Home / Berita / Terobosan Pendidikan di India; Berguru Bukan kepada Guru yang Menggurui

Terobosan Pendidikan di India; Berguru Bukan kepada Guru yang Menggurui

Selesai memotong satu ayam menjadi 12 bagian, Surej (12) segera berlari menuju kios “Hole in the Wall”, fasilitas komputer yang “ditanam” di dinding di kios belakang tempatnya berjualan. Di depan tiga komputer sudah berkerumun teman-temannya yang bergantian menelusuri program permainan edukatif.

Sesekali mereka tertawa lepas. Akan tetapi, lebih sering mereka terdiam dengan dahi berkerut sambil sesekali berdebat saling mengoreksi.

Aturannya, kios Hole in the Wall yang gratis ini dibuka setiap hari mulai dari pukul 09.00 pagi sampai pukul 17.00. Namun, kata Subhash, penanggung jawab yang mengawasi kios itu, anak-anak sering memintanya buka lebih pagi.

Setiap hari, tugas Subhash hanya menghidupkan dan mematikan komputer. Itu saja. Karena ia punya warung di dekat kios Hole in the Wall, mudah baginya untuk mengawasi kios, meski itu sebenarnya tak perlu.

Anak-anak, kata Subhash, tak pernah berebut meski anak yang lebih kecil sering harus mengalah dari anak yang lebih besar.

Seperti terlihat hari itu, awal September lalu, Surej anteng menunggu giliran di belakang temannya yang sedang menyelesaikan permainan menyusun kalimat dalam bahasa Inggris. Sesekali, ia mencelutuk membantu temannya. “Ada yang susah. Ada yang gampang,”? kata Surej sambil garuk-garuk kepala.

Di sekitar kios, sebenarnya suara berisik dengan segala macam aktivitas warga. Ada yang sedang memperbaiki rumah, pindahan rumah, tukang jualan wira-wiri, serta diselingi suara radio dan televisi dengan volume tinggi. Namun, anak-anak itu tidak tampak terganggu. Perhatian mereka tertuju pada layar monitor.

Purnendu Hota, Kepala Hole-in-the-Wall Education Limited (HiWEL), menjelaskan, standar desain kios ini merupakan hasil uji coba sejak tahun 1999. Komputer, keyboard, dan mouse sengaja didesain berbeda dari bentuk yang biasa kita gunakan agar lebih aman dan awet.

“Akses pada keyboard dan mouse sengaja dibatasi dengan papan kaca supaya tangan orang dewasa dan anak hanya harus menyelusup ke bawah papan kaca itu. Tujuannya untuk mengurangi kekuatan saat menekan tuts keyboard dan mouse, supaya tak cepat rusak,”? kata Hota.

Kios Hole in the Wall yang dipasang di Vivekananda Camp, kota Delhi, India, ini hanya salah satu dari 240 kios serupa yang ada di berbagai daerah pelosok India. Tahun 2015 ini, bahkan akan ditambah 40 kios lagi tidak di India, tetapi di luar negeri.

Vivekananda Camp dipilih karena, kata Hota, merupakan permukiman kumuh dengan 500 kepala keluarga yang terjepit di tengah-tengah kompleks sekolah asing dan perkantoran kedutaan besar berbagai negara. Kontras karena di permukiman kumuh itu tak banyak yang mengenal komputer, bahkan banyak yang tidak bersekolah.

Awalnya iseng
Sugatra Mitra, dosen dan peneliti di Educational Technology di School of Education, Communication, and Language Newcastle University, Inggris, yang memulai eksperimen Hole in the Wall untuk iseng menguji idenya. Sejak 1982, sebelum mengajar di Inggris, ia sudah menggeluti pembelajaran mandiri dan teknologi informasi dan komunikasi. Ia dan rekan-rekannya mulai menguji ide pembelajaran mandiri pada 26 Januari 1999 untuk anak-anak di permukiman kumuh Kalkaji, New Delhi, yang berseberangan dengan kantornya di NIIT Ltd (perusahaan multinasional India terbesar di bidang pelatihan dan peranti lunak).

Mereka sedikit menjebol satu sisi dinding kantor yang menghadap ke permukiman kumuh lalu memasang komputer (personal computer/PC) Pentium, 266 Mhz dengan RAM 64 Mb dan akses internet 2Mbps. Setelah terpasang, ditinggal begitu saja. Tidak diawasi dan tanpa petunjuk pemakaian. Anak-anak yang tidak pernah melihat, mengenal, apalagi menggunakan komputer mulai berkerumun di depan komputer.

3261dc307b2c4c419582d06027d99c3aKOMPAS/LUKI AULIA–Menyediakan fasilitas komputer lengkap dengan keyboard, mouse, aplikasi aneka ragam materi, serta tanpa intervensi atau instruksi apa pun rupanya mampu mendorong anak ataupun orang dewasa belajar mandiri meski di masyarakat daerah terpencil sekalipun. Dengan membatasi jumlah komputer, justru muncul dorongan untuk belajar bersama dan bekerja sama memecahkan persoalan sebagaimana dipraktikkan dalam “Hole in the Wall” di Vivekananda Camp, kota Delhi, India, awal September.

“Lalu saya pergi saja tanpa bicara apa-apa kepada anak- anak. Mereka bingung lihat saya pergi,”? kata Mitra saat ditemui awal September lalu di Delhi, India.

Delapan jam kemudian, ketika dicek lagi, ternyata anak-anak sudah bisa melakukan banyak hal. Mulai dari berselancar di internet, menulis di dokumen, bermain game, menggambar, belajar kata atau kalimat dalam bahasa Inggris, dan mendengarkan cerita bersuara. Hebatnya lagi, anak yang sudah tahu mengajari teman lainnya, bahkan orang dewasa.

“Dengan intervensi minim dari orang dewasa, anak-anak ini mampu melakukan apa saja. Uji coba ini membuktikan, kolaborasi dan keingintahuan anak bisa menciptakan pembelajaran, bahkan anak-anak yang tinggal di daerah termiskin,” cerita Mitra saat bertemu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Kedutaan Besar RI untuk India Iwan Pranoto, dan rombongan.

Dari riset dan uji coba selama bertahun-tahun, Mitra tiba pada kesimpulan bahwa kunci keberhasilan dalam pembelajaran mandiri hanyalah dukungan positif. Jika belajar mandiri diberi kesempatan, proses pembelajaran akan terjadi dengan sendirinya. Guru cukup menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, positif, dan kreatif, lalu harus berbesar hati untuk mundur sejenak dan melihat proses pembelajaran terjadi.

“Dalam lingkungan pembelajaran mandiri (self-organized learning environment/SOLE), yang dibutuhkan hanya broadband, kolaborasi, dan dukungan. Tidak perlu satu anak satu komputer. Biarkan anak memakai satu komputer bersama-sama,”? kata Mitra.

Guru zaman baru
Sayangnya, masih banyak guru yang merasa dialah yang harus memberikan semua jawaban. Mungkin dulu masih bisa begitu. Namun, di zaman internet seperti sekarang, itu sudah kuno karena informasi atau jawaban apa pun yang dibutuhkan bisa dicari dalam hitungan menit. Guru cukup perlu mengajar apa yang perlu diajarkan. Anak mesti didorong agar mampu mencari informasi yang dibutuhkan dalam waktu cepat dan akurat. “Saya tidak bermaksud menggantikan peran guru. Ini hanya alat untuk membantu mempermudah pekerjaan guru saja. Tantang anak-anak dengan pertanyaan-pertanyaan besar. Materi belajar tidak berbatas,”? kata Mitra.

Memanfaatkan kemajuan teknologi dan informasi dalam proses pembelajaran tidak terelakkan. Sekolah yang tidak melakukannya akan ketinggalan zaman. Sistem pendidikan yang dulu bukan buruk, melainkan sudah tepat pada zamannya dulu. Dulu, sekolah harus menghasilkan kelompok elite yang ditempatkan sebagai pembuat kebijakan. Lalu didesain kurikulum lain yang spesifik menghasilkan kelas pekerja dan membekali mereka dengan kompetensi teknis.

“Sistem pendidikan yang ada sekarang menghasilkan sumber daya manusia dengan kompetensi yang tidak dibutuhkan. Metode SOLE mendorong keterampilan yang dibutuhkan saat ini, yakni bagaimana menggali informasi, mengevaluasi sumber-sumber yang didapat, dan bekerja dalam tim,”? kata Mitra.

Teman cerita
Keberhasilan Mitra terdengar hingga ke mancanegara. Tahun 2010, Mitra diundang agar berbicara di forum TED Talk untuk berbagi cerita tentang metode SOLE ini. Lalu, pada tahun 2013, Mitra memenangi penghargaan TED senilai 1 juta dollar AS untuk mewujudkan cita- citanya membuat school in the cloud? (sekolah di awan). Di dalam sekolah itu, ada granny cloud, jaringan relawan yang membantu anak-anak belajar melalui media komunikasi di internet, Skype.

Granny cloud itu sebutan saja, kata Mitra, tidak berarti semua relawannya nenek-nenek. Mayoritas memang pensiunan guru. Relawan ini tugasnya seperti nenek memperlakukan cucu. Menemani cucu, memberi semangat dan pujian positif, serta sesekali memancing cucu bercerita dan bertanya.

“Prinsipnya, jangan pernah mengajari. Cerita saja. Ajak ngobrol anak-anak saja. Paling tidak sejam dua jam. Nenek itu kan pada umumnya hangat, menyenangkan, dan positif mendukung. Cara ini lebih disenangi anak-anak daripada menggurui,” kata Mitra.

Dengan mengobrol, anak- anak di sejumlah negara bisa sekaligus belajar bahasa Inggris. Anak-anak bisa dengan mudah dan senang belajar bahasa Inggris sedikit demi sedikit dengan cara bercerita atau menyanyi. Hasilnya membuat Mitra sendiri terkejut. “Cara bicara anak- anak bisa sangat Inggris. Padahal, bahasa mereka di India saja aksennya berbeda-beda,”? ujarnya.

Kini, Hole in the Wall lebih banyak dipasang di luar dinding sekolah agar masyarakat di sekitar sekolah juga bisa ikut memanfaatkan. Ini cara Mitra dan timnya memancing anak atau orang dewasa putus sekolah masuk kembali ke sekolah. Berbekal pengalamannya selama ini di berbagai pelosok daerah terpencil dan terpinggirkan di India dan negara-negara lain, Mitra dan timnya pun tergelitik ingin mencobanya juga di Indonesia.

“Sesulit apa pun kondisi daerahnya, seminim apa pun fasilitasnya, yakin bisa. You’ll be amazed of what they’re capable of (Anda akan kagum dengan apa yang mereka mampu). Mereka belajar bersama dan mampu memecahkan masalah bersama-sama,” kata Mitra dengan optimistis.–LUKI AULIA
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 2 November 2015, di halaman 12 dengan judul “Berguru Bukan kepada Guru yang Menggurui”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: