Home / Berita / Sains Tak Bisa Berdiri Sendiri

Sains Tak Bisa Berdiri Sendiri

Pembelajaran Sains Juga Mendidik Siswa untuk Bekerja Sama
Pembelajaran sains tidak hanya meningkatkan kepiawaian dalam berpikir dan berkarya, tetapi juga mendidik siswa untuk bisa bekerja sama dan saling memotivasi. Sains sebagai ilmu pengetahuan tidak bisa berdiri sendiri tanpa bertumpu pada ilmu-ilmu lainnya.

Hal tersebut ditunjukkan oleh tim SD Tarakanita 5 Jakarta. Mereka memenangi kategori Tim Berkinerja Terbaik dalam kompetisi internasional Green Mech di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China, pada 4 Agustus. Ini pertama kalinya Indonesia mengirimkan tim ke perlombaan tersebut.

“Kalau ada satu anggota yang lelah, marah, dan menyerah, seluruh karya kelompok menjadi terancam,” kata guru Matematika SD Tarakanita 5 Jakarta, Filemon Sagala, di Jakarta, Jumat (11/8). Ia bersama anak didiknya, yaitu Kanaya Aghita (10), Anabela Puspita (11), Gisella Madeline (10), Dominico Sakti (11), dan Alphatar Magnus (11), yang semua siswa kelas VI, sedang memamerkan karya mereka pada acara Habibie Festival ke-2 di Jakarta.

Dalam lomba Green Mech di Jiaxing, mereka bersaing dengan peserta dari 10 negara, antara lain Thailand, China, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam. Banyak tim negara lain menyerah di tengah jalan karena kesulitan membangun struktur yang dilombakan.

Tim SD Tarakanita 5 menunjukkan sikap mental positif, yaitu anggota saling mendukung dan menyemangati. “Kalau ada yang kesal, ya, kami hibur. Istirahat dulu. Sehabis itu lanjut lagi ngerakit strukturnya,” ujar Anabela.

Filemon menuturkan, sejak siswa dilatih merakit struktur di sekolah, betul-betul ditanamkan budaya mengkritisi sesama secara baik. Tidak boleh ada kata-kata kasar ataupun nada tinggi yang keluar. Jika ada kesalahan perhitungan, semua anggota melihat kembali rancangan di kertas dan bersama-sama menghitung ulang. Hal ini yang membuat dewan juri kagum.

Berbagai ilmu
Mereka merakit sebuah struktur mekanikal berukuran 1,5 meter x 1 meter dari serangkaian balok plastik. Struktur ini terinspirasi dari permesinan karya Rube Goldberg, penemu dari Amerika Serikat.

Prinsipnya, terdepan rangkaian bidang miring, katrol, dan baling-baling yang bergerak berdasarkan efek domino. Misalnya, ketika kelereng dijatuhkan dan bergulir di bidang miring yang kemudian mendorong sebuah kincir agar berputar. Kincir itu lalu memutar seutas tali yang menggerakkan katrol. Selain sains, membuat struktur ini juga memerlukan keahlian di bidang teknologi, engineering (ilmu keteknikan), matematika, dan seni, atau STEAM.

“Tema struktur rakitan yang dibuat tim SD Tarakanita 5 adalah ‘Menjaga agar Meteor Tidak Menimpa Rumah’. Rakitan karya mereka termasuk yang paling kompleks dalam perlombaan Green Mech,” kata Direktur Rumah Edukasi Mulia Anton.

Rumah Edukasi adalah lembaga yang melakukan pelatihan sains kepada guru-guru SD. Guru kemudian menerapkan hasil pelatihan kepada siswa dengan cara bermain sambil belajar. Untuk lomba Green Mech, mereka memilih tiga tim, yaitu SD Tarakanita 5 Jakarta, SD Marsudirini Semarang, dan Jakarta-Taipei School.

Seimbang
Anton menjelaskan, dalam mempelajari STEAM, dibutuhkan pendekatan teori dan praktik yang berimbang. Permasalahan yang dialami di Indonesia, pelajaran-pelajaran tersebut umumnya berupa teori dan minim praktik. “Akibatnya, STEAM menjadi momok bagi siswa,” ucapnya.

Modal pertama dalam pembelajaran STEAM adalah kreativitas. Anton menekankan, meskipun untuk merakit struktur dalam lomba disponsori produsen mainan dari luar negeri, dalam kesehariannya, guru bisa membangun struktur dari benda-benda yang ada di sekitar. Misalnya botol, pipa, dan kayu bekas.

“Hal yang harus dilakukan guru adalah merancang struktur, membentuk benda-benda bahan baku ke ukuran yang diinginkan, kemudian merakitnya,” kata Anton.

Seluruh proses tersebut hendaknya melibatkan siswa. Sebab, selain melihat, mereka juga harus menyentuh dan merasakan pembelajaran STEAM. Prinsip itu untuk membuka mata mereka bahwa STEAM ada di sekitar mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Di samping itu, melalui koordinasi yang baik serta pembagian tugas antarsiswa, mereka belajar disiplin, bertanggung jawab, dan saling memotivasi. “Ilmuwan sukses karena kerja sama tim,” ujar Anton. (DNE)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 12 Agustus 2017, di halaman 12 dengan judul “Sains Tak Bisa Berdiri Sendiri”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: