Home » Artikel, kesehatan

Kesehatan Reproduksi

16 October 2003 41 views No Comment

Salah satu naluri dari mahluk hidup adalah suatu proses reproduksi atau perkembangbiakan yang berguna untuk malestarikan jenisnya di muka bumi ini. Proses reproduksi ini bermacam-macam caranya tergantung pada tingkat biologiknya.

Pada mahluk hidup tingkat rendah, cara pembuahannya adalah secara pembelahan diri yang akan menghasilkan individu baru yang mampu untuk membiak lebih lanjut. Pada makhluk hidup tingkat tinggi proses reproduksi melalui peristiwa pembuahan yaitu pertemuan dan persatuan dari sel telur dan sel sperma yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi makhluk atau individu baru.

Sesudah 40 minggu maka lahirlah sebagai seorang bayi perempuan atau bayi laki-laki, sesuai dengan jenis alat reproduksi yang dimilikinya. Sejak lahir, bahkan sejak dalam kandungan individu baru ini telah tertentukan jenis kelaminnya. Ini berarti bahwa potensi untuk berproduksi telah tersiapkan sejak dini.

Tahap Matang
Pada anak perempuan tahap pematangan alat reproduksi ditandai dengan terjadinya haid atau menstruasi yang pertama yang disebut Menarche. Umumnya peristiwa ini terjadi pada waktu anak perempuan berumur sekitar 12 atau 13 tahun. Faktor-faktor suku bangsa, iklim, sosio-budaya, gizi, olah raga dan individual mempunyai pengaruh terhadap saat datangnya haid yang pertama ini.

Pada anak laki-laki tahap kematangan alat reproduksinya ditandai dengan timbulnya rasa tertarik dan birahi melihat lawan jenisnya dan kemampuan untuk mengeluarkan air mani, baik dengan cara yang disengaja dengan merangsang diri maupun tak disengaja yang terjadi sewaktu tidur dan bermimpi.

Jika tahap kematangan alat reproduksi ini telah tercapai maka anak laki-laki ini sudah mampu menghamili, sedangkan anak perempuan telah mungkin menjadi hamil dan melahirkan bayi. Masa subur atau masa mampu hamil bagi seorang wanita adalah sejak datangnya haid yang pertama pada usia sekitar 13 tahun yang akan berlangsung sampai saat berhenti haid yang disebut Monopause pada usia sekitar 45 tahun.

Menjaga kesehatan reproduksi tidak hanya masalah menunda kehamilan pertama sampai umur 20 tahun, dengan menunda perkawinan atau pelayanan kontrasepsi. Terdapat hal-hal yang dapat mempengaruhi proses reproduksi ini yang terjadi bukan setelah perkawinan berlangsung, tetapi yang timbul atau terjadi jauh sebelumnya yaitu saat mereka masih remaja, saat mereka asyik berpacaran.

Jaga Kesehatan
Setiap remaja yang sadar akan pentingnya kesehatan reproduksinya kelak, harus memperhatikan dan menjaga kesehatan tubuhnya, cukup gizi, tidak berlebihan tetapi juga tidak terlalu kurus, bebas dari penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi, asma, gangguan kelenjar getah bening, penyakit gula, radang, usus buntu, tuberkulosis, batu saluran kemih, dan gangguan pada gigi. Penyembuhan dengan obat-obatan atau operasi bila perlu harus diusahakan sebelum masa perkawinan.

Bagi wanita yang sudah merencanakan perkawinan sebaiknya bebas dari keputihan karena gangguan yang tampaknya tidak berbahaya ini bisa menyulitkan kelahiran sang bayi. Sebelum perkawinan juga perlu dilakukan imunisasi untuk mencegah terjadinya tetanus yang berakibat fatal pada ibu maupun anaknya waktu melahirkan nanti.

Saat berpacaran adalah saat pengenalan bagi kedua remaja mengenai sifat dan tabiat pasangannya. Remaja kalau ingin berpacaran haruslah secara sehat, untuk saling mengenal diri dan keluarganya, bukan menjurus pada hal yang ada kaitannya dengan menuruti pemuasan naluri nafsu belaka. Pacaran yang tidak sehat yang menjurus pada hubungan badan semata akan membuahkan hal yang merusak kesehatan reproduksi dan kesucian nilai perkawinan. Terjadi kehamilan remaja yang tidak termasuk reproduksi sehat karena penuh risiko untuk ibu dan anaknya.

Pikiran masa remaja yang menjurus ke arah hubungan seksual sangat merugikan karena akan menyita waktu yang seharusnya dimanfaatkan untuk belajar mempersiapkan diri memasuki kehidupan dewasa yaitu masa perkawinan yang indah tetapi penuh tanggung jawab terhadap keluarga dan keturunannya sebagai buah kasih sayang dengan pasangannya.

dr Pantjer Budi Waluyo, Spesialis Kebidanan di RSUDr M Ashari, Pemalang, Jawa Tengah

Sumber: Suara Merdeka (tanpa tanggal)

FacebookTwitterWhatsAppLineTelegramGoogle+Share

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.