Home / Artikel / Tahun 2014 El Nino, Kita Panen Ikan

Tahun 2014 El Nino, Kita Panen Ikan

PADA Juni-Juli 2014, pandangan mata penduduk bumi akan mengarah ke Brasil. Kompetisi Piala Dunia di negeri ”Samba” akan menentukan siapa jawara nomor wahid sepak bola sejagat.

Namun, klub-klub sepak bola Eropa yang akan bertarung di Brasil justru ketar-ketir. Bukan karena antisipasi lawan tanding dari negara-negara Amerika Latin yang terkenal tangguh itu, melainkan karena informasi yang dikeluarkan Pusat Pemantauan Iklim Badan Atmosfer dan Kelautan AS (NOAA).

Buletin NOAA, Mei 2014, menyatakan bahwa 75 persen kemungkinan El Nino akan hadir tahun ini. Berarti, pada Juni-Juli 2014 diprakirakan kemarau panjang akan melanda Brasil. Udara akan panas dan kering, yang sudah pasti akan melemahkan stamina para pesepak bola Eropa yang terbiasa bermain di wilayah dingin dan subtropis.

El Nino adalah fenomena variabilitas iklim, di mana ”kolam panas” (warm pool) yang berada di Samudra Pasifik bagian barat sepanjang khatulistiwa bergeser ke arah timur yang dikenal sebagai El Nino Southern Oscillation (ENSO).  Bila diasumsikan bahwa ”kolam panas” memicu penguapan air laut sehingga kelembaban meningkat, maka akan disusul dengan turunnya hujan di musim hujan.

Permasalahannya, dengan bergesernya ”kolam panas” di Samudra Pasifik dari barat ke timur, pola iklim berubah sehingga musim kemarau di wilayah Nusantara dan di wilayah pantai barat Amerika Latin menjadi lebih panjang. Selain kemarau panjang, ENSO akan mengakibatkan gagal panen, berkurangnya produksi ikan, dan munculnya berbagai penyakit.

Fenomena ENSO paling parah melanda wilayah Indonesia kurun September-November 1997.  Kala itu, kemarau panjang mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa Timur. Asap menyebar hingga Malaysia dan Singapura. PLTA Jatiluhur, Saguling, dan Cirata kekurangan pasokan air. Terjadi gagal panen. Penyakit demam berdarah, diare, dan pernapasan merajalela.  Pemerintah disibukkan oleh operasi hujan buatan, operasi pengeboman air dari udara, dan operasi pemadaman kebakaran hutan di darat, mengerahkan 27 pesawat udara dari lima negara. Alhasil, ENSO berlanjut dengan krisis ekonomi, lalu krisis politik, dan dipuncaki peristiwa Reformasi, Mei 1998.

Seusai ENSO 1997-1998, para ilmuwan mencermati fenomena alam ini dan berkesimpulan bahwa ENSO terjadi secara periodik, 5-8 tahun sekali. Kehadirannya dapat diprediksi melalui pemantauan laut sehingga antisipasi bisa dilakukan. Memang ENSO berakibat menurunnya hasil tangkapan ikan di pantai barat Amerika Latin. Tetapi, sebaliknya, di pantai barat Sumatera dan selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara, nelayan justru panen ikan.

Perlu disebarluaskan
Hasil pantauan satelit Seawifs memperlihatkan, pergerakan ”kolam panas” Samudra Pasifik dari barat ke timur diikuti dengan pergerakan arus Samudra Hindia dari barat ke timur pula, yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD). Oleh karena itu, sebaran klorofil, sebagai sumber pakan ikan, terkumpul di sepanjang pantai barat Sumatera dan di pantai selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Sesuai pola rantai makanan, gerombolan ikan akhirnya juga berenang ke arah kumpulan klorofil tadi. Dengan demikian, saat ENSO muncul, pantai barat Sumatera dan selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara akan panen ikan dan membuat nelayan ceria.

Guna mengantisipasi ENSO 2014, sudah selayaknya Indonesia memperkuat jaringan pemantauan lautnya dengan memasang lebih banyak buoy, pelampung pemantau arah dan kecepatan arus, sebaran klorofil, dan temperatur muka laut. Ini sudah rutin dilaksanakan ahli-ahli dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menggunakan armada kapal riset Baruna Jaya mereka. Di samping itu, jaringan sistem informasi ENSO RI perlu diikatkan dengan jaringan NOAA-Maryland maupun IRI-New York. Selain itu lagi, informasi prakiraan ENSO perlu lebih disebarluaskan kepada masyarakat.

Apalagi saat ini Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) sudah beralih rupa jadi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Antisipasi kebakaran hutan dan lahan sudah bisa dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Yang akan menangguk keuntungan akibat ENSO tentunya para nelayan di sepanjang pantai barat Sumatera dan selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara.

Namun, tanpa persiapan sistem rantai dingin yang memadai serta pola pemasaran yang jitu, ikan yang berlimpah akan menjadi busuk dan mubazir.  Kementerian Kelautan dan Perikanan, tampaknya, perlu turun tangan. Ternyata, selalu ada berkah di balik bencana.

Indroyono Soesilo; Direktur Sumber Daya Perikanan dan Akuakultur FAO-Roma; Mantan Deputi TPSA-BPPT; Mantan Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan (BRKP)

Sumber: Kompas, 21 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: