Home / Berita / Vaksin Ternak Unggas Perlu Terus Dikembangkan

Vaksin Ternak Unggas Perlu Terus Dikembangkan

Berkembangnya penyakit pada ternak ungas perlu diantasipasi dengan menghadirkan vaksinasi homolog sehingga virus yang mewabah dapat teratasi dengan optimal. Lebih jauh, mutasi virus dan munculnya virus baru juga diperkirakan akan terus terjadi. Riset terkait vaksin pun perlu terus dikembangkan.

Presiden Direktur PT Medion, Jonas Jahja, mengatakan hal itu dalam jumpa pers jelang penganugerahan gelar Doctor Honoris Causa Bidang Ilmu Ternak Unggas oleh Universitas Diponegoro kepada dirinya, di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (8/12). Virus itu antara lain Newcastle Disease (ND) dan Avian Influenza atau flu burung.

ND misalnya, yang menjadi salah satu penyebab utama kerugian pada industri unggas, karena sifat penyakit yang endemis, infeksius, dan memiliki tingkat morbiditas serta mortalitas yang tinggi. “Karena itu, penyelidikan dan riset tentang vaksin homolog harus terus berjalan demi keberlangsungan industri unggas,” kata Jonas.

“Penyelidikan dan riset tentang vaksin homolog harus terus berjalan demi keberlangsungan industri unggas.”

Jonas yang 40 tahun mengembangkan industri perunggasan dan 25 tahun fokus pada vaksin, mengatakan, pertama kali mengembangkan vaksi homolog ketika pada 2009 banyak keluhan dari para peternak akan ND yang mewabah. Meski sudah dilakukan vaksinasi, kemudian ditemukan bahwa vaksin itu tak homolog.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Dipa (19) memanen telur di perternakan unggas puyuh tempat dirinya berkerja di peternakan milik Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Bandung di Pasanggrahan, Kota Bandung, Jawa Barat, pertengahan Maret lalu. Berkembangnya penyakit pada ternak ungas perlu diantasipasi dengan menghadirkan vaksinasi homolog sehingga virus yang mewabah dapat teratasi dengan optimal.

Survei PT Medion menunjukkan, virus ND yang menyerang Indonesia, berdasarkan analisis sekuens gen Fusion ialah genotipe VII (VII E dan VII H). Jonas mengatakan, genotipe VII ialah virus ganas dan telah menyerang Asia, Afrika Selatan, serta sejumlah negara di Eropa. Namun, vaksin yang beredar di pasaran yakni genotipe I dan II.

“Penggunaan vaksin yang tidak homolog ini terkadang masih ditemukan outbreak ND, terutama yang didominasi dengan penurunan produksi telur. Vaksin seharusnya dibuat dari virus yang sesuai dengan mewabah di lapangan. Harus klop. Karena itu, kami akhirnya membuat vaksin dari genotipe VII,” kata Jonas.

Antibodi unggas
Selain itu, lanjut Jonas, pihaknya juga berupaya meningkatkan kinerja sistem kekebalan tubuh pada unggas. Itu karena virus ND ganas juga menyerang beberapa organ kekebalan tubuh ayam sehingga menyebabkan imunosupresi atau melemahnya sistem kekebalan tubuh. Antibodi pada unggas pun diperkuat.

“Virus ND ganas juga menyerang beberapa organ kekebalan tubuh ayam sehingga menyebabkan imunosupresi atau melemahnya sistem kekebalan tubuh.”

“Ternyata, ada produk herbal yang dapat meningkatkan protektivitas, yakni menggunakan daun sambiloto. Jadi, selain dengan vaksin homolog yang sesuai dengan di lapangan, antiobodi ini juga diperlukan,” kata Jonas.

Kendati demikian, menurut Jonas, saat ini virus paling mengancam unggas adalah Avian Influenza, yang memiliki banyak varian serta berbeda-beda di setiap negara. Dia mencontohkan, jika sebelumnya yang dominan ialah subtype H5N1, belakangan ini yakni subtype H9N2. Vaksin virus flu burung pun perlu terus dikembangkan.

Rektor Undip Yos Johan Utama mengemukakan, apa yang dilakukan Jonas penting. Jonas pun dinilai berkontribusi bagi ketersediaan pangan, terutama hewan unggas. “Pertumbuhan penyakit banyak dan tentu akan selalu menjadi masalah. Riset-riset dalam rangka produksi vaksin ini perannya sangat penting,” kata Yos.

Sementara itu, Dekan Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip Mukh Arifin menilai, Jonas memiliki catatan panjang dan konsisten dalam bidang pengembangan industri peternakan. Diharapkan, dengan penganugerahan ini, nantinya mobilisasi informasi ilmu pengetahuan dan teknologi antardunia perguruan tinggi, bisa semakin baik.–ADITYA PUTRA PERDANA

Sumber: Kompas, 9 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: