Home / Berita / Waspadai Dampak Tumpahan Minyak

Waspadai Dampak Tumpahan Minyak

Kandungan minyak mentah berupa polycyclic aromatic hydrocarbon yang masih tertempel pada tubuh mangrove, lamun, terumbu karang, dan rumah-rumah penduduk berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia. Pembersihan agar dilakukan total untuk meminimalkan efek karsinogenik dari minyak yang masuk kategori bahan beracun berbahaya itu.

Demikian dengan kejadian kebocoran minyak mentah dari pipa Pertamina Refinery Unit V di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 31 Maret 2018. Tumpahan sejumlah besar minyak itu sejak sepekan ini masih tampak memapar tumbuhan mangrove dan rumah-rumah warga yang berada di Teluk Balikpapan.

Secara kasatmata, tumpahan minyak tak lagi tampak dari udara pada Sabtu (7/4/2018) pagi. Tempelan minyak mentah pada daun dan batang mangrove serta rumah-rumah panggung yang berada di sekeliling Balikpapan masih tampak di beberapa titik, seperti Kariangau dan Margasari.

Di sekitar Sungai Somber, sejumlah warga telah beraktivitas memancing dan menjala. Meski demikian, dari penginderaan jauh, area penyebaran minyak semakin meluas (Kompas, 7/4/ 2018).

Menurut Dede Falahudin, pakar toksikologi, ekologi, dan kimia analisis Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Sabtu di Jakarta, pencemaran minyak tampak meluas bisa jadi disebabkan sifat minyak yang mengambang di permukaan ataupun minyak yang mengalami pengenceran dengan air laut. Minyak jenis ringan seperti ini sulit diambil.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Minyak mentah yang tumpah dari pipa Pertamina Refinery Unit V Balikpapan hingga sepekan masih menyisakan bekas pada tanaman mangrove di sejumlah tempat di Balikpapan dan Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Tampak kondisinya di pinggir Sungai Selamat, anak Sungai Somber, Balikpapan, Sabtu (7/4/2018). Lokasi ini sering menjadi destinasi wisata mangrove ataupun memancing serta melihat bekantan.

Umumnya, penanggulangan hanya menyasar pada minyak berat yang tak bisa menyebar karena tertahan oil boom (penahan minyak). Setelah minyak terkumpul/terlokalisasi, disedot dan dikumpulkan kapal dalam penampungan.

Apabila minyak menyebar, seperti di Teluk Balikpapan, dampaknya bisa secara langsung pada makhluk hidup. Secara sifat fisik yang menempel—termasuk pada tubuh tanaman mangrove dan biota-biota lain—membuat tumbuhan tak bisa berfotosintesis dan bernapas. Demikian pada biota lain, seperti kepiting, ikan, kerang, bahkan pesut Balikpapan.

Selain sifat fisiknya ini, kata Dede, minyak mentah juga mengandung polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH). ”PAH itu salah satu bagian dari minyak yang bersifat persisten atau susah didegradasi dan itu efeknya sangat beracun dalam konsentrasi tinggi pada biota,” kata Dede.

Informasi terkait PAH
Efek PAH pada kesehatan manusia telah menjadi perhatian dunia meski secara detail informasi terkait hal ini belum terlalu banyak. Dampak PAH ini sangat bergantung pada dosis dan durasi paparan, jenis senyawa di dalamnya, serta jenis kelamin dan usia. Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat, di dalam PAH terdapat 16 dari 100 polutan yang dikategorikan prioritas utama.

Keenam belas senyawa itu adalah naphthalene (Naph), acenaphthylene (Acethy), acenaphthene (Ace), fluorene (Fl), phenanthrene (Phe), anthracene (Ant), fluoranthene (Flu), pyrene (Pyr), benzo(a)anthracene (BaA), chrysene (Chr), benzo(b)fluoranthene (BbF), benzo(k)fluoranthene (BkF), benzo(a)pyrene (BaP), indeno(123-cd)pyrene (InP), dibenzo(ah)anthracene (DBahA), dan benzo(ghi)pyrylene (BghiP). Dalam beberapa riset, senyawa ini berpotensi menjadi penyebab kanker pernapasan.

Di lapangan, pembersihan lapangan masih terus berlanjut karena Pertamina menjanjikan penanggulangan kebocoran minyak selesai pada 9 April 2018. Sidik (35), warga Margasari yang menjadi relawan penanggulangan kebocoran minyak di daerahnya, mengatakan, setiap hari pembersihan terus dilakukan warga bersama relawan lain.

Secara manual, mereka menggayung tumpahan minyak ke dalam plastik ataupun jeriken untuk diangkut kembali oleh Pertamina. Beberapa di antara mereka tampak tak menggunakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan, sehingga langsung terpapar minyak mentah.

Di Kampung Atas Air, kawasan permukiman padat penduduk di Kelurahan Margasari, Balikpapan, tumpahan minyak berwarna hitam mengendap di dasar rawa, di bawah ratusan rumah warga. Memang sudah jauh lebih bersih daripada hari sebelumnya, tetapi baunya masih menusuk hidung.

Bersebelahan dengan kampung ini adalah Hutan Kota Margasari, kawasan konservasi mangrove seluas 11 hektar. Kondisinya pun mengenaskan. Mangrove-mangrove muda yang baru tumbuh sekitar 1 meter tingginya masih menghitam. Daun dan batangnya menghitam, tersalut minyak.

”Mangrove-mangrove muda yang baru berumur beberapa bulan sampai setahun ini mati. Semoga mangrove yang tua bisa bertahan. Di sini saya pernah menanam 500-an mangrove, dan mungkin 300-an mangrove sudah mati,” kata Junahudi, salah satu warga yang juga Satgas Kelurahan Margasari.

Lurah Margasari Ride mengatakan, ada 16 RT di wilayahnya yang terdampak minyak. Semua personel satuan tugas kelurahan dikerahkan, ditambah 3 orang per RT, untuk mengambil tumpahan minyak. Total 80 orang, dan itu belum termasuk warga yang membantu.

Mereka bekerja dari pagi sampai sore hari mengambil tumpahan minyak sejak Minggu (1/4/2018) lalu. Sabtu (7/4/2018) terlihat tumpahan minyak memang tak lagi tebal. Adapun Pertamina memberi bantuan, antara lain jeriken, ember, plastik, sarung tangan, dan tenaga kesehatan.

Dalam keterangan tertulis, Pertamina menyatakan terus melakukan pembersihan sisa ceceran minyak. Pemulihan sisa ceceran minyak di Jetty 1 dilakukan menggunakan vacuum truck dan dilengkapi dengan oil boom dan oil spill dispersant. Pembersihan sisa minyak di Kampung Atas Air dan Kapung Baru dilakukan dengan pengisapan penggunakan vacuum truck dibantu oil absorbant.

Sisa ceceran yang masih ditemukan di Penajam diatasi dengan penyeprotan oil spill dispersant. Sementara pemulihan sisa ceceran di lepas pantai Teluk Balikpapan dengan menggunakan oil skimmer dan tug boat.

Seperti diketahui, warga awalnya mencium bau seperti solar atau minyak tanah pada Sabtu (31/3/2018) dini hari. Pertamina juga mengetahui itu dan melokalisasi minyak dengan metode oil boom untuk menetralisasi. Sabtu pagi, lapisan minyak sudah dianggap sangat tipis.

Namun kemudian, siang hari, terjadi kobaran api. Dua kapal kayu terbakar dan satu kapal kargo batubara (berbendera Panama) yang tersambar api di bagian samping. Lima orang ditemukan tewas, semuanya pemancing, yang kapalnya diketahui berada di dekat dengan sumber api.

Pertamina akhirnya mengakui tumpahan minyak yang mencemari Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, disebabkan putusnya pipa distribusi minyak mentah miliknya di dasar laut. Belum diketahui apa penyebab pipa baja berdiameter 20 inci itu bisa putus/patah. Pipa itu putus setelah terseret sejauh 100 meter dari posisinya.

Sebelumnya, Pertamina mengeluarkan pernyataan bahwa tumpahan minyak ini bukan minyak mentah produksinya. Namun, disebutkan minyak tersebut adalah marine fuel oil (bahan bakar kapal/MFO) dan itu bukan produksi kilang Pertamina di Balikpapan. (ICH/PRA)

Sumber: Kompas, 8 April 2018
——————-
Noda Emas Hitam pada Kehidupan Nelayan Balikpapan

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Tanaman mangrove hasil rehabilitasi lahan di Desa Margasari, Balikpapan, Kalimantan Timur, dalam kondisi sekarat akibat tumpahan minyak dari pipa minyak mentah Pertamina Refinery Unit V Balikpapan pada Sabtu lalu. Hingga kini minyak masih menempel pada daun, batang, dan akar tumbuhan sehingga mengganggu fotosintesis dan pernapasan tumbuhan mangrove. Tampak kondisi mangrove itu, Sabtu (7/4/2018).

Rustam (41) menunjukkan beberapa kepiting hasil panenannya. Kerapas hingga capit kepiting-kepiting ini berwarna hitam agak mengilat. Di permukaan rawa, beberapa kepiting tampak telentang ”terkapar”. Semuanya mati, semuanya berminyak, dan tentu saja bau minyak.

”Mungkin ada kepiting yang masih hidup di dalam keramba. Tapi kondisinya pun berminyak. Kepiting kan ibaratnya minum air, ya berarti bau minyak. Siapa yang mau beli,” ujar Rustam, pengurus kelompok Tani Sumber Bahagia, Desa Salok Osing, Balikpapan, Kamis (5/4/2018).

Keramba-keramba milik kelompok tani ini dipastikan tidak terselamatkan. Seluruh permukaannya terbalut minyak. Mangrove yang terhampar di kawasan rawa tempat keramba diletakkan akar-akarnya tampak hitam. Daun-daun mangrove yang semestinya hijau penuh bercak hitam.

Siang itu Rustam sedang mengecat perahu kayunya karena tak tahu bagaimana menghadapi tumpahan minyak yang terhampar di rawa belakang rumahnya. ”Lihat mangrove-mangrove muda ini. Hitam, sudah. Sebentar lagi mati. Mangrove muda yang bertahan, mungkin nanti mati,” ujarnya.

Syahril, kawannya sesama anggota kelompok tani tersebut, mengangguk mengiyakan. Saking bingungnya, Syahril, nelayan tradisional pencari ikan di sungai, yang juga pencari kepiting, hanya duduk-duduk di tepi rawa memandangi perahunya yang terpaksa menganggur.

”Mau turun ke sungai, airnya masih terlapisi minyak begini. Jaring-jaring juga kena minyak. Mana mau ikan masuk jaring yang bau minyak. Mau menangkap kepiting? Jika masih dapat kepiting hidup, pun, ya, berminyak. Siapa yang mau beli?” kata Syahril.

Mereka tak menyangka tumpahan minyak akan separah ini dampaknya. Sabtu (31/3/2018) siang lalu, begitu mendengar ada kebakaran di perairan Teluk Balikpapan, Rustam dan teman-teman sekelompok berinisiatif memanen sebagian kepiting, sekitar 150 kg, dari keramba.

”Saat itu saya belum tahu ada tumpahan minyak karena kepiting saya masih bau kepiting. Belum bau minyak. Masih sempat kami jual ke pengepul dengan harga normal. Tumpahan minyak baru muncul di sini, Minggu (1/4/2018) pagi. Kami langsung lemas,” kata Rustam.

Mereka lalu bergegas lagi memanen, tetapi harga jualnya langsung anjlok 30 persen. Kepiting yang ukurannya 215 gram, yang sebelumnya Rp 130.000 per kg, misalnya, langsung anjlok menjadi Rp 100.000. Setelah itu, mereka memanen lagi, tapi belum tahu kabar harganya.

”Kami mengirim ke pengepul besar, di Jakarta, yang nanti mengirimkannya lagi ke China. Dia (pengepul di Jakarta) bilang, coba kepiting dikirim dulu, mungkin masih bisa ada harganya. Ya saya kirim, meski tidak terlalu yakin apa masih bisa diterima,” kata Rustam.

Rustam menyebut, budidaya kepiting (hasil tangkapan dari alam) sebenarnya sangat menguntungkan. Omzet per bulan berkisar Rp 200 juta, dengan pendapatan bersih Rp 20 juta-Rp 30 juta. Dampak tumpahan minyak sudah mematikan sekitar 300 kg kepitingnya, yang setara Rp 30 juta.

”Sudahlah, ngomong kepitingnya nanti saja. Masalah yang terbesar adalah bagaimana agar kawasan rawa ini terbebas dari minyak. Semakin cepat alam pulih, semakin cepat kami mengawali lagi budidaya kepiting. Semakin cepat juga nelayan dan pencari ikan bisa kerja,” kata Rustam.

Syahril yang dari pekerjaannya mencari kepiting bisa mendapat penghasilan hingga Rp 9 juta per bulan bingung hendak bekerja apa. ”Sepertinya 2-3 bulan ke depan, saya enggak bisa turun ke sungai. Semoga pihak yang melakukan ini bertanggung jawab,” ujarnya.

Pesisir Balikpapan bagian barat, seperti Kariangau, yang sebagian wilayahnya berupa mangrove, paling terdampak minyak. Adapun pesisir wilayah timur, seperti di Kelurahan Manggar, relatif aman dari minyak. Nelayan-nelayan di Manggar masih melaut ke Selat Makassar.

”Kami masih bisa dapat ikan di laut lepas (Selat Makassar). Belum ada teman yang mengabarkan ada tumpahan, tapi itu bukan jaminan. Laut kan luas. Sebenarnya ya sempat cemas ketika lapisan minyak tipis terlihat di perairan Manggar, hari Minggu lalu,” kata Kurniansyah, salah satu nelayan di Manggar.

Warga cemas
Hanya saja, menurut Ari, penjual ikan saat ini dicemaskan dengan beredarnya isu agar berhati-hati mengonsumsi ikan laut. ”Tiap hari sering saya ditanya orang-orang di pasar. Ikannya aman enggak? Saya bilang, ya kalau ikannya berminyak, ya enggak ditangkap,” ucap Ari, pemasok ikan ke pasar-pasar.

Mangrove-mangrove muda yang batangnya sudah menghitam dipastikan mati, atau pasti akan mati. Di kawasan mangrove Desa Salok Osing dan Hutan Kota Margasari, misalnya, mangrove-mangrove muda terlihat menghitam. Akar-akar mangrove besar juga menghitam, terselimuti minyak. ”Yang masih hidup, mangrove-mangrove dewasa dan tua, kita tunggu 1-2 bulan. Kalau daunnya menguning, pasti akan mati,” kata Rustam.

Sejumlah LSM lingkungan yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan sepakat menyebut ini adalah tragedi lingkungan terburuk bagi Balikpapan. ”Semua biota laut dan mangrove, yang telanjur mati, bagaimana? Pemulihannya akan memakan waktu lama,” ujar Yudi, koordinator koalisi tersebut.

Tim Penanganan Tumpahan Minyak Teluk Balikpapan telah mengestimasi ekosistem terdampak minyak berupa mangrove sekitar 34 hektar di Kelurahan Kariangan. Selain itu, sekitar 8.000 bibit dan tanaman mangrove di wilayah Kelurahan Margasari mati. Namun jumlah riilnya diyakini lebih.

”Hal lain yang juga bikin saya sedih, mangrove-mangrove muda yang baru berumur bulanan, ya pasti mati. Mangrove yang belum berumur 5 tahun bisa juga mati. Jadi, sebagian dari semua penanaman mangrove dalam lima tahun terakhir mungkin berakhir sia-sia,” ujar Agus Bei.

Sedikit ”keajaiban” barangkali dialami Mangrove Center Balikpapan, kawasan seluas 150 hektar yang sudah ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh Pemkot Balikpapan. Tempat wisata alam ini tidak tersentuh minyak. Tentang ini, Agus Bei memberi alasannya.

”Saat mulai terdeteksi tumpahan minyak, air laut sedang surut. Mungkin itu yang menyelamatkan, selain juga kami doanya pun kencang. Tapi tetap waswas,” kata Agus Bei. Sebab, tak lama setelah menyusuri sungai di luar kawasan Mangrove Center ke arah Sungai Somber, tumpahan ”emas hitam” kembali terlihat menempel di pepohonan dan akar-akar mangrove. (PRA/ICH)

Sumber: Kompas, 8 April 2018
——————–
Tumpahan Minyak, Risiko Lingkungan Perlu Diperhatikan

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menerjunkan 35 ahli dan staf untuk mengidentifikasi kerugian pada area tumpahan minyak di Teluk Balikpapan. Prosedur monitoring juga dipertanyakan karena tanggap darurat bencana dinilai lambat.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Rasio Ridho Sani mengatakan, pihaknya telah mengirim tim investigasi untuk mengambil langkah penanggulangan ekosistem dan hukum terkait kasus tumpahan minyak di Teluk Balikpapan. Tim tersebut sebanyak 35 orang yang terdiri dari penyelam, ahli lingkungan dan terumbu karang, pengambil sampel dan laboratorium, tim drone, pengawas, penyidik, serta tim valuasi atau ganti rugi.

”Kami ingin melihat apa permasalahan yang terjadi sebenarnya. Ini akan mempermudah kami melakukan langkah-langkah preventif dan hukum ke depan. Ini juga penting untuk melihat kerugian yang terjadi akibat tumpahan minyak ini,” ujar Ridho dalam diskusi Perspektif Indonesia yang diselenggarakan Populi Center dan Smart FM Network di Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (7/4/2018).

Ridho menuturkan, tim juga akan mendalami penyebab patahnya pipa milik Pertamina itu. Menurut Ridho, penyebab itu bisa ada tiga, yakni pelanggaran prosedur keselamatan, perawatan pipa yang tidak baik, atau aktivitas di atas perairan yang mengganggu pipa.

”Kami harus mengetahui penyebab patahnya pipa. Kalau diketahui ternyata ada pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, baik perizinan maupun perundang-undangan, tentu akan diberikan sanksi-sanksi dalam perbaikan sehingga tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Ridho juga mengatakan, KLHK sedang menghitung seberapa besar dampak lingkungan yang terjadi akibat tumpahan minyak. Apalagi, tumpahan minyak sudah meluas hingga area permukiman warga. Dampak yang perlu diperhatikan, zat volatile organic compund (VOC) dari minyak mentah menempel di kayu rumah-rumah warga.

”Kami meminta kepada Pertamina agar menanggulangi dengan cepat, terutama pada minyak-minyak di sekitar pemukiman, karena bisa mengganggu kesehatan warga. Harus ada audit lingkungan khusus untuk pengelolaan ke depan,” ujarnya.

Anggota Komisi VII DPR, Tjatur Sapto Edy, mengatakan, di Refinery Unit V, wilayah terjadinya tumpahan minyak, ada sekitar 40 kapal tanker per hari dan 200 ribu barrel per hari. Dengan jumlah yang sangat besar tersebut, menurut Tjatur, itu memiliki risiko yang sangat tinggi. Pertamina seharusnya memiliki sistem monitoring pipa yang kuat.

”Itu bisa-bisanya patah. Itu kan berarti tidak ada suatu monitoringpipa. Kalau ada pipa putus, seharusnya alarm bunyi. Ini menyangkut obyek vital nasional,” ujar Tjatur.

Karena itu, Tjatur meminta agar penegak hukum tidak terburu-buru dalam menentukan pasal untuk menjerat perusahaan Pertamina. Menurut dia, pencemaran yang telah dilakukan perusahaan pelat merah patut diduga melanggar Pasal 98 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

”Pasal 98 ini menunjukkan bahwa ada unsur kesengajaan, entah itu tidak diberikan instalasi, tidak diberikan alarm, atau tidak memberikan informasi yang jelas bahwa di kedalaman 25 meter ada instalasi obyek vital nasional,” ujarnya.

Ketua Umum Ikatan Profesional Lingkungan Hidup Indonesia (IPLHI) Arudji Wahyono mengatakan, seharusnya tumpahan minyak di Teluk Balikpapan dapat segera diatasi. Namun sayangnya, penanggulangan terjadi setelah tumpahan minyak sudah terjadi selama empat hari. Arudji juga menyayangkan Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) setempat yang seharusnya lebih cepat melapor kepada pejabat yang berwenang ketika melihat awal tumpahan minyak terjadi.

”Kasus ini menjadi pembelajaran bagi pemerintah juga para pelaku bisnis. Harusnya ketika ada kecelakaan, langsung dilakukan pelaporan dan penanggulangan. Sebetulnya, ini karena keterlambatan,” ujar Arudji.

Arudji juga mempertanyakan kehadiran alarm yang seharusnya berbunyi ketika terjadi penurunan tekanan atau terjadi kebocoran pipa. Padahal, menurut Arudji, alarm itu penting untuk memonitor setiap pergerakan yang terjadi.

”Yang menjadi tanda tanya, begitu bcoor kan ada penurunan tekanan, itu dimonitor tidak? Kalau tidak, ini kelalaian. Seharusnya ketika tahu ada penurunan tekanan, langsung dilakukan penyelidikan,” katanya.

Manajer Kampanye Pangan, Air, dan Ekosistem Esensial Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Wahyu Perdana mengatakan, mayoritas ekosistem yang rusak akibat tumpahan minyak sulit dipulihkan. Adapun ekosistem tersebut di antaranya sekitar 17.000 hektar tanaman mangrove, 5 kawasan padang lamun, dan 4 kawasan terumbu karang.

”Kondisi lingkungan hidup yang terdampak tidak bisa dipulihkan dalam jangka 1 hingga 2 tahun. Ekosistem itu tumbuh sudah puluhan, bahkan ratusan tahun,” ujarnya.

Selain itu, Wahyu juga menambahkan, akibat tumpahan minyak, setidaknya terdapat 162 nelayan tidak dapat melaut. ”Manusia adalah bagian dari lingkungan. Ekosistem yang terganggu juga berdampak pada ekonomi rakyat,” ujarnya.

Wahyu mendorong agar KLHK segera melakukan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) di lokasi tersebut untuk melihat seberapa besar kerugian akibat tumpahan minyak. KLHS juga dapat diterapkan di wilayah-wilayah lain yang berisiko tinggi mengancam lingkungan hidup.

”Pada semua proyek yang punya ancaman pada lingkungan hidup harus ada KLHS agar standar yang dilakukan punya penanganan perlindungan pada proses ekosistem,” ucapnya.–DD18

Sumber: Kompas, 8 April 2018
—————-
Atasi Sebaran Minyak

Kandungan minyak berupa polycyclic aromatic hydrocarbon yang masih tertempel pada tubuh mangrove, lamun, terumbu karang, dan rumah-rumah penduduk berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan pada manusia.

Ancaman itu berpangkal dari kebocoran minyak mentah dari pipa Pertamina Refinery Unit V di Balikpapan, Kalimantan Timur, pada 31 Maret 2018.

Pantauan Sabtu (7/4), tempelan minyak mentah pada daun dan batang mangrove serta rumah-rumah panggung di sekeliling Balikpapan masih tampak di beberapa tempat, seperti Kariangau dan Margasari.

Di sekitar Sungai Somber, sejumlah warga mulai beraktivitas memancing dan menjala. Padahal, dari pengindraan jauh, area penyebaran minyak semakin meluas (Kompas, 7/4/2018).

Dede Falahudin, pakar toksikologi, ekologi, dan kimia analisis di Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, menjelaskan, pencemaran minyak meluas bisa jadi disebabkan sifat minyak yang mengambang di permukaan ataupun mengalami pengenceran dengan air laut. Sangat beracun

”Kandungan polycyclic aromatic hydrocarbon (PAH) pada kandungan minyak itu bersifat persisten (susah didegradasi) dan itu efeknya sangat beracun dalam konsentrasi tinggi pada biota,” kata Dede seraya menegaskan perlunya pembersihan secara total.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar melaporkan perkembangan penanganan tumpahan minyak itu kepada Presiden Joko Widodo, Sabtu, di sela-sela kegiatan Presiden di Bogor, Jawa Barat. ”Presiden ingin memastikan bahwa seluruh instrumen yang bekerja efektif,” kata Siti.

Tim investigasi

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kementerian LHK Rasio Ridho Sani telah mengirim tim investigasi ke Teluk Balikpapan. Tim tersebut terdiri atas 35 orang, mencakup penyelam, ahli lingkungan dan terumbu karang, pengambil sampel dan laboratorium, tim drone, pengawas, penyidik, dan tim valuasi atau ganti rugi.

Dalam keterangan resmi PT Pertamina (Persero), Region Manager Communication & CSR Kalimantan Yudi Nugraha mengatakan, kondisi perairan berangsur normal. Personel yang diterjunkan pun turut dikurangi.

Pihak Pertamina belum menjawab pertanyaan Kompas soal antisipasi akibat putusnya pipa transfer minyak mentah tersebut. Sebelumnya diinformasikan, pipa yang terputus itu memasok minyak mentah untuk diolah di kilang Balikpapan. Hingga kini, belum ada kepastian tentang penyebab putusnya pipa minyak itu. ICH/PRA/NDY/APO/DD18)

Sumber: Kompas, 8 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: