Home / Artikel / Ruang Publik

Ruang Publik

Selasa (31/1) kemarin, beberapa anak asyik menyusun lego. Sebagian lagi bermain ayunan dan perosotan. ”Lho, tidak sekolah?” ”Masuk siaaaang…,” jawab mereka serentak.

Pagi itu, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Manunggal yang berlokasi di Kelurahan Petukangan Selatan itu sedikit sepi. Selain beberapa anak itu, ada seorang ibu anggota PKK yang sedang piket. Di ruang pengelola, Enung Haryati dan Fitri Handayani sibuk membereskan laporan.

Di hari Selasa memang hanya ada satu agenda tetap yang tercatat di papan: belajar bahasa Inggris, itu pun sore, pukul 15.00. Akan tetapi, di hari-hari lain ada beragam agenda. Senin, misalnya, pagi ada latihan rebana dan siang organ tunggal. Rabu ada senam pernapasan, posyandu, layanan Keluarga Berencana, dan penyuluhan gizi. Jumat ada pelatihan teknologi informasi, pelajaran matematika, dan rebana. Sabtu-Minggu apalagi.

Pendek kata, beragam aktivitas berlangsung di sana. Diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, 29 April 2016, rakyat tiba-tiba mendapat oase baru. Kalau biasanya anak-anak main bulu tangkis dan sepak bola di gang-gang—bergantian dengan sepeda motor dan gerobak yang lewat—di lahan seluas 2.050 meter persegi itu mereka bisa main sepuasnya. Lapangan bulu tangkis dan sepak bola tersedia. Aula terbuka, perpustakaan, ruang menyusui, dan tentu saja toilet juga ada. Semua bisa diakses pada pukul 06.00-22.00. Gratis.

”Sore nanti baru ramai. Anak-anak dan remaja banyak yang menghabiskan waktu di sini. Daripada ke warnet yang tidak bisa diawasi, mending di sini. Orangtua juga tenang kalau anak-anaknya di RPTRA, aman,” tutur Enung Haryati, pengelola yang bertugas pagi itu.

Bahkan, sekolah-sekolah di seputar RPTRA memanfaatkan sarana di sana untuk aktivitas luar ruang para siswa. Tiap pagi ada saja jadwal olahraga, mulai dari SD 03, 04, 05, hingga SLB Sumber Budi. Belum lagi latihan Pramuka dan menari.

Kegiatan ibu-ibu pun tak kalah banyak. Ada pelajaran membuat kue, pameran, dan pasar murah. Ada latihan aerobik dan marawis. Semua berhak menikmati fasilitas yang ada.

Konsep sejahtera
Sir Frederick Gibberd (1908-1984), bapak arsitektur modern dari Inggris, mendefinisikan ruang terbuka publik sebagai wadah masyarakat beraktivitas dan berinteraksi. Ia tidak hanya menjadi pocket park, ruang hijau di antara bangunan yang penuh sesak, tetapi juga play lot, tempat menampung kegiatan sekaligus bermain dan berekreasi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Sudah menjadi adagium ahli tata kota, ruang terbuka hijau menjadi suatu keharusan dalam pembangunan kawasan. Berbagai kajian menunjukkan, kehadiran ruang publik menjadi kohesi sosial masyarakat urban yang multibudaya, menurunkan potensi konflik, yang pada akhirnya meningkatkan rasa aman dan kenyamanan masyarakat.

Dari sisi ekologi, ruang publik mendorong sirkulasi udara, mengurangi dampak polusi, sekaligus memengaruhi iklim mikro. Di RPTRA Manunggal, rumput yang menghijau dan pohon-pohon yang merimbun membuat panas terik dan debu akibat lalu lalang kendaraan di jalanan tidak terasa begitu berada di dalamnya.

Hingga Desember 2016 ada 188 RPTRA yang telah dibangun meski baru 71 RPTRA yang diresmikan. Senyum bangga anak-anak ketika menunjukkan lego yang mereka susun, celoteh riang anak-anak bermain ayunan dan perosotan, bisa jadi itulah kesejahteraan yang sesungguhnya.–AGNES ARISTIARINI
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul “Ruang Publik”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: