Home / Artikel / Tetanus Sering Timbulkan Kematian

Tetanus Sering Timbulkan Kematian

TETANUS atau Lockjaw merupakan penyakit yang serius, menyebabkan nyeri dan kekakuan otot seluruh tubuh. Bisa menyebabkan otot-otot mulut terkunci sehingga kesulitan membuka mulut atau menggerakkan geraham.

Tetanus masih sering menyebab­kan kematian, 1 dari 10 pasien (10%) di Negara maju, dan 49-78% di Negara berkembang tidak dapat tertolong meskipun sudah dirawat di rumah sakit. Beberapa vaksin dapat mencegah kejadian tetanus pada anak-anak dan remaja maupun dewasa. Diantara vaksin tersebut antara lain: DT, DTaP, Tdap, dan Td.

Serangan Tetanus bersifat akut (mendadak), sering fatal. Disebabkan oleh Eksotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium tetani. Ditandai dengan kejang-kejang seluruh otot tubuh, dan kaku-kaku. Mulut terkunci (lock jaw), leher kaku, dinding perut mengeras seperti papan. Kalau tiduran tidak bisa rileks.

Penyebab adalah Clostridium tetani, bakteri gram positif, yang tidak memerlukan oksigen untuk hidupnya, yang membuat spora berbentuk seperti stik penabuh drum (drumstick). Spora Bakteri ini bisa menyebar luas di dalam tanah, berada di feses (kotoran) kuda, domba, kerbau, anjing, kucing, tikus, dan ayam.

Clostridium tetani menghasilkan racun: tetanolysin dan tetanospasmin. Fungsi tetanolysin belum diketahui. Sedangkan Tetanospasmin mengganggu saraf dan menyebabkan gejala klinis. Jumlah minimal toksin yang menyebabkan tetanus adalah 2,5 nanogram perkilogram berat badan. Kalau kurang dari itu belum menyebabkan tetanus.

Bakteri penyebab masuk tubuh melalui luka. Selanjutnya toksin mengikuti aliran darah dan kelenjar limfe ke seluruh tubuh. Kemudian mempengaruhi kerja sistem saraf pusat, sistem saraf tepi, saraf yang keluar dari tulang belakang, otak dan sistem saraf simpatis.

Selanjutnya toksin tetanus memacu nurotransmiter (zat yang menjadi perantara informasi dari pusat ke daerah tepi) dan menghambat impuls saraf. Akibatnya otot-otot berkontraksi (tidak bisa relaksasi) dan mengalami kejang.

Cara Penularan

Penularan biasanya melalui luka yang terkontaminasi bakteri tetanus. Bisa luka besar atau kecil. Terutama yang tidak dirawat dengan baik. Misalnya ketika jalan kaki tertusuk paku, lalu tidak dibersihkan dengan baik. Tetanus dapat terjadi setelah operasi yang disiapkan (operasi elektif), luka bakar, luka tusukan yang dalam, infeksi telinga, infeksi gigi (dan gusi), gigitan binatang, abortus (pengguguran) serta kehamilan.

Masa Inkubasi

Masa inkubasi (masuknya toksin tetanus hingga timbul gejala) antara 3-21 hari. Umumnya 8 hari. Semakin cepat masa inkubasi akan meningkatkan angka kematian. Pada bayi, tetanus biasanya muncul antara hari ke 4-14 setelah lahir. Rata-rata 7 hari setelah persalinan.

Ada tiga jenis: tetanus lokal, sefalik, dan tetanus menyeluruh (generalize tetanus).

Tetanus lokal jarang terjadi. Pasien hanya mengalami kekakuan di sekitar luka. Terjadi dalam waktu beberapa minggu sampai akhirnya hilang. Bisa saja kaku di otot setempat bisa menjalar ke seluruh tu­buh tapi umumnya ringan. Angka kematian hanya 1% dari seluruh kasus.

Tetanus sefalik (hanya di otot kepala) juga jarang terjadi biasanya disertai otitis media (infeksi telinga tengah). Ini me­nye­rang saraf kranial, khususnya saraf wajah. Sehingga wajah menjadi kaku, tidak bisa tersenyum maupun menye­ringai.

Sebagian besar (80%) adalah tetanus menyeluruh, mulai dari atas ke bawah. Dimulai dengan trismus atau lockjaw (kesulitan membuka mulut), diikuti dengan leher kaku, dan kesulitan makan dan minum. Lalu otot dinding perut menjadi kaku. Gejala lalin: panas badan me­ningkat, berkeringat banyak, tekanan darah naik, denyut jantung meningkat. Kejang-kejang terjadi secara periodic di­selingi tanpa kejang beberapa menit. Kejang bisa ber­langsung 3-4 minggu. Untuk sembuh sempurna bisa sampai satu bulan atau lebih.

Kekakuan pada laring (tenggorokan) dan otot pernapasan memacu kesulitan bernapas. Kadang pasien harus dirawat di ICU untuk mendapatkan ventilator (alat bantu napas).

Komplikasi tetanus biasanya terjadi akibat perawatan di rumah sakit yang berlangsung lama. Pasien harus tiduran terus, dipasang kateter untuk membantu buang air kecil, sehingga dapat terserang infeksi saluran kencing, pneumonia (infeksi paru) dan luka decubitus (luka di punggung, atau pantat). Dapat terjadi Pneu­mia Aspirasi (Infeksi Paru akibat tersedak) sekitar 50-70%.

Komplikasi yang berat adalah kematian. Sebagian kematian tetanus terjadi pada pasien di atas 60 tahun dan pasien yang tidak mendapatkan imunisasi. Tetanus pada bayi baru lahir umumnya karena tidak mendapatkan imunisasi pasif, sebab ibunya tidak terlindungi. Atau pada persalinan yang tidak steril, atau pemotongan tali pusat dengan alat yang tidak steril.

Tidak ada pemeriksaan penunjang laboratorium yang dapat mendukung tegaknya diagnosis tetanus. Diagnosis tetanus hanya mengandalkan gejala klinik (kejang, kaku otot, panas, keringat dingin, ada riwayat luka atau infeksi telinga).

Penanganan

Semua luka harus dibersihkan. Jaringan nekrotik (jaringan mati) dan material asing harus dihilangkan dari tubuh. Ini disebut debridemen. Luka dibuat sayatan yang lebih luas, sekitar 2 cm dari tepi jaringan luka, agar oksigen dapat masuk ke luka dengan lancer. Bila perlu dipasang drain (selang penyalur nanah, jika luka bernanah).

Jika pembersihan luka dilakukan terlambat (setelah beberapa jam pemberian antitoksin), malah meningkatkan risiko penyebaran toksin tetanospasmin ke aliran darah.

Bila masih kejang-kejang, perlu di­berikan terapi suportif (pemberian obat anti kejang, bisa oral (pil) maupun intravena (disuntikkan lewat infus) dan pengaturan jalan napas.

Diberikan suntikan Tetanus immune globulin (TIG). TIG mampu menghilang­kan toksin tetanus yang tidak terikat, tapi kalau sudah terikat di sistem saraf tidak mampu.  Pemberiannya dengan dosis tunggal lewat suntikan di otot (biasanya pantat), 3000-5000 unit.

Antibiotik yang diberikan biasanya Penisilin G selama 10-14 hari . Akan tetapi penyuntikan Penisilin yang lewat otot pantat dan sakit apalagi 4x sehari, menyebabkan dokter mulai beralih ke suntikan Metronidazil.

Metronidazol diberikan 500-1000 mg 3x sehari, bisa langsung masuk lewat infus. Alternatif berikutnya: Doxycycline oral 2×100 mg selama 14 hari. (11)

Dr Muchlis AU Sofro SpPD-KPTI, Spesialis Penyakit Dalam RSUP Dr Kariadi

——————–

Tips Pencegahan Tetanus

TIDAK  seperti penyakit infeksi yang lain, setelah sembuh tidak secara otomatis menghasilkan kekebalan terhadap tetanus. Inilah alasan mengapa toksin teta­nospasimin, walau dengan dosis letal (mematikan) tidak mampu memacu respon kekebalan tubuh.

Tetatus dapat dicegah dengan vaksinasi melalui Toxoid Tetanus. Rekomendasi CDC menganjurkan agar orang dewasa menerima vksin boster (ulangan vaksin tetanus) setiap 10 (sepuluh) tahun. Bagi pelayanan kesehatan di mana pun kalau merawat luka tusuk (jarum, paku, kayu) harus memberikan vaksin tetanus ulang, jika pasiennya tidak tahu kapan vaksinasi tetanus terakhir diperoleh. Atau kalau yang bersangkutan baru mendapat vaksin tetanus kurang dari tiga kali selama hidup.

Vaksin Tetanus ulang ini akan mencegah kejadian penyakit yang mematikan dari luka tusuk, apalagi luka kotor, yang baru saja terjadi. Anak-anak di bawah tujuh tahun, diberikan vaksin  dalam bentuk kombinasi : Vaksin DPT/DTap yang mencakup Difteri dan Pertusis sekaligus.

Untuk dewasa dan anak di atas tujuh tahun, biasanya menggunakan Vaksin Td (Tetanus dan Difteri) atau Tdap (Tetanus, difteri, dan aseluler Pertusus).

WHO (Badan Kesehatan Dunia) memberikan sertifikat bagi negara yang berhasil mengeliminasi tetanus pada bayi lahir dan ibu. Sertifikat diberikan juka dalam waktu paling dua tahun angka kejadian tetanus kurang dari 1 kasus tiap 1000 kelahiran hidup. Uganda misalnya pada tahun 1998 terdapat 3.433 kasus tetanus pada bayi baru lahir, dan 2403 diantaranya meninggal dunia.

Uganda

Setelah dilakukan upaya kesehatan ma­syarakat menyeluruh, tahun 2011 Uganda berhasil menerima sertifikat bebas tetanus dari WHO. Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia untuk mencegah pada bayi baru lahir, pemerintah juga menyediakan vaksinasi bagi calon ibu. Setiap calon pe­ngantin perempuan diwajibkan mendapat vaksinasi tetanus. Sebaiknya dilakukan enam bulan sebelum menikah, agar terbentuk antibodi yang cukup terhadap tetanus. Setelah bayi lahir juga mendapat imunisasi DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis). Vaksinasi ulangan perlu dilakukan setiap 10 tahun sampai berusia lanjut.

Pencegahan selain dengan vaksinasi adalah merawat luka, sekecil apapun luka itu. Misalnya tertusuk paku (apalagi kalau paku kotor) segeralah ke dokter untuk memastikan apakah lukanya perlu perawatan khusus seperti debridemen (pembersihan luka, dibuat sayatan baru), apakah perlu mendapat suntikan Anti Tetanus Serum (ATS) atau TIG (Tetanus Immuno Globulin).

Apabila ada infeksi di gigi, gusi, segera periksa ke dokter Gigi, untuk penanganan lanjut. Perlu perawatan gigi biasa atau tindakan penambalan gigi, pencabutan gigi, pembersihan karang gigi dan lain-lain.

Bila ada infeksi di telinga (memerah, sakit, apalagi sampai menghasilkan nanah), segera hubungi dokter, khususnya Spesialis THT untuk memastikan apakah perlu tindak­an khusus ?.

Seandainya mengalami gigitan binatang: kucing, tikus, anjing, pastikan ke dokter apakah memerlukan perawatan luka pasca gigitan. Sebab gigitan binatang juga dapat menimbulkan tetanus.

Kalau mengalami abortus atau keguguran, maka segera hubungi dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan untuk pena­nganan lanjut berupa pembersihan sisa pla­senta atau ari-ari. Jangan memanfaatkan jasa ”orang pintar” yang berusaha menolong tanpa upaya sterilitas yang memadai.( Dr Muchlis AU Sofro, SpPD-KPTI-11)

—————

Sembuh dengan Pengobatan Tepat

SUPRIYANTO (50 tahun) terserang tetanus berat. Kejang-kejang otot seluruh tubuh, termasuk otot-otot pernapasan. Akibatnya mengalami kesulitan bernapas. Akhirnya harus dibantu dengan alat bantu napas (Ventilator) di ICU Rumah Sakit.

Selama perawatan di ICU kondisinya bukannya membaik, malah memburuk. Pemakaian ventilator membutuhkan biaya cukup besar. Kebetulan Supriyono tidak mempunyai asuransi, termasuk Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Dokter sudah menyarankan untuk mencoba mendapatkan Kartu Jamkesmas. Namun, karena waktunya terlalu pendek, maka tetap kesulitan untuk mendapat kartu tersebut. Padahal, bila berhasil akan sangat membantu biaya perawatan.

Hari ke tujuh perawatan di ICU, karena kesulitan biaya perawatan, keluarga dengan berat hati memutuskan untuk melepas alat bantu napas (ventilator). Sehari kemudian Supriyono menghembuskan napas terakhir.

Sementara Hartono (51 tahun) dalam waktu ber­samaan terserang tetanus berat. Akan tetapi dengan pengobatan standar, dan keluarga mempunyai keuang­an yang mencukupi, bisa mendapatkan respon pengo­batan yang baik.

Kejang-kejang teratasi dan dapat mulai latihan rehabilitasi medik untuk mampu duduk, berdiri, berjalan secara bertahap.

Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengobatan tetanus, antara lain dipengaruhi oleh: berat ringannya tetanus, pengobatan yang tepat, dan dukungan keuang­an keluarga.

Dengan pengobatan yang baik dan tepat, tetanus dapat disembuhkan. Walaupun masih sering menyebabkan kematian. Karena 1 dari 10 pasien (10%) di ne­ga­ra maju, dan 49-78% di negara berkembang tidak da­pat tertolong meskipun sudah dirawat di rumah sakit, seperti Supriyono.

Balita

Di Indonesia penyakit ini memiliki angka kematian sampai 50%. Kematian biasanya terjadi pada penderita yang sangat muda (termasuk bayi baru lahir = tetanus neonatorum), sangat tua dan pemakai obat suntik narkoba.  Jika ge­jalanya memburuk dengan segera (ke­sadaran menurun, kejang tidak memberikan respon terhadap anti-kejang atau jika pengobatan tertunda maka prognosisnya akan menjadi buruk. Bisa menyerang segala usia.

Pada usia balita biasanya lebih banyak pada bayi baru lahir (tetanus Neonatorum).  Di 28 hari pertama kehidupan (tetanus neonatorum) telah lama diakui sebagai penyebab utama kematian neonatal. Namun, karena bayi terkena penyakit ini biasanya lahir di rumah dan meninggal di rumah maka angka kematian dan penyebabnya tidak terlaporkan dan  tidak diketahui.

Survei berbasis masyarakat tentang tetanus neonatal lebih dari 40 negara menunjukkan bahwa kurang lebih 10% terkait kasus kematian tetanus dan dilaporkan secara rutin di sebagian besar negara.

Data tetanus yang dilaporkan secara rutin ke WHO menyatakan bahwa, lebih dari 1 juta kematian setiap tahun adalah disebabkan tetanus, dengan estimasi 787.000 kematian akibat tetanus neonatal. Komunitas kesehatan masyarakat di seluruh dunia membuat komitmen untuk penghapusan tetanus neonatal (Didefinisikan sebagai kurang dari satu kasus tetanus neonatal per 1000 kelahiran hidup di semua kabupaten).

Mencegah tetanus melalui vaksinasi tentu jauh lebih baik daripada mengobati. Pada anak-anak, vaksin tetanus diberikan sebagai bagian dari vaksin DPT (difteri, pertusis, tetanus). Bagi yang sudah dewasa sebaiknya menerima booster (atau pengulangan vaksin).

Pada seseorang yang memiliki luka, jika:

1. Telah menerima booster (pengulangan vaksin tetanus) dalam waktu 5 tahun terakhir, tidak perlu menjalani vaksinasi lebih lanjut

2. Belum pernah menerima booster dalam waktu 5 tahun terakhir, segera diberikan vaksinasi

3. Belum pernah menjalani vaksinasi atau vaksinasinya tidak lengkap, diberikan suntikan immunoglobulin tetanus dan suntikan pertama dari vaksinasi 3 bulanan.

Setiap luka (terutama luka tusukan yang dalam) harus dibersihkan secara seksama karena kotoran dan jaringan mati akan mempermudah pertumbuhan bakteri Clostridium tetani (penyebab tetanus). (Muchlis AU Sofro-11)

Sumber: Suara Merdeka, 16 Januari 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pendidikan Vokasi Maju, Kita Maju

Yang jadi tulang punggung rencana besar menggapai kemajuan ini tak lain ialah anak-anak muda. Jika ...

%d blogger menyukai ini: