Home / Profil Ilmuwan / Sri Budiarti Melawan Bakteri Resisten Antibiotik

Sri Budiarti Melawan Bakteri Resisten Antibiotik

Sri Budiarti memilih mendalami mikrobiologi, terutama penelitian terapi bakteriofag untuk membunuh bakteri resisten antibiotik. Dengan penuh kesabaran, dia juga mendampingi mahasiswanya ikut dalam penelitian itu.

ARSIP PRIBADI—Sri Budiarti (61), Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor atau IPB University meneliti potensi bakteriofag untuk melawan bakteri resisten antibiotik di Indonesia.

Sri Budiarti (61), Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor, awalnya tak terpikir mendalami mikrobiologi, terutama terkait bakteri. Dengan ilmu yang dimilikinya, dia kini meneliti potensi terapi bakteriofag di Indonesia untuk mengatasi bakteri resisten antibiotik.

Tahun 1987, Sri membelokkan niatnya untuk mengambil dokter spesialis anak di Jepang dengan menggeluti mikrobiologi. Sri merupakan dokter umum yang berhasil mendapat beasiswa kuliah di Jepang saat mendampingi suaminya yang dosen IPB kuliah di negeri sakura tersebut. Dia mendapat pencerahan pentingnya menguasai mikrobiologi untuk negara tropis dan berkembang seperti Indonesia.

Kembali ke Indonesia, Sri lebih memilih untuk mengabdikan diri menjadi dosen di IPB. Meskipun fasilitas laboratorium tak secanggih di Jepang, Sri bersemangat untuk mengajar dan meneliti. Dia berjuang mendapatkan dana hibah penelitian terkait bakteri, yakni penyakit diare yang disebabkan bakteri E.coli.

Bersama timnya, dia menemukan feses penderita diare yang mengandung bakteri resisten antibiotik. Begitu pula, pada tubuh orang sehat juga bisa ditemukan bakteri resisten antibiotik. Kondisi ini membahayakan karena bakteri E.coli yang resisten antibiotik itu bisa beredar di lingkungan sekitar dan menginfeksi orang-orang sehat.

“Karena saya ini dokter, saya tidak ingin penemuan ini diterima negatif oleh masyarakat, yang berdampak tidak baik. Jangan sampai, masyarakat jadi tidak mau diterapi antibiotik. Kalau tidak mau, bisa banyak meninggal. Jadi saya tidak gembar-gembor. Saya serahkan Kementerian Kesehatan mengevaluasi,” ujar Sri yang dihubungi dari Bogor pada awal Mei 2020.

Meskipun sampel penelitian waktu itu hanya terbatas daerah Jawa Barat (Depok dan Bogor) dan Kalimantan, hasilnya secara saintifik sudah ada nilainya. Upaya mengatasi resistensi antibiotik di Indonesia dengan bakteriofag dimulai Sri pada tahun 2010.

Sebenarnya, terapi bakteriofag sudah mulai dilakukan negara lain tahun 1919, namun ditinggalkan sejak penemuan antibiotik. Kini bakteriofag dilirik lagi untuk mengatasi bakteri jahat. Pada tahun 2002 dilaporkan terapi fag telah banyak berhasil mengatasi bakteri resiten antibiotik. Namun, di Indonesia belum ada yang memulai riset ini. Sri yakin bakteriofag bisa didapat di lingkungan untuk membantu mengobati pasien yang resisten antibiotik.

Bakteriofag atau sering disebut fag yakni virus yang menginfeksi bakteri dan dapat mematikannya jika berada pada fase litik. Infeksi fag bersifat spesifik, artinya hanya menginfeksi inang dengan kecocokan reseptor. Bakteriofag juga dapat menggandakan dirinya di dalam sel inang dan mampu beradaptasi sesuai kondisi lingkungan.

Metode ini mencari virus yang dapat menyerang bakteri patogen yang spesifik sehingga perlu keahlian khusus. Di situlah, Sri merasa jalannya untuk mempelajari mikrobiologi dan bioteknologi di Jepang memang dibutuhkan di Indonesia.

“Tadinya saya merasa mempelajari mikroorganisme yang tidak kelihatan mata itu, seperti di awang-awang, tidak nyata. Ketika profesor saya di Jepang memperlihatkan di bawah mikroskop elektron, wah sungguh nyata. Kini, memang ilmu yang saya pelajari berguna,” kata Sri.

Sri dan tim di IPB mencoba untuk mendapatkan bakteriofag yang manfaatnya bagus sekali. Karena tingkat resistensi antibiotik sudah banyak dan tinggi. Kalau terinfeski bakteri resisten antibiotik, pasien tidak bisa diapa-apakan. Kalau dikasih antibiotik apapun bakteri masih tetap memperbanyak diri, sehingga pasien sulit sembuh bahkan bisa meninggal.

ARSIP PRIBADI–Prof Sri Budiarti (ketiga dari kiri) bersama mahasiswa peneliti bakteriofag yang dibimbingnya.

Kendala riset
Untuk penelitian ini, Sri dengan sabar mengawal mahasiswa S2 dan S3 bimbingannya untuk memiliki keahlian yang dibutuhkan. Untuk dapat mencari bakteriofag, peneliti harus memiliki kemampuan mengisolasi dan memproduksi bakteriofag.

Sri menambahkan, “Penelitian saya memang sengaja tidak kerja sama dengan luar negeri, supaya terlihat bahwa apa yang kita publish semua adalah hasil dari kegiatan riset IPB.”

Kendala dalam menerapkan terapi bakteriofag di Indonesia, ujar Sri, tidak ada peta bakteri terkait jenis bakteri dan infeksinya. Guna mengembangkan potensi bakteriofag ini, perlu pendidikan bioteknologi dan mikrobiologi yang diperkuat. Dari pengalaman yang dilakukan Sri dan tim, sebenarnya Indonesia bisa.

Apalagi bakteriofag ini hanya spesifik satu bakteri, perlu untuk mengkoleksi bakteriofag dan membuat cocktail fag atau campuran bakteriofag. “Jika punya kumpulan dari bakteriofag itu, harapannya sebelum melakukan identifikasi apa bakteri yang menyebabakannya, kita bisa gunakan fag yang sudah dikumpulkan,” ujar Sri yang sudah menerbitkan buku Eksplorasi dan Karakterisasi Bakteriofag (2018).

Bersama tim IPB, Sri berhasil mendapatkan bakteriofag yang diisolasi dari berbagai lingkungan, seperti di sungai dan peternakan. Bakteriofag atau fag tersebut di antaranya adalah Fag litik E.coli enteropatogen dari limbah air dan sampah rumah tangga, dan Fag litik Salmonella spp dari limbah air domestik. Bakteriofag ini berpotensi sebagai biokontrol anti diare.

ARSIP PRIBADI—Sri Budiarti (61), Guru Besar di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor atau IPB University, dokter yang mendalami mikrobiologi untuk menemukan bakteriofag yang dapat melawan bakteri resisten antibiotik.

Temuan lainnya yakni Fag litik Bacillus pumilus untuk melawan efek toksik pada sel epitel manusia, Fag litik Proteus mirabilis untuk mengatasi penyebab infeksi saluran kemih, Fag litik Staphylococcus aureus yang berpotensi sebagai anti infeksi kulit. Adapula Fag litik spesifik bakteri Klebsiella pneumoniae dari limbah kotoran sapi perah berpotensi sebagai anti luka bakar.

“Kita perlu bersyukur, di alam kita ini sesungguhnya kaya dengan bakteriofag. Di IPB sudah membuktikan kita bisa mengisolasi,” ujar Sri.

Kecintaan Sri pada mikrobiologi mendorongnya untuk menyuarakan agar pemerintah, utamanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meningkatkan keutamaan pendidikan biologi sejak jenjang pendidikan anak usia dini. Dengan memiliki pengetahuan biologi sejak dini diharapkan masyarakat Indonesia mampu mengurus kesehatan dirinya, menjaga lingkungan, dan memanfaatkan sumber daya hayati.

Di sisi lain, Sri tidak ingin ada salah paham mengenai penelitian bakteriofag ini di tengah masyarakat. Sebagai seorang dokter, Sri memahami pemberian antibiotik yang tepat dapat membantu pasien yang terinfeksi bakteri patogen atau bakteri jahat tertentu. Namun, dia tidak memungkiri bakteri resisten antibiotik dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti pemakaian yang terus-menerus dan berlebihan, ketidakdisisplinan pasien, hingga
tertular dari lingkungan.

“Kalau mau mengendalikan bakteri supaya tidak resisten antibiotik, jangan hanya menyalahkan dokter yang memberikan obat. Dokter tidak berani tidak memberi obat kalau sudah terindikasi infeksi bakteri. Karena kalau dibiarkan infeksi bakteri dalam 10 menit saja berubah dua kali lipat. Berapa kalau dibiarkan satu jam, dua jam, atau tiga hari? Jadi dokter enggak berani tidak memberikan antibiotik jika jelas penyakitnya karena bakteri,” papar Sri.

Sri mengatakan, masyarakat ada yang membeli antibiotik seenaknya karena merasa pernah dikasih obat antibiotik tertentu. Padahal meski gejala sama, tetap saja pengobatannya berbeda. Dokter dengan keahliannya, memperkirakan antibiotik jenis apa dan untuk berapa hari.

Selain itu, memang masalah sanitasi atau kebersihan lingkungan serta pola hidup sehat dan besih juga masih jadi masalah. “Semoga dengan Covid-19 ada hikmah, kita sadar untuk hidup sehat dan bersih, sebagai salah satu cara melawan bakteri,” ujar ibu dua anak ini.

Sri Budiarti
Lahir : Klaten, 13 Agustus 1958
Suami : Prof Roedhy Poerwanto, Dosen Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, IPB

Pendidikan:
1. Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret (1982), dan lulus sebagai dokter umum (1984).
2. S3 di Kagawa Medical School, Jepang (Lulus, 1991).

Pekerjaan :
1. Asisten Peneliti Proyek Penelitian Persiapan Bioteknologi Kedokteran yang dipimpin oleh Prof. Pratiwi Sudarmono di Fakultas Kedokteran UI Depok (1991)
2. Staf pengajar di Departemen Biologi IPB (1993-sekarang)
3. Kepala Laboratorium Bioteknologi Hewan dan Biomedis, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi IPB (1996-sekarang)
4. Kepala dan Penanggung Jawab Poliklinik IPB (2001-2015)
5. Guru Besar Besar tetap di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB (2019)

Penghargaan, antara lain:
– Inovator pada salah satu dari 106 Inovasi Indonesia Prospektif

Paten:
– Inovasi Proses Produksi dan Formula Produk Streptomyces lavendulae Anti EPEC Resisten Antibiotik Beta Laktam Pencemar Lingkungan

Organisasi Profesi:
– Anggota IDI Kota Bogor (1991- sekarang)
– Pengurus IDI Kota Bogor (2008-sekarang)
– Dewan Pakar PB IDI 209-2012

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: MARIA SUSY BERINDRA

Sumber: Kompas, 19 Mei 2020

Share
x

Check Also

Monika Raharti Memotivasi Peneliti Belia Indonesia

Monika Raharti memotivasi pelajar SMA untuk menjadi peneliti belia yang bisa berkompetisi di ajang internasional. ...

%d blogger menyukai ini: