Home / Berita / ”Solar Thermal” UI Diuji Setahun

”Solar Thermal” UI Diuji Setahun

Energi panas matahari untuk mesin pendingin ruang yang pertama di Indonesia, hasil riset peneliti Universitas Indonesia, masuk masa uji setahun hingga Maret 2015. Mesin itu digunakan di gedung Manufacturing Center Fakultas Teknik.

”Sejak 15 Januari 2014, sistem solar thermal untuk pendingin ruang itu telah dipasang. Selanjutnya, diukur unjuk kerja dan karakteristiknya sampai Maret 2015,” kata peneliti M Idrus Alhamid, yang juga Kepala Laboratorium Teknik Pendingin dan Tata Udara pada Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI), Selasa (4/3), di Depok, Jawa Barat.

Mesin pembangkit energi panas matahari untuk pendingin ruangan yang diuji itu hasil kerja sama UI bersama Waseda University, Kawasaki Thermal Engineering (KTE), dan Kementerian Lingkungan Hidup Jepang.

Meskipun penggunaan energi panas matahari ramah lingkungan, menurut Idrus, masih dibutuhkan energi alternatif lain. Sebab, panas matahari tak bisa diharapkan 24 jam penuh.

”Pemanfaatan energi alternatif lain yang disarankan adalah gas alam CNG (compressed natural gas),” kata Idrus.

Gas alam yang didistribusikan kepada masyarakat di perkotaan biasanya menggunakan jaringan pipa. Biasa juga disebut gas kota, terutama untuk bangunan permukiman bertingkat atau apartemen.

”Masyarakat yang tinggal di apartemen tidak mungkin terus bergantung pada sumber energi, seperti elpiji tabung. Ini menyulitkan saat membawanya ke dalam apartemen yang memiliki banyak lantai,” kata Idrus.

Menurut Deputi Teknologi Informasi, Energi, dan Material, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, gas alam merupakan sumber energi yang banyak diharapkan dikonsumsi masyarakat. Namun, saat ini masih bergantung pada keberadaan elpiji yang sebagian masih harus diimpor. (NAW)

Sumber: Kompas, 7 Maret 2014
——————–
boksProfesor Penggagas Alat Penangkap Energi Matahari untuk AC

Satu Alat Bisa Dinginkan Enam Lantai
Pemanfaatan energi panas matahari (solar thermal energy) di Indonesia belum maksimal. Umumnya hanya dipakai untuk mesin pemanas atau menjadi sumber aliran listrik. Tapi, di tangan dosen Fakultas Teknik UI Prof. Muhammad Idrus Alhamid dan tim, sinar matahari bisa menjadi AC ramah lingkungan.

PELATARAN kompleks Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) di Depok, Jawa Barat, sekarang terlihat sesak. Sebab, seperangkat solar thermal cooling system (STCS) berukuran jumbo didirikan di areal itu. Total lahan yang dipakai guna menempatkan peralatan untuk menangkap sinar matahari itu kira-kira seukuran lapangan bola voli.

Komponen utama peralatan itu berada di rooftop Manufacturing Research Center (MRC), gedung anyar berlantai enam. Peralatan itu didesain untuk menangkap dan menyimpan panas sinar matahari.

Menurut Prof. Muhammad Idrus Alhamid, koordinator tim pembuat, alat yang diletakkan di lantai paling atas gedung MRC itu bernama solar heat panel. Komponennya terdiri atas rangkaian tabung seukuran betis orang dewasa dengan panjang sekitar satu meter. Tabung-tabung itu disusun menjadi 61 rangkaian. Setiap rangkaian berisi 16 tabung kaca. Jadi total tabung penangkap energi matahari itu berjumlah 61 x 16=976 buah.

“Di setiap tengah tabung kosong ini ada tembaganya,” kata Idrus saat ditemui Jawa Pos (grup Radar Lampung) di ruang kerjanya kemarin (27/1).

Tembaga itu berfungsi menangkap panas matahari dan menghantarkannya ke air yang mengalir di ujung tabung. Dengan jumlah tabung yang begitu banyak, suhu air yang mengalir di solar heat panel bisa mencapai 90 derajat Celsius. Namun, derajat panas tersebut bergantung kondisi cuaca hari itu.

Misalnya, cuaca di kampus UI Depok kemarin cenderung mendung. Energi panas matahari yang berhasil diserap alat buatan Prof. Idrus dkk. pun tidak bisa maksimal. Rata-rata energi panas matahari yang bisa ditangkap hanya setara 200 watt. Bahkan bisa kurang. Sementara panas air yang mengalir juga tidak bisa mencapai titik optimal, yakni 90 derajat Celsius.

Idrus menjelaskan, jika matahari sedang terik, energi panas yang berhasil ditangkap bisa setara 800 watt listrik. Air yang mengalir di komponen itu bisa mencapai titik panas 90 derajat Celsius.

Guru besar kelahiran kawasan Ampel, Surabaya, itu mengungkapkan, air yang sudah teraliri energi matahari akan dipompa turun dan dialirkan ke storage tank. Proses berikutnya, air panas itu dialirkan ke solar absorption chiller (SAC). Melalui gerakan mekanik, alat itu akan menghasilkan semburan udara dingin dari air yang dipanaskan di atas atap tadi.

Idrus menambahkan, SAC didatangkan ke Indonesia secara utuh dari Jepang. Alat yang bisa menghemat pengeluaran listrik untuk sistem pendingin udara itu diproduksi Kawasaki Thermal Engineering (KTE), Jepang. “Proyek ini merupakan kerja sama dengan banyak pihak, termasuk dengan pemerintah Jepang dan Waseda University,” ujarnya.

Menurut Idrus, komponen SAC berfungsi sebagai pengganti kompresor dalam teknologi pendingin udara (AC) konvensional. Kompresor pada AC merupakan komponen yang paling banyak menyedot listrik.

“Ketika kompresor itu diganti teknologi yang ramah lingkungan ini, penggunaan listrik bisa dipotong hingga 50 persen,” ujar alumnus SMAN 8 Surabaya itu.

Memang diakui, STCS tidak bisa lepas 100 persen dari energi listrik. Sebab, listrik masih dibutuhkan untuk menghidupkan pompa air yang menjalankan fungsi sirkulasi air dari dan menuju solar heat panel.

Idrus menjelaskan, setelah diolah di dalam SAC, air panas itu dialirkan ke gedung-gedung atau ruangan yang ingin didinginkan suhunya. Alat itu bisa menurunkan suhu udara ruangan hingga 16 derajat Celsius.

Misalnya, seperangkat STCS di UI itu bisa mendinginkan separo gedung MRC yang terdiri atas enam lantai. Jawa Pos sempat mengecek kebenaran teori itu dengan masuk mulai lantai 1 hingga lantai 6. Rasanya memang sejuk, bergantung pengaturan suhunya. Semburan udara sejuk itu dikeluarkan dari chilled water sebagai pengganti komponen AC indoor yang sering ditemukan di rumah-rumah atau perkantoran.

Idrus menghitung, jika menggunakan energi listrik penuh untuk AC dan penerangan, gedung MRC menghasilkan emisi gas buang CO2 hingga 183 ton per tahun. Tapi, dengan teknologi STCS, emisi CO2 yang dihasilkan bisa direduksi hingga menjadi 141 ton per tahun.

“Ini baru perhitungan satu gedung yang menggunakan STCS. Bayangkan jika gedung-gedung bertingkat di Jakarta menggunakan STCS,” paparnya.

Dia optimistis teknologi STCS bisa membuat upaya pelestarian lingkungan semakin terjaga. “Bersama tim dari instansi lain, saya terus mengkaji dan mengembangkan pilot project STCS ini sejak dua tahun lalu,” katanya.

Tapi, baru akhir 2013 perlengkapan STCS benar-benar bisa dioperasikan. Tak heran jika karya inovatif itu membuat penasaran banyak kalangan. Termasuk para peneliti dari berbagai perguruan tinggi yang tertarik mempelajari teknologinya.

Selain mampu mereduksi gas buang CO2, teknologi itu bisa menekan potensi polusi udara. Semakin sedikit suplai listrik yang dipakai, semakin sedikit pula beban kerja pembangkit listrik yang umumnya menggunakan sumber energi tidak ramah lingkungan.

Bagaimana jika sinar matahari tidak maksimal seperti pada hari-hari musim hujan sekarang ini? Idrus menjawab dengan tenang. “Kami sudah siapkan backup jika panas matahari tidak optimal,” tuturnya.

Yakni memanfaatkan pembakaran gas LPG atau CNG (compressed natural gas). Gas yang dibakar itu bisa menggantikan energi matahari yang bisa dimanfaatkan sebagai penggerak SAC. Dengan cara begitu, udara di ruangan tetap bisa dingin.

Ayah Abdurrahman, Firdaus, Abdullah, dan Abdulkadir itu menegaskan, dirinya tertarik meneliti solar energy sejak 1977. Tepatnya ketika duduk sebagai mahasiswa jurusan teknik mesin FT UI. Ketika itu bersama kawannya, Raldiartono, Idrus memenangi Lomba Karya Teknik 1997 Tingkat Senat Mahasiswa FT UI.

Rancangannya berupa sebuah perlengkapan pemanas air bernama cylindrical parabolic solar collector. Alat itu dibuat dari tripleks dan kayu pohon nangka. Reflektornya berbahan aluminium setebal 0,5 mm yang digosok dengan langsol (autosol atau yang dikenal dengan sebutan batu hijau) serta minyak tanah.

“Bangga sekali rasanya karya kami menang,” kata suami Faridah Aljufri itu.

Menurut dia, matahari adalah benda, simbol, dan makna yang tidak akan habis dimanfaatkan. Dalam kajian akademis, energi matahari bisa dimanfaatkan sebagai sumber listrik melalui penggunaan PV (photovoltaic) atau panas. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, energi matahari itu juga diharapkan bisa dimanfaatkan untuk sistem pendinginan.

Selama ini masyarakat menikmati pendingin udara dengan sistem kompresi uap (vapour compression) seperti yang digunakan pada AC split, AC window, kulkas, dan sejenisnya. Cara itu tidak hemat energi karena menggunakan bantuan kompresor yang menyedot energi listrik cukup besar.

Terkait dengan karya teknologi terbarunya itu, Idrus sengaja memperkenalkan kepada publik sebagai pertanggungjawaban atas profesinya sebagai akademisi dan peneliti. “Ini lho ada alat yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan ramah lingkungan. Silakan bila ada yang ingin memanfaatkan,” ungkapnya. (p3/c2/ary)

Laporan Hilmi Setiawan, JAKARTA

Sumber: RADAR LAMPUNG – SELASA, 28 JANUARI 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: