Home / Berita / STEAM Kian Diminati di Sekolah dan Perguruan Tinggi

STEAM Kian Diminati di Sekolah dan Perguruan Tinggi

Pelajaran sains, teknologi, enjiniring, seni, dan matematika atau STEAM kian diminati di berbagai lembaga pendidikan. Kuncinya ada pada kreativitas guru mendidik siswa dan mahasiswa mengenai keseimbangan teori dan praktik agar tercapai pemahaman mendalam diiringi kecakapan penerapan.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Rektor Universitas Tarumanagara Agustinus Purna Irawan di sela-sela memantau lomba Green Mech dan Robot 4 Mission untuk Regional I di Jakarta, Sabtu (18/1/2020).

“Ada kecenderungan pada mahasiswa di beberapa tahun terakhir lebih menyukai penerapan langsung, tetapi tidak mengindahkan teori,” kata Rektor Universitas Tarumanagara Agustinus Purna Irawan ketika membuka peluncuran lomba Green Mech dan Robot 4 Mission untuk Regional I di Jakarta, Sabtu (18/1/2020).

Ia menjelaskan, STEAM membutuhkan pemahaman teori dan praktik, serta tidak bisa dijalankan dengan sudut pandang instan yang menginginkan bisa langsung menghasilkan produk. Jadi, ada teori bersifat baku sehingga ditetapkan sebagai standar regional dan internasional. Akan tetapi, ada pula teori yang berkembang dan bisa terus diuji relevansi penerapannya dengan perkembangan zaman.

Menurut Agustinus, hal itu menjadi tantangan bagi para guru dan dosen untuk memberi materi pelajaran yang seimbang. Pendekatan STEAM untuk peserta didik dari Generasi Z ke bawah tak bisa lagi hanya dengan memberi tugas berdasarkan pengkajian teoritis.

Diskusi sudah menjadi keniscayaan, bukan sekadar untuk mendengar penjelasan dosen, tetapi masukan dari mahasiswa maupun pelajar terkait suatu permasalahan. Keterlibatan mereka di dalam proyek maupun praktik langsung di lapangan sudah menjadi keharusan.

“Satu hal yang merupakan kelebihan mahasiswa dan pelajar masa kini adalah keberanian mengeksplorasi desain. Ekspresi individual mereka lebih kentara dibandingkan angkatan generasi terdahulu. Asalkan mereka tetap tertib memenuhi standar keamanan, kekuatan, dan dampak terhadap lingkungan, kemampuan STEAM generasi kini bisa sangat unggul,” ujarnya.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Siswa SD peserta lomba Robot 4 Mission Regional I di Jakarta, Sabtu (18/1/2020) mengujicoba robot-robot rakitan mereka sebelum lomba dimulai.

Antusias
Lomba Green Mech dan Robot 4 Mission (R4M) Regional I diikuti sekolah-sekolah dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Selain lomba ini, di bulan Februari juga ada lomba di Regional II yang mencakup Indonesia Tengah dan Timur serta Regional III di Sumatera Utara. Pemenang setiap regional akan diadu pada lomba tingkat nasional sebelum dikirim ke Thailand untuk lomba tingkat internasional.

Mulia Anton, pendiri Rumah Edukasi yang menyelenggarakan lomba Green Mech dan R4M di Indonesia menjelaskan para peserta bertambah karena makin banyak SD, SMP, dan SMA sederajat yang ikut serta. Untuk Regional I misalnya, di tahun 2020 diikuti 45 tim dari 20 sekolah. Padahal tahun-tahun sebelumnya kegiatan itu hanya diikuti 10 sekolah. Setiap sekolah mengirim 2-3 tim.

“Kami juga menyediakan pelatihan STEAM rutin bagi guru-guru berbagai jenjang kelas. Ternyata, guru-guru yang mengikuti pelatihan mempraktikkan materi pelatihan di sekolah masing-masing,” tutur Anton.

Setelah itu, sekolah-sekolah mulai membuka kegiatan ekstrakurikuler STEAM atau bisa juga robotika. Mereka kemudian memberanikan diri mengikuti lomba Green Mech dan R4M.

Kepala Laboratorium Fisika Berkelanjutan Universitas Parahyangan, Janto V Sulungbudi yang bertindak selaku kepala dewan juri menjelaskan, karya struktur Green Mech dan R4M oleh siswa kian membaik, terutama sekolah-sekolah yang beberapa kali ikut lomba. Untuk tahun ini tantangan Green Mech adalah membangun struktur pelontar bola.

Setiap jenjang memiliki ujian berbeda. Tingkat SD diminta membangun empat strujtur, SMP membangun lima struktur, dan SMA enam struktur. Setiap struktur harus terdiri dari prinsip sains. Terdapat 20 prinsip yang boleh dipilih tim, antara lain bidang miring, jungkat-jungkit, inersia, roda, dan efek domino.

Untuk R4M, setiap tim diminta membuat koding dan merakit robot dengan misi bisa memasukkan balok-balok plastik ke dalam kotak sesuai dengan warna-warna yang ditentukan. Ada pula pembuatan mobil bertenaga “roda terbang” yang memanfaatkan tegangan dari karet gelang untul memberi lontaran dan mobil “roda gila” bertenaga inersia.

“Dari segi manajemen emosi juga kian baik. Memang masih ada satu hingga dua tim yang memiliki gejolak di antara anggotanya. Ini salah satu pelajaran STEAM, yaitu semua persoalan dipecahkan dengan kepala dingin, bukan saling menyalahkan,” kata Janto.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Siswa SMA peserta lomba Green Mech Regional I di Jakarta, Sabtu (18/1/2020) menyiapkan konstruksi mereka sebelum lomba dimulai.

Selain sekolah, minat memelajari STEAM merambah hingga lembaga kursus. Salah satunya adalah Robologee. Staf General Manager Robologee Agus Tavip Mukti mengatakan, semakin banyak sekolah belerja sama dengan lembaga kursus tersebut untuk membuat ekstrakurikuler robotika.

Peminat STEAM yang belajar di Robologee berusia mulai dari balita hingga siswa SMA. Selain itu, tidak ada lagi batasan bahwa STEAM hanya cocok dipelajari laki-laki karena anak perempuan juga sama antusiasnya.

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 20 Januari 2020
—————————————–
Pemelajaran Sains Tidak Harus Mahal

Pemelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics) tidak membutuhkan perangkat khusus yang mahal. Guru bisa mengajak siswa memelajari STEAM menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Tim Green Mech dari SD Tarakanita 2 Jakarta memadukan balok standar lomba dengan botol-botol bekas pada lejuaraan Green Mech dan Robot 4 Mission Regional I di Jakarta, Sabtu (18/1/2020).

Geliat pemelajaran sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika di sekolah-sekolah umumnya masih terhalang persepsi pelajaran ini membutuhkan alat-alat berbiaya mahal. Padahal, kuncinya hanya terletak di kereativitas guru dan siswa.

“Umumnya, orangtua dan guru yang berasumsi pemelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, dan Mathematics). membutuhkan perangkat khusus yang mayoritas masih diimpor. Misalnya Lego dari Denmark, Gigo dari Taiwan, dan Fischertechnik dari Jerman yang harganya satu set mencapai jutaan rupiah,” kata Kepala Laboratorium Fisika Berkelanjutan Janto V Sulungbudi di Jakarta, Sabtu (18/1/2020). Ia bertindak sebagai kepala dewan juri lomba Green Mech dan Robot 4 Mission untuk Regional I yang mencakup wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

Janto mengatakan, perangkat untuk pemelajaran STEAM sebenarnya bisa dibuat sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan bekas seperti tripleks, botol minuman, gabus, dan kardus. Dalam praktiknya memang membuat alat sendiri dan membeli alat-alat yang sudah jadi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Membeli balok yang sudah jadi berarti siswa dan guru bisa langsung memakai. Dari segi ukuran, semua sudah sesuai standar internasional. Kekurangannya ialah harus mengeluarkan biaya cukup besar untuk membelinya.

“Kalau membuat sendiri membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Perhitungan dimensi baloknya juga harus saksama dari sisi ukuran, kepadatan, dan kekokohan. Tapi, melalui ini guru dan siswa bisa belajar dari nol bahwa STEAM ada di sekitar kita,” tutur Janto.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Peserta lomba Green Mech dan Robot 4 Mission Regional I di Jakarta, Sabtu (18/1/2020) bersiap menguji mobil hasil rakitan sendiri.

Bebas
Ketua Panitia Lomba Green Mech dan Robot 4 Mission Mulia Anton mengungkapkan, lomba tersebut disponsori oleh Gigo, merek balok mainan konstruksi asal Taiwan. Terdapat 45 tim tingkat SD hingga SMA sederajat yang berasal dari 20 sekolah. Mereka diminta membangun sebuah konstruksi dengan berbasis prinsip-prinsip sains. Konstruksi tersebut harus memiliki kemampuan untuk melontarkan bola.

Anton mengatakan, meski perlengkapan lomba disponsori Gigo, tim peserta boleh mengombinasikan dengan alat-alat buatan mereka sendiri. Bahkan, konstruksi tersebut diizinkan agar 90 persen terbuat dari bahan-bahan buatan sendiri dan 10 persen balok Gigo selama bisa menyelesaikan tantangan yang diberikan panitia.

“Tujuan lomba ini menunjukkan kepada masyarakat STEAM tidak menakutkan. Jangan sampai orangtua dan guru sampai enggan karena berasumsi membutuhkan alat-alat mahal. Mekanisme mempelajari cara pintu dibuka, keran air yang bisa dibuka dan ditutup, atau paling sederhana cara cangkul bisa menggali tanah itu sudah masuk dalam prinsip STEAM,” ujar Anton.

Beberapa tim mempraktikkan gabungan dari balok standar dengan bahan sendiri. Misalnya tim dari SD Tarakanita 2 Jakarta yang memadukan botol-botol gelas sebagai bagian dari konstruksi mereka. Ada pula SD Marsudirini BSB Semarang yang membuat maket-maket gedung bersejarah di kota itu seperti Lawang Sewu dan Sam Poo Kong sebagai struktur konstruksi mereka.

Kepala Sekolah SD Marsudirini BSB Semarang Sr Feliciana, OSF mengatakan, siswa memutuskan untuk memadukan balok standar lomba dengan maket. “Selain belajar STEAM mereka sekaligus ingin mempromosikan Kota Semarang,” ujarnya.

Bahan dari alam
Pada penelitian implementasi STEAM yang dilakukan Pusat Kurikulum, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di SMP Negeri 4 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat pada 2019, siswa menggunakan alat musik dari berbagai bahan alam yang ada di sekitar mereka untuk belajar STEAM.

Dalam situs Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat dipaparkan, dengan alat musik tersebut, siswa memelajari materi Persamaan Garis Lurus terkait mata pelajaran Matematika. Siswa menggunakan aplikasi Geogebra untuk menggambarkan grafik hubungan antara berbagai ukuran dan bentuk bangun ruang pada alat musik yang dibuat.

Pada mata pelajaran Seni Budaya Ketrampilan (teknologi dan teknik), siswa meneliti tentang jenis alat musik bernada atau tidak bernada yang sesuai untuk bahan limbah organik yang akan dibuat, harmonisasi dari setiap alat musik dan penerapan teknik mengecat/melukis dengan teknik cat basah/kering.

Terkait dengan mata pelajaran IPA (sains), siswa meneliti tentang limbah oganik dan anorganik, resonansi pada alat musik yang nantinya akan berpengaruh pada bunyi yang dihasilkan oleh benda tersebut.

Terkait dengan mata pelajaran Prakarya (seni) siswa membuat alat musik sederhana dari bahan limbah keras organik (bambu,kayu,batok kelapa) menjadi alat musik sederhana seperti calung, suling, kendang, marakas, gitar, kastayet, tik tok, kecrekan dan sebagainya.

Dengan proyek yang dihasilkan siswa tersebut, siswa dapat memahami bahwa mata pelajaran-mata pelajaran yang diperoleh di sekolah bukan hanya materi belaka, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian siswa akan memiliki pengalaman belajar yang lebih berarti. (YOVITA ARIKA)

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR

Editor: YOVITA ARIKA

Sumber: Kompas, 20 Januari 2020

Share
x

Check Also

Indonesia Maju Butuh Riset Swasta

Hingga kini, sumber dana riset masih mengandalkan anggaran pemerintah. Untuk mendorong swasta melakukan riset, akan ...