Home / Berita / Siklon Tropis di Perairan Pasifik Picu Gelombang Tinggi

Siklon Tropis di Perairan Pasifik Picu Gelombang Tinggi

Gelombang tinggi diperkirakan terjadi di sejumlah peraian Indonesia hingga tiga hari ke depan. Selain dipengaruhi embusan angin timuran, fenomena ini juga disebabkan munculnya siklon tropis Maliksi di perairan Pasifik.

Data Pusat Siklon Tropis Jakarta, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan, pada Jumat (8/6/2018) pagi siklon Maliksi berada sekitar 1.580 kilometer sebelah utara Kota Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Siklon ini bergerak ke utara dengan kecepatan empat kilometer per jam menjauhi wilayah Indonesia.

“Angin kencang akibat ekor siklon akan dirasakan di perairan utara Kalimantan atau laut China Selatan dalam tiga hari kedepan. Namun yang perlu di waspadai terutama peluang terjadinya gelombang tinggi di sejumlah perairan,” kata Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ramlan, di Jakarta.

Diperkirakan gelombang laut setinggi 1,25 – 2,50 meter (m) terjadi di perairan utara Papua Barat dan perairan utara Biak. Sedangkan gelombang laut setinggi 2,5 – 4 m berpeluang terjadi di Laut Cina Selatan.

BMKG–Siklon Maliksi berada sekitar 1580 km sebelah utara Kota Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Jumat (8/6). Siklon berdampak pada tingginya gelombang di utara Papua Barat dan perairan utara Biak

Selain pengaruh siklon tropis di Pasifik, menurut Ramlan, saat ini terjadi pola siklonik yang memicu pertumbuhan awan yang memanjang dari barat Sumatera hingga utara Kalimantan. Angin timuran juga bertiup kencang. Akibatnya gelombang tinggi juga terjadi di perairan sepanjang barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara Barat.

Peluang hujan
Kepala Bidang Humas BMKG Hary Tirto Jatmiko mengatakan, di awal Juni 2018 ini relatif tidak ada gangguan cuaca skala global baik El Nino maupun La Nina. Semua indeks parameter tersebut menunjukkan kondisi netral dan diprediksi akan tetap seperti ini sampai November 2018.

Berdasarkan Indeks Monsun Asia dan Australia mengindikasikan adanya peluang pengurangan curah hujan di Sumatera bagian tengah, Kalimantan Barat dan Jawa bagian barat, didukung dengan anomali negatif suhu permukaan laut perairan Indonesia bagian tengah.

Evaluasi musim kemarau sampai awal Juni 2018, sebagian besar wilayah Indonesia (59,1 persen) telah memasuki musim kemarau seperti wilayah Aceh, Sumatera Utara, bagian tengah Riau, sebagian kecil Lampung, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, bagian selatan Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, bagian selatan Sulawesi Tenggara dan bagian utara Papua.

Sedangkan prakiraan peluang curah hujan lebih dari 20 mm dalam 10 hari pada periode mudik lebaran (11 – 20 Juni 2018) masih cukup tinggi terutama di wilayah Aceh, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan bagian Tengah dan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat.

Khusus untuk wilayah Jawa, Madura, Bali dan Nusa Tenggara peluang terjadinya hujan sangat rendah seiring dengan periode musim kemarau di wilayah tersebut.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 9 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: