Ruang Publik

- Editor

Rabu, 1 Februari 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selasa (31/1) kemarin, beberapa anak asyik menyusun lego. Sebagian lagi bermain ayunan dan perosotan. ”Lho, tidak sekolah?” ”Masuk siaaaang…,” jawab mereka serentak.

Pagi itu, Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Manunggal yang berlokasi di Kelurahan Petukangan Selatan itu sedikit sepi. Selain beberapa anak itu, ada seorang ibu anggota PKK yang sedang piket. Di ruang pengelola, Enung Haryati dan Fitri Handayani sibuk membereskan laporan.

Di hari Selasa memang hanya ada satu agenda tetap yang tercatat di papan: belajar bahasa Inggris, itu pun sore, pukul 15.00. Akan tetapi, di hari-hari lain ada beragam agenda. Senin, misalnya, pagi ada latihan rebana dan siang organ tunggal. Rabu ada senam pernapasan, posyandu, layanan Keluarga Berencana, dan penyuluhan gizi. Jumat ada pelatihan teknologi informasi, pelajaran matematika, dan rebana. Sabtu-Minggu apalagi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pendek kata, beragam aktivitas berlangsung di sana. Diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, 29 April 2016, rakyat tiba-tiba mendapat oase baru. Kalau biasanya anak-anak main bulu tangkis dan sepak bola di gang-gang—bergantian dengan sepeda motor dan gerobak yang lewat—di lahan seluas 2.050 meter persegi itu mereka bisa main sepuasnya. Lapangan bulu tangkis dan sepak bola tersedia. Aula terbuka, perpustakaan, ruang menyusui, dan tentu saja toilet juga ada. Semua bisa diakses pada pukul 06.00-22.00. Gratis.

”Sore nanti baru ramai. Anak-anak dan remaja banyak yang menghabiskan waktu di sini. Daripada ke warnet yang tidak bisa diawasi, mending di sini. Orangtua juga tenang kalau anak-anaknya di RPTRA, aman,” tutur Enung Haryati, pengelola yang bertugas pagi itu.

Bahkan, sekolah-sekolah di seputar RPTRA memanfaatkan sarana di sana untuk aktivitas luar ruang para siswa. Tiap pagi ada saja jadwal olahraga, mulai dari SD 03, 04, 05, hingga SLB Sumber Budi. Belum lagi latihan Pramuka dan menari.

Kegiatan ibu-ibu pun tak kalah banyak. Ada pelajaran membuat kue, pameran, dan pasar murah. Ada latihan aerobik dan marawis. Semua berhak menikmati fasilitas yang ada.

Konsep sejahtera
Sir Frederick Gibberd (1908-1984), bapak arsitektur modern dari Inggris, mendefinisikan ruang terbuka publik sebagai wadah masyarakat beraktivitas dan berinteraksi. Ia tidak hanya menjadi pocket park, ruang hijau di antara bangunan yang penuh sesak, tetapi juga play lot, tempat menampung kegiatan sekaligus bermain dan berekreasi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Sudah menjadi adagium ahli tata kota, ruang terbuka hijau menjadi suatu keharusan dalam pembangunan kawasan. Berbagai kajian menunjukkan, kehadiran ruang publik menjadi kohesi sosial masyarakat urban yang multibudaya, menurunkan potensi konflik, yang pada akhirnya meningkatkan rasa aman dan kenyamanan masyarakat.

Dari sisi ekologi, ruang publik mendorong sirkulasi udara, mengurangi dampak polusi, sekaligus memengaruhi iklim mikro. Di RPTRA Manunggal, rumput yang menghijau dan pohon-pohon yang merimbun membuat panas terik dan debu akibat lalu lalang kendaraan di jalanan tidak terasa begitu berada di dalamnya.

Hingga Desember 2016 ada 188 RPTRA yang telah dibangun meski baru 71 RPTRA yang diresmikan. Senyum bangga anak-anak ketika menunjukkan lego yang mereka susun, celoteh riang anak-anak bermain ayunan dan perosotan, bisa jadi itulah kesejahteraan yang sesungguhnya.–AGNES ARISTIARINI
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 1 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul “Ruang Publik”.

Informasi terkait

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Berita ini 15 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Senin, 27 Juli 2026 - 18:53 WIB

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Berita Terbaru

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB

Artikel

Ketika Ijazah Analog Diperdebatkan di Dunia Digital

Senin, 27 Jul 2026 - 18:53 WIB

Berita

Terkubur untuk Hidup

Sabtu, 18 Jul 2026 - 09:20 WIB

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB