Home / Berita / Memahami Tingkah Laku Anak di Rumah Selama Pandemi Covid-19

Memahami Tingkah Laku Anak di Rumah Selama Pandemi Covid-19

Perilaku anak di rumah selama masa pembatasan sosial bisa menjadi persoalan tersendiri bagi sebagian orang. Berikut ini adalah penjelasan dan sedikit kiat agar dapat memahami tingkah laku anak selama pandemi Covid-19.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ–Dua anak belajar melukis untuk mengisi waktu luang selama sekolah dari rumah di Kelurahan Sarua Indah, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (27/3/2020).

Nursyam Triatnani (44) hampir kewalahan di rumah sebulan belakangan. Hal tersebut karena suasana hati Airin Trihafsari (10), anak bungsunya, kerap tidak menentu selama masa pembatasan sosial di rumah.

Selasa (14/4/2020) pagi, misalnya, Airin yang bangun sejak pukul 05.30 langsung terpaku pada dua hal, yakni ponsel dan televisi. Airin tidak beranjak sampai ibunya menyuruhnya mandi. Padahal, menjelang pukul 06.30, dia harus bersiap untuk menerima tugas dari guru sekolah lewat pesan aplikasi percakapan Whatsapp.

Nursyam bercerita, Airin juga kadang uring-uringan saat dilarang main beberapa hari terakhir. Ibu tiga anak ini melarang Airin main di jalan depan rumah karena masa pembatasan skala besar untuk mencegah pandemi Covid-19.

Semakin hari, Nursyam kian khawatir anaknya terus uring-uringan saat berada di rumah. Apalagi, anaknya merasa masa pembatasan sosial di rumah beberapa hari ini layaknya hari libur. ”Mood Airin kalau di rumah santai banget, bawaannya seperti hari libur terus. Alhasil, saya harus ingatkan dia belajar meski saya sedang sibuk menyiapkan bahan belajar siswa,” kata Nursyam yang juga guru pendidikan anak usia dini (PAUD).

KOMPAS/PRIYOMBODO–Siswa kelas 2 di SD Al-Bayan Islamic School, Kota Tangerang, Banten, mengerjakan tugas dari guru saat belajar di rumah (home learning), Selasa (17/3/2020).

Pengalaman serupa dialami Eka (39). Akhir Maret silam, perempuan ini juga kesulitan mengurusi dua anaknya di rumah. Tingkah laku anaknya semakin tidak menentu karena dilarang keluar rumah.

”Sudah tiga minggu aku menemani anak sambil bekerja di rumah. Sulit sekali rasanya mengurusi dua anak yang masih kecil-kecil sambil bekerja, ditambah mereka bawaannya ingin main terus. Padahal, guru menitipkan agar mereka tetap belajar, berolahraga, dan lain-lain,” ungkap Eka.

Kondisi Nursyam dan Eka mungkin dialami sebagian orangtua selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di rumah. Sebab, selama sebulan pembatasan berjalan, sebagian anak, terutama yang berusia sekolah, kerap merasa bosan ketika berdiam di rumah. PSBB memicu suasana hati anak yang tidak menentu dan kerap uring-uringan.

Sebagian orangtua, seperti Eka, misalnya, menganggap anak bisa tenang dengan belajar sendiri dan mengerjakan tugas dari guru di sekolah. Padahal, aktivitas anak di rumah tidak bisa disederhanakan dengan bermain dan belajar saja.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Kebijakan belajar di rumah yang ditetapkan pemerintah terkait wabah Covid-19 dimanfaatkan SD Al Azhar 15 Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, untuk menggelar kegiatan belajar mengajar secara daring, Selasa (17/3/2020).

Kondisi pandemi Covid-19 belakangan berimplikasi pada hubungan antara orangtua dan anak di rumah. Tidak mudah memindahkan suasana belajar dari sekolah ke rumah. Pandangan ini disampaikan Pembina Yayasan Pendidikan Madania Indonesia Komaruddin Hidayat dalam tulisannya di Kompas, 11 April 2020.

Sebagian anak juga ada yang merasa nyaman saat diajari guru di sekolah dibanding orangtua yang tidak biasa mengajari anak. Kendati begitu, semua orang kini harus beradaptasi di masa-masa PSBB.

Kondisi anak saat di rumah akan berbeda drastis dengan di sekolah. Suasana sekolah menawarkan berbagai hal, mulai dari kehadiran teman dan tutor, adanya sejumlah norma sosial yang mesti dipatuhi, hingga adanya motivasi untuk berprestasi di kelas. Sejumlah hal itu tidak ada saat berada di rumah saja.

”Hal yang paling kentara mungkin adalah motivasi untuk berprestasi di sekolah. Karena sekarang di rumah belajarnya sendirian saja, ditambah lagi tidak didampingi orangtua, mungkin hasrat belajar di rumah itu menjadi berbeda,” ucap psikolog dari Universitas Indonesia, Imelda Ika Dian Oriza.

Mendampingi anak
Terkait hal itu, Imelda menyarankan pentingnya pendampingan kepada anak selama belajar dan bermain di rumah. Pendampingan orangtua bisa jadi memberikan sensasi berbeda bagi anak selama di rumah, tentunya dilakukan dengan variasi dan sekreatif mungkin.

Imelda menyebutkan, orangtua harus memberikan pemahaman terkait alasan untuk tetap di rumah selama masa PSBB. Alasan tersebut harus benar-benar dimengerti dengan cara yang sederhana sehingga anak mengetahui betapa bahaya virus SARS-CoV-2, penyebab Covid-19 yang kini belum ada vaksinnya.

Setelah itu, pendampingan anak selama di rumah bisa dilakukan dengan membagi waktu anak ketika belajar, bermain, dan beraktivitas lainnya secara rasional. Untuk anak usia belia dapat dilakukan dengan jam-jam yang pendek, sementara untuk anak beranjak dewasa bisa diterapkan jam yang lebih lama.

Selama masa di rumah, usahakan agar pembelajaran tetap melibatkan teman sebaya anak, bisa melalui telepon atau video call. Hal ini bertujuan untuk tetap menciptakan interaksi antarteman seperti di sekolah, bisa untuk menanyakan tugas dari guru, atau sebagainya.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Sebanyak 17 siswa kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah Mathlaul Anwar, Tapos 1, Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengikuti kegiatan belajar mengajar di teras rumah kontrakan milik salah seorang guru, Senin (21/10/2019).

Hal yang bisa dilakukan selanjutnya adalah memberikan evaluasi dan apresiasi terhadap berbagai pekerjaan anak di rumah. Buatlah apresiasi tersebut menyenangkan bagi anak. Hal yang penting adalah siapkan respons sebagai umpan balik dari setiap perbuatan yang dikerjakan anak di rumah.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-anak (Unicef) juga memberikan poin penting untuk berkomunikasi dengan anak selama pembatasan sosial di rumah. Poin-poin tersebut meliputi pendampingan, pembelajaran nilai positif, pemberian jadwal yang terstruktur di rumah, serta tetap tenang selama di rumah.

Imelda menjelaskan, orangtua harus memosisikan diri sebagai anak selama di rumah. ”Anak kecil punya dorongan eksplorasi, bosan di dalam ruangan dan cenderung ingin bermain. Hal tersebut perlu dipahami oleh orangtua,” ujarnya.

Saat menaruh empati, orangtua bisa memenangkan hati anak. Meski begitu, orangtua harus tetap bisa tegas seperti guru di sekolah dan punya aturan-aturan yang jelas. Dengan begitu, anak akan bisa memercayai orangtua sebagai rekannya di rumah.

Oleh ADITYA DIVERANTA

Editor: ANDY RIZA HIDAYAT

Sumber: Kompas, 14 April 2020

Share
x

Check Also

Simalakama Paket Data

Gawai dan paket data menjadi satu kesatuan utama di masa pembelajaran jarak jauh kali ini. ...

%d blogger menyukai ini: