Home / Berita / Waspadai Delapan Zona Bahaya Gempa

Waspadai Delapan Zona Bahaya Gempa

Segmen gempa bumi megathrust Mentawai diketahui telah mendekati siklusnya, namun upaya membangun kesiapsiagaan di kawasan ini tidak boleh mengabaikan kerentanan daerah lain. Masih banyak segmen kegempaan lain yang perlu mendapat perhatian karena menyimpan energi gempa besar yang sewaktu-waktu bisa lepas.

Ahli gempa bumi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwan Meilano, Jumat )8/2) mengatakan, berdasarkan pemantauan dari Global Positioning System (GPS) menerus, terdapat sejumlah zona tektonik di Indonesia yang menyimpan energi sehingga berpotensi memicu gempa bumi kapan saja. Beberapa di antaranya adalah subduksi di Selat Sunda dan selatan Jawa Barat, subduksi megathrust Mentawai, sesar darat Sumatera di segmen Aceh Besar – Banda Aceh, Laut Maluku, Laut Banda, serta sejumlah sesar darat di Sulawesi dan Papua.

–Delapan zona kegempaan yang mendapat perhatian khusus karena masih menyimpan energi besar dan tingginya risiko. Sumber: BMKG, 2019

“Di Sulawesi banyak sesar dan yang sudah lepas sebagian baru sesar Palu Koro. Masih ada sesar Matano dan Lawanopo,” kata Irwan. Sekalipun skala gempa yang bersumber di sesar darat biasanya lebih kecil, namun dampaknya bisa sangat merusak karena umumnya dekat dengan permukiman.

Kepala Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati juga mengatakan, terdapat delapan zona bahaya gempa bumi di Indonesia yang saat ini mendapat pemantauan khusus. Zona itu dinilai bahaya karena relatif jarang terjadi gempa bumi yang berarti energi yang tersimpan masih besar. Selain Mentawai, beberapa daerah lain yang kini diwaspadai adalah Selat Sunda, sesar Kendeng, subduksi di selatan Sumba, Laut Banda, Sulawesi, barat Danau Toba, dan sesar naik Flores terutama di segmen utara Bali.

Keberulangan gempa
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja mengatakan,”Zona subduksi Selat Sunda hingga selatan Bali juga sudah mendekati siklusnya. Jangan lupa juga zona gempa di Indonesia timur yang dalam sejarah pernah memicu tsunami besar di Ambon. Hanya saja data-data kita tidak sebaik di barat Sumatera karena penelitiannya memang masih terbatas.”

Danny mengatakan, data tentang perulangan gempa di barat Sumatera diketahui dengan baik berdasarkan data GPS dan jejak pada koral atol m genus porites mikroatol yang banyak tumbuh di sekitar Kepulauan Mentawai, Pulau Simeulue, Nias, dan pulau-pulau lain di pantai barat Sumatera. Koral ini hidup di zona pasang surut di tepi pantai.

Menurut Danny Hilman, pertumbuhan porites sangat dipengaruhi perubahan muka air laut. Pertumbuhan koral mikroatol tidak bisa melebihi tinggi air laut saat surut. Koral ini akan tumbuh ke atas sehingga mencapai permukaan air. Apabila pantai terangkat karena gempa, tubuh mikroatol yang tersembul ke atas air akan mati. Bagian koral yang masih berada dalam air akan tetap hidup.

Apabila koral terangkat seluruhnya, akan mati total. Sebaliknya, apabila muka pantai turun, koral akan tenggelam. Besarnya penenggelaman ini juga dapat diukur dari tinggi permukaan mikroatol ke tinggi air laut (surut) setelah gempa. Dari jejak mikroatol, Danny dan timnya menemukan, proses naik dan turunnya pulau-pulau di pantai barat Sumatera telah terjadi beberapa kali.

“Dari jejak di koral atol ini kami mengumpulkan perulangan gempa di segmen megathrust Mentawai adalah 200 – 300 tahun sekali. Saat ini sudah 222 tahun sejak gempa besar terakhir di segmen ini,” kata dia.

Berbeda dengan di barat Sumatera, kajian di tempat lain Indonesia masih kurang. Namun, beberapa kajian paleotsunami dari Kepala Geoteknologi LIPI Eko Yulianto menemukan juga keberulangan tsunami di selatan Jawa.

Menurut Danny, dari aspek risikonya, gempa dari zona subduksi besar di kawasan ini bisa sangat fatal karena tingginya penduduk dan aktivitas ekonomi di kawasan Selat Sunda. Kesiapsiagaan bencana yang kini dilakukan di Sumatera Barat juga wajib dilakukan di daerah-daerah lain yang berisiko ini.

“Perilaku gempa tidak bisa diprediksi, bahkan Jepang juga kecolongan saat gempa dan tsunami tahun 2011 karena yang rubuh bukan segmen yang dikhawatirkan. Kita memang harus waspada dengan megathrust Mentawai yang hanya nunggu waktu, tapi jangan sampai mengabaikan kerentanan segmen lainnya,” kata dia.–Oleh AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 11 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pergeseran Kutub Bumi Bisa Jauh Lebih Cepat di Sekitar Khatulistiwa

Dalam 30 tahun terakhir, pergeseran kutub magnet Bumi dianggap makin cepat. Nyatanya, pergeseran kutub magnet ...

%d blogger menyukai ini: