Home / Sosok / Jufry ”Jule” Masala, Menemukan Hidup Berkat Tukik

Jufry ”Jule” Masala, Menemukan Hidup Berkat Tukik

Jufry ”Jule” Masala belasan tahun melindungi tukik, dan tukik memberi nafas baru bagi kehidupan Jule.

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI—Jufry “Jule” Masala, warga Batuputih, Bitung, Sulawesi Utara, seorang diri telah melepasliarkan 2.000 tukik penyu dalam 18 tahun terakhir. Foto diambil pada Kamis (13/8/2020) lalu.

Jufry “Jule” Masala (44) selama belasan tahun melindungi bayi-bayi penyu atau tukik dari gangguan binatang dan manusia. Ia tak kenal lelah karena tukik telah membawanya pada kehidupan baru.

“Saya senang merawat tukik-tukik itu, kasih makan sambil lihat mereka. Setiap mau lepas ke laut, rasanya sayang, ingin rawat lebih lama. Saya pikir, adoh, pasti masih lama sampai ada induk yang naik lagi ke pantai untuk bertelur,” kata Jufry alias Jule, Kamis (13/8/2020) siang di Pantai Kanada.

Jule sehari-hari bekerja sebagai penjaga Pantai Kanada, dekat Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih di timur laut Kota Bitung, Sulawesi Utara. Tugasnya jelas, yaitu mengawasi aktivitas pengunjung, menghadapi orang-orang yang masuk tanpa membayar retribusi atau membuat keonaran, serta memantau laju pembangunan kios-kios makanan di tepi pantai.

Pertemuannya yang tak sengaja dengan tukik-tukik lucu mendorongnya untuk melindungi mereka dari pemangsa dan gangguan pengunjung pantai. Ia melakukannya seorang diri mulai mengawal induk penyu yang akan bertelur, menjaga telur sampai menetas, merawat tukik, dan melepaskannya ke pantai. Selama 12-an tahun, ia telah melepaskan ribuan tukik. Dia tidak ingat berapa jumlahnya, tapi paling sedikit 2.000-an ekor. Jule mengaku tidak akan berhenti melindungi.

Dua bulan lalu, ia menjaga telur-telur penyu hijau (Chelonia mydas) dari seekor induk agar tidak disantap pemangsa atau diambil pemburu telur penyu. Tugas induk penyu memang hanya bertelur dan menimbun telurnya di pasir. Nasib telur-telur itu, apakah berakhir sebagai mangsa biawak, burung, dan anjing liar, atau menetaskan kehidupan baru, bergantung padanya.

Ia menimbunnya dengan lebih banyak pasir. Setelah itu muncullah 54 ekor tukik balik timbunan tanah 51 hari kemudian. Ia kumpulkan tukik-tukik itu dan mencarikan pakan, tiga hari lebih lambat tiga hari dari perkiraannya jika mengacu sebuah video tutorial di YouTube. Segera ia kumpulkan tukik-tukik itu. Ia siapkan tujuh sampai delapan ekor ikan malalugis atau ikan tude sebagai pakan tukik yang didapatnya cuma-cuma dari dermaga kapal ikan di timur Pantai Kanada.

Sebagai buruh penjaga pantai dengan penghasilannya Rp 100.000 per hari, Jule tak sanggup membangun penangkaran seperti di TWA Batuputih yang dilengkapi pusat penetasan hingga kolam tukik. Ia hanya punya ember dan perahu aluminium yang biasa dipakai untuk mengail ikan. Dengan dua alat itu ia merawat tukik hingga waktu pelepasliaran.

“Pengalaman di awal, saya biarkan mereka di ember. Ternyata ada yang mati karena mungkin kelelahan berusaha memanjat keluar. Jadi saya putuskan menaruh mereka di perahu. Kalau mereka lelah berenang, bisa menepi untuk istirahat sejenak. Itu cara yang paling efektif,” kata pria kelahiran Batuputih itu.

Perahu itu kokoh, air tak merembes ke dalam. Akhirnya, ia putuskan mengisi perahunya dengan air laut. Diletakkannya perahu itu di tanah miring agar air menggenang di satu ujung. Lalu tukik-tukik dikungkung dalam perahu. Perahu aluminium itu pun beralih fungsi menjadi media konservasi penyu hingga pelepasliaran dua bulan mendatang. Airnya ia ganti sekali setiap hari.

Sampai cangkang tukik-tukik itu sudah lebih besar dari sebuah bungkus 16 batang rokok, Jule mengalah tidak pergi mengail. Jika terpaksa mencari ikan atau menengok kerambanya yang berisi ikan bobara, baru ia pindahkan sementara tukik-tukik itu ke ember.

Berguru dari pengalaman
Romantika antara Jule dan penyu terjalin tanpa sengaja pada 2002. Saat itu, seorang mantan pilot pesawat komersial asal Kanada bernama Phil merekrut beberapa orang di Kelurahan Batuputih untuk menjadi pegawai, termasuk Jule, di area Pantai Kanada yang ia beli. Tugas pertamanya adalah membabat pohon-pohon ketapang, waru, dan kelapa yang tumbuh di tepi pantai.

Sementara pekerjaan itu berlangsung, Jule mendirikan sebuah pondok kayu beratapkan terpal sebagai tempat memasak. Seminggu kemudian, Jule dikejutkan oleh kemunculan 300 tukik yang berhasil merangsek ke permukaan tanah.

Phil sungguh semringah ketika mendengar keberadaan bayi-bayi penyu itu. Ia menyuruh Jule merawat mereka sampai dua bulan ke depan. Phil akan datang dari Kanada untuk menyaksikan dan mengambil gambar dan video pelepasliaran.

Dalam perjalanan menuju dua bulan, ada induk penyu lain yang naik untuk bertelur. Tukik yang dirawat Jule pun makin banyak. “Akhirnya saya rawat dengan alat seadanya, saya tampung di ember yang diisi air laut. Waktu itu ada 11 ember,” kata pria kelahiran Batuputih itu.

Hingga 2014, setiap bulan, Jule tak pernah putus bersua dengan induk penyu yang mendarat untuk bertelur. Satu atau dua ekor induk akan datang antara fase bulan setengah hingga bulan purnama. Lima sampai enam lubang akan digali di pasir, tetapi induk penyu paling sering menimbunnya di bawah pohon ketapang sebelum pergi.

Namun, induk penyu selalu kembali ke laut jika banyak orang di pantai serta ada cahaya lampu, api, atau bahkan rokok sekalipun. Akibatnya, Jule pun sempat melarang pengunjung berkemah ketika bulan purnama agar penyu tak takut mendarat.

“Saya tidak terima kamping karena pengunjung pasti kasih menyala api unggun atau lampu. Gara-gara itu, saya sampai bertentangan dengan bos. Akhirnya, saya mengalah. Boleh kamping di sisi pantai yang agak jauh, tapi kalau kasih menyala lampu, saya marah,” kata Jule.

KOMPAS/KRISTIAN OKA PRASETYADI—Jufry “Jule” Masala berdiri di dekat perahu aluminium tempat ia merawat 54 tukik penyu hijau di Pantai Kanada, Batuputih, Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis (13/8/2020) lalu. Jufry seorang diri telah melepasliarkan 2.000 tukik penyu dalam 18 tahun terakhir.

Jule selalu membantu menggali tanah di titik kemunculan penyu. Dari pengamatan dan pengalamannya, ia selalu menemukan 130-140 telur penyu. Sekitar 10 telur di antaranya sering ditemui gagal menetas. Ia menduga, 54 tukik yang dirawatnya sekarang hanya sebagian dari kawanan yang lebih besar.

Karena pertemuannya dengan tukik-tukik, ia mulai kritis terhadap orang yang terbiasa makan telur dan daging penyu. Induk yang datang kerap malah ditangkap dan diambil dagingnya untuk dijual Rp 20.000 per kilogram. Warga bisa mendapat 60-70 kilogram daging dari seekor penyu.

“Setiap ada nelayan di kampung yang dapat tukik atau induknya, saya suruh lepas. Kalau tidak mau, saya bilang mereka bisa dituntut karena melanggar hukum. Mereka takut, jadi mereka lepas. Tapi saya rasa, masih ada warga yang makan daging penyu,” tutur Jule.

Kehidupan baru
Jule sempat berhenti bekerja di Pantai Kanada pada 2014. Aktivitasnya merawat tukit sempat jeda. Namun, pada Mei 2020, ia kembali lagi. Saat itu, situasi masih sama. Tak ada perhatian untuk pelestarian penyu dari pengelola maupun lembaga pemerintah. “Sebenarnya, bagus kalau bisa disediakan bak khusus yang dilengkapi alat untuk bantu ganti air. Biarpun cuma dua bulan tukik di situ, pasti akan ada lagi yang datang,” tuturnya.

“Sebenarnya, bagus kalau bisa disediakan bak khusus yang dilengkapi alat untuk bantu ganti air. Biarpun cuma dua bulan tukik di situ, kan, pasti akan ada lagi yang datang,” kata Jule yang tiga bulan terakhir telah dua kali menerima telur dari dua induk penyu.

Kendati begitu, Jule mengaku tak keberatan mengembang tugas konservasi penyu. Dengan alat seadanya pun, ia masih bisa melepasliarkan penyu hampir setiap bulan. Ia juga tidak pernah dibayar oleh bosnya untuk merawat penyu. Membeli ikan untuk pakan, tak bikin Jule merasa rugi.

Baginya tukik-tukik itu amat berarti. Mereka telah memberi makna baru pada kehidupan Jule. Berkat tukik, Jule yang pemberang jadi penyayang. Ia juga berhasil menghentikan kebiasaan mabuk dan menjauh dari masa lalunya yang berantakan dan diwarnai aneka perkelahian.

“Penyu-penyu ini bikin saya berhenti mabuk. Pagi pikir kasih makan, sore pikir ganti air, dan ada pekerjaan lain di pantai. Semua waktu saya sudah terisi, lebih bermanfaat juga,” ujarnya.

Jufry “Jule” Masala

Lahir: Batuputih, Bitung, 26 Juli 1976

Istri: Selfi Kere (38)

Anak:
Metisa Masala (18)
Christiano Masala (12)

Pendidikan:
SD Inpres 12 Batuputih
SMP 8 Bitung

Oleh KRISTIAN OKA PRASETYADI

Editor: BUDI SUWARNA

Sumber: Kompas, 24 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam ...

%d blogger menyukai ini: