Home / Tokoh / Triono Basuki; Pertanian Sehat Berwawasan Lingkungan

Triono Basuki; Pertanian Sehat Berwawasan Lingkungan

Penggunaan bahan kimia secara berlebihan dalam penatalaksanaan pertanian di Tanah Air mengundang keprihatinan Triono Basuki. Dampak bahan kimia itu merusak lingkungan dan mengancam keselamatan jiwa manusia. Kondisi ini memotivasi dia mengampanyekan pertanian sehat berwawasan lingkungan.

Basuki, sapaannya, adalah petani di Desa Kaibon, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Di dunia pertanian, terutama bidang tanaman pangan, ia boleh dibilang pendatang baru. Persinggungan dia dengan tanaman pangan baru berbilang tahun.

Jadilah, ia sering dicemooh rekan-rekan sesama petani. Namun, dia tak patah arang mengajak mereka menerapkan pola tanam berwawasan lingkungan demi mendapat hasil yang sehat dikonsumsi orang.

Basuki percaya makanan yang tak banyak terkontaminasi bahan kimia terjaga kandungan gizinya. Makanan sehat hanya dihasilkan dari proses pertanian yang tidak banyak menggunakan bahan kimia.

Dalam konsep Basuki, petani tidak boleh hanya mengeksploitasi sawah, tetapi juga bertanggung jawab menjaga kondisi tanah tetap subur. Dengan metode pertanian yang menggunakan pupuk kimia mencapai 750 kilogram (kg) hingga 1 ton per hektar, sawah tidak menjadi subur, justru kian tandus. Apalagi, ditambah pemakaian obat pembasmi hama dan penyakit berbahan kimia akan mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Buktinya, produktivitas gabah terus merosot. Jika sebelumnya 7 ton per hektar, kini di Madiun rata-rata 5,4 ton per hektar. Di sisi lain, kebutuhan pemakaian pupuk anorganik semakin tinggi. Jika lima tahun lalu rata-rata per hektar sawah cukup dengan 300-500 kg pupuk anorganik, kini kebutuhan mencapai 1 ton per hektar. Adapun rekomendasi Kementerian Pertanian, satu hektar sawah idealnya hanya 250 kg.

”Ini karena tanah sawah kita miskin kandungan unsur hara. Jika tidak dibarengi penggunaan bahan kimia yang berlebih, tidak mampu menghasilkan produksi tinggi. Di Madiun, misalnya, kandungan unsur hara rata-rata kurang dari 1 persen,” katanya.

Untuk mengembalikan kesuburan tanah, petani harus mengurangi pupuk kimia dan memperbanyak pupuk organik. Seruan mengurangi pupuk kimia berkali-kali disampaikan pemerintah pusat dan daerah. Namun, seruan itu menjadi ”pepesan kosong” karena tak dibarengi pendampingan di lapangan dan pemberdayaan petani.

Basuki berusaha memberdayakan petani untuk memproduksi pupuk organik sendiri. Bahan bakunya tersedia di lingkungan sekitar dan murah. Sebagai contoh, memanfaatkan limbah yang terbuang, seperti kotoran dan urine sapi, abu hasil pembakaran pabrik gula, serta katul atau kulit ari padi.

Menghemat biaya

Setelah melakukan uji coba selama tiga tahun, Basuki menemukan formulasi untuk membuat pupuk organik. Setiap 50 persen kotoran sapi dia campur dengan 40 persen abu pabrik, 5 persen bekatul, 2,5 persen urine sapi yang telah diproses menjadi fermentor, serta 2,5 persen kalsium. Dengan pupuk organik ini, sehektar sawah hanya memerlukan maksimal 300 kg pupuk.

Sebagai gambaran, setiap hektar sawah yang dikelola secara kimia memerlukan minimal 300 kg pupuk urea, 300 kg ZA, 400 kg NPK, serta insektisida kimia. Total biaya minimal yang diperlukan mencapai Rp 3,5 juta.

Dengan pupuk organik, setiap hektar sawah yang menggunakan kombinasi pupuk organik dan pupuk kimia hanya memerlukan biaya maksimal Rp 1.750.000.

Hasilnya, setiap hektar sawah yang menggunakan formulasi Basuki produktivitasnya hingga 7,5 ton gabah. Sementara sawah yang dipupuk 100 persen anorganik hanya menghasilkan maksimal 5,4 ton gabah. Perlakuan ini diterapkan pada varietas lokal Ciherang dan Pandanwangi.

Untuk gabah yang dihasilkan, Basuki mengklaim lebih sehat dibandingkan dengan gabah umumnya. Alasannya, proses penatalaksanaan tanaman dilakukan secara alami sehingga memperkecil kandungan bahan kimia dalam beras. Harga beras sehat Basuki dipatok Rp 7.000 per kg, di atas harga pasaran Rp 5.200 per kg di tingkat petani.

Manfaat sampingan dengan pupuk organik, petani memperbaiki kandungan unsur hara tanah. Pupuk organik merangsang tumbuhnya mikro-organisme dan memproduksi unsur hara seperti cacing. Berpunggungan dengan pupuk organik, pupuk kimia membunuh mikro-organisme dalam tanah. ”Di sinilah konsep wawasan lingkungannya,” tuturnya.

Sedikitnya empat kelompok tani menjadi binaan Basuki. Setiap kelompok beranggotakan 50-60 orang. Dia juga membina petani perorangan yang ingin belajar. Ia pun mendirikan forum diskusi bagi petani.

Proses sertifikasi

Basuki bercerita, formulasi pupuk organik dalam proses sertifikasi untuk mendapatkan Standar Nasional Indonesia. Bersamaan dengan itu, ia mengurus sertifikasi beras sehat yang dihasilkan.

Ia bermimpi dapat menerapkan penatalaksanaan pertanian yang 100 persen berwawasan lingkungan. Petani benar-benar zero pupuk dan pestisida kimia.

Kendati masih proses sertifikasi, Basuki sering diminta menjadi pemateri dalam berbagai acara pertanian. Berkat perjuangannya mengampanyekan pertanian sehat berwawasan lingkungan, Basuki terpilih menjadi petani berpotensi di Madiun.

”Saya memberikan materi secara gratis. Kadang saya diberi uang transpor. Petani silakan membuat pupuk sendiri. Kalau mau beli, bisa menebus Rp 60 per kg sebagai pengganti ongkos transpor. Itu pun uangnya diberikan kepada kelompok,” ujar anggota Kelompok Tani Sejahtera Desa Kaibon, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, ini.

Dari mana Basuki mendapatkan ilmu? Selain pengalaman di sawah, dia juga belajar lewat buku yang dibeli di pasar loak. Hampir setiap minggu dia berburu buku di pasar loak Madiun. Dia juga sering berdiskusi dengan petani yang lebih senior.

Ia berasal dari keluarga petani dengan kepemilikan sawah kurang dari sehektar. Orangtuanya hanya mampu membiayai dia hingga tamat sekolah teknik menengah jurusan otomotif.

Selepas sekolah, dia berharap mendapat pekerjaan di kantor. Namun, dia diterima sebagai sopir perusahaan jasa ekspedisi angkutan barang.

Menyadari sebagai sopir tak membuat dia sejahtera, Basuki menjadi pembudidaya tanaman hias. Berbagai ajang pameran dia ikuti demi mempromosikan tanaman hiasnya. Seiring dengan berlalunya kejayaan bisnis tanaman hias, meredup pula penghasilannya. Dia lantas pulang kampung.

Basuki lalu menggarap sawah milik orangtuanya. Namun, sumber mata pencaharian satu-satunya ini pun produksinya merosot. Padahal, biaya produksi pertanian semakin tinggi. Setiap menjelang musim panen, dia dihantui ancaman kegagalan dan utang bertumpuk.

Kini, semua itu menjadi masa lalu. Basuki mampu mendongkrak kesejahteraan petani, membangun pola hidup sehat, dan memperbaiki lahan pertanian.

Triono Basuki

• Usia: 42 tahun • Istri: Murtinah • Anak: Dimas Sarung Wicaksono • Pendidikan: STM PGRI I Kediri Jurusan Teknik Otomotif

[Runik Sri Astuti]

Sumber: Kompas, 13 April 2011

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Sudirman; Membebaskan Dusun dari Kegelapan

Pada Maret 2003, Sudirman (41) sudah siap membangun rumah permanen. Sebanyak 50 zak semen sudah ...

%d blogger menyukai ini: