Home / Artikel / Statistik Kerentanan Covid-19

Statistik Kerentanan Covid-19

Virus SARS-CoV-2 jelas tidak pilih-pilih sasaran. Pandemi Covid-19 ini akan menguji bukan hanya daya tahan individu, namun juga tanggungjawab sosial dan kemanusiaan kita untuk melindungi mereka yang lebih rentan.

Virus SARS-CoV-2 jelas tidak pilih-pilih sasaran. Siapa pun dalam jangkauannya bisa tertular. Namun demikian, menyangkut siapa yang paling menularkan, dan siapa paling rentan sakit parah serta meninggal jika terinfeksi, statistik menunjukkan perbedaan yang nyata.

Statistik global menunjukkan, untuk setiap 1.000 orang yang terinfeksi virus corona yang berusia di bawah 50 tahun, hampir tidak ada yang meninggal. Untuk orang-orang di usia lima puluhan dan awal enam puluhan, sekitar lima di antaranya akan meninggal, di mana porsi pria lebih dominan daripada wanita.

Risiko ini kemudian meningkat tajam seiring bertambahnya umur. Untuk setiap 1.000 orang berusia pertengahan tujuh puluhan atau lebih yang terinfeksi, sekitar 116 akan meninggal.

Selain usia, kerentanan dari Covid-19 juga ditentukan oleh jenis kelamin. Pria hampir dua kali lebih lebih berisiko meninggal akibat virus korona dibandingkan wanita. Covid-19 menyingkap kelemahan pria. Selain faktor perilaku, seperti kebanyakan yang merokok adalah lelaki, kerentanan ini juga disebabkan kodrat biologis yang berbeda.

Dalam kajiannya di British Medical Journal tahun 2017, Kyle Sue menunjukkan, lelaki menghasilkan imunologi lebih lemah, sehingga risiko meninggal lebih tinggi jika terpapar penyakit pernapasan oleh virus. Tingkat kematian pria juga lebih tinggi daripada perempuan saat wabah sindrom pernapasan akut parah (SARS) pada 2002-2003, yaitu 21,9 persen dibanding 13,2 persen.

Data statistik juga menunjukkan, lelaki cenderung mengalami hipertensi dan penyakit jantung di usia lebih muda dibandingkan perempuan. Padahal, penyakit jantung dan hipertensi merupakan komorbid paling berisiko jika terkena Covid-19.

Tanpa ada Covid-19, usia harapan hidup lelaki cenderung lebih pendek dibandingkan perempuan. Sebagai gambaran, data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2016 menunjukkan, angka harapan hidup laki-laki 69,8 tahun dan perempuan 74,2 tahun. Di Indonesia, Badan Pusat Statistik 2019, menunjukkan angka harapan hidup laki-laki 69,44 tahun dan perempuan 73,33 tahun (Kompas, 12 Maret 2020).

Pola sama
Di Indonesia angka rincinya mungkin sedikit berbeda, namun polanya relatif sama dengan data global ini. Sebanyak 31,2 persen yang terinfeksi kebanyakan berusia 31-45 tahun, disusul 46-59 tahun sebanyak 24,6 persen, dan usia 19-30 tahun sebanyak 23,7 persen.

Sekalipun proporsi kelompok usia di atas 60 tahun yang terinfeksi hanya 11,1 persen, namun yang meninggal mencapai 38,9 persen. Sedangkan korban jiwa paling tinggi berasal dari kelompok usia 46-59 tahun sebanyak 40 persen, disusul usia 19-30 tahun 4,4 persen, dan semakin muda usia risiko meninggalnya kian kecil.

Usia dan jenis kelamin memang bukan satu-satunya parameter untuk mengukur risiko keparahan dan kematian akibat Covid-19. Faktor lainnya adalah penyakit penyerta atau komorbid dan kualitas kesehatan masyarakat, hingga daya dukung layanan kesehatan di tiap negara. Perbedaan ini yang bisa menentukan perbedaan dampak fatalitas Covid-19.

Statistik telah menunjukkan orang tua, lelaki, dan mereka yang punya komorbid, lebih berisiko sakit parah dan meninggal jika tertular Covid-19. Walaupun demikian, ini bukan berarti anak-anak menjadi kebal.

Ada banyak kematian anak-anak karena Covid-19, bahkan di Indonesia prosentasenya termasuk paling tinggi, yaitu 2,3 persen untuk anak usia 0-5 tahun dan 6,8 persen untuk anak usia 6-18 tahun. Padahal, banyak negara lain tidak ada korban anak-anak.

Sedangkan terkait kelompok penular, data juga menunjukkan, anak-anak dan anak muda justru lebih berpotensi menularkan. Kajian di Journal of Pediatrics yang dirilis Kamis (20/8/2020) menyebutkan, anak bawah lima tahun memiliki tingkat virus lebih tinggi di saluran pernapasan mereka dibandingkan dengan orang dewasa, sehingga lebih menularkan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Analisis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap sekitar 6 juta kasus infeksi secara global menemukan, proporsi orang berusia 15-24 tahun yang tertular Covid-19 naik menjadi 15 persen pada 12 Juli 2020 dari sebelumnya 4,5 persen pada 24 Februari. Anak berusia 5-14 tahun yang terinfeksi Covid-19 naik menjadi 4,6 persen dari sebelumnya 0,8 persen. Ini menunjukkan, anak muda semakin banyak yang terinfeksi, dan berpotensi menjadi agen penularan utama.

Anak muda yang umumnya menjadi orang tanpa gejala hingga bergejala sedang, lebih berpotensi menularkan, terutama karena faktor perilaku. Mobilitas mereka yang tinggi, dan sikap abai, bisa mematikan orang lain yang secara fisik dan sosial ekonomi lebih rentan.

Analisis terhadap 6.416 kasus atau 29 persen total kasus positif di Jakarta misalnya menunjukkan, sebagian besar yang tertular adalah remaja. Sebanyak 1.446 orang di antaranya yang belum atau tak bekerja, 1.302 pelajar dan mahasiswa, 928 tenaga kesehatan, 696 karyawan swasta, dan 611 pekerja di sektor perdagangan.

Dari statistik ini kita bisa belajar, Covid-19 ini ibarat virus yang akan menguji bukan hanya daya tahan individu, namun juga tanggungjawab sosial dan kemanusiaan kita untuk melindungi mereka yang lebih rentan. Mereka yang lebih tahan jika terpapar, bisa menjadi penyebar wabah dan kematian bagi orang tua kita sendiri, kerabat, atau sahabat yang lebih rentan.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 9 September 2020

Share
x

Check Also

Menyoal Kenetralan Pendidikan

Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan ”highly political act” atau ...

%d blogger menyukai ini: