan pencahayaan alam dilakukan dengan melalui beberapa skylight.

Interior bangunannya didesain terbuka dan menyambung antara satu ruang dan ruang yang lain melalui sistem void. Dengan begitu, penggunaan sirkulasi udara alam menjadi maksimal. Penggunaan energi matahari dilakukan melalui solar cell yang dipasang di atap bangunan.

Prof Emirhadi menjelaskan, untuk memenuhi standar ramah lingkungan, bangunan juga dilengkapi dengan sistem pengolahan limbah. Karena itu, air buangan toilet dapat digunakan untuk menyiram di punggung bangunan. Tentunya, setelah diproses melalui pengolahan limbah atau sewage treatment plant (STP).

Finishing eksterior bangunan tersebut mengunakan batu alam andesit, sedangkan interiornya memakai batu palimanan Palemo. Kedua bahan bangunan itu bersifat bebas pemeliharaan (maintenance free) dan tidak perlu dicat. ”Batuannya kami ambil dari Sukabumi,” ujar Emirhadi.

Rencananya, ruang perpustakaan pusat UI terdiri atas delapan lantai. Lantai dasar berisi pusat kegiatan dan bisnis mahasiswa yang terdiri atas toko buku, toko cendera mata, ruang internet, serta ruang musik dan TV. Ada juga restoran dan kafe, pusat kebugaran, ruang pertemuan, ruang pameran, dan bank.

Lantai 2 hingga 6 akan dilengkapi fasilitas seperti ruang tamu, ruang pelayanan umum dan koleksi, ruang baca, ruang teknologi informasi, serta unit pelayanan teknis. Sedangkan di lantai 7 terdapat ruang sidang dan ruang diskusi. Gedung perpustakaan juga dilengkapi plaza dan ruang pertemuan yang menjorok ke danau.

Deputi Sekretariat Pimpinan UI Devie Rahmawati menambahkan, perpustakaan pusat UI mampu menampung sekitar 10 ribu pengunjung dalam waktu bersamaan. Selain itu, perpusataan tersebut akan memajang 3-5 juta judul buku. Saat ini perpustakaan pusat UI memiliki koleksi 1,5-2 juta buku dan sisanya akan dipenuhi dari perpustakaan yang tersebar di fakultas-fakultas. ”Mayoritas adalah buku S-1 dan buku-buku umum,” kata dia.

Selain itu, perpustakaan tersebut dilengkapi sistem teknologi informasi mutakhir sehingga memungkinkan pengunjung leluasa menikmati sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal, dan lain-lain.

Perpustakaan yang segera beroperasi itu memang menonjol jika dibandingkan dengan bangunan lain di kompleks kampus UI Depok yang berdiri areal 312 hektare tersebut. Perpaduan gaya arsitektur unik serta lokasi perpustakaan di tepi Danau Kenanga UI membuat bangunan berwarna dasar abu-abu itu terlihat mencolok.

Untuk melengkapi desain ramah lingkungan, sejumlah pohon besar berusia 30 tahunan berdiameter lebih dari 100 sentimeter sengaja tidak ditebang saat pembangunan gedung itu. Keindahan menjadi lengkap karena gedung itu mengeksplorasi secara maksimal keindahan tepi danau yang asri, sejuk, dan, teduh.

”Keunikan yang lain, nanti terdapat berbagai huruf aksara dari seluruh dunia yang akan ditulis di kaca gedung sebagai dinding,” ujar Devie berpromosi.

Secara spesifik, perpustakaan itu memang dibangun untuk mengangkat nama Indonesia di dunia internasional. Alasan yang paling utama karena UI menjadi satu-satunya universitas di dunia yang mencantumkan nama bangsa. Karena itu, diharapkan pada masa depan bangunan itu akan menjadi salah satu ciri fisik Indonesia di dunia internasional.

”Harapannya, bangunan ikon ini dapat mengembalikan kiblat pembangunan bangsa kepada pendidikan dan keilmuan. Sebab, ilmu adalah muara segala persoalan bangsa Indonesia saat ini,” tutur Devie. (*/c4/ari)

Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.