Home / Artikel / Toko ”Pop Up”, ”Cloud Kitchen”, hingga Ruang Terbuka Penyelamat Mal

Toko ”Pop Up”, ”Cloud Kitchen”, hingga Ruang Terbuka Penyelamat Mal

Aman dan nyaman. Selalu berinovasi merangkul kemajuan dunia digital. Mewadahi kebutuhan kaum urban. Itulah mal dambaan ketika hidup harus berdampingan dengan Covid-19.

Napas hidup mal kini perlahan kembali. Hanya mereka yang sudah divaksin dan berusia di atas 12 tahun yang boleh masuk mal. Aturan ini membuat sejumlah mal menjelang akhir Agustus ini masih lengang, tetapi justru terasa menyenangkan dan terasa aman bagi pengunjungnya.

Seperti pemandangan di sebuah restoran di QBig, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Siang itu, empat perempuan asyik bercengkerama sembari bersantap di sana. Masker ditanggalkan sejenak, mereka rileks menikmati suasana pusat belanja minim tembok pembatas itu.

Di tempat lain, The Breeze, sejumlah pengunjung melatih kaki berjalan berkeliling kawasan. Area teduh karena pohon tinggi di mana-mana. Trotoar lebar menghubungkan perkantoran dan pusat belanja, selain lintasan di tepi sungai. Usai menyesap udara segar, pengunjung bisa nongkrong dan bersantap di banyak gerai makanan di sana.

Dua pusat belanja di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, itu memiliki nilai tambah karena memiliki area luar ruang berlimpah. Berada di tempat terbuka diikuti disiplin bermasker dan menjaga jarak menurunkan risiko dihinggapi virus korona jenis baru SARS-CoV-2, penyebab Covid-19.

Memiliki area luar ruang sejak 1,5 tahun terakhir selalu disebut sebagai salah satu jalan keluar mal untuk bertahan di masa pandemi dan setelahnya nanti. Namun, apakah cukup hanya dengan menyediakan area luar ruang?

Kenyataannya, pusat-pusat belanja sudah telanjur melompong kehilangan penyewa gerai. Hanya gerai dari jaringan waralaba nasional ataupun internasional yang mampu bertahan. Itu pun dalam kondisi berjuang.

Pemilik usaha tidak bisa begitu saja kembali membuka toko di mal karena harga sewa gerai tak terjangkau di tengah tekanan ekonomi akibat terdampak pandemi. Daya beli masyarakat umum pangsa pasar mal meskipun mulai menguat masih jauh dari pulih.

Kondisi tersebut menjadi gejala umum di kota-kota besar di banyak negara. Salah satunya seperti diungkap dalam publikasi INRIX Research pada Juli 2021 terkait nasib mal di lima area metropolitan di Amerika Serikat.

INRIX memaparkan, dari data pergerakan orang di 200 lokasi terkait pusat belanja menunjukkan kunjungan ke mal sudah kembali ke masa sebelum pandemi. Di Chicago dengan 9,5 juta penduduk, tingkat kunjungan ke 799 mal bahkan naik 37 persen, terutama di pusat belanja yang memiliki toko peralatan perbaikan rumah.

Orang berduyun-duyun kembali ke mal karena merasa aman telah menerima vaksin dan ketat memakai masker. Selain itu, ada korelasi erat dengan adanya stimulus fiskal dan pembayaran bantuan sosial tunai pada masyarakat yang terdampak pandemi.

Akan tetapi, efek stimulus pemerintah dan kebutuhan harian masih kurang dipercaya bisa membuat mal terus bertahan.

Hasil riset Deloitte di Kanada, AS, Australia, China, Jepang, India, dan Korea Selatan menunjukkan pengelola mal perlu strategi lain demi mempertahankan konsumennya. Laporan perusahaan asal Kanada itu menyatakan, 78 persen konsumen meyakini belanja daring akan makin populer pascakorona dan 58 persen konsumen makin enggan mendatangi mal dengan sedikit atau tanpa ruang terbuka.

Dari responden yang masih bersemangat ke mal, Deloitte melihat itu lebih banyak karena ”godaan” tempat makan di pusat belanja. Bahkan, Deloitte melihat seiring banyaknya gerai nonpangan tutup di mal akibat konsumen beralih ke pasar daring, besar kemungkinan yang menjadi penyewa pengganti adalah pengusaha makanan.

Tren ini bukan baru-baru ini saja terjadi. Mal yang didominasi gerai-gerai tempat makan belakangan tumbuh pesat. Banyak orang ingin makan di mal karena bermaksud berekreasi mudah sembari menikmati sajian yang memanjakan mata, suasana restoran yang menyenangkan, hingga atraksi dari cara pengolahan dan penyajian hidangan.

”Sebanyak 35 persen responden secara umum dan khususnya 40 persen responden usia 18-34 tahun menyatakan, aneka makanan dan restoran untuk makan di tempat atau dibawa pulang adalah hal utama yang membuat mereka mengunjungi mal kembali,” demikian kalimat yang digarisbawahi dalam laporan Deloitte.

Tangkapan layar dari laporan riset Deloitte ”The Future of the Mall” halaman 9

Selain tentang makanan, konsumen di masa kini yang akrab dengan teknologi digital juga makin mendesak agar apa yang ada di mal terkoneksi dengan gawai mereka. Deloitte pun menekankan mal sekarang dan nanti bukanlah yang dulu diakrabi generasi masa sebelumnya.

Meskipun demikian, mal atau apa pun namanya nanti, di masa depan tetap diharapkan menjadi destinasi yang menjawab kebutuhan kaum urban untuk sosialisasi, terhubung satu sama lain, tempat orang menikmati hidup, bekerja, bermain, dan tentu saja bersantap.

Generasi muda juga membayangkan mal yang lebih banyak menampilkan produk lokal berkualitas dan akses lebih mudah bagi siapa saja, termasuk tempat parkir yang tidak menyusahkan.

Kejutan dari gerai
Dari riset-riset di atas, meremajakan mal agar memiliki lebih banyak ruang terbuka menjadi opsi utama menuju mal kekinian. Itungan kasarnya, semakin banyak area terbuka berarti meminimalkan konsumsi listrik untuk pendingin ruangan, pengatur sirkulasi udara, dan penerangan. Ongkos operasional terpangkas dan ada kesegaran baru untuk menggaet calon konsumen atau penyewa gerai.

Tren mal dilengkapi taman publik dan nuansa yang lebih santai pun sebenarnya telah muncul sejak sebelum korona tiba. Di Jakarta Timur ada Jakarta Garden City. Mal dengan dek-dek terbuka dan bianglala tertinggi di Indonesia itu menjadi oase baru bagi pecinta taman hiburan luar ruang di tengah kota. Di Jakarta Barat ada Central Park, lalu Baywalk Mall di Jakarta Utara yang tak terlalu jauh dari Pasar Ikan Modern Muara Baru.

Di Jakarta Pusat, sudah hadir pula SPARK atau Senayan Park. Terlepas dari kontroversi kepemilikan lahannya, mal itu memiliki daya tarik tersendiri karena berada di sisi danau buatan. Danau ini dalam rencana tata ruang wilayah DKI Jakarta merupakan ruang terbuka biru yang berarti dapat diakses bebas oleh siapa pun.

Mal-mal dengan ruang terbuka untuk dijelajahi pengunjung juga identik dengan penataan gerai berbeda. Selain toko konvensional di dalam gedung, ada tempat penjualan jangka pendek yang mudah dibongkar pasang (pop up store).

Di masa lalu, gerai jangka pendek identik dengan lapak usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjejalan di depan tenant utama atau mengambil tempat di tengah koridor di dalam mal. Penataan ruang mal menjadi penuh sesak dan bakal dijauhi kaum urban yang kini makin melek menjaga diri agar tak tertular korona ataupun penyakit lain.

Strategi menata ulang mal dan menempatkan pop up store di lahan terbuka dan saling berjarak menjadi pilihan cemerlang untuk terus dikembangkan. Toko model ini cocok untuk menjajakan produk pangan dan nonpangan. Bahkan, bisa menjadi ruang kerja bersama (coworking space).

Toko pop up dapat dibentuk dan dihias sesuai tema-tema tertentu yang bisa diubah secara periodik. Keberadaannya menjadi kejutan menyenangkan bagi konsumen. Pop up store juga memberi alternatif tujuan bagi konsumen sehingga tak lagi terpusat di dalam gedung.

Dapur bersama
Menimbang lagi makanan dan tempat makan sebagai magnet utama mal, perlu ada terobosan demi menjaga ”jantung” itu terus berdenyut. Ada opsi mengusung cloud kitchen masuk ke dalam pusat belanja.

Cloud kitchen pada prinsipnya usaha menyediakan dapur lengkap yang bisa digunakan berbagai perusahaan atau pemilik usaha makanan untuk mengolah menu sajiannya, lalu dikirim ke para pelanggannya. Sistem ini awalnya hanya melayani pemesanan secara daring tanpa ada ruang untuk makan di tempat.

Cloud kitchen sudah akrab digunakan oleh Go Food dan Grab Food. Tinggal pesan menu pilihan dari kedua aplikasi pemesanan makanan itu via gawai. Koki di gerai makanan daring pelanggan mengolah makanan di lokasi yang sama dengan tukang masak dari warung daring lainnya. Memesan beberapa menu sekaligus dari dapur bersama biasanya mendapatkan potongan ongkos kirim atau diskon lain.

Meskipun demikian, karena masyarakat tidak tahu pasti bagaimana kondisi dapur bersama tersebut, sering kali ada keraguan tentang jaminan kebersihan dan kesehatannya.

Di sisi lain, sejauh yang diketahui publik, praktik dapur bersama baru sebatas berbagi ruang untuk bersama-sama memasak. Belum sampai pada memakai semua peralatan secara bersama dengan menerapkan sistem tertentu untuk harmonisasi kerja dan meminimalkan biaya berlebih terkait bahan bakar, listrik, sampai sewa alat maupun ruang.

Konsep cloud kitchen sangat bisa dikembangkan di mal. Pengelola mal yang sudah biasa menangani gedung dengan baik dan bersih, berpotensi mampu menghadirkan dapur bersama sesuai standar kesehatan dan keamanan di masa pandemi. Konsep ini juga memungkinkan menggaet banyak pihak untuk berusaha bersama memanfaatkan ruang mal, sebuah win-win solution untuk keluar dari keterpurukan pandemi.

Konsumen akan memilih dan memesan santapannya seperti memesan via aplikasi di gawai. Akan semakin menarik jika mendesain dapur bersama ini, sehingga bisa dilihat langsung oleh calon konsumen dan menjadi suguhan tontonan di mal. Toh, dalam skala lebih kecil, hal ini pun bukan hal baru lagi.

Setidaknya sejak dua dekade silam, dapur terbuka di mal disukai publik meskipun masih terbatas satu dapur untuk satu gerai makanan. Seperti diulas di Harian Kompas pada 4 Februari 2004, Breadtalk misalnya, menjadi salah satu pionir toko makanan yang menyuguhkan dapur berdinding kaca berdekatan dengan gerai rotinya di mal.

Janji fresh from the oven diwujudkan dan menyedot daya tarik tinggi. Antrean mengular tetapi rapi, yang kala itu menjadi fenomena baru di mal-mal dengan gerai waralaba asal Singapura itu di dalamnya. Inovasi serupa dan lebih luas dibutuhkan lagi saat ini.

Ringkasnya, merujuk pada riset Deloitte, pengelola mal kini dituntut fokus pada isu keamanan dan kenyamanan, memperbarui peran toko-toko dan keseluruhan area pusat belanja, memberi ruang munculnya revolusi makanan, merangkul erat teknologi digital, serta menjadikan mal sebagai muara baru warga kota. Hanya dengan inovasi mumpuni dan relevan, mal sebagai ruang sosial urban hasil adaptasi di masa pandemi bisa terwujud dan langgeng berkembang.

Oleh NELI TRIANA

Editor: GESIT ARIYANTO

Sumber: Kompas, 28 Agustus 2021

Share
%d blogger menyukai ini: